Close
 
Jumat, 25 April 2014   |   Sabtu, 24 Jum. Akhir 1435 H
Pengunjung Online : 1.843
Hari ini : 18.347
Kemarin : 18.563
Minggu kemarin : 147.823
Bulan kemarin : 2.006.207
Anda pengunjung ke 96.634.531
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

22 april 2010 02:11

Kepemimpinan Tarekat Naqsabandiyah Bagi Suku Sakai

Kepemimpinan Tarekat Naqsabandiyah Bagi Suku Sakai
Masyarakat Sakai Saat ini

Oleh Bahril Hidayat

Suku Sakai di Riau merupakan salah satu suku asli yang sudah lama bermukim di tanah Melayu tersebut. Berbagai teori dan asumsi telah dipaparkan oleh para ahli tentang kepercayaan animisme yang dianut oleh masyarakat suku Sakai. Namun tidak bisa dipungkiri, Islam telah mengubah kebudayaan Sakai kontemporer. Perubahan ini diperjuangkan oleh Tarekat Naqsabandiyah di bawah kepemimpinan Syekh Abdul Wahab Rokan.

Parsudi Suparlan dalam bukunya yang berjudul Orang Sakai di Riau: Masyarakat Terasing dalam Masyarakat Indonesia (1995) memaparkan berbagai versi teoretis tentang asal-usul suku Sakai. Pendapat terkuat yang menjelaskan tentang asal-usul suku Sakai mengatakan bahwa orang Sakai berasal dari Pagaruyung dan Batusangkar. Menurut versi cerita ini, orang Sakai dulunya adalah penduduk Negeri Pagaruyung yang melakukan migrasi ke kawasan rimba belantara di sebelah timur negeri tersebut.

Pada masa itu, Negeri Pagaruyung sangat padat penduduknya. Untuk mengurangi kepadatan penduduk tersebut, Raja yang berkuasa mengutus sekitar 190 orang kepercayaannya untuk menjajaki kemungkinan kawasan hutan di sebelah timur Pagaruyung sebagai tempat permukiman baru. Setelah menyisir kawasan hutan, rombongan tersebut akhirnya sampai di tepi Sungai Mandau. Karena Sungai Mandau dianggap dapat menjadi sumber kehidupan di wilayah tersebut, maka mereka menyimpulkan kawasan sekitar sungai itu layak dijadikan sebagai permukiman baru. Keturunan mereka inilah yang kemudian disebut sebagai orang Sakai.

Salah satu ciri kepercayaan masyarakat suku Sakai terdahulu sebagaimana dilihat oleh orang Melayu adalah agama mereka yang bersifat animis. Agama asli masyarakat suku Sakai memang berdasarkan kepercayaan pada berbagai makhluk halus, ruh, dan berbagai kekuatan gaib dalam alam semesta, khususnya dalam lingkungan hidup manusia yang mempunyai pengaruh terhadap kesejahteraan hidup mereka. Makhluk gaib ini mereka namakan antu. Namun, konsep antu menurut orang Sakai tidak sama dengan konsep hantu menurut orang Melayu. Orang Sakai memahami antu sebagai segala sesuatu yang berhubungan dengan makhluk gaib yang memiliki hubungan erat dengan keyakinan mereka.

Tulisan ini akan memaparkan perkembangan dan pengaruh agama Islam terhadap budaya  masyarakat Sakai yang berasal dari Tuan Guru Syekh Abdul Wahab Rokan. Tuan Guru Syekh Abdul Wahab Rokan merupakan mursyid (Pembimbing Spiritual) dari Tarekat Naqsabandiyah di Babussalam, Kerajaan Langkat[1]. Keislaman suku Sakai merupakan fakta tentang nilai keagamaan yang selama ini dikesampingkan. Padahal, sebagian besar dari masyarakat Sakai sudah memeluk Islam setelah Tarekat Naqsabandiyah menjadi konsep dasar ritual dan kepercayaan keislaman yang mereka anut. Lebih jauh lagi, penyebaran Islam tersebut memasuki dimensi kebudayaan dan struktur kepemimpinan masyarakat Sakai di Riau.

