Close
 
Jumat, 22 Mei 2026   |   Sabtu, 5 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 8.712
Kemarin : 28.540
Minggu kemarin : 221.971
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

17 oktober 2009 03:15

Tamasya Budaya di Sumatra Utara (Bagian VII – Habis)

Menyerap Spirit Patriotisme Kesultanan Serdang
Istana Darul Arif Kesultanan Serdang di Perbaungan

Setelah meninggalkan kompleks Istana Maimoon, tim Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) bergerak menuju Kabupaten Serdang Bedagai untuk menapaktilasi sejarah kebesaran Kesultanan Serdang. Sebagaimana telah disampaikan pada laporan perjalanan sebelumnya, tamasya budaya untuk menapaktilasi kebesaran Kesultanan Serdang tidak akan diikuti oleh Pemangku BKPBM, karena pada saat bersamaan harus menemui Tuanku Lukman Sinar Basarshah II untuk mematangkan rencana kerjasama BKPBM dengan Kesultanan Serdang.

Sebelum berangkat ke Perbaungan, Bang MAM (pangilan akrab Pemangku BKPBM, Mahyudin Al Mudra, SH. MM.) mengatakan bahwa walaupun Kesultanan Serdang juga mencapai kemakmuran ekonomi sebagaimana Kesulatan Deli, tapi di Perbaungan tim BKPBM tidak akan menemukan sebuah istana megah sebagaimana Istana Maimoon. Menurut Bang MAM, yang tersisa dari sejarah Kesultanan Serdang adalah Masjid Sulaimaniyah dengan kompleks makam Raja-raja dan para pembesar kesultanan di sampingnya.

Setelah mengantarkan Bang MAM menemui Tuanku Luckman Sinar Basarsyah II, tim BKPBM bergerak menuju ke Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, tempat Istana Darul Arif dulunya berada. Istana ini, walaupun sisa-sisa kejayaannya hanya dapat dinikmati dalam foto hitam putih, merupakan salah satu simbol perlawanan Kesultanan Serdang kepada kolonialisme Belanda.

Sebelum sampai di Perbaungan, tim BKPBM terlebih dahulu menuju pelabuhan Belawan. Pelabuhan ini pada zaman kejayaan kesultanan-kesultanan Melayu di Sumatra Timur merupakan kawasan yang sangat penting. Melalui pelabuhan ini, barang-barang dari Eropa masuk ke Sumatra bagian timur, dan dari pelabuhan ini pula barang-barang dari perkebunan Sumatra Timur memenuhi pasaran Eropa.

Waktu kami memasuki kawasan pelabuhan, waktu sudah beranjak sore dan kondisinya relatif sepi. Pelayanan telah berhenti dan pintu pelabuhan juga telah terkunci rapat. Kami segera menemui petugas yang berjaga di tempat itu, dan menyampaikan maksud kedatangan kami. Si petugas yang bernama Syahrul Chan menjelaskan kepada kami bahwa jam pelayanan telah tutup. Namun setelah dijelaskan bahwa kedatangan Tim BKPBM ke Pelabuhan Belawan merupakan bagian dari penelitian terhadap sejarah perkembangan Medan dari zaman kerajaan-kerajaan hingga saat ini, setelah berkoordinasi dengan petugas yang lain, Pak Chan mengantar kami melihat-lihat pelabuhan Belawan. “Lewat sini aja, biar cepat,” ujar Pak Chan mengajak Tim BKPBM melewati pintu VIP pelabuhan.

Suasana di pelabuhan saat itu relatif sepi. Tidak ada aktivitas pelabuhan yang mencolok mata, selain hanya beberapa kapal yang tanpak bersandar dikejauhan. Bayangan tentang sebuah pelabuh yang ramai dengan lalu lalang kapal-kapal besar karena merupakan pintu gerbang untuk memasuki kesultanan-kesultanan di Sumatra Timur saat itu sama sekali tidak kelihatan. Menurut Pak Chan, sejak dibukanya pelabuhan di Batam, bongkar muat di Pelabuhan Belawan menurun drastis.

