Senin, 15 Juni 2026 |Tsulasa', 29 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 666
Hari ini
:
10.465
Kemarin
:
19.032
Minggu kemarin
:
184.896
Bulan kemarin
:
9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Opini
28 maret 2011 04:00
Musisi Batak Tak Kenal Jarak
Oleh Iswara N Raditya
Suatu hari, dalam sebuah kunjungan kenegaraan ke Cina pada kurun 1960-an, Presiden Soekarno terkesiap. Sayup-sayup sang penyambung lidah rakyat Indonesia itu mendengar alunan A Sing Sing So, nyanyian khas Tapanuli. “Siapa yang menyanyikan lagu Batak di sini?” tanya presiden kepada ajudannya. Usut punya usut, ternyata pelantunnya adalah Gordon Tobing, musisi Batak yang saat itu berkelana hingga ke Cina. Alhasil, Soekarno sang bapak bangsa pun langsung memberi apresiasi setinggi langit kepada Gordon dan grup vokalnya, VC Impola.
Gordon Tobing adalah musisi kebanggaan Indonesia, terlebih lagi bagi masyarakat Batak di Sumatra Utara. Sebagai pelaku musik yang konsisten menyanyikan lagu-lagu rakyat (folk song), Gordon sudah berkeliling dunia. Sebelum singgah ke Cina pada 1960 itu, Gordon terlebih dulu menyambangi Moskow pada 1953. Lagu A Sing Sing So ciptaan Boni Siahaan merupakan lagu kesukaan Gordon yang selalu dinyanyikannya, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Tidak heran jika lagu ini menjadi cukup sering didengar di berbagai belahan dunia. Bahkan pada era 1960-an itu, A Sing Sing So terkenal di Amerika Serikat.
Dilahirkan di Medan, Sumatra Utara, pada 25 Agustus 1925, Gordon Tobing sudah akrab dengan nuansa musik sedari usia dini. Sang ayah, Romulus Lumban Tobing, adalah seorang pemusik sekaligus komposer terkenal pada zamannya. Ayah Gordon adalah pencipta lagu Arga Do Bona Ni Pinasa. Bakat musik Romulus diwariskan ke Gordon dengan menggembleng anaknya itu bermain musik dan olah vokal.
Berawal dari Radio
Pada 1950, menginjak usia 25 tahun, Gordon memutuskan untuk hijrah ke Jakarta. Berbekal niat dan keyakinan, Gordon berniat menaklukkan ibukota. Di pusat pemerintahan RI itu, Gordon sempat berganti-ganti pekerjaan. Ia pernah menjadi karyawan di Perusahaan Film Negara. Merasa tidak cocok dengan pekerjaannya itu, Gordon kemudian menyeberang ke Radio Republik Indonesia (RRI).
Di radio milik pemerintah inilah Gordon menemukan dunia yang tepat baginya. Gordon merasa karirnya di bidang musik diyakini akan cemerlang bersama RRI sebagai pijakan awalnya. Patut dicatat, Gordon ia tidak pernah mendapat pelajaran musik secara formal, ia hanya mengandalkan modal bakat dan pelajaran yang diwarisi dari ayahnya.
Lewat aktivitasnya di RRI, Gordon berkesempatan bertemu dengan seniman-seniman musik terkenal, termasuk Iskandar dan Sudharnoto. Peluang ini tentunya tidak disia-siakan Gordon untuk merajut karir di ranah musik yang sangat dicintainya. Gordon kemudian mendirikan beberapa kelompok paduan suara dan vokal grup (VG). Salah satunya adalah VG Sinondang. Namun sayang, usia VG bentukannya ini tidak bertahan lama.
Bersama Impola Menjelajah Dunia
Setelah VG Sinondang bubar, Gordon membentuk kelompok baru, VG Impola namanya. Dalam bahasa Batak, impola bermakna “inti yang terbaik dari yang terbaik”. Bersama VG Impola inilah Gordon, bersama istrinya Theresia Hutabarat, merasakan puncak kejayaan karir sebagai musisi folk song pada kurun 1950-an. Pesohor seperti Koes Hendratmo dan Hakim Tobing sempat ikut bergabung. Hanya dalam jangka waktu 3 tahun setelah tinggal landas dari Medan menuju Jakarta, Gordon melebarkan jejaringnya melintas batas dunia. Bersama VG Impola, Gordon menyebarkan kekayaan budaya Batak ke seluruh penjuru semesta.
Kualitas vokal Gordon memang patut diacungi jempol. Bahkan, karena warna suaranya yang bagus dan sanggup melengking tinggi, Gordon dijuluki sebagai Mario Lanza Indonesia. Mario Lanza adalah penyanyi folk song asalItalia bersuara emas yang menguasai ratusan lagu rakyat dari banyak negara di dunia, nyaris sama seperti apa yang dirintis Gordon. “Saya bisa menyanyikan banyak lagu rakyat dari mancanegara, hanya lagu dari Nigeria dan Arab yang tidak bisa saya nyanyikan,” aku Gordon suatu kali.
Kepiawaian Gordon sungguh membanggakan. Gordon adalah seorang musisi jenius, berkemampuan istimewa membawakan lagu rakyat di setiap negara yang ia sambangi. Ia telah berjasa besar sebagai duta bangsa dengan misi memperkenalkan lagu-lagu rakyat Indonesia ke seluruh bumi manusia. Hebatnya, apa yang dilakukan Gordon adalah misi ketulusan pribadi sebagai musisi lagu rakyat, bukan karena kepentingan pihak-pihak tertentu.
Konsisten di Jalur Folk Song
Sebagai penyanyi folk song, keahliannya mengumandangkan lagu-lagu rakyat Batak berhasil menggetarkan decak kagum jutaan orang di puluhan negara di 5 benua yang telah disinggahinya. Banyak pemimpin dan kepala negara yang memberikan sambutan kepadanya, tentu saja disertai apresiasi kesan yang sangat mendalam.
Sejumlah penghargaan bergengsi telah diraih Gordon dari negara-negara yang dikunjunginya antaralain dari Vietnam, Kamboja, Australia, Jepang, Mesir, Kuba, juga Jerman. Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser dan Presiden Kuba Fidel Castro pernah memberi hadiah gitar untuk Gordon. Kaisar Jepang menganugerahkan bintang tanda jasa The Order Of The Sacred Treasure Goland Silver Rays kepada Gordon karena dinilai berjasa meningkatkan hubungan kerjasama Indonesia dan Jepang.
Sepanjang karirnya di ranah tarik suara, Gordon konsisten di jalur musik rakyat. Tak pernah sekalipun ia pindah ke lain jenis musik yang lebih menjanjikan, semisal pop, kendati peluang itu seringkali datang padanya. Pantaslah bagi Gordon untuk didaulat sebagai musisi legendaris Batak. Konsistensi dan totalitas di jalur folk song justru terbukti mampu membuat namanya melegenda di genre musik tersebut, dan sejarah musik Indonesia pada umumnya. Namanya tetap harum kendati Gordon Tobing wafat pada 13 Januari 1993 dalam usia 68 tahun.
__________
Iswara N Raditya, Redaktur/Editor www.MelayuOnline.com