Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Opini
28 oktober 2009 07:17
Kemilau Seni Budaya Benua Etam, Festival Massal Warga Kaltim
Oleh Iswara N. Raditya
Awal November 2009 mendatang, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) akan menghelat hajatan besar tahunan yang bertajuk Festival Kemilau Seni Budaya Etam 2009. Rencananya, agenda yang menyajikan berbagai macam seni dan budaya khas Kalimantan Timur ini akan digelar dari tanggal 5 hingga 7 November 2009 mendatang dengan memusatkan penyelenggaraannya di Stadion Madya Sempaja Samarinda. Lokasi yang akan digunakan untuk penyelenggaran festival seni dan budaya ini antara lain di halaman parkir dan lantai dasar Hotel Atlet yang juga berlokasi di dalam kompleks Stadion Madya Sempaja Samarinda.
Festival Kemilau Seni dan Budaya Benua Etam 2009 pada awalnya akan digelar pada awal atau pertengahan Oktober 2009. Akan tetapi, Gubernur Kaltim, Awang Faroek Ishak, meminta agar pelaksanaan festival ini diundur pada bulan November 2009. Menurut Gubernur Kaltim, pengunduran ini dilakukan agar Festival Kemilau Seni Budaya 2009 dapat dirangkaikan dengan perayaan Hari Ulang Tahun Kaltim ke-53 yang jatuh pada tanggal 9 Januari 2010. Dalam acara pembukaan Festival Kemilau Seni Budaya Etam 2009 nanti, akan disajikan parade atau defile dari seluruh peserta yang merupakan duta dan perwakilan dari sejumlah kabupaten dan kota yang ada di Provinsi Kaltim, yakni sebanyak 10 kabupaten dan 4 kota.
Festival ini rencananya akan dibuka oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Republik Indonesia yang baru saja terpilih kembali, Jero Wacik. Selain Menbudpar, Festival Kemilau Seni Budaya Etam 2009 direncanakan akan dihadiri juga oleh Menteri Dalam Negeri, para duta besar (dubes) negara sahabat, dan perwakilan dari 15 provinsi yang menjadi destinasi wisata di Indonesia. Para undangan diharapkan menghadiri acara welcome party dan malam ramah-tamah yang dijadwalkan menjadi pembuka rangkaian gelaran Festival Kemilau Seni Budaya Etam 2009.
Dari Olahraga Ala Dayak Hingga Musik Khas Kutai
Beberapa sajian seni dan budaya khas Borneo yang akan ditampilkan dalam Festival Kemilau Seni Budaya Etam 2009 ini antara lain: lomba memasak makanan khas Kaltim, lomba olahraga tradisional, festival tari pedalaman dan pesisir, lomba busana tradisional, serta lomba musik dan lagu tradisional. Dalam festival ini juga akan disajikan penampilan atau atraksi berbagai kesenian daerah dari masing-masing kabupaten dan kota di Kaltim. Selain itu, dalam Festival Kemilau Seni Budaya Etam 2009 juga akan dihelat ajang pameran dari berbagai produk daerah, terutama yang bernuansa seni daerah Kaltim.
Sejumlah jenis cabang olahraga tradisional khas Kaltim yang akan diperlombakan dalam Festival Kemilau Seni Budaya Etam 2009 di antaranya adalah begasing, menyumpit, dan belogo. Begasing adalah permainan sejenis gasing yang cukup populer bagi warga Kaltim, baik yang bermukim di pesisir maupun yang tinggal di daerah pedalaman. Permainan yang bisa dimainkan di segala musim ini memerlukan kecepatan dan kecermatan serta konsentrasi dari pemain.
Cabang olahraga lainnya, menyumpit, merupakan keahlian menggunakan senjata tradisional yang menjadi ciri khas suku Dayak maupun masyarakat Melayu di Kalimantan. Sedangkan belogo adalah permainan tradisional yang mirip dengan permainan gundu yang lazim dikenal di daerah-daerah lain di Indonesia. Ketiga cabang olahraga tradisional di atas juga kerap dimasukkan dalam agenda perhelatan seni dan budaya lainnya yang digelar di berbagai daerah di Kalimantan, di antaranya adalah Festival Tira Tangka Balang dan Festival Isen Mulang di Kalimantan Tengah.
Musik tingkilan menjadi salah satu jenis musik tradisonal yang ditampilkan dalam Festival Kemilau Seni Budaya Etam 2009. Penampilan musik tradisonal yang berasal Kutai ini diiringi oleh iringan gendang (gambus), biola, dan alat musik khas Kutai berupa gitar kecil bernama Jepen, sehingga tari yang diiringi musik tingkilan sering juga disebut Tari Jepen. Tingkilan ini lagu-lagu yang menggambarkan tentang keindahan alam Kutai, serta sering juga mengisahkan tentang hubungan sosial dan tidak lupa mengangkat kisah-kisah percintaan.
