Senin, 7 September 2026 |Tsulasa', 24 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 15.443
Hari ini
:
209.373
Kemarin
:
25.829
Minggu kemarin
:
32.264.566
Bulan kemarin
:
43.463.948
Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Opini
22 desember 2010 03:35
Ibu Sang Pelestari Budaya
Oleh Nuryanti
Segunung ilmu yang kita dapat, selebar pengalaman yang kita jalani. Setumpuk harta yang kita punya, seindah istana yang kita bangun. Semuanya tak kan mungkin kita dapatkan tanpa seorang ibu yang selalu ikhlas dengan doanya. Hari ini adalah Hari Ibu, hari di mana diperingati di seluruh belahan dunia oleh para organisasi perempuan yang dengan antusias memperingatinya dengan berbagai acara meriah. Ada yang berbentuk seminar, bagi-bagi bunga dan aksi. Begitu antusiasnya kaum hawa dan masyarakat memperingati jasa orang yang menjadikannya sukses dalam meraih impian kehidupan.
Bukan ketika Hari Jadi Ibu, 22 Desember, bentuk kasih sayang itu kita wujudkan pada sang bunda tercinta. Begitu besar kasih sayang yang diberikan bunda kepada kita semua. Sejak masa kandungan, seorang ibu rela membawa kita berjalan kemana saja, kemudian melahirkan kita dengan nafas antara hidup dan mati, lalu menyusui ketika kita masih bayi. Tidak ada rasa jijik mencuci pakaian yang penuh dengan kotoran kita saat masih kecil.
Setelah beranjak mulai sekolah TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi, ibu tetap memperhatikan kita. Di saat dekat disanjung dan dibelai, di saat jauh kita diperhatikan lewat telepon dan bahkan ibu selalau berpesan untuk selalu menjaga diri kita dengan sebaik-baiknya serta memotivasi kita untuk tetap semangat meneruskan perjuangan ini. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Terkadang putra-putri lalai dengan pesan-pesan bunda, saat kita akan pergi berpendidikan jauh, masih terngiang ditelinga “Nak jaga diri baik-baik, luruskan niat, raih cita-cita dengan kesungguhan hati.”
Masyarakat Melayu sangat menghormati seorang ibu. Bila ingin melihat bagaimana masyarakat Melayu memandang ibu, referensinya tentu saja pada ajaran Islam, sebab sebagian besar pemikiran masyarakat Melayu dipenagaruhi oleh pandangan Islam. Penghormatan kepada ibu tentu saja tidak mengurangi penghormatan kepada ayah. Walaupun ada yang mengatakan, surga di bawah telapak kaki ibu. Bukan berarti ibu itu lebih mulia dibandingkan dari pada ayah. Keberadaan seorang ibu sesungguhnya berkaitan erat dengan keberadaan ayah sehingga penghormatan kepada ibu juga bermakna penghormatan kepada seorang ayah. Tepatnya penghormatan kepada kedua orang tua.
Keberadaan ibu dan ayah harus dipahami secara cerdas dan benar. Keberadaan ibu dan ayah bukan dalam kerangka kompetitif, yang satu lebih mulia daripada yang lain. Konsepnya adalah kemitraan dan sama-sama mulia. Kebudayaan Melayu mengarahkan bahwa tugas ayah cenderung dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi. Sedangkan ibu lebih berperan dalam urusan domestik di rumah. Lebih banyaknya waktu seorang ibu di rumah, menyebabkan orang Melayu menyebutkan istrinya sebagai orang rumah. Hukum pembagian tugas ini tentu saja tidak bersifat mutlak sebab ada kondisi tertentu yang mengharuskan adanya pergantian peran atau menjalankan keduanya secara bersama. Yang terpenting adalah sama-sama dan seimbang peran keduanya, sehingga sama-sama memperoleh kemuliaan.
Secara biologis ibu bermakna seorang wanita yang mempunyai rahim dan organ kewanitaan lainnya. Keberadaan rahim sangat penting bagi eksistensi seorang wanita, sebab keberadaan rahim ini yang membedakan wanita dengan pria. Secara kultural ibu bermakna kebijaksanaan, kearifan, kesabaran, kematangan, teladan, kasih saying, dan terpuji. Orang mempunyai harapan yang sangat besar terhadap ibu sehingga diperlukan satu hari istimewa untuk mengingat jasa ibu, yakn Hari Ibu.
Penempatan istimewa terhadap ibu tentu saja tidak membuat kaum ibu menjadi sombong. Justru sebaliknya, seorang ibu semakin menunjukkan kearifannya, sebab ia menyadari bahwa ia mempunyai peranan yang sangat penting dalam menyelamatkan anak-anaknya. Jika seorang wanita bisa memahami eksistensinya sebagai seorang ibu, maka ia akan menunjukan sifat keibuan yang memberikan pencerahan kepada orang di sekitarnya.
Kebudayaan kita mengajarkan kita harus menghormati ibu. Kita dilarang keras untuk bersifat durhaka kepada ibu. Secara kultural ada mitos Malin Kundang yang menjelaskan kedurhakaan seorang anak terhadap ibunya. Mitos kedurhakaan anak terhadap ibunya juga berkembang diberbagai wilayah dengan bervariasi. Seperti mitos anak yang durhaka pada ibu berubah menjadi ikan pari karena termakan oleh sumpah ibu. Dan seorang ibu yang baik juga tidak boleh murka pada anaknya.
Dalam masyarakat Melayu peran strategis ibu dalam pelestarian nilai-nilai kebudayaan terlihat dalam beberapa tradisi dan kegiatan yang dilakukannya dalam mendidik dan menjaga anak. Pertama, mendendangkan lagu-lagu yang sarat dengan nasihat ketika menidurkan anak. Kedua, memberikan sikap tauladan pelestarian kebudayaan. Ketiga, mempertahankan bahasa ibu atau bahasa daerah. Seorang ibu biasanya mempunyai lebih banyak waktu berkomunikasi dengan anaknya. Keempat, menggunakan bahasa santun. Penggunaan bahasa santun oleh seorang ibu sangat penting dalam membangun karakter anaknya.
Jika aku diberi pilihan untuk menghianati dua hal, yaitu menghianati negaraku atau ibuku, maka kuberanikan diri untuk menghianati negaraku, karena ibulah yang membuat aku kenal kepada negara, dan bukan negara yang membuatku kenal kepada ibu. Selamat Hari Ibu, semoga kita menjadi anak yang mampu membalas jasa dan memenuhi harapannya, tiada terkecuali ketika ia telah tiada. Harapan buat kita untuk jadi anak saleha adalah surga baginya.***
__________
Nuryanti, Sekretaris Umum KOHATI HMI Cabang Pekanbaru.