Close
 
Selasa, 9 Juni 2026   |   Arbia', 23 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 1.680
Hari ini : 21.622
Kemarin : 24.704
Minggu kemarin : 227.151
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

19 november 2009 04:08

Tempat Ilmu dalam Sastra Melayu (Dulu, Kini, dan Nanti)

Tempat Ilmu dalam Sastra Melayu (Dulu, Kini, dan Nanti)

Oleh An. Ismanto

Dalam kesusastraan modern, karya sastra dan kritik sastra dapat dibedakan salah satunya berdasarkan peranan akal dalam penciptaannya. Dalam penciptaan karya sastra, peranan akal adalah minimal. Sebaliknya, dalam kritik sastra, akal memegang peran utama. Sehingga, sering muncul anggapan bahwa dalam proses kreatifnya, pengarang menjauhkan akal sejauh-jauhnya dan mendayagunakan emosi sebesar-besarnya karena didasari asumsi bahwa karya sastra adalah sarana ekspresi yang terutama bersifat emosional. Sedangkan, tugas kritik sastra adalah menguraikan kelemahan dan kekurangan suatu karya berdasarkan argumentasi yang kuat. Argumentasi adalah kegiatan yang mengandalkan kerja akal atau penalaran. Akibatnya, ilmu (kerja penalaran yang teratur), hanya bertempat di ranah pascapenciptaan sastra.

Namun, beberapa tahun yang lalu di Malaysia telah beredar pandangan yang hendak menetapkan ilmu sebagai landasan utama dalam penciptaan sastra. Pandangan yang dipromosikan oleh Gerakan Persuratan Baru ini ditimba dari khasanah kesusastraan Melayu Klasik. Menurut Persuratan Baru, para sastrawan Melayu Klasik, yang menyebut proses penciptaan sastra mereka sebagai "pekerjaan kalam", berusaha sekeras mungkin untuk menggapai kehormatan yang tinggi dengan menghasilkan karya yang berfaedah. Fungsi faedah ini dianggap lebih tinggi daripada fungsi hiburan semata-mata. Tuntutan untuk memberikan faedah ini hanya bisa diberikan dengan "ilmu" yang dapat memberikan pengajaran kepada khalayak pembaca.

Namun, fungsi faedah saja belum memberi suatu karya kehormatan yang paling ultim. Maka, suatu karya yang paling mulia dalam pandangan kesusastraan Melayu Klasik adalah karya yang juga berfungsi untuk memberikan efek rohani kepada audiens. Inilah fungsi tertinggi dan termulia yang seharusnya menjadi ideal bagi seluruh karya sastra dalam kesusastraan Melayu Klasik.

V.I. Braginksy (1998) telah menguraikan "hierarki sastra" ini menjadi (dari urutan paling rendah ke yang paling tinggi): yang indah, yang berfaedah, dan yang kamal. Sastra pada mulanya memang diniatkan menjumpai indera dan dari situ muncullah keindahan. Tetapi keindahan ini, yang memberikan kesenangan estetik dan literer kepada audiens, jelas tidak memberikan sesuatu selain kesenangan (hiburan) saja. Sastrawan Melayu harus juga memberikan faedah melalui karyanya. Dengan kata lain, sastrawan harus juga mengajarkan sesuatu kepada pembaca. Inilah yang memunculkan salah satu ciri kesusastraan Melayu Klasik: didaktis. Keindahan dan faedah ini pada gilirannya juga harus membuat pembaca menyadari eksistensinya sebagai makhluk Tuhan. Jadi, sastra Melayu pada Zaman Klasik adalah sarana dakwah yang hendak memberikan tuntunan rohani dalam rangka pengabdian kepada Tuhan.

Ungku Maimunah Thahir (2007) menguraikan bahwa landasan penciptaan dan berpikir para sastrawan Melayu Klasik tersebut memudar setelah masuknya estetika Barat ke dunia Melayu. Perkembangan realisme dalam kesenian dan kesusastraan di Eropa telah mendorong lahirnya bentuk novel. Novel yang ideal adalah the slice of life, sebuah potongan kehidupan, yang harus disajikan semirip mungkin dengan realitas sosial yang ada di masyarakat, yang selanjutnya menjadi sarana untuk memberikan pengetahuan tentang realitas sosial tersebut kepada pembaca. Karena tugasnya ini, maka novel realis Eropa dipenuhi dengan watak-watak yang keji, amoral, dan buruk. Dengan mengetahui realitas sosial yang tercermin dalam novel, diharapkan pembaca dapat memiliki kesadaran tentang realitas sosial dan kemudian mengambil tindakan ke arah perbaikan. Di sini, sastrawan Eropa masih mengajarkan sesuatu, sebagaimana para sastrawan Melayu Klasik, kepada para pembacanya. Namun, gradasi pengajaran itu samar-samar dan bersifat tidak langsung.

