Close
 
Sabtu, 15 Agustus 2026   |   Ahad, 1 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 4.990
Kemarin : 43.662
Minggu kemarin : 179.363
Bulan kemarin : 11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

28 januari 2010 05:13

Apa Kabar Bangka dan Belitung?

Apa Kabar Bangka dan Belitung?

Oleh: Tunggul Tauladan

Kisah ini bermula ketika saya berencana untuk menulis tentang kerajaan di Kepulauan Bangka-Belitung (Babel). Terus terang saya tidak punya pedoman yang jelas apakah di Babel mungkin terdapat kerajaan atau tidak. Hanya saja saya yakin bahwa di Babel pernah terdapat suatu kerajaan.

Pertama saya petakan terlebih dahulu tentang Bangka dan Belitung. Dua daerah ini belum dijadikan satu sebelum adanya keputusan penggabungan Bangka-Belitung menjadi satu provinsi pada 2001. Beberapa perpustakaan telah saya datangi untuk mencari sumber tentang Bangka atau Belitung. Harapannya, setidak-tidaknya ada bukti atau data yang menyatakan bahwa terdapat satu-dua kerajaan yang pernah berdiri di salah satu pulau tersebut.

Berjam-jam saya bergumul dengan ratusan buku di perpustakaan di seputaran Kota Jogja. Tapi dari ratusan buku itu, tidak satu pun buku yang secara langsung dapat memuaskan kehausan ilmu pengetahuan saya. Bahkan dari ratusan bahan pustaka tersebut, hanya ada beberapa kalimat saja yang menerangkan tentang Belitung. Tapi bukan dengan perspektif sejarah, melainkan tentang penambangan timah.

Saya tidak memperoleh sedikit pun informasi yang dapat menjadi ide awal bagi saya untuk menulis tentang kerajaan di Bangka atau Belitung. Kajian pustaka jelas tidak mendukung untuk melunaskan kehausan ilmu pengetahuan saya. Akhirnya saya alihkan ke kajian maya alias internet.

Pencarian di internet memang memberikan hasil yang cukup lumayan. Di situs-situs tertentu disajikan sedikit data tentang Babel. Tapi kesulitan datang lagi ketika hanya sejarah Bangka-Belitung yang disinggung. Tidak pernah sedikitpun sumber-sumber tersebut menyebutkan tentang adanya kerajaan yang pernah berdiri di salah satu pulau dari kedua pulau tersebut.

Dari kesulitan mencari sumber ini, saya menarik satu kesimpulan awal, tidak ada kerajaan yang pernah berdiri di Bangka maupun Belitung. Pemerintahan yang berkuasa di kedua pulau tersebut hanya sebatas kepanjangan tangan dari penguasa yang menganggap Bangka dan Belitung sebagai bagian dari daerah taklukan penguasa tersebut. Sebut saja Kerajaan Palembang dan Majapahit yang pernah menyatakan bahwa daerah Bangka dan Belitung merupakan daerah yang pernah menjadi taklukan mereka.

Kisah tentang penaklukan dan siapa yang ditaklukkan, tidak pernah saya temukan. Satu-satunya petunjuk hanya berkutat seputar penguasa setempat yang bertugas untuk mengurus daerah Bangka maupun Belitung sebagai kepanjangan tangan dari kerajaan yang menaklukkan daerah ini.

Bagi saya, kenyataan ini merupakan ironi. Pasalnya, Bangka maupun Belitung telah dikenal sebagai daerah penghasil timah terbesar di nusantara sejak abad ke-17. Inggris, Perancis, sampai Belanda, berlomba-lomba untuk mengeksploitasi kedua pulau kaya ini. Tapi sisi ironis justru terjadi di sini karena sumber daya alam yang ada di Bangka dan Belitung habis terkuras, muka tanah dan lingkungan menjadi rusak, tetapi perhatian untuk merestrukturisasi lingkungan dan masyarakat, bahkan pada era kemerdekaan sangat kurang. Ditambah lagi penguasa yang ada di Bangka dan Belitung sejak masa kolonial mengesampingkan tradisi tulis tentang sejarah pulau nan kaya ini.

