Close
 
Sabtu, 15 Agustus 2026   |   Ahad, 1 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 5.021
Kemarin : 43.662
Minggu kemarin : 179.363
Bulan kemarin : 11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

23 desember 2009 05:23

Akankah Atlantis dan Indonesia Sama-Sama Tenggelam?

Akankah Atlantis dan Indonesia Sama-Sama Tenggelam?
Tata kota peradaban Atlantis

Oleh: Adi Tri Pramono

Di tengah-tengah kejengahan ketidakpastian politik, hukum, dan kabar-kabar lain yang tidak mengenakkan hati, hadir semilir kabar bahagia yang bisa agak meredakan kesedihan bangsa Indonesia. Bertepatan dengan perayaan Hari Ibu, kemarin (22/12) salah satu media elektronik khusus berita dalam program paginya menyajikan tema “Atlantis, The Lost Continent Finally Found.” Tema ini sekilas tidak menimbulkan rasa bahagia sebab kalaupun diterjemahkan ‘hanyalah’ menjadi  “Atlantis, Daratan Yang Hilang Akhirnya Ditemukan.” Yang membahagiakan adalah lokasi ditemukannya Atlantis adalah di Indonesia. Tema tersebut ibarat sengatan petir di siang bolong yang membahagiakan, sampai-sampai stasiun TV tersebut  yang biasanya hanya dipelototi saat ada kasus korupsi dan kenakalan bangsa ini menjadikan tema ini menjadi topik sentral diskusinya. Tema tersebut didasarkan pada tesis seorang ilmuwan berkebangsaan Brasil bernama Profesor Arysio Nunes dos Santos yang sudah dibukukan dalam Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization. Saya sendiri termasuk yang merasakan sengatan membahagiakan itu dan merasa perlu membagi sengatan itu kepada pembaca yang budiman.

Atlantis adalah salah satu peradaban kuno yang sudah sedemikian maju namun telah hilang. Dari semua literatur yang menyebutkan keberadaan Atlantis, semuanya bermuara pada catatan kuno filsuf Yunani, Plato (427-347 SM), yang berjudul Timaeus dan Critias. Dalam catatan ini, Plato menuliskan dialog yang dilakukan Socrates dengan Timaeus dan Critias. Dalam dialog tersebut, Critias menceritakan tentang keberadaan perabadan Atlantis yang diceritakan secara turun-temurun oleh kakek moyangnya yang juga bernama Critias. Dialog tersebut ditulis oleh Plato demikian:

“Di hadapan Selat Mainstay Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya, di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah kerajaan Atlantis. Ketika itu Atlantis baru akan melancarkan perang besar dengan Athena, namun di luar dugaan, Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar laut, negara besar yang melampaui peradaban tinggi, lenyap dalam semalam.” http://id.wikipedia.org/wiki/Atlantis)

Dalam dialog tersebut, Critias (generasi kakek Critias) menyampaikan bahwa baik kebudayaan Yunani maupun kebudayaan Atlantis telah mewakili konsep peradaban sempurna saat itu. Atlantis lantas dipolarisasi menjadi musuh dari peradaban Yunani. Namun saat akan menyerang Yunani, Atlantis tiba-tiba diguncang dengan gempa bumi hebat yang menenggelamkannya hanya dalam waktu sehari semalam. Cerita tersebut didapatkan kakek Critias dari Solon, yang merupakan pengkode, sastrawan serta tokoh demokrasi Athena, saat berkunjung ke Mesir. Dalam perjalanan yang berlangsung sekitar abad ke-6 SM, Solon bertemu dengan pendeta bernama Psenophis Heliopolis dan Sonchis Saite dari Sais yang telah menerjemahkan naskah-naskah dari Athena maupun Atlantis ke dalam bahasa Yunani dalam huruf hieroglif Mesir. Kedua pendeta tersebut merupakan pendeta yang wajib dikunjungi oleh orang yang ingin berguru di Mesir.