Kesamaran dan ketidaklangsungan pengajaran ini dipandang sebagai norma yang baik dalam kehidupan masyarakat Eropa abad ke-18 yang sedang membentuk masyarakat industri-sekuler. Karya sastra yang berpretensi mengajari pembaca dinilai sebagai karya yang rendah. Istilah sermonizing (berkhotbah) ditujukan dengan sinis kepada karya-karya yang demikian itu. Pandangan kesusastraan yang hendak menyamarkan pengajaran kepada pembaca selanjutnya disebar dan ditanamkan melalui kolonialisme di daerah jajahan bangsa-bangsa Eropa, termasuk dunia Melayu. Pandangan realisme-sekuler dalam sastra Eropa ini, dikombinasikan dengan proyeksi tentang modernitas, menjadi tolok ukur intelektual yang harus diikuti oleh bangsa-bangsa yang terjajah agar dapat dikatakan sebagai "modern".

Karena strategi pengajaran ala Barat, yang tersamar dan tidak langsung itu, pertama-tama adalah menarik minat khalayak agar mau membaca karya sastra, maka yang dipentingkan adalah "bentuk" suatu karya. Karya sastra harus diciptakan sedemikian rupa sehingga memikat. Alhasil, yang terpenting bagi seorang sastrawan Eropa (dan selanjutnya juga sastrawan Melayu "modern") adalah, dalam kasus prosa, "prinsip membikin cerita" (yang memikat pembaca pada pandangan pertama). Maka, seorang pengarang "modern" akan memikirkan betul-betul plot, perwatakan, latar dan lain-lain unsur intrinsik suatu karya sastra agar dapat menyampaikan emosi dengan cara yang memikat.

Keasyikan dalam mengolah prinsip-prinsip ini membuat fungsi faedah, ilmu, pengajaran, berada di nomor dua. Ilmu tidak lagi menjadi soal terpenting dalam  karya sastra. Akibatnya, kritik, yang tugasnya memperlihatkan kelebihan dan kekurangan suatu karya itu, harus memperhitungkan nilai suatu karya berdasarkan prinsip-prinsip membikin cerita itu. Keasyikan kritik dalam menguraikan argumentasi untuk menilai suatu karya itu menjadi hal yang paling penting dalam kritik sastra modern, sehingga kandungan keilmuan suatu karya sering terabaikan.

Jadi, dalam "hierarki sastra" Melayu Klasik, apa yang dilakukan oleh para sastrawan (Melayu) modern sebenarnya dapat dikatakan baru merupakan usaha untuk mencapai tingkat yang paling rendah, yakni menciptakan sastra sebagai entitas keindahan (yang menghibur dan memberi kesenangan). Ini jelas menyiratkan sesuatu yang peyoratif pada aktivitas penciptaan sastra yang dilakukan oelh para sastrawan Melayu modern--yang mengikuti teladan para sastrawan Eropa. Persuratan Baru hendak mengembalikan landasan penciptaan dalam sastra Melayu Klasik ke dalam aktivitas penciptaan sastra, yakni menjadikan ilmu sebagai landasan penciptaan sastra dan peng(k)ajian karya sastra.

Sekilas, gagasan Persuratan Baru itu seakan-akan adalah upaya untuk melestarikan tradisi persuratan Melayu yang terancam oleh badai globalisasi (Westernisasi). Upaya pelestarian itu tentu saja mulia karena tradisi adalah salah satu penopang identitas sesuatu komunitas. Namun, Persuratan Baru hendaknya juga merenungkan semangat zaman yang sedang hidup pada masa ini. KIta tahu bahwa masa ini adalah masa di mana hiburan telah menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan massa, seperti yang terlihat dalam banyaknya acara hiburan di televisi, atau rubrik-rubrik "ringan" dan "menghibur" di media-media cetak. Tabiat massa pada masa kini adalah tabiat yang tidak menginginkan "yang berat-berat". Mereka mau "yang ringan-ringan". Naluri bermain lebih kuat dan mendapatkan saluran dalam lingkungan sekeliling sehingga naluri untuk belajar (mendapatkan pengajaran) melemah. Dengan tipologi massa yang seperti itu, apakah karya sastra yang berpretensi secara eksplisit hendak memberikan pengajaran (faedah-ilmu) kepada audiens akan diterima dengan mudah?***

__________

An. Ismanto, redaktur di MelayuOnline.com

Kredit Foto: http://emnoer.com


Dibaca : 1.771 kali.

Tuliskan komentar Anda !