Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Opini
28 desember 2009 02:12
Kritik Sastra dan “Media Massa”
Oleh An. Ismanto
Jika berbicara tentang “media massa”, sebagian besar orang agaknya akan merujuk pada media penyampaian informasi untuk orang banyak (massa) yang berupa media cetak (koran, majalah, buletin) atau media elektronik (radio dan televisi). Pada tahun-tahun belakangan ini, media massa juga dikaitkan dengan media online (internet).
Namun, kategorisasi yang populer ini melewatkan media penyampaian informasi bagi orang banyak (massa) yang berupa buku. Padahal, buku adalah salah satu media (untuk) massa yang memiliki sejarah paling panjang, termasuk juga sejarah perbukuan di ranah geografis dan kultural yang merupakan cikal bakal negara-bangsa Indonesia.
Buku jelas merupakan sebuah media untuk massa (orang banyak). Buku ditulis, diperbanyak dan didistribusikan dengan cara apapun dengan mengandaikan ada khalayak (ini kata benda jamak) yang akan membacanya. Khalayak inilah yang, secara longgar, dapat disebut sebagai “massa” pembaca.
Media massa berupa media cetak dan media elektronik serta online yang disebutkan di atas agaknya akan lebih tepat jika diberi label sebagai “pers”. Asumsinya adalah bahwa “media massa” merupakan istilah yang cakupannya lebih luas, sedangkan “pers” adalah istilah yang lebih spesifik. Makalah ini akan membahas hubungan antara pers dengan karya sastra.
Pers Awal dan Karya Sastra
Pers, khususnya di Indonesia, adalah produk kebudayaan “modern”. Sebelum muncul media penyampai informasi dalam bentuk cetak, informasi atau berita disampaikan melalui sarana “kabar burung”, “kata orang”, “dari mulut ke mulut” atau sarana lisan yang lain. Penyampaian informasi atau berita secara tertulis biasanya hanya dilakukan oleh kalangan istana. Misalnya, ketika raja dari suatu negeri menyampaikan keinginannya kepada raja dari negeri lain, dia melakukannya dengan surat yang dibawa oleh utusan.
Pers cetak pertama di Indonesia muncul pada masa kolonial, yaitu Bataviasche Nouvelles, yang terbit di Batavia pada tahun 1744 dan menggunakan bahasa Belanda (Ahmat Adam, 1995:4). Karena menggunakan bahasa Belanda, khalayak pembacanya terbatas pada masyarakat yang memahami bahasa Belanda. Sedangkan surat kabar pertama yang menggunakan bahasa Melayu – yang kelak akan bertransformasi menjadi bahasa Indonesia – adalah Soerat Kabar Bahasa Melaijoe yang menggunakan bahasa Melayu Lingua Franca[1] pada 1856 di Surabaya (Adam, 1995:32).
Dalam perkembangannya selama masa kolonial itu, pers berbahasa Melayu telah memberikan tempat kepada karya-karya sastra yang menggunakan bahasa Melayu. Bintang Betawi (1900) memuat Cerita Rossina karya F.D.J Pangemanann sebagai feuilleton atau cerita bersambung, Medan Prijaji (1907-1912) memuat Busono karya Tirto Adhi Soerjo dan Hikayat Siti Mariah karya Haji Mukti, Sinar Hindia (Sinar Djawa [?] [1899 – 1924) memuat Rasa Merdika/Hikayat Soedjanmo dan Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo serta Hikayat Kadirun karya Semaun (Jacob Sumardjo, 1992:9-11).
Sebelumnya, di semenanjung Malaya yang dikuasai Inggris, telah terbit sebuah pers cetak lain berupa majalah bernama Tjeremin Mata yang dikelola oleh misionaris Protestan pada tahun 1850-an. Tjeremin Mata menggunakan bahasa Melayu dan huruf Jawi. Majalah ini pernah memuat Hikayat Pelayaran Abdullah ke Mekkah karya Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi secara bersambung dalam tiga edisi selama rentang 1858-1859 (Sweeney, 2005:263).
Selain pers yang menyisipkan karya sastra dalam terbitannya, pada masa kolonial itu telah terbit surat kabar berkala khusus sastra, yaitu Bintang Oetara. Bintang Oetara berorientasi pada pencerahan dan menyediakan halaman-halamannya untuk hikayat Melayu dan Indo-Persia, pantun, artikel pengetahuan umum, dan reportase pelbagai peristiwa dari negeri-negeri yang jauh, seperti Amerika dan Belanda. Hikayat disarikan dari teks Melayu dan Jawa, seperti Tajus Salatin, cerita Raden Mantri dan Ken Tambuhan, serta terjemahan Cerita Seribu Satu Malam dan cerita-cerita Indo-Persia seperti “Hikayat Hatim Taya” (Adam, 33-34).