Setelah beberapa saat menikmati terpaan angin laut Pelabuhan Belawan, Tim BKPBM bergerak menuju Deli Serdang. Beberapa agenda yang masih belum terselesaikan dan ketersediaan waktu yang semakin terbatas, mendorong sang driver memacu mobil yang kami tumpangi dengan sangat cepat. Tidak jarang, kami harus menahan nafas, karena mobil yang kami tumpangi nyaris berciuman dengan kendaraan lainnya, baik yang melaju di depan kami dan tiba-tiba memperlambat laju mobilnya, atau kendaraan dari arah depan yang terkadang tidak mau mengalah. Semua itu, hanya untuk menapaktilasi kejayaan Kesultanan Serdang.

Kesultanan Serdang

Kesultanan Serdang secara geneologis masih bersaudara dengan Kesultanan Deli. Kedua kesultanan ini lahir dari rahim yang sama, yaitu Kesultanan Deli. Pada tahun 1723, Kesultanan Deli mengalami kemelut yang cukup rumit akibat mangkatnya Tuanku Panglima Paderap, Raja Deli ke-3. Seharusnya yang menggantikannya adalah putra tertua Tuanku Panglima Paderap, yaitu Tuanku Jalaludin. Namun karena memiliki cacat fisik, Tuanku Jalaludin terhalang menjadi sultan. Jabatan sultan kemudian diambil alih oleh putra keduanya yang bernama Tuanku Pasutan.

Pengambilalihan jabatan kesultanan oleh Tuanku Pasutan merupakan pangkal dari kemelut di Kesultanan Deli. Menurut adat Melayu, yang berhak menduduki jabatan kasultanan sebagai pengganti Tuanku Paderap adalah Tuanku Umar Johan yang saat itu masih kecil, karena ia merupakan putera garaha (permaisuri). Sedangkan Tuanku Pasutan putra Tuanku Paderap dari seorang selir. 

Setelah berhasil menjadi Sultan Deli, Tuanku Pasutan mengusir Tuanku Umar Johan bersama ibundanya Tuanku Puan Sampali ke wilayah Serdang. Pengusiran ini ibarat api dalam sekam yang sewaktu-waktu dapat membara, karena besar kemungkinan Tuanku Umar Johan akan menuntut haknya bila kelak telah dewasa. Jika Tuanku Umar Johan benar-benar menuntut haknya, bukan mustahil akan terjadi perang saudara antara ahli waris Kesultanan Deli.  

Melihat kondisi yang dapat berubah menjadi sangat berbahaya ini, empat orang besar, yaitu Raja Urung Sunggal, Raja Urung Senembal, Raja Urung Batak Timur di wilayah Serdang bagian hulu (Tanjong Merawa), dan seorang pembesar dari Aceh (Kejeruan Lumu) merajakan Tuanku Umar Johan Pahlawan Alam Shah Kejuruan Junjungan sebagai Sultan Serdang pertama tahun 1723. Sejak saat itulah, sejarah Kesultanan Serdang dimulai dengan pusat pemerintahan di Kampung Besar tempat ibundanya tinggal.

Tuanku Umar Johan kemudian digantikan oleh putra keduanya, yaitu Tuanku Ainan Johan Alamsyah (1767-1817). Hal ini terjadi karena putra pertama Tuanku Umar Johan, yaitu Tuanku Malim, tidak bersedia dilantik menjadi raja. Pada masa pemerintahan Tuanku Ainan Johan Alamsyah ini, posisi Kesultanan Serdang menjadi semakin kuat karena bergabungnya kerajaan Perbaungan menjadi bagian dari Kesultann Serdang. Bergabungnya kerajaan Perbaungan karena Raja Perbaungan tidak mempunyai keturunan laki-laki, dan pada saat bersamaan salah satu putrinya, Tuanku Puan Sri Alam, menjadi permaisuri dari Tuanku Ainan Johan Alamsyah.

