Close
 
Sabtu, 15 Agustus 2026   |   Ahad, 1 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 4.965
Kemarin : 43.662
Minggu kemarin : 179.363
Bulan kemarin : 11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

17 februari 2010 07:41

Melayu Online.Com Mengawal Pluralisme

Melayu Online.Com Mengawal Pluralisme

Oleh Yusuf Efendi

Tepatnya hari Senin tanggal 14 Februari 2010 yang lalu, saudara-saudari kita masyarakat Tionghoa yang hidup di bumi Indonesia dan di seluruh dunia merayakan hari raya Imlek ke-2561. Ucapan Gong Xi Fa Cai yang artinya kurang lebih “selamat atas rejeki dan kehidupan yang lebih baik” terpampang dan bergema di mana-mana. Raut bahagia tampak dari wajah-wajah warga Tionghoa. Suasana lebih meriah dalam alunan musik tradisi Cina yang disambut dengan tarian Barongsai serta warna-warna merah menghias seluruh penjuru negeri ini. Sekali lagi Gong Xi Fa Cai untuk warga Tionghoa. Semoga kita dapat menikmati kehidupan Indonesia yang lebih baik dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Suku bangsa Cina yang hidup di Indonesia adalah salah satu suku bangsa yang dipuji sekaligus dicaci. Dipuji karena dalam sejarah perjalanan bangsa ini, sejak masa sebelum Indonesia masih bernama nusantara hingga reformasi, peran orang Cina baik dalam bidang politik, sosial, ekonomi, intelektual maupun budaya sangat jelas jejaknya. Tersebutlah nama-nama seperti Laksamana Ceng Ho, Soe Hok Gie, Ciputra, Prof. Dr. Yohanes, Jaya Suprana, atau Kwik Gian Gie.

Warga Tionghoa juga sering dicaci karena tidak sedikit orang Cina yang disangka ikut menyebabkan Indonesia terjebak dalam krisis ekonomi. Nama-nama seperti Syamsul Nursalim, Robert Tantular, atau buronan korupsi Edi Tansil adalah contohnya. Namun terlepas dari itu semua, sebagai warga negara Indonesia, warga Tionghoa berhak untuk dihormati dan dihargai keberadaannya karena hal itu dijamin oleh UUD 45.

Satu hal yang lebih penting untuk dipahami dan menuntut untuk terus dilakukan dalam rangka proses pendewasaan negeri ini adalah menghormati dan menghargai perbedaaan. Warga Tionghoa hanyalah salah satu dari berbagai suku bangsa yang hidup di Indonesia. Bagaimanapun kebudayaan Tionghoa telah ikut serta memperkaya kebudayaan Indonesia. Keberadaan warga Tionghoa tentu saja juga ikut memperindah kehidupan Indonesia yang sedari semula sudah beragam ini (plural).

Indahnya Pluralisme

Terlepas dari perdebatan antara para filosof maupun ahli agama tentang siapa yang paling berpengaruh terhadap kehidupan manusia, apakah Tuhan atau manusia, namun realitas yang ada adalah bahwa kehidupan tercipta secara “berpasang-pasangan”. Seperti pasangan laki-laki dan perempuan, atas dan bawah, kiri dan kanan,  gelap dan terang, atau pasangan hidup dan mati. Konstruksi inilah yang biasa dikenal dengan istilah ketentuan Yang Kuasa. Dalam bahasa agama disebut takdir.

Namun dikarenakan manusia diberi kuasa oleh Yang Kuasa berupa akal pikiran, manusia merekonstruksi kembali kehidupan dengan beragam konstruksi baru. Sesuatu yang katanya “berpasang-pasangan” tersebut dikreasi kembali menjadi beragam “pasangan” maupun yang “tidak berpasangan”. Melalui pengetahuan dan fasilitas fisik yang dimiliki, manusia “berkuasa” atas hidup dan kehidupan. Manusia menjadi Tuhan dalam bahasa Nietzsche.

Misalnya di antara laki-laki dan perempuan ada jenis kelamin waria dan tomboi beserta variasi lain yang berhubungan dengan perkelaminan. Di antara atas dan bawah ada tengah dan ukuran kecenderungan ke atas dan ke bawah (apalagi jika diukur dengan persen atau ukuran politik). Hal yang sama juga terjadi pada kiri dan kanan, di mana di antara keduanya akan muncul berbagai istilah ukuran kehidupan, apalagi dalam bidang politik. Di antara gelap dan terang terdapat istilah remang-remang, gelap gulita atau terang benderang. Begitu juga di antara hidup dan mati ada sakit, terdapat istilah untuk keadaan sebelum mati, di alam kubur dan sebagainya.

Di tangan manusia hidup menjadi meriah, beragam (plural), indah dan menyenangkan untuk dinikmati. Wajar jika kelompok manusia tertentu menganggap hidup harus dinikmati meskipun untuk menikmatinya harus menginjak orang lain. Coba bayangkan jika hidup hanya berisi satu ukuran, satu istilah, satu bentuk dan satu model. Alangkah menjemukannya hidup ini. Alangkah sulitnya manusia menentukan pilihan. Dan tentu saja alangkah tidak indahnya hidup ini.

