Close
 
Sabtu, 25 Oktober 2014   |   Ahad, 1 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 1.635
Hari ini : 12.028
Kemarin : 21.567
Minggu kemarin : 160.551
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.270.969
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

17 februari 2011 04:33

Melestarikan Sape, Alat Musik Khas Dayak Kenyah

Melestarikan Sape, Alat Musik Khas Dayak Kenyah

Oleh Yusuf Efendi

Kebudayaan Suku Dayak adalah kebudayaan yang unik. Pesona dan daya tariknya ada pada keunikan bentuk dan warna-warna beragam kerajinan yang dihasilkan. Pada alat musik, misalnya, pesona itu terdapat pada bentuk dan bunyinya. Salah satunya dapat dilihat pada alat musik petik sape’. Meskipun sudah mulai langka, sape’ mulai dilestarikan kembali agar tidak punah.

Sape’ adalah alat musik petik khas Suku Dayak Kenyah. Badan sape’ terbuat dari kayu hutan, senarnya berasal dari imaan (serat pohon sejenis enau atau aren), dan grip yang terbuat dari potongan rotan. Bentuk sape’ mirip dengan gitar. Hanya saja sape’ terdiri dari tiga senar dan tidak memiliki lubang pada badannya seperti halnya gitar. Oleh karena itu, sape’ tidak dapat menghasilkan bunyi dengung namun irama sape’ bisa terdengar nyaring dan enak dinikmati meskipun bunyinya hanya berasal dari petikan senar.

Terdapat teknik khusus dalam memainkan sape’. Sape’ tidak memiliki kunci baku seperti layaknya gitar. Irama sape’ dihasilkan dari perpaduan petikan dan loncatan jari pemainnya dari satu grip ke grip yang lain. Selain itu, diperlukan bakat dan ketekunan agar dapat memainkan sape’ dengan baik. Sape’ adalah alat musik yang sensitif. Artinya, untuk bisa memainkan sape’, diperlukan kepekaaan rasa dari pemainnya. Tradisi masyarakat Dayak Kenyah yang dekat dengan alam menjadikan sape’ sebagai alat musik yang dapat didendangkan sesuai suasana alam, seperti misalnya mengikuti desiran angin yang berhembus sepoi-sepoi.

Terdapat sebuah kepercayaan dalam masyarakat Dayak Kenyah bahwa permainan sape’ yang baik adalah jika alunan musik sape’ ibaratnya dapat membuat tulang-belulang remuk dan membuat yang mendengarnya bisa merinding. Kepercayaan ini masih diyakini oleh para sesepuh Dayak Kenyah hingga sekarang, karena sape’ menjadi alat musik yang digunakan dalam upacara adat. Ketika sape’ dibunyikan, maka seluruh orang terdiam, lalu pelan-pelan mereka akan bersama-sama melantunkan doa atau mantra-mantra. Dalam kondisi tertentu, terkadang di antara peserta ada yang kesurupan (trance).

Saat sape’ dimainkan dalam acara santai-santai, para pendengar akan berkumpul mengelilingi pemainnya. Pada zaman dulu, sape’ biasa dipakai oleh kaum lelaki untuk mencuri perhatian kaum perempuan. Seorang pemuda yang pandai memainkan sape’ akan mudah merayu perempuan. Sape’ juga biasa dimainkan oleh anak-anak muda Dayak Kenyah pada malam hari sembari menikmati bulan purnama sambil bersenda-gurau. Pada saat ini, mereka akan bermain sape’ sampai larut sambil ditemani minum tuak.

Sape’ juga berfungsi sebagai alat musik untuk menghibur keluarga besar. Tradisi orang Dayak yang tinggal di rumah betang (rumah besar), menjadikan sape’ sebagai hiburan bagi seluruh keluarga. Biasanya, salah seorang anggota keluarga akan memainkan sape’ untuk menghibur anggota keluarga yang sedang bersedih atau bersyukur seusai panen. Di salah satu ruang besar rumah betang, digelar acara adat khusus keluarga, lalu di sela-sela itu anak-anak muda akan beradu cakap bermain sape’. Mereka yang paling lihai akan mendapatkan tepukan tangan yang meriah dan minuman tuak.

Mencari Generasi Seniman Sape’

Akhir-akhir ini usaha melestarikan sape’ mulai digalakkan oleh Pemerintah Daerah Kalimantan Barat dengan menghadirkan kesenian sape’ ke berbagai acara seremonial, misalnya ketika menyambut tamu dari luar daerah atau acara ulang tahun propinsi atau kota. Namun di sisi lain, saat ini seniman sape’ sendiri mulai berkurang, hanya tinggal menyisakan para orangtua yang memang keturunan pemain sape’.

Upaya seniman sape’ dalam mendidik generasi muda banyak menemui kendala, salah satunya adalah tidak adanya kemauan dari para generasi muda sendiri untuk melestarikan sape’. Bahkan, tidak sedikit dari generasi muda sekarang yang menganggap sape’ sebagai alat musik yang sudah ketinggalan zaman. Karena itu mereka malu jika memainkannya, apalagi menjadikannya sebagai profesi.  

Masyarakat Dayak Kenyah yang masih peduli dengan sape’, saat ini juga sudah mendirikan sanggar seni. Namun demikian, tidak banyak dari generasi muda yang mau belajar. Oleh karena itu, para seniman sape’ yang ada sekarang kebanyakan hanya mengajarkan sape’ kepada keturunan mereka saja, meskipun itu juga menemui hambatan karena tidak semua keturunan mereka mau belajar.

Ketika para seniman sape’ sudah mulai langka, maka sebenarnya ini menjadi kesempatan bagi generasi muda untuk melanjutkannya, karena selain untuk menjaga tradisi leluhur, keahlian memetik sape’ tidaklah dimiliki oleh sembarang orang dan bisa menjadi sebuah keistimewaan. Sampai saat ini, para orangtua Dayak Kenyah tetap tidak lelah untuk mencari generasi seniman sape’.

__________

Yusuf Efendi, Redaktur www.Melayuonline.com

Sumber Foto: http://bennyshukaku.blogspot.com


Dibaca : 3.363 kali.

Tuliskan komentar Anda !