Pengganti Tuanku Ainan Johan Alamsyah adalah Tuanku Sultan Thaf Sinar Basarshah (1817-1850 M), putra kedua sultan. Seharusnya, yang mengantikan Tuanku Ainan Johan Alamsyah adalah putra tertuanya, yaitu Tuanku Zainal Abidin. Namun, karena Tuanku Zainal Abidin terbunuh ketika berperang di Langkat, maka yang dirajakan adalah adiknya sendiri, yaitu Tuanku Sultan Thaf Sinar Basarshah.

Pada masa pemerintahan Sultan Thaf Sinar Basarshah, perekonomian Kesultanan Serdang tumbuh cukup pesat, dengan hasil-hasil perkebunan sebagai komoditi ekspor sebagai penopangnya. Berkat pencapaian dalam bidang ekonomi ini, nama Kesultanan Serdang sangat termasyur hingga ke Semenanjung Tanah Melayu. Banyak kerajaan-kerajaan lain, seperti Padang, Bedagai, dan Senembah, yang meminta bantuan militer dari Kesultanan Serdang. Oleh karena pencapaiannya itulah, Sultan Thaf Sinar Baharshah disebut sebagai Sultan Besar Serdang.

Sultan Thaf Sinar Baharshah digantikan oleh putranya yang tertua, yaitu Sultan Basyaruddin Syariful Alamsyah (1819-1880). Pada masa Sultan Basyaruddin Syaiful Alamsyah berkuasa, Kesultanan Serdang sering diwarnai peperangan baik dengan kesultanan sekitar maupun dengan pihak Belanda. Khusus dengan Belanda, ternyata Kesultanan Serdang tidak mampu menghadapi sehingga takluk pada 1862. Sejak saat itulah, Kesultanan Serdang menjadi salah satu daerah jajahan Belanda di Sumatra Timur.   

Setelah Sultan Basyaruddin Syariful Alamsyah wafat (1880), Kesultanan Serdang dipimpin oleh Tuanku Sulaiman Syariful Alamsyah. Namun karena masih sangat muda (umur 13 tahun), pengelolaan pemerintahan kesultanan untuk sementara waktu diserahkan kepada pamannya, yaitu Tengku Raja Muda Mustafa. Dalam memimpin Kesultanan Sedang, Tuanku Sulaiman Syariful Alamsyah terkenal sangat anti Belanda. Oleh karena sikapnya tersebut, pengukuhan Tuanku Sulaiman Syariful Alamsyah sebagai Sultan Serdang tidak serta merta mendapat pengakuan dari Belanda yang kala itu berkuasa atas Serdang. 


Tuanku Sulaiman Syariful Alamsyah ketika masih hidup (Kiri)
Makam Tuanku Sulaiman Syariful Alamsyah (kanan) di Perbaungan

Ada beberapa indikasi dari ketidak-sukaan Tuanku Sulaiman Syariful Alamsyah. Pertama, sultan tidak menghiraukan 3 persyaratan yang diajukan oleh Belanda agar mendapatkan pengakuan dari raja: Serdang tidak menuntut daerah-daerah yang telah dirampas Belanda; penetapan tapal batas antara Deli dan Serdang; dan Sultan harus tunduk pada kekuasaan Belanda.

Kedua, tahun 1891 Kontrolir Belanda, Douwes Dekker memindahkan ibukota Kesultanan Serdang ke Lubuk Pakam karena Rantau Panjang selalu mengalami banjir. Namun Sultan Sulaiman malah memilih untuk menetap di istana yang ia bangun di persimpangan tiga Perbaungan. Untuk menopang pembangunan istana baru tersebut, sultan kemudian membangun kedai, pasar dan pertokoan sehingga ramai.

