Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Opini
22 maret 2007 07:12
Kisah Taman Para Penyair
Oleh: Indra Permanasari
Di negeri Melayu nelayan berhati laut, tak ada tempat untuk berhias, hanya nyanyian alun tak pahamkan daratan alam. Di negeri Melayu anak Melayu jadi tambak, menulis surat pada Tuhan tentang hidup sesudah mati, tinggal ayat kesombongan laut. Di negeri Melayu orang-orang jadi tubuh berserak, lari tak kunci diri akhirnya tak punya negeri.
Syamsu Rizal (38) membacakan penggalan syair karyanya tersebut dengan suasana berat, di teras depan rumahnya yang langsung menghadap birunya laut Pulau Penyengat. Syamsu merupakan warga pulau seluas sekitar 3,5 kilometer persegi dan dapat ditempuh dalam waktu 20 menit berkapal dari Tanjung Pinang, Kepulauan Riau itu.
Nama Syamsu belum tercatat sebagai jajaran pujangga dan syair belum menjadi jalan yang menghidupi keluarganya. Agar dapur keluarganya terus mengepul, Syamsu membuka warung kecil di depan rumahnya.
“Kalau saya duduk di depan rumah dan memandangi laut, ada saja yang ingin saya tuliskan. Yang tadi itu puisi tentang Melayu. Saya merasa orang Melayu di sini seperti tidak bisa memanfaatkan kekayaan bumi Kepulauan Riau sendiri. Padahal, zaman dulu Melayu itu megah,” ujarnya.
Pria itu lalu membolak-balik buku notes sederhana tebal yang penuh berisi syair-syair karyanya, mulai dari syair untuk istri, sebagai pegawai, syair orangtua kepada anak, sampai perasaannya tentang Melayu.
Kegairahan Syamsu menulis terutama sejak ia menemukan dan membaca tumpukan buku serta naskah kuno peninggalan kakeknya yang meninggal dunia.
Dia menemukan naskah-naskah kuno itu ketika sedang membereskan lemari tua di rumah kakeknya yang hendak direnovasi pada tahun 1980-an.
Buku dan naskah kuno itu tertulis dalam bahasa Melayu dengan huruf Arab.
“Kebetulan saya masih bisa sedikit-sedikit mambaca. Saya bilang ini buku penting. Buku tentang sejarah, cerita, dan syair. Jadi, saya simpan,” ujarnya.
Buku dan naskah itu ditemukan dalam kondisi sudah rusak dan terbungkus plastik keresek. Sesungguhya, jumlah naskah yang dimiliki kakek Syamsu lebih banyak, tetapi banyak yang hilang atau dibakar tanpa sengaja ketika hendak membereskan rumah tersebut.
“Ini kitab syair tulis tangan karya Raja H Akhmad dengan tulisan tahun 4 Zulhijah tahun 1338 Hijriah. Lainnya ialah kitab pengetahuan bahasa, yaitu kamus logat Melayu-Johor-Pahang-Riau-Lingga cetakan pertama tahun 1928,” ujarnya sambil menunjukkan buku-buku tua yang dimilikinya.
Yang menarik, terdapat beberapa buku yang dihiasi dengan gambar-gambar cetakan perempuan Eropa tanpa busana. “Ini disebut kitab gemala mustika yang bercerita tentang seksualitas. Dituliskan pengarangnya H Abdullah Al-Khalidi,” kata Syamsu membaca pelan huruf Arab di atas kertas kuning kecoklatan itu.
Dia meyakini masih banyak warga Pulau Penyengat yang menyimpan naskah kuno. Sebagian besar warga, terutama yang tua, menguasai aksara Arab sehingga memahami isi buku dan naskah, kemudian memutuskan tetap menyimpannya
Sebagian kitab dan naskah tua Melayu di Pulau Penyengat telah dikumpulkan oleh kularga bangsawan, seperti keluarga Raja Malik Hasrizal yang kemudian membentuk Pusat Maklumat dan Kebudayaan Melayu (PMKM) Riau di Pulau Penyengat.
Dalam Festival Internasional Budaya Melayu di Tanjung Pinang, 10-16 September 2006, sekitar 40 naskah dari 309 naskah yang dikumpulkan keluarga itu dipamerkan.
“Saya hanya meneruskan kerja dan tradisi rintisan orangtua saya, Hamzah Yunus. Orangtua saya tahun 1960-an sudah mulai mengumpulkan naskah-naskah ini. Ada juga yang diwariskan orangtua dan sebagian dari masyarakat,” ujar Raja Malik selaku Direktur PMKM.
Dari naskah-naskah yang dikumpulkan itu terlihat perkembangan keilmuan Melayu tidak seputar agama saja, melainkan terdapat pula berbagai syair, ilmu perbintangan, pengobatan, sejarah, catatan harian, bahkan soal seksualitas. PMKM Riau juga memiliki beberapa karya Ali Haji, seperti Syair Hukum Nikah, Syair Awai, Syair Siti Shianah, dan karya Ali Haji yang telah dicetak, seperti Kitab Pengetahuan Bahasa.
Politik Kebudayaan
Syair karya Syamsu yang dibacakan di tengah riak ombak dan naskah tua yang tersimpan ibarat denting samar sisa lonceng kejayaan tradisi keilmuan serta tulis-menulis di tanah Melayu.
Tradisi keilmuan dan tulis-menulis itu tak lepas dari pengaruh istana. Para raja yang memerintah mempunyai kesadaran yang amat tinggi terhadap tradisi keilmuan dan literasi.
Pada masa Sultan Mahmud Shah III, Kerajaan Johor Riau Lingga mencapai kejayaanya. Kejayaan pada masa Sultan Mahmud Shah III (1761-1812) tidak hanya sebatas pada bidang perekonomian, tetapi juga spiritualitas dan budaya.