Dalam cerita ini, Critias menyebutkan bahwa dewa membagi wilayah bumi menjadi tiga bagian, salah satunya adalah Atlantis yang diserahkan kepada Poseidon. Poseidon akhirnya menikah dengan perempuan asli Atlantis bernama Cleito (putri dari Elenor dan Luiceppe). Dari perkawinan ini mereka mendapatkan 10 anak laki-laki. Poseidon lantas membagi Atlantis menjadi 10 bagian yang diserahkan masing-masing kepada anaknya. Anak tertuanya, Atlas, mendapatkan wilayah paling dalam yang merupakan pusat peradaban (lihat gambar). Dari nama Atlas-lah nama Atlantis berasal, yang berarti Pulau Atlas.  Sedangkan lautan yang mengelilingi Atlantis disebut Lautan Atlantik untuk menghormati “kekuasaan” Atlas atas wilayah tersebut. Masih dalam cerita tersebut, Atlantis diperkirakan berada sekitar 700 kilometer dari Mesir, sebagian besar terdiri dari pegunungan di wilayah utara dan sepanjang pantai, dan mengelilingi padang rumput yang membentang sekitar tiga ribu stadia (sekitar 600 km).

Tata kota Atlantis diatur dengan cincin-cincin tanah dan laut yang memiliki lebar bertingkat. Di pusat Atlantis terdapat sebuah istana yang disebut dengan Mata Sapi. Istana ini dikelilingi dengan tiga terasering dari parit dengan lebar antara 400-600 meter. Untuk menghubungkan cincin-cincin atau pulau tersebut, bangsa Atlantis membangun sebuah jembatan. Di samping itu, agar kapal-kapal dapat masuk ke pusat kota, maka dibangunlah sebuah cincin yang menembus pulau-pulau Atlantis. Setiap pulau di Atlantis dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari campuran batuan merah dan hitam serta dilapisi dengan kuningan dan timah, sedang di setiap jalan masuk kota terdapat gerbang dan menara penjagaan.

Cerita dari Critias di atas menjadi satu-satunya sumber literatur yang mengindikasikan keberadaan riil dari Atlantis. Ada banyak ahli yang menyatakan bahwa penuangan cerita Atlantis oleh Plato hanyalah sebagai metafora eksplanasi dari konsep Republik yang menjadi magnum opus Plato. Artinya peradaban Atlantis tidaklah eksis. Pernyataan ahli tersebut terutama didasari atas ketidaksinkronan analisis timeline keberadaan peradaban Atlantis dengan  timeline keberadaan peradaban maupun peristiwa besar  lain yang sudah “dibakukan“ oleh sejarah selama ini.  Tetapi yang lazim dipercayai penduduk dunia saat ini, letak peradaban Atlantis sekarang adalah di dasar Samudra Atlantik. Dari asumsi ini, diperoleh anggapan bahwa peradaban Atlantis (daratan), pada mulanya ada namun gempa bumi mengakibatkan peradaban ini hilang terkubur oleh air hingga menjadi samudra sebagaimana yang kini menjadi Samudra Atlantik. Bertentangan dengan tesis tersebut, ada pula tesis minor yang menyatakan bahwa peradaban Atlantis terletak di laut Tengah (Mediterania). Tak ketinggalan kedigdayaan peradaban Amerika juga menyatakan bahwa Atlantis terletak di Amerika.

Lepas dari delik maupun distorsi mengenai keberadaan Atlantis versi Critias dan Plato, bagaimana pun Atlantis telah mewakili kesempurnaan peradaban saat itu. Hal itu juga berarti Atlantis telah memiliki standar yang ingin dimiliki oleh peradaban mana saja. Karena itu kesejarahannya juga menjadi sesuatu yang sangat berharga. Nah, inilah letak prestise dari Atlantis yang kini sedang menjadi sengatan yang membahagiakan sebagaimana yang saya utarakan di awal tadi, “Atlantis, The Lost Continent Finally Found.” And where is exactly the location? In Indonesia.

Itulah kesimpulan Profesor Arysio Nunes dos Santos. Profesor nuklir ini mengemukakan tesis tersebut dengan menganalsis 33 indikator yang menyamakan antara Indonesia dengan Atlantis. Indikator tersebut antara lain luas wilayah, kekayaan alam, gunung berapi, pola bertani, cuaca, iklim, artefak budaya dan lain-lain. Kesamaan ini bahkan bisa dilihat dari persamaan ciri peninggalan peradaban Atlantis dengan peradaban Indonesia yang hingga kini masih bisa dilihat, seperti sistem pertanian terasering dan  Candi Borobudur. Dua peninggalan unsur budaya ini serupa dengan yang ada di Mesir (Mediterania) yakni piramida dan bangsa Aztec (Meksiko, Amerika) yang juga memiliki seni arsitekstur piramida.