Ketiga, puncak dari sikap antipati terhadap Belanda ia tunjukkan ketika Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Bangsa Indonesia di Jakarta. Serta merta, Sultan mengirimkan telegram kepada Presiden Soekarno yang isinya menyatakan bahwa kesultanan Serdang serta seluruh daerah taklukannya mengakui kekuasaan pemerintah Republik Indonesia dan dengan segala kekuatan akan mendukungnya.

13 Oktober 1946, Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah meninggal dunia dalam usia 80 tahun dan dikebumikan dengan upacara militer di makam raja-raja di sebelah Masjid Raya Sulaimaniyah di Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai. Sepeninggal Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah, yang berhak menjadi Sultan Serdang adalah Tengku Putera Mahkota Rajih Anwar. Namun, situasi politik dan keamanan akibat adanya revolusi sosial yang mengguncang tatanan sosial kesultanan-kesultanan di Sumatra bagian timur, Tengku Putera Mahkota Rajih Anwar tidak ditabalakan sebagai sebagai sultan, tetapi hanya sebagai Kepala Adat Kesultanan Serdang. Dengan ditabalkannya Tengku Putera Mahkota Rajih Anwar hanya sebagai Kepala Adat Kesultanan, praktis wafatnya Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah merupakan akhir dari sistem Kesultanan di Serdang.

Tengku Putera Mahkota Rajih Anwar wafat di Medan pada 28 Desember 1960 dan dimakamkan di kompleks pemakaman raja-raja Serdang di Perbaungan. Pasca wafatnya Tengku Putera Mahkota Rajih Anwar, praktis masyarakat adat Serdang tidak lagi mempunyai kepala adat. Kondisi tanpa kepala adat ini berlangsung selama lebih kurang 35 tahun. 30 November 1996, sidang Kerapatan Adat Negeri Serdang memutuskan perlunya diangkat dan ditetapkannya Pemangku Adat Serdang. Rapat tersebut juga memutuskan bahwa Pemangku Adat Serdang harus dipilih dan ditetapkan dari putra-putra almarhum Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah yang masih hidup.

Akhirnya, sidang memilih Tuanku Abunawar Sinar Syariful Alam, putra ketiga Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah sebagai Pemangku Adat Negeri Serdang dan Ketua Kerapatan Adat Negeri Serdang. Penabalannya dilakukan dalam upacara adat di Gedong Juang 45 di Perbaungan pada 5 Januari 1997. 28 Januari 2001, Tuanku Abunawar Sinar Syariful Alam Al-Haj meninggal dunia dan dikebumikan di kompleks makam raja-raja Serdang yang terletak di  samping Masjid Raya Perbaungan.


Makam Tuanku Abunawar Sinar Syariful Alam di Perbaungan

Namun sebelum jenazah Tuanku Abunawar Sinar Syariful Alam dikebumikan, Majlis Adat Serdang berkewajiban untuk memilih penggantinya, sebagaimana diatur dalam adat Melayu ”Raja Mangkat Raja Menanam”. Aturan adat tersebut berisi mandat bahwa sebelum seorang raja yang meninggal dunia dikebumikan, terlebih dahulu harus ditetapkan penggantinya. Oleh karena adat mengatur demikian, maka sesaat setelah sultan wafat, majlis adat Serdang mengadakan musyawarah untuk memilih Pemangku Adat Serdang yang baru. Rapat tersebut secara bulat memutuskan bahwa pengganti Tuanku Abunawar Sinar Syariful Alam adalah Tuanku Luckman Sinar Baharshah II sebagai Pemangku Adat Kesultanan Serdang.

Obrolan kami tiba-tiba berhenti ketika tiba-tiba Bang Harris melambatkan mobil yang kami tumpangi. Kemudian, mobil berbelok memasuki sebuah kompleks masjid. Ketika mobil hendak berbelok, nampak sebuah plang berwarna dasar putih dengan tulisan berwarna hijau ”Yayasan Perguruan Sinar Serdang”. Melihat tulisan tersebut, kami baru menyadari bahwa kami telah sampai di tempat yang kami dituju. Setelah memarkir mobil di bawah pohon talok (kersen) yang tumbuh di depan masjid, kami bergegas turun untuk melihat salah satu bangunan ibadah peninggalan Kesultanan Serdang, yaitu Masjid Sulaimaniyah.