Perkembangan Islam di Masyarakat Sakai

Menurut UU Hamidy dalam buku yang berjudul Masyarakat Terasing Daerah Riau di Gerbang Abad XXI  (1991), agama Islam disebarkan kepada masyarakat Sakai oleh Tuan Guru Syekh Ibrahim. Beliau adalah seorang khalifah (pemimpin tarekat) yang diutus oleh Tuan Guru Syekh Abdul Wahab Rokan, pendiri Tarekat Naqsabandiyah di Babussalam Kerajaan Langkat. Khalifah Ibrahim diutus sebagai bentuk dakwah dan penyebaran Islam agar orang Sakai bisa dituntun sesuai dengan ajaran Islam.

Hamidy juga menjelaskan bahwa khalifah itu adalah ulama bagi orang Sakai. Khalifah memperoleh tempat yang tinggi dalam struktur sosial orang Sakai. Bahkan, khalifah melebihi kedudukan batin (kepala adat), kepala desa, dan bomo (dukun) yang memiliki pengaruh kepemimpinan dalam struktur sosial orang Sakai. Dalam pada itu, Syekh Abdul Wahab Rokan memiliki peran besar dalam menghadirkan Islam di tanah asli suku Sakai.


Syekh Abdul Wahab Rokan
Sumber Foto: http://dakwahbudi.blogspot.com

Syekh Abdul Wahab tidak hanya dikenal di daerah Babussalam, Langkat melainkan juga di hampir seluruh daerah Sumatra Utara dan di daerah Pesisir Timur, Riau. Walaupun demikian, Babussalam memang merupakan tempat yang penting karena merupakan tempat pengembangan ajaran Islam. Di kota ini juga terdapat makam Syekh Abdul Wahab. Makam ini cukup ramai dikunjungi para peziarah, khususnya pada saat haul yang dilaksanakan setiap tanggal 21 Jumadil Awal. Pengunjung makam ini juga datang dari Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalam.

M. Iqbal Irham pernah mengupas profil dalam makalah yang berjudul Pemikiran Sufistik Syekh Abdul Wahab Rokan (1230-1345 H/1811-1926 M). Makalah tersebut pernah disampaikan di Annual Conference, Lembang, Bandung, tahun 2006. M. Iqbal Irham menjabarkan tentang biografi Syekh Abdul Wahab yang dibesarkan di kalangan keluarga bangsawan yang taat beragama. Keluarganya termasuk kalangan berpendidikan dan sangat dihormati. Beliau lahir pada tanggal 19 Rabiul Akhir 1230 H di Kampung Danau Runda, Rantau Binuang Sakti, Negeri Tinggi, Rokan Tengah, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Nama lahirnya adalah Abu Qosim. Ayahnya bernama Abdul Manaf bin Muhammad Yasin bin Maulana Tuanku Haji Abdullah Tambusei, seorang ulama besar yang cukup terkemuka pada saat itu. Ibunda Sykeh Abdul Wahab Rokan bernama Arbaiyah binti Datuk Dagi bin Tengku Perdana Menteri bin Sultan Ibrahim yang memiliki pertalian darah dengan Sultan Langkat. Syekh Abdul Wahab meninggal pada usia 115 tahun pada 21 Jumadil Awal 1345 H atau 27 Desember 1926 M (Irham, 2009:5).

Salah satu kekhasan Syekh Abdul Wahab dibanding dengan para sufi lainnya adalah bahwa ia telah meninggalkan lokasi perkampungan bagi anak cucu dan murid-muridnya. Daerah yang bernama “Babussalam” ini dibangun pada tanggal 12 Syawal 1300 H (1883 M) yang merupakan wakaf muridnya sendiri Sultan Musa al-Muazzamsyah, Raja Langkat pada masa itu. Di wilayah inilah ia menetap untuk mengembangkan dan mengajarkan Tarekat Naqsyabandiyah sampai akhir hayatnya (Irham, 2006:8).