Bangka dan Belitung adalah cermin di mana kekuasaan menjadi sesuatu yang menafikan tradisi tulis (baca: pengetahuan). Ekonomi menjadi harga mati. Aspek selain perekonomian menjadi sesuatu yang kurang penting. Akibatnya, generasi sekarang ini buta akan sejarah daerahnya sendiri. Ini baru generasi sekarang. Bayangkan 100 tahun lagi, apakah sejarah Bangka dan Belitung akan tetap ada?

Pemerintah daerah setempat sebenarnya mempunyai peluang yang besar untuk mengungkap sejarah Bangka dan Belitung. Diberikannya keleluasaan melalui otonomi daerah seharusnya menjadikan pemerintah daerah menjadi aktor penting dalam mengembangkan daerahnya. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa tradisi menulis tentang daerah sendiri menjadi sesuatu yang tidak menarik bagi kalangan awam, terutama jika dibandingkan dengan ambisi pemerintah daerah untuk mengembangkan sektor lain, semisal pariwisata dan pembangunan sarana dan prasarana.

Tapi apakah kenyataan seperti ini akan terus menjadi budaya? Saya jadi teringat percakapan Farhan dan Djaduk Ferianto dalam acara “Tatap Muka” pada Minggu, 22 November 2009 di salah satu stasiun swasta. Di sana Djaduk kurang lebih mengatakan bahwa salah satu fungsi seni adalah membangun masyarakat. Even Organizer (EO) adalah badan yang senantiasa hanya memikirkan produk seni, tapi lupa untuk membangun masyarakat seni. Djaduk menganalogikan bahwa produk seni bisa terus bermunculan tapi akan berakibat buruk jika masyarakat tidak mengerti tentang seni. Mereka (masyarakat) bisa tertawa jika Butet Kartaredjasa bermonolog atau mereka bisa berdecak kagum jika Djaduk mementaskan musik. Tapi kekaguman itu hanyalah sebatas kekaguman karena masyarakat tidak sadar akan esensi yang dibawa para seniman tersebut. Mereka tidak sadar bahwa sebenarnya mereka menertawakan diri sendiri.

Kembali ke Bangka dan Belitung, pemerintah memang sedang giat-giatnya melakukan restrukturisasi, khususnya sarana dan prasarana. Hal ini tentu mempunyai dampak yang bagus, tapi sayangnya pemerintah lupa untuk merestrukturisasi masyarakat. Masyarakat bisa menjadi penikmat program pemerintah, tapi sudah lupa akan dirinya sendiri.

Kondisi ini mengingatkan kita pada kalimat Kaisar Matsuhito dalam Film “The Last Samurai”. Dalam film tersebut, kurang lebih sang kaisar berkata seperti ini, “Aku memimpikan Jepang menjadi kuat di masa depan. Sekarang kita sudah punya rel, kapal, senapan, dan berpakaian model Barat. Tapi kita sekarang sekaligus juga lupa akan siapa diri kita dan dari mana kita berasal.”

Berkaca pada keluhan sang kaisar tersebut, apakah kondisi Babel akan seperti yang dikhawatirkan sang kaisar, mengejar kemajuan dengan meninggalkan identitas? Apakah permasalahan penulisan tradisi sejarah Bangka dan Belitung akan terus kita lupakan atau kini mulai ada salah satu pihak yang mencoba untuk memulai penulisan ini? Barangkali jawaban yang paling aman adalah “biar waktu yang menjawab”.

__________

Tunggul Tauladan, Peneliti di Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM).

Sumber Foto: http://mediasholeha.wordpress.com


Dibaca : 1.503 kali.

Tuliskan komentar Anda !