Masjid Sulaimaniyah


Masjid Sulaimaniyah di desa Kota Galuh, Kecamatan Perbaungan,
Kabupaten Serdang Bedagai

Masjid Sulaimaniyah merupakan salah satu bukti eksistensi Kesultanan Serdang di masa lalu. Secara administrasi pemerintahan, masjid ini terletak di desa Kota Galuh, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai. Konon, lokasi masjid ini berada tidak jauh dari Istana Kesultanan Serdang, yaitu Istana Darul Arif. Namun, revolusi sosial yang terjadi di kawasan Sumatra bagian timur telah menyebabkan Istana Darul Arif hanya dapat ditemui dalam buku-buku sejarah atau foto-foto dokumentasi.

Posisi Masjid Sulaimaniyah tepat berada dipinggir jalan utama yang menghubungkan Kota Medan dan Tebing Tinggi. Sehingga siapapun yang melintas dari arah Medan menuju Tebing Tinggi atau sebaliknya, pasti melewati masjid yang menjadi ”prasasti” aktivitas keberagamaan masyarakat Kesultanan Serdang, dari sultan hingga rakyatnya. Melihat nilai historis yang dimiliki Masjid Sulaimaniyah, tidak heran jika banyak para pelancong yang melintasi masjid ini berusaha menyempatkan diri mengunjungi tempat ini.

Bagi yang telah mengunjungi dan melihat bangunan Masjid Al Mahsun di Medan atau Masjid Azizi di Langkat, mungkin pada padangan pertama tidak akan melihat hal yang menonjol dari bangunan Masjid Sulaimaniyah. Bangunan Masjid Sulaimaniyah walaupun di sebelahnya telah dibangun sebuah menara yang terlihat kokoh menjulang tinggi, secara fisik kelihatan biasa-biasa saja. Tidak ada lengkung bangunan yang begitu tinggi seperti di Masjid Al Mahsun dan kubah-kubah menjulang tinggi sebagaimana di Masjid Azizi. Jika menjadikan bentuk atap Masjid Al Mahsun dan Masjid Azizi sebagai ciri khas sebuah masjid, maka Masjid Sulaimaniyah sama sekali tidak kelihatan seperti masjid, karena atap Masjid Sulaimaniyah berbentuk mahligai, sehingga lebih nampak seperti kantor pemerintahan dengan pucuk rebung berwarna kuning sebagai ragam hiasnya, dan warna hijau sebagai atapnya. Kepastian bahwa bangunan ini merupakan sebuah masjid kami sadari ketika melihat sebuah tulisan Arab-Melayu berbunyi ”Masjid Sulaimaniyah” yang terpahat di bagian atas depan masjid ini.

Setelah memasuki memasuki masjid, aroma Masjid Sulaimaniyah sebagai sebuah masjid yang unik dengan sejarah yang cukup panjang akan sangat terasa. Di bagian dinding masjid terdapat sebuah prasasti yang menjelaskan sejarah Masjid Raya Sulaimaniyah. Dalam prasasti tersebut tertulis bahwa Masjid Raya Sulaimaniyah didirikan oleh Sultan Serdang Syariful Alamsyah pada tahun 1894 seiring dengan dipindahkannya ibukota kesultanan dari Rantau Panjang ke Istana kota Galuh Perbaungan. Tahun 1901, Masjid Raya Sulaimaniyah dibangun secara permanen. Dari catatan sejarah yang tertulis itu, kami juga mengetahui bahwa Masjid Raya Sulaimaniyah telah mengalami beberapa renovasi, yaitu tahun 1964, 1967, dan tahun 2004 (selesai tahun 2005).  