Mahmud Shah III diangkat menjadi sultan dalam usia sembilan tahun pada thaun 1761. Oleh karena itu, roda pemerintahan dikendalikan Yang Dipertuan Muda Daeng Kamboja dan kemudian digantikan oleh Yang Dipertuan Muda IV Raja Haji Fisabilillah. Raja Haji berperan besar dalam masa pemerintahan Sultan Mahmud III.
Pada masa tersebut banyak ulama dan mubalig berdatangan untuk menyebarkan agama Islam. Fasilitas keagamaan dan balai tempat orang belajar mengaji bermunculan.
Pendidikan rakyat menjadi lebih diperhatikan. Hasil budaya pada masa itu, antara lain, baca tulis dalam huruf Arab berbahasa Melayu. Banyak karya sastra yang lahir bertuliskan huruf tersebut.
Penguasa-penguasa waktu itu membentuk perpustakaan agar orang-orang menajamkan pemikirannya dalam menuliskan suatu karya.
Pada tahun 1787, Pulau Penyengat menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Riau-Lingga, sedangkan Daik, Lingga menjadi ibu kota kerajaan.
“Instistusi kerajaan mendukung tradisi tulis-menulis,” ujar Raja Malik menerangkan. Pulau Penyengat menjadi salah satu pusat pengembangan agama, intelektual, dan tradisi tulis.
Penguasa-penguasa waktu itu juga merasa perlu referensi dan membentuk perpustakaan agar orang-orang menajamkan pemikirannya dalam menuliskan suatu karya. Perpustakaan itu bernama Khutub Khanah.
Berbagai buku dari India dan Mesir didatangkan, terutama yang bernuansa keagamaan. “Tidak kurang ada 1.000 buku yang sempat didaftarkan, tetapi sekarang tinggal 300-an. Kebanyakan buku berkenaan dengan agama,” ujarnya.
Terlebih lagi ketika Raja Ali Haji (1809-1873) yang masih keturunan Raja Haji menulis dan melahirkan karya besarnya. Raja Ali Haji menelurkan karya-karya besar, seperti Gurindam Dua Belas, Bustan Al-Katibin, Tuhfat al-Nafis, dan banyak lainnya. Raja Ali Haji disebut-sebut sebagai peletak dasar bahasa Indonesia.
Raja Ali Haji kemudian diangkat sebagai penasiah kerajaan berpengaruh besar, terutama dalam politik kebudayaan di Melayu saat itu. Karya-karyanya justru lahir di masa kerajaan Melayu melemah akibat kolonialisasi Belanda sehingga tak jarang dimaknai sebagai bentuk perlawanan melalui bahasa dan tulisan. Raja Ali Haji menjadi teladan dalam tradisi tulis-menulis dan pengaruhnya meresap ke luar dinding istana.
Sepeninggal Ali Haji, tradisi itu masih terus berlanjut. Di pulau yang sempat berdiri Rusdiyah Klub pada 1880-an yang merupakan perkumpulan cendekiawan dan para penulis. Klub tempat para pujangga-pujangga membuat syair-syair dan diterbitkan.
“Puluhan karya dilahirkan warga Penyengat saat itu. Klub itu bergerak di bidang kebudayaan dan terbuka kepada siapa saja orang yang mau jadi anggotanya dengan syarat utama, yaitu harus memiliki dua karya. Ini memacu masyarakat berlomba menulis. Hasil tulisan masyarakat umum dan kaum bangsawan dicetak di Penyengat dengan menggunakan cetak batu atau lithograph,” kata Malik.
Tradisi keilmuan itu kian surut setelah pemerintahan di Pulau Penyengat dibubarkan Belanda. Pada tahun 1911, sultan, para penulis, dan cendekiawan meninggalkan Penyengat dan pindah ke Johor, Singapura, dan beberapa kawasan di Kepulauan Riau.
Tahun 1930-an, sesungguihnya telah ada usaha menghidupkan kembali tradisi menulis di kepulauan itu, tetapi hasilnya tidak seperti di masa lalu. Pada tahun tersebut lahir Madarasatoel Moe’alimin, sebuah sekolah agama di Pulau Penyengat yang kemudian juga menerbitkan beberapa buku dan majalah.
Saat ini, sisa kejayaan Pulau Penyengat yang kini dihuni sekitar 2.00 jiwa hanya terlihat dari bangunan-bangunan tua dan makam raja-raja. Hanya segelintir warga yang aktif menulis.
Sebagian besar masyarakatnya berkonsentrasi menjadi nelayan atau pegawai negeri sipil setelah marak pemekaran wilayah dan dibukanya kantor-kantor pemerintahan baru.
Penyengat yang sempat menjdai pusat, kini berubah menjadi pinggiran nan sepi. Yang mengkhawatirkan, buku dan naskah tua itu sendiri semakin rawan raib lantaran pertarungan identitas Melayu dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura yang rajin berburu naskah tua.
“Mereka berani menawarkan harga tinggi untuk maskah-naskah tua. Yang paling banyak dicari ialah naskah-naskah yang banyak berhubungan dengan sejarah dan kesusastraan. Terutama yang berhubungan dengan Singapura dan Malaysia dan kaitannya dengan Kepulauan Riau. Untuk naskah tertentu ada yang berani menawar Rp 50 juta-Rp 100 juta,” ujarnya.
Raja Malik dan Syamsu sendiri bertekad tidak melepaskan naskah milik mereka. “Untuk anak cucu saya supaya mengetahui zaman dulu di Penyengat ini sudah maju. Pemikiran orang-orang di masa lalu sudah sedemikian maju. Karya bahasanya luar biasa dan punya makna begitu dalam,” ujar Syamsu kagum.