Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Opini
09 november 2009 06:36
Pamerkan Alquran Berusia 600 Tahun
Menggali Ilmu di Festival Masjid Bersejarah
Oleh: Anton
Mushaf Alquran yang dipamerkan stand Provinsi Jawa Timur itu memang mengundang perhatian. Meski telah berusia 600 tahun, namun kondisinya masih bagus.
Tintanya masih terlihat hitam, bahkan warna emas yang menandai setiap penggalan ayat masih terlihat terang.
Roni, seorang pengunjung yang datang bersama anggota keluarganya telihat serius dalam memperhatikan salah satu peninggalan sejarah tersebut. Pria asal Kendal, Jawa Tengah ini mengaku pernah meliha mushaf tersebut ketika melakukan tour ke makam Wali Songo beberapa tahun silam. Mushaf ini merupakan salah satu koleksi yang dimiliki museum Sunan Giri, Gresik.
“Terasa seperti waktu masih di Jawa dulu. Ini adalah salah satu peninggalan bersejarah. Saya senang bisa melihatnya,” katanya. Namun, ia harus berpuas hati ketika upanya untuk mengetahui lebih banyak tentang Alquran tesebut tidak terpenuhi. Ia tidak mendapatkan tahun pasti penerbitan Alquran itu karena lembaran awal dan belakang sudah sobek. Anak Roni bahkan telihat mencoba membaca tulisan Arab bergaya nashki itu.
Di stand Jatim ini juga terdapat peninggalan lainnya, yakni pelana kuda asli yang pernah digunakan Sunan Giri. “Ini juga asli, peninggalan masa sunan-sunan dulu. Kalau kerisnya sudah duplikat,” kata Solihin, santri pesantren Mambaussholihin Gresik yang menjaga stand tersebut.
Menurut pengakuan Sholihin, tidak sedikit wisatawan manca negara yang datang melihat koleksi yang dipamerkan oleh Pemprov Jatim dan lainnya. “Banyak juga wisatawan mancanegara yang melihat ke sini,” katanya seraya menunjukkan daftar pengunjung yang mengisi buku tamu.
Hariyanto seorang pengunjung lainnya begitu antusias melihat koleksi foto-foto masjid di stand Gorontalo. Bersama Tribun, ia terlihat begitu menikmati beberapa bingkai foto yang dipajang oleh peserta pameran di setiap stand. “Sayang hanya foto-foto, andai maket atau miniatur, pasti akan lebih asyik. Kalau begini kan kita hanya bisa menikmatinya secara sekilas saja, padahal setiap daerah itu pasti ada masjid bersejarahnya,” ujarnya.
Menurutnya, jika saja pameran tersebut lebih banyak diisi oleh peninggalan kuno dan modern pasti akan lebih banyak lagi yang akan mendatangi pameran. Ia menilai, peserta pameran juga masih terlalu sedikit dibandingkan dengan masjid dan kraton yang pernah ada di Nusantara ini.
Selain masjid-masjid kuno, tidak sedikit gambar-gambar masjid modern yang dipajang. Bahkan ada juga ornamen masjid yang penuh dengan hiasan kaligrafi Arab yang turut di pamerkan dalam foto-foto yang dipajang. Satu-satunya maket yang dihadirkan pada pameran ini adalah maket Masjid Raya yang rencanya akan dibangun di Dompak.
Festival ini ditutup Minggu (8/11) malam oleh wakil wali kota Batam, Ria Saptarika. Pada penutupan itu juga diumukan tujuh masjid yang mendapatkan penghargaan, yakni Masjid Agung Al-Azhar Jakarta, Masjid Agung Semarang Jawa Tengah, Masjid Sunda Kelapa Jakarta Pusat, Masjid Jogokarian Yogyakarta, Masjid Agung Palembang, Masjid Raya Batam, dan Masjid Al-Akbar Surabaya. Selain itu, panitia juga menobatkan stand dinas pariwisata dan kebudayaan Provinsi Maluku Utara sebagai stand terbaik.(man/rin)