Close
 
Selasa, 9 Juni 2026   |   Arbia', 23 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 1.481
Hari ini : 23.737
Kemarin : 24.704
Minggu kemarin : 227.151
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

27 oktober 2010 06:49

Memperingati Hari Sumpah Pemuda

Memperingati Hari Sumpah Pemuda

28 Oktober 1928. Pada hari itu, para pemuda Indonesia (masih Hindia Belanda) mencetak sejarah kebudayaan dan politik yang mengagumkan, yakni menyatakan sumpah tentang tiga kesatuan yang harus dibela mati-matian, yaitu satu bangsa, tanah, dan bahasa Indonesia. Dalam sejarah bangsa ini, peristiwa ini dikenang dengan hari Sumpah Pemuda.  

Semenjak dari ruang-ruang kelas SD hingga perguruan tinggi, sejarah ini terus dipetuahkan oleh para guru. Harapannya agar para murid mengenang dan menjaga kesatuan tersebut. Namun ironisnya, di luar sekolah, ketiga kesatuan tersebut tampak hanya ada dalam tarik ulur kepentingan penguasa. Akibatnya, peristiwa Sumpah Pemuda hanya riuh (dibantu oleh media) dibicarakan ketika kedaulatan bangsa dan Negara terancam oleh kekuatan luar.

Sementara itu, alih-alih menjaga ketiga kesatuan tersebut, anak bangsa sendiri nasibnya justru terombang-ambing dengan beragam masalah yang tak kunjung usai, perkelahian antargeng, tawuran antarpelajar, bentrok antarsuporter sepak bola, pengangguran, kriminal, penyelewengan seksual, hingga terjebak dalam terorisme.

Tentang Sumpah Pemuda

Dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial-Universitas Negeri Medan (Pussis-Unimed) (selasa, 26-10-2010), peneliti Errond Damanik M.Si menyatakan bahwa sesungguhnya kata ‘Sumpah’ tidak ditemukan pada keseluruhan dokumen asli yang kini disebut sebagai ‘Sumpah Pemuda’. Akan tetapi yang ada hanya kata ’Poetoesan Conggres Pemoeda-pemoeda Indonesia’ sebagai hasil dari ‘Kerapatan Pemoeda-Pemoeda Indonesia’ pada 28 Oktober 1928. Sementara itu, konsep Sumpah Pemuda baru dikenal pasca Kongres Bahasa Indonesia di Medan pada tanggal 28 Oktober 1954.

Perubahan ini digagas oleh Muhammad Yamin dan Soekarno yang saat itu sibuk membangun simbol ideologi bangsa dan negara, dalam konstelasi maraknya gerakan separatis ketika itu yang mencengkeram Indonesia. Pergantian kata ‘poetoesan conggres’ menjadi ‘sumpah pemuda’ difungsikan Soekarno sebagai simbol ideologi nasional yang baru sekaligus sebagai teguran bagi gerakan separatis agar mereka tak lagi mengusik kesatuan Indonesia.

Terlepas dari kontroversi yang ada, peristiwa Sumpah Pemuda adalah tonggak sejarah kebudayaan dan politik pemuda Indonesia yang luar biasa. Dalam kondisi kehidupan yang masih terbatas, baik dari sisi ilmu pengetahuan, senjata, kekuatan, maupun sumberdaya manusia akibat kungkungan kolonialisme kerajaan Belanda, para pemuda Indonesia berani memproklamirkan ideologi kesatuan nasional. 

Konggres pemuda Indonesia ini dalam sejarahnya dilaksanakan tiga kali di tiga gedung berbeda. Pertama di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond, Sabtu, 27 Oktober 1928, Lapangan Banteng. Pada rapat ini, Moehammad Jamin menguraikan tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang dapat memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.

Kedua di gedung Oost-Java Bioscoop, Minggu, 28 Oktober 1928, yang membahas masalah pendidikan. Saat itu, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, menyatakan bahwa anak bangsa harus mendapat pendidikan kebangsaan dan keseimbangan pendidikan baik pendidikan di sekolah maupun di rumah secara demokratis.

Ketiga di gedung Indonesisch Huis, Kramat, minggu, 28 Oktober 1928. Pada sesi lanjutan ini, Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sementara itu, Ramelan mengemukakan gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Pada akhir konggres diperdengarkan lagu “Indonesia Raya” karya Wage Rudolf Supratman, lalu ditutup dengan pembacaan rumusan hasil konggres yang berbunyi:

KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH INDONESIA.

KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE,
BANGSA INDONESIA.

KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN,

BAHASA INDONESIA

Harapan Pemuda Indonesia

Para ahli sejarah Indonesia berpandangan bahwa lahirnya Sumpah Pemuda disebabkan oleh karena pemuda Indonesia melihat musuh mereka hanya satu, yaitu penjajah Belanda. Akibatnya para pemuda masih mudah untuk bersatu melawan penjajah bersama-sama. Lantas bagaimana dengan sekarang ketika Indonesia tidak lagi dikuasai oleh satu penjajah, baik dari luar maupun dari dalam Indonesia sendiri?

Pertanyaan inilah yang juga menjadi sebab kenapa pemuda Indonesia lebih gemar bentrok dengan saudara sendiri. Pemuda Indonesia malah justru melawan dan membunuh anak bangsa sendiri. Beragam konflik sosial dan politik menjadi bukti nyata akan hal ini. Bahkan idiom lama yang dipercaya hanya mitos sering juga dimunculkan oleh pengamat sosial, yaitu bahwa (orang) pemuda Indonesia gampang diadu domba. Mereka gampang melakukan amok.

Sebenarnya bukan berarti bangsa ini tidak memiliki musuh dan visi yang satu. Banyak pemerhati sosial dan budaya meyakini bahwa Indonesia masih dijajah oleh para kolonial dari berbagai sisi, ekonomi, politik, ilmu pengetahuan, budaya, media, pendidikan, kata, dan ideologi. Lebih buruk lagi, para kolonial tersebut tidak hanya datang dari luar, tetapi banyak dari anak bangsa sendiri.  

Menghadapi musuh-musuh tersebut, para pemuda Indonesia hanya memerlukan sebuah sikap dan persepsi yang sama, bahwa dalam kondisi apapun dan dengan siapapun musuhnya, kepentingan bangsa adalah yang utama. Harapan ini semoga terwujud, agar sumpah pemuda tidak hanya sekedar diperingati.

__________

Yusuf Efendi, Redaktur Melayuonline.com

Sumber: http://odhievara.blogspot.com


Dibaca : 996 kali.

Tuliskan komentar Anda !