Atap pada teras Masjid Raya Sulaimaniyah berbentuk piramid bersusun dua, sehingga kelihatan seperti bagian depan sebuah perkantoran. Di belakang atap berbentuk piramid tersebut, terdapat kubah masjid berbentuk segi empat memanjang bersusun empat. Pada bagian atasnya terdapat lambang bulan sabit dan bintang yang menjadi penegas bahwa bangunan ini sebuah masjid. Di dalam masjid terdapat empat tiang berukuran besar yang menjadi penyangga bangunan dengan sebuah lampu hias tergantung di tengah-tengah ruangan. Nuansa Melayu dalam ruangan masjid terasa sangat kuat ketika mata melihat sebuah mimbar berwarna kuning emas dengan 4 anak tangga berlapis karpet hijau.

Atap bagian depan masjid yang berbentuk piramid, kubah masjid yang bebentuk mahligai berbentuk empat persegi panjang, mimbar berundak empat, dan hiasan pucuk rebung yang memenuhi dinding masjid, serta kuning dan hijau yang menjadi warna dominan masjid merupakan titik-titik keistimewaaan Masjid Raya Sulaimaniyah. Mengapa dikatakan istimewa, karena Masjid Raya Sulaimaniyah secara jelas merupakan ekspresi keislaman yang dihasilkan dari pemahaman Islam dengan menggunakan kaca mata pengetahuan lokal Melayu. Nilai indiginous inilah yang menjadikan Masjid Raya Sulaimaniyah menjadi sangat istimewa.


Kompleks makam Raja-raja Kesultanan Serdang di Perbaungan

Keluar dari Masjid, kami bergegas menuju kompleks pemakaman raja-raja dan kaum bangsawan Kesultanan Serdang yang terletak di sebelah Masjid Raya Sulaimaniyah. Walaupun merupakan kompleks makam raja-raja Serdang, tapi tidak semua Raja-raja Serdang di kebumikan di tempat ini. Beberapa lainnya di kebumikan di Kampung Besar, Kecamatan Batangkuis, Kabupaten Deli Serdang. Di tempat ini, hanya terdapat makam raja-raja yang pernah bertahta di Istana Darul Arif Perbaungan.

Waktu semakin sore, kami pun bergegas kembali ke Medan karena telah ditunggu oleh Bang MAM. Pada malam harinya, tim BKPBM dijamu oleh Putri Bungsu Kesultanan Serdang, Tengku Puan Putri Bungsi Mira Rozana Sinar, di Medan Club. Konon, Medan Club merupakan rumah makan legendaris di kota medan, sama seperti rumah makan Tip Top yang telah kami kunjungi pada hari pertama tim BKPBM di Medan. Keesokan   harinya (Kamis, 30 Juli 2009), sebelum meninggalkan kota Medan, kami menyempatkan diri untuk mengunjungi perpustakaan Sultan Serdang, Tuanku Lukman Sinar Basarshah II. Di perpustakaan yang terletak di lantai dua rumah kediaman Tuanku Lukman ini, tersimpan data-data yang relatif sangat lengkap tentang sejarah kesultanan-kesultanan Melayu di Sumatra Timur, baik yang berbahasa Belanda, Inggris, Melayu, maupun Indonesia.  

Waktu bergerak terasa sangat cepat. Tidak terasa jarum jam menunjuk angka 11.25 WIB. Kami pun harus segera ke bandara agar tidak terlambat kembali ke Yogyakarta. Kepada Kelurga Besar Kesultanan Serdang khususnya Tuanku Lukman Sinar Basarshah II dan Tengku Puan Putri Bungsu Mira Rozanna Sinar, Keluarga Besar Kesultanan Deli dan Pengurus YASMAR, serta semua pihak yang telah membantu terlaksananya muhibah budaya ini kami ucapakan terima kasih. (Tamat)

(Ahmad Salehudin/opn/1/10-2009)

Fotografer: Aam Ito Tistomo


Dibaca : 2.639 kali.

Tuliskan komentar Anda !