Peran Syekh Abdul Wahab Rokan yang mengutus muridnya Syekh Ibrahim untuk menyebarkan Islam di tanah Sakai sangat mempengaruhi adat-istiadat dan kepercayaan pada suku Sakai. Orang Sakai di Muara Basung sudah memeluk agama Islam meskipun sampai saat ini sebagian anggota masyarakat Sakai belum sungguh-sungguh menjalankan shalat lima waktu dan berpuasa di bulan Ramadhan. Hal itu umumnya terjadi pada generasi tua. Sementara itu, generasi muda Sakai cenderung lebih taat untuk melaksanakan peribadatan. Mereka yang taat tergolong pada dua kelompok, yaitu Tarekat Naqsabandiyah dan Sunnah wal Jamaah.

Tarekat Naqsabandiyah menyarankan pengikutnya agar melakukan sejumlah upacara ritual, seperti zikir, wirid, berpuasa, mengasingkan diri, dan taat kepada guru spiritual (mursyid) dan khalifah (perwakilan mursyid). Seorang khalifah juga diyakini sebagai tokoh yang memiliki kemampuan tentang Islam dan menguasai makhluk-makhluk gaib yang berada di sekitar manusia. Oleh karena itu, seorang khalifah memiliki kedudukan yang tinggi bagi masyarakat Sakai. Inilah wujud keberhasilan Tarekat Naqsabandiyah untuk menyebarkan Islam di tanah Sakai dan dipelopori oleh Syekh Abdul Wahab Rokan. Sementara itu, kelompok Sunnah wal Jamaah datang bersamaan dengan kedatangan orang Minangkabau di Riau. Kelompok Ahlul Sunnah wal Jamaah sebenarnya juga mewarnai terbentuknya warna keislaman dan kebudayaan di tanah Sakai. Namun, Tarekat Naqsabandiyah relatif lebih berhasil menarik perhatian suku setempat.

Setidaknya, ada dua figur penting yang memegang tampuk kepemimpinan tradisi di dalam masyakarat Sakai, yaitu batin (kepala adat-istiadat) dan batin (khalifah). Batin khalifah bertindak sebagai pemimpin keagamaan yang berasal dari Tarekat Naqsabandiyah. Bahkan, khalifah memiliki pengaruh yang lebih besar dibanding batin adat, atau bahkan kepala desa dan bomo (dukun).

Masuknya nilai Islam tersebut memberi warna baru dalam tradisi dan adat-istiadat masyarakat Sakai. Sistem nilai masyarakat Sakai sudah memasuki tahap meletakkan agama Islam ke dalam sistem kebudayaan dan strukur kepemimpinan masyarakat. Suku Sakai menempatkan tokoh khalifah sebagai pemimpin yang dihormati. Nilai-nilai Islam sudah diamalkan oleh suku Sakai, khususnya oleh generasi muda mereka. Syekh Abdul Wahab Rokan berhasil mengubah wajah animisme sebagai sistem keagamaan dominan pada masyakarat Sakai menjadi warna keislaman yang bernuansa tasawuf, yaitu meletakkan berbagai praktik peribadatan yang metodis demi mencapai tingkatan spiritual yang lebih baik bagi umat Islam.

Pengaruh Islam pada Kondisi Sosial Suku Sakai

a. Pengaruh pada Dimensi Kepemimpinan

Kehadiran Islam di tanah Sakai sangat mempengaruhi perubahan struktur dan sistem kepemimpinan bagi masyarakat Sakai. Jika sebelumnya batin dan bomo memiliki peran besar untuk menjalan roda pemerintahan, tradisi, dan adat-istiadat, maka peranan itu sekarang juga dijalankan oleh khalifah sehingga dapat dikatakan bahwa kehadiran Tarekat Naqsabandiyah menambah kekokohan struktur kepemimpinan suku Sakai dengan nilai-nilai keislaman. Meskipun khalifah Tarekat Naqsabandiyah tidak memiliki fungsi sebagai penguasa (menguasai), namun khalifah memiliki fungsi, nilai, dan tujuan kepemimpinan (memimpin). Lebih jauh lagi, Khalifah Tarekat Naqsabandiyah memiliki pengaruh yang lebih besar dibanding batin adat, atau bahkan kepala desa dan bomo (dukun). UU Hamidy mengilustrasikan struktur kepemimpinan dan fungsi khalifah dalam lapisan masyarakat Sakai pada kondisi kekinian sebagai berikut.