Mengenai luas wilayah Atlantis, bangsa Mesir menyatakan luasnya melebihi/meton (bahasa Yunani) Lybia dan Asia. Dengan luas seperti itu peradaban Atlantis memang bisa menaungi tiga wilayah yang selama ini masih bisa ditemukan peninggalan bercirikan Atlantik yakni Mediterania, kepulauan Indonesia dan Meksiko. Tetapi lagi-lagi tesis ini juga memiliki kelemahan, oleh karena kata meton juga diartikan di antara. Argumensi Prof. Santos sebenarnya telah dikemukakan oleh beberapa ahli sebelumnya. Dalam acara diskusi pagi stasiun TV tersebut, Prof. Jimly Assidiqie bahkan menyatakan pada tahun 1999, Openheimer pernah menerbitkan buku yang isinya hampir sama dengan tesis Prof. Santos. Selain itu pada juni 2005 juga ada sebuah diskusi di Solo bertajuk “International Symposium on The Dispersal of Austronesian and The Ethnogeneses of The People in Indonesian Archipelago” yang menyatakan bahwa Atlantik adalah Sunda Land atau Summa Terra Land yang meliputi wilayah Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Pulau-pulau inilah yang menjadi sampul buku Prof. Santos. Argumentasi diskusi ini didasarkan pada analisis bahwa sekitar 11.600 tahun silam, Sunda Land merupakan daratan yang sangat besar namun akhirnya terpisah karena beberapa bagiannya tenggelam akibat pasang surut air laut yang begitu dahsyat.

Atlantis bahkan juga menjadi penyelidikan yang menarik pemerintah Nazi untuk mencari hubungan antara ras Aria yang ada di India dengan yang ada di Jerman. Heinrich Himmler, perwira SS (Schutzstaffel/pasukan elit Nazi) bahkan sampat mengirimkan sebuah tim peneliti untuk mencari keberadaan ras Aria putih yang masih tersisa yang diduga sama dengan orang-orang Atlantis. Sebab, menurut Julius Evola (Revolt Against the Modern World, 1934), bangsa Atlantis adalah manusia super (Übermensch) Hyperborea-Nordik yang berasal dari Kutub Utara. Begitu juga yang dikemukan oleh Alfred Rosenberg dalam The Myth of the Twentieth Century (1930) yang mengemukakan persamaan kepala ras Nordik-Atlantis atau Arya-Nordik dengan orang Jerman.

Tesis yang dideskripsikan dalam dua paragraf di atas, berbeda dengan pandangan lazim yang menyatakan bahwa Atlantis telah terkubur di dasar Samudra Atlantik. Tesis-tesis tersebut juga menegaskan bahwa  peradaban Atlantis memiliki dua wilayah yang hingga kini masih ada, yakni daratan Atlantis yang letaknya di Indonesia dan juga laut Atlantis (Samudra Atlantik). Wilayah daratan Atlantis itulah yang secara sepesifik saya sebut sebagai sengatan petir di siang bolong yang membahagiakan.

Sekali lagi, terlepas dari benar atau tidaknya, tesis Profesor Santos membawa semangat besar bagi bangsa Indonesia yang sedang tenggelam oleh perilaku oknum anak bangsanya. Korupsi dan rupa-rupa kejahatan lain mungkin usianya setua peradaban itu sendiri namun kedigdayaan suatu peradaban tidak akan terhenti hanya karena dalam perjalananya terhambat oleh korupsi. Semangat ini juga bisa menaikkan kepercayaan diri yang bisa memposisikan Indonesia sejajar dengan “pemilik sejarah” yang selama ini dikonstruksi secara Eurosentris.

Namun, jika benar peradaban Atlantis ada di Indonesia, maka seharusnya bangsa ini sekarang malu melihat di dalamnya masih terjangkit penyakit akut dalam bentuk korupsi dan kejahatan-kejahatan yang berujung pada pengistimewaan golongan. Jika pun tesis itu salah, maka itu cukuplah bisa menjadi berita yang  menyegarkan hati bangsa Indonesia, meskipun tetap saja, masih harus malu dengan korupsi dan kejujuran. Sebab, siapapun sepakat janganlah sampai peradaban Indonesia mengikuti Atlantis yang “tenggelam”.

Adi Tri Pramono, Redaktur di wisatamelayu.com

__________

Daftar bacaan:


Dibaca : 1.934 kali.

Tuliskan komentar Anda !