Tari Jepen, yang merupakan jenis tari dari daerah pesisir, juga akan ditampilkan dalam Festival Kemilau Seni Budaya Etam 2009. Tari Jepen memiliki ciri khas masing-masing sesuai dengan asal daerahnya, seperti dari Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kabupaten Paser, Penajam Paser Utara (PPU), Berau, Bulungan, maupun sejumlah kabupaten atau kota lain di Kaltim.
Sementara tari dari pedalaman yang dipentaskan dalam festival ini antara lain: Tari Enggang, Tari Hudoq, Gantar, Kancat Lasan, dan beberapa jenis tari lainnya. Aneka ragam tarian ini sebagian besar berasal dari sub-suku Dayak yang meliputi Kenyah, Tunjung, Benuaq dan sub-suku lain yang tersebar di Kabupaten Malinau, Nunukan, dan lainnya. Ada juga tari dari unsur kraton yang merupakan warisan dari leluhur Kaltim. Tarian kraton yang akan dipertontonkan dalam Festival Kemilau Seni Budaya Etam 2009 antara lain Tari Panah dan Tari Ganjar-Ganjur, yang berasal dari Kabupaten Kukar, Paser, Berau, dan Bulun.
Semarak Festival dengan Dana Cekak
Di balik kesemarakannya, perhelatan seni dan budaya Festival Kemilau Seni Budaya Etam yang menjadi hajatan massal segenap warga Kaltim ini ternyata hanya disokong dengan dana yang cukup terbatas. Dalam penyelenggaraan Festival Kemilau Seni Budaya Etam tahun 2008 yang lalu, dana yang dianggarkan adalah tidak lebih dari 300 juta rupiah. Menurut beberapa kalangan, uang sejumlah itu termasuk kecil untuk menyelenggarakan festival seni dan budaya berkelas nasional, bahkan bisa pula ditingkatkan menjadi event budaya berlevel internasional. Dana tersebut habis digunakan untuk menyewa tempat, menyediakan peralatan serta perlengkapan panggung pergelaran, transportasi, akomodasi, dan konsumsi peserta.
Jika dilihat perkembangannya dari tahun ke tahun, Festival Kemilau Seni Budaya Etam seolah-olah mengalami kemerosotan dukungan, terutama dalam hal pendanaan. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun, untuk tahun 2007, sebagai perbandingan, dana yang digelontorkan untuk pelaksanaan Festival Kemilau Seni Budaya Etam yang digelar pada 8-11 November 2007 adalah sebesar 500 juta rupiah. Penyelenggaraan festival waktu itu terbilang sukses karena, selain pendanaan yang mantap, juga didukung dengan promosi yang tidak kalah gencar sehingga pelaksanaan event ini terdengar sampai ke luar negeri, bahkan terdapat beberapa wartawan asing yang bersedia meliputnya, termasuk jurnalis dari Ukraina.
Perbandingan akan semakin anjlok lagi jika melihat penyelenggaraan perdana Festival Kemilau Seni Budaya Etam yakni tahun 2006, tepatnya pada tanggal 8-10 Desember 2006, di mana penyelenggaraan festival budaya tahunan ini menelan biaya hingga Rp 1,6 miliar. Kala itu, panitia festival sukses menggandeng sponsor dari perusahaan minyak dan gas bumi serta batu bara. Sementara untuk tahun 2009 ini belum diperoleh informasi berapa dana yang dikucurkan untuk pembiayaan Festival Kemilau Seni Budaya Etam 2009.
Dari segi teknis dan materi serta hasil pelaksanaan acara, dua edisi perdana Festival Kemilau Seni Budaya Etam tahun 2006 dan 2007 jauh lebih semarak dan bervariasi bila dibandingkan dengan event serupa tahun 2008. Ada sejumlah sajian yang dihilangkan pada Festival Kemilau Seni Budaya Etam 2008 karena terbatasnya dana.Selain itu, Festival Kemilau Seni Budaya Etam 2008 yang melibatkan sekitar 500 orang, terdiri atas penari, pemusik, penyanyi, kelompok seni dan budaya, serta perwakilan etnis di Kaltim ini tidak dipublikasikan dan dipromosikan secara maksimal oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kaltim. Ironisnya lagi, pergelaran seni dan budaya Festival Kemilau Seni Budaya Etam belum masuk agenda kalender tahunan resmi Disbudpar Kaltim, kendati sudah dicanangkan sebagai program pemerintah provinsi sejak tahun 2006.
Sebagai salah satu potensi wisata yang dimiliki Provinsi Kalimantan Timur, daya tarik Festival Kemilau Seni Budaya Etam sangat mungkin dapat dimanfaatkan untuk mengatrol jumlah kedatangan wisatawan mancanegara ke Kaltim. Selain itu, Festival Kemilau Seni Budaya Etam juga sangat berpotensi dijadikan sarana untuk mengenalkan budaya lokal Kaltim, yang terutama sudah cukup dikenal dengan berbagai adat/ritual yang dimiliki suku-sukunya, serta untuk menambah pemasukan daerah Provinsi Kaltim.