Keterangan Garis Hirarki:

_____ memimpin dan berkuasa

_ _ _ __ _ _ __ _ _ _  memimpin saja             

b. Pengaruh pada Dimensi Spiritual

Masyarakat suku Sakai yang selama ini dikenal sebagai suku terasing dan identik dengan kepercayaan animisme sudah melewati tahap perubahan sistem kepercayaan. Peran Tarekat Naqsabandiyah dalam melakukan penyebaran Islam di kalangan masyarakat Sakai telah mengurangi praktik animisme yang relatif kurang diterima oleh penduduk Riau pada umumnya. Berbagai ritual perdukunan dan kepercayaan kepada antu sebagai salah satu penguasa alam gaib digantikan oleh pemikiran keislaman tentang dunia alam gaib. Tarekat Naqsabandiyah juga membawa generasi muda Sakai untuk lebih bergiat menekuni Islam dan mengamalkannya secara baik.

Selain itu, seorang khalifah juga diyakini masyarakat Sakai sebagai tokoh yang memiliki kemampuan tentang Islam dan menguasai makhluk-makhluk gaib yang berada di sekitar manusia. Keyakinan itu secara bertahap diyakini akan menggantikan konsep antu yang sebelumnya diyakini sebagai sistem kepercayaan dan keagamaan yang dianut suku Sakai.

Penutup

Pada awalnya, suku Sakai di Riau dikenal sebagai suku terasing yang memiliki sistem kepercayaan animisme. Masyarakat Riau sampai saat ini juga masih menanamkan stereotip animisme tersebut pada masyarakat Sakai. Padahal, pada kenyataannya, sebagian besar orang Sakai telah memeluk Islam dan berafiliasi dengan dua kelompok, yaitu Tarekat Naqsabandiyah dan Sunnah wal Jamaah.

Bagi masyarakat Sakai, Tarekat Naqsabandiyah memiliki pengaruh besar dalam system kepercayaan, kepemimpinan, dan perubahan stereotip animisme. Syekh Abdul Wahab Rokan sebagai mursyid Tarekat Naqsabandiyah di tanah Langkat telah mengutus khalifahnya untuk memimpin dunia spiritual di tanah masyarakat Sakai. Saat ini, Tarekat Naqsabandiyah dapat dikatakan telah berhasil mencapai perubahan-perubahan yang signifikan dalam menyebarkan Islam berdasarkan metode tasawuf yang mereka ajarkan kepada masyarakat Sakai.

__________

Bahril Hidayat adalah Mahasiswa S2 Psikologi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.

Sumber: Syekh. W. Md. Shagir, 2009. Manaqib Ringkas Syekh Abdul Wahab Rokan, Babussalam, Sumatera Utara. [online] Tersedia di: http://dakwahbudi.blogspot.com [diunduh pada tanggal 23 Maret 2010].

Sumber Foto Utama: Dokumentasi BKPBM.


 

[1] Babussalam terletak di Kecamatan Padang Tualang, Kabupaten Langkat, yang berjarak kira-kira 6 km dari Tanjung Pura, pusat kekuasaan Kerajaan Langkat masa dahulu di mana Sultan Abdul Aziz anak Sultan Musa mendirikan Masjid Azizi, salah satu masjid yang terindah dan bersejarah di Indonesia, khususnya di Sumatera Utara.


Dibaca : 3.974 kali.

Tuliskan komentar Anda !