Close
 
Selasa, 9 Juni 2026   |   Arbia', 23 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 1.888
Hari ini : 21.610
Kemarin : 24.704
Minggu kemarin : 227.151
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

09 november 2009 06:47

Sigi Lamo, Masjid Khusus Laki-laki

Menggali Ilmu di Festival Masjid Bersejarah
Sigi Lamo, Masjid Khusus Laki-laki

Oleh: Anton

Sejak dibuka tiga hari lalu, stand Maluku Utara memang cukup menjadi idola. Pengunjungpun hilir mudik bergantian untuk mencari tahu sejarah masjid tertua di Ternate ini.

“Pengunjung datang silih berganti dari hari pertama hingga hari ini dan semuanya tertarik melihat masjid tertua Ternate beserta sejarahnya dan kitapun menyediakan buku panduan mengenai objek wisata yang ada di Maluku Utara ini untuk dibawa pulang,” ujar Al-Azis dari Dinas Pariwisata Maluku Utara.

Sejarah Sigi Lamo, sebutan masjid ini,  adalah ketika Portugis membangun benteng Gamiamo. Di dekat lokasi benteng itu telah berdiri sebuah masjid yang menjadi tempat salat seluruh orang Ternate yang bermukim di Gamiamo.

Sigi Lamo tersebut terbuat dari kayu. Tidak jelas kapan dan oleh siapa Sigi Lamo itu didirikan. Kemungkinan ia berasal dari masa Sultan Zainal Abidin (1486-1500). Kolano Ternate pertama yang mengganti gelar kolano-nya sultan.

Pada masa pemerintahan Sultan Khairun, Gubernur Portugis Antono Galvao (1536-1540) meminta Sigi Lamo dipindahkan kira-kira 100 meter, karena letaknya terlalu dekat dengan benteng Gamiamo. Khairun mengabulkan permintaan itu, sebuah keputusan yang sangat mencerminkan solidaritas dan jiwa damai.

Bagaimana wujud dan design Sigi Lamo setelah dipindahkan, tidak diketahui secara pasti. Tetapi, dalam pemindahan Sigi Lamo tersebut Gubernur Galvao dan Sultan Khairun sendiri ikut bekerja bahu-mambahu dengan rakyat.

Sekitar tahun 1500-an, Sultan Khairun melakukan restorasi besar-besaran terhadap Sigi Lamo pertama. Selain diperbesar, Khairun juga memanfaatkan batu untuk membuat dindingnya. Sigi Lamo ini merupakan satu-satunya masjid semi permanent yang dibangun pada masa itu. Arsitekturnya sama dengan masjid sebelumnya tetapi atapnya hanya terdiri dari tiga tumpang (deklagen).

Setelah masjid raya selesai direstorasi, Sultan Khairun mulai menata fungsionaris dan pranata masjid. Ia membentuk staf inti pengelola Sigi Lamo yang terdiri dari dua orang imam, empat orang khatib, dan empat belas orang moding. Semua fungsionaris Sigi Lamo ini direkrut dari komunitas Sosio-Sangaji.

Pada awal Juni 1607, Kesultanan Ternate resmi kembali ke Ternate. Kadaton darurat untuk Sultan mulai dibangun. Demikian pula, tempat-tempat ibadah di tiap pemukiman juga mulai dibangun dalam bentuk langgar yang bersifat darurat.

Pada 1663, ketika Spanyol keluar dari ternate dan meninggalkan seluruh wilayah Maluku Utara, termasuk Tidore, Sigi Lamo buatan Khairun dimusnahkan. Selain benteng Gamiamo, seluruh bangunan lainnya diratakan dengan tanah.

Pada 1679, Sigi Lamo dibangun kembali. Sementara Kedaton dibangun lebih dahulu, yakni pada 1673, Sultan Ternate yang membangun kedua bangunan khas ini adalah Sibori Amsterdam, putera sulung Sultan Mandarsyah.

Pada 1705, terjadi kebakaran besar yang menghanguskan seluruh bagian Sigi Lamo. Sultan Said Fathullah, putera kelima Mandarsyah yang popular dengan sebutan Kaicil Toluki atau pangeran Rotterdam, kembali membangun Sigi Lamo.

Sultan Said naik tahta pada 1689. ketika membangun kembali Sigi Lamo, Sultan Said menggunakan bahan dari kayu dan tetap mempertahankan disain arsitektur sebelumnya yang terdiri dari 3 tumpang.

Pada 1818, di masa kekuasaan Sultan Muhammad Zain (1807-1821), Sigi Lamo kembali direnovasi yang mendasar. Sultan Muhammad Zain yang saleh ini membuat dinding masjid dari tembok batu yang kokoh dan tebal. Sementara tumpangnya ditambah dua lagi sehingga seluruhnya menjadi 5 tumpang yang terlihat sekarang ini. Atap masjid yang 5 tumpang itu terbuat dari daun sagu berkualitas tinggi yang didatangkan dari Sanana. Baik disain maupun konstruksinya dikerjakan kawula Ternate sendiri.

Di sisi lain Sigi Lamo terdapat perumahan anggota Soa Ngofa-ngare, dan di bagian timurnya terdapat sebuah lapang terbuka yang dibelah oleh jalan raya. Pada bagian barat, terhampar lapangan luas, yang sejak kematian Sultan Muhammad Zain dijadikan sebagai pekuburan kesultanan.

“Tanah seluas satu hektar yang mengelilingi Sigi Lamo adalah tanah lapang dan bagian belakangnya dijadikan kuburan Sultan Ternate,” ujar Al-Azis.

Keunikan lain yang merupakan dari Sigi Lamo ini selain merupakan masjid tertua yaitu hanya digunakan khusus laki-laki saja. Karena mereka beranggapan laki-laki sebagai pemimpin keluarga dari dunia higga akhirat. “Bukan perempuan tidak boleh salat, akan tetapi untuk Sigi Lamo sendiri hanya untuk kaum laki-laki dan jika perempuan ingin salat dipersilahkan ke tempat lain,” ujar Al-Azis.

Untuk salat berjamaah ada empat orang yang mengumandangkan adzan yang menandakan kebersamaan empat orang sultan.

Pantauan Tribun Sabtu (7/11) pendatang silih berganti mengunjungi stand dari Maluku Utara karena bukan hanya Masjid yang ditampilkan akan tetapi souvenir dari Maluku Utara juga dipamerkan seperti miniatur kapal, pot bunga, dan berbagai rempah seperti cengkeh, pala, dan kayu manis yang merupakan hasil bumi dari tanah Ternate.

“Kita memang mempersiapkan secara matang untuk mengikuti Festival Masjid ini agar menarik minat pengunjung sekaligus untuk memperkenalkan masjid tertua di Ternate beserta hasil alam lainnya,” ujar Al-Azis menutup pembicaraan.(rin/hat)

__________

Anton

Sumber: http://www.tribunbatam.co.id
Kredit Foto: http://202.155.15.208


Dibaca : 1.481 kali.

Tuliskan komentar Anda !