Pers dan Kritik Sastra
Pemuatan karya-karya tersebut tentu didahului oleh suatu proses evaluasi untuk menentukan apakah karya-karya tersebut sesuai dengan standar yang telah ditentukan oleh redaksi masing-masing. Karena pada dasarnya segala sesuatu yang bersifat evaluasi adalah kritik sastra (Budi Darma, 1995:145), maka kritik sastra – entah dengan metode apa, tetapi dilakukan secara tersirat (tak diungkapkan secara langsung kepada khalayak pembaca) – telah dipraktekkan oleh pers berbahasa Melayu pada zaman kolonial itu.
Dengan demikian, sepak terjang kritik sastra dalam pers – media massa – Indonesia telah dimulai sejak lahirnya pers sendiri. Pada tahun-tahun awal sepak terjangnya ini, kritik sastra dalam pers mengambil bentuk yang berbeda dari kritik yang lazim dipraktekkan sebelum wujudnya pers, seperti yang dilakukan oleh Syamsuddin as-Sumatrani ketika menafsirkan syair-syair Hamzah Fansuri dalam beberapa fragmen dari tulisannya yang berjudul Syarh Ruba’i Hamzah al-Fansuri (V.I. Braginsky, 1998:470).
Karakteristik kritik sastra dalam pers umum yang “tak terucapkan” agaknya adalah karakteristik bawaan – kondisi ini tidak terjadi dalam pers khusus sastra yang menyediakan ruangan untuk kritik sastra yang cukup leluasa. Kritik sastra yang “tak terucapkan” itu mungkin disebabkan oleh karakteristik pers umum yang memiliki ruang terbatas untuk menayangkan produk-produknya (informasi atau berita). Karena itu, kritik sastra dalam pers umum biasanya “disisipkan” dalam bentuk timbangan atau resensi buku dan atau artikel-artikel di rubrik kebudayaan pada hari-hari tertentu – dalam pers umum, segala sesuatu tentang sastra, kecuali yang bernilai sebagai berita, sifatnya adalah “bukan yang utama”.
Walaupun demikian, wujud apresiasi sastra berupa kritik sastra, baik dengan cara “terungkapkan” maupun “tak terungkapkan” mampu memberikan pengaruh yang besar dalam tatanan kesusastraan Indonesia, seperti yang terlihat dalam pemilahan “Angkatan Pujangga Baru”, “Angkatan Gelanggang”, “Generasi Kisah” (1950-an) maupun “Generasi Horison” (1960-an).
Namun, kritik sastra yang eksploratif dan analitis tidak mungkin ditampilkan dalam pers umum. Segala argumen dan jalur penalaran yang sifatnya wajib dalam kritik sastra harus dipadatkan sedemikian rupa agar tercakup dalam ruang yang terbatas itu. Akibatnya, kritik sastra dalam pers umum lebih sering merupakan hipotesis yang masih harus dibuktikan dan diklarifikasi dengan bukti-bukti yang bersumber dari objek kritik, bukan tesis final seorang kritikus. Jadi, pada dasarnya kritikus yang mengungkapkan kritiknya di media pers bukanlah kritikus “akademis” tulen – mungkin dari spesies yang lain: kritikus “non-akademis”. Pembuktian dan klarifikasi yang terungkap dalam pers hanya bisa dilakukan di luar ruangan pers. Pada saat inilah kritikus “akademisi” dapat mengambil peran.
Sejak awal kelahiran pers, praktek apresiasi sastra dalam pers berupa kritik – terutama dalam pers umum – terutama berperan sebagai gerbang awal atau pemancing bagi khalayak (massa) untuk melanjutkan perjalanan dalam usaha memahami sastra secara ilmiah. Kritik sastra yang utuh hanya dapat dijumpai dalam ruang di luar ruang yang disediakan oleh pers. Ke depan, agaknya kondisi ini akan berlanjut terus.***
_____________
Daftar Bacaan
Amin Sweeney, 2005. Karya Lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi Jilid 1. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia bekerjasama dengan Ecole francaise d’Extreme-Orient.
Jacob Sumardjo, 1992. Lintasan sastra Indonesia modern. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.
Marcus A.S. & Pax Benedento (eds..), 2001. Kesastraan Melayu Tionghoa Jilid 4. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
V.I. Braginsky, 1998. Yang indah, berfaedah dan kamal. Diterjemahkan dari bahasa Rusia ke dalam bahasa Indonesia oleh Hersri Setiawan. Jakarta: INIS.
Artikel
Budi Darma, 1995. “Stagnasi Kritik Sastra” dalam Harmonium. Yogyakarta, Pustaka Pelajar.
[1] Istilah Lingua Franca berasal dari bahasa Italia dan artinya adalah “bahasa yang dipergunakan dalam komunikasi sosial oleh orang-orang yang berlainan bahasanya” (Ibnu Wahyudi dalam Marcus A.S. & Pax Benedento [eds..], 2001:xxi).