Di tangan manusia hidup juga menjadi karut marut, centang perenang, hancur lebur, dan menyulitkan untuk disiasati. Tidak heran jika dalam konsep agama Hindu hidup dianggap hina (aliran Hinayana). Hanya manusia yang mempunyai kuasa untuk mengkreasi kehidupan menjadi beragam. Makhluk tuhan yang lain tidak diberi kuasa untuk itu. Kerbau misalnya tidak mungkin mengkreasi rumput menjadi pecel atau plecing (makanan orang Sasak) misalnya. Atau bebek mengkreasi cacing menjadi sate cacing atau semur cacing.

Manusia memang dikarunia oleh Yang Kuasa untuk mengkreasi hidup dan kehidupan menjadi bermacam-macam bentuk, ukuran, istilah, dan model. Jika demikian, maka bukankah keberagaman dan perbedaan adalah keniscayaan dalam hidup? Tidakkah hal itu sama niscayanya dengan sikap menghormati dan toleransi terhadap keragaman tersebut?

Pluralisme adalah keniscayaan hidup. atau dengan kata lain pluralisme adalah hidup itu sendiri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga terbitan Balai Pustaka cetakan tahun 2005 halaman 883, pluralisme berasal dari kata plural yang artinya jamak atau lebih dari satu. Pluralisme diartikan sebagai keadaan masyarakat yang majemuk (bersangkutan dengan sistem sosial dan politiknya). Adapun dalam hal kebudayaan pluralisme berarti berbagai kebudayaan yang berbeda-beda di suatu masyarakat.

Jika melihat definisi di atas, maka penghormatan dan penghargaan seharusnya menyangkut segala perbedaan yang muncul di masyarakat. Akan tetapi sangat disayangkan, tampaknya masyarakat saat ini masih terjebak pada arti yang sempit, di mana umumnya masyarakat memahami perbedaan dalam hal SARA (suku, agama, dan ras) saja. Padahal dalam setiap dimensi kehidupan manusia, perbedaan selalu terjadi.

Bergairahnya kehidupan pluralisme di Indonesia sekarang ini semoga diikuti dengan merebaknya semangat pluralisme dalam segala dimensi kehidupan manusia. Seluruh elemen bangsa ini masih mempunyai tugas yang berat. Saya berharap semoga tidak ada lagi orang yang mencibir kaum waria. Semoga tidak lagi ada orang yang meminggirkan orang berbeda dalam orientasi seksual. Semoga tidak ada lagi orang yang menganggap orang yang bertato itu kriminal. Semoga tidak ada lagi orang yang terlalu membanggakan dan menganggap kulit putih lebih baik daripada selain putih. Semoga tidak ada lagi orang yang menganggap rambut lurus lebih indah daripada rambut keriting. Satu hal yang lebih penting adalah semoga tidak ada lagi orang yang menganggap dirinya “paling” dari siapapun.

Pluralisme Melayu Online.Com

Tidak disangsikan lagi, dalam beberapa diskusi, seminar, maupun workshop yang diadakan oleh Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Yogyakarta, masih terbersit sebuah pemahaman sempit tentang Melayu. Identitas Melayu menjadi sebuah kebanggaan sekaligus sisi ironis dari puak-puak Melayu itu sendiri. Beberapa sebab dapat ditelusuri sebagai berikut:

  1. Pendefinisian yang sempit oleh puak-puak Melayu tentang arti Melayu dan kemelayuan.
  2. Adanya kepentingan politis yang masuk dalam pendefinisian tersebut.
  3. Tidak disadarinya sejarah tentang diaspora Melayu.

BKPBM melalui salah satu media online-nya, yaitu Melayu Online.Com, menyadari hal ini. Setelah melalui proses sejarah yang panjang dan berliku, tampaknya naif jika memahami Melayu dan kemelayuan dari satu sudut saja. Bangsa Melayu yang cair tentu saja akan berakibat pada mencairnya kemelayuan itu sendiri. Jika ini yang terjadi maka Melayu dan kemelayuan justru lebih dinamis dan bergairah. Melayu dan kemelayuan justru menjadi lebih beragam (plural) dan tentunya lebih indah bukan!.

Dengan pemahaman seperti ini, Melayu Online.Com mencoba mengawal keniscayaan yang terjadi dalam dunia Melayu itu sendiri. Pluralisme yang terwujud dalam kebudayaan Melayu disikapi oleh Melayu Online.Com dengan mengkaji, berdiskusi, berdebat dan tentu saja lapang dada dengan perbedaan pemahaman yang ada. Karena itulah inti dari pluralisme. Melayu dan kemelayuan adalah dua entitas penting untuk ditelusuri sekaligus indah untuk dinikmati.

_________

Yusuf Efendi, Redaktur melayuonline.com


Dibaca : 1.170 kali.

Tuliskan komentar Anda !