Close
 
Minggu, 5 Juli 2026   |   Isnain, 19 Muharam 1448 H
Pengunjung Online : 1.482
Hari ini : 22.559
Kemarin : 46.771
Minggu kemarin : 251.743
Bulan kemarin : 7.211.288
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

01 april 2011 08:11

Mengenang Permainan Bedil Bambu

Mengenang Permainan Bedil Bambu

Oleh Yusuf Efendi

Bedil bambu adalah permainan tradisional menggunakan bambu yang dipotong sepanjang satu meter dan dibuat lubang pada beberapa bagiannya. Lubang tersebut berfungsi sebagai lubang angin, untuk meletakkan minyak tanah atau karbit, dan tempat api disulut. Ketika api disulut, bedil bambu akan mengeluarkan asap dan berbunyi buuum!

Bunyi itulah yang membuat alat ini disebut bedil bambu. Di beberapa daerah Melayu, permainan ini juga disebut dengan meriam bambu, karena bentuk bambu dan proses kerja yang menghasilkan bunyi buuum mirip meriam.

Bedil bambu lazimnya dimainkan anak-anak di Pangkalpinang setelah menjalankan shalat tarawih, sesudah sahur, dan menjelang Idul Fitri. Meskipun agak berbahaya karena ledakan dapat melukai tubuh, namun permainan ini cukup diminati. Momen satu tahun sekali tampaknya menjadi daya tarik permainan ini. Ramadhan dan Idul Fitri bagi orang Pangkalpinang memang identik dengan bedil bambu. Dilihat dari sisi ini, permainan bedil bambu tidak hanya sekadar permainan, tetapi juga merupakan identitas budaya.

Cara membuat bedil bambu cukup mudah. Pilihlah bambu yang agak tua, tebal, dan kuat, dengan diameter 4 inci, kemudian dipotong sepanjang 1, 5 cm (3-4 ruas). Bambu lalu dilubangi dengan menghilangkan pembatas antarruas-ruasnya dan menyisakan ruas terakhir. Setelah itu, pada beberapa bagian tengah badan bambu, dibuat lubang kecil sebagai tempat untuk mengisi minyak tanah atau karbit dan menyulut api. Nah, bedil bambu sudah siap dimainkan.

Permainan bedil bambu biasa dimainkan di tempat yang jauh dari rumah penduduk. Seusai tarawih, sekelompok anak-anak biasanya akan menggotong bedil bambu ke sawah desa atau lapangan bola. Di antara mereka sudah ada pembagian masing-masing, siapa yang menata bedil bambu, menyiapkan minyak, dan menyulutnya.

Bedil bambu diletakkan pada posisi agak miring. Kepalanya dihadapkan ke atas agar minyak tanah tidak tumpah. Setelah itu, minyak tanah atau karbit dimasukkan ke salah satu lubang di badan bambu, lalu disulut dengan api agar bambu panas. Proses ini dilakukan terus menerus sampai muncul asap dari lubang bambu. Tunggu sampai panas menguap hingga menghasilkan bunyi buum yang keluar dari lubang bambu.

Bedil Bambu Sudah Mulai Hilang

Saat ini, bedil bambu sudah jarang dimainkan. Banyak faktor yang menyebabkannya, di antaranya adalah sudah mulai langkanya pohon bambu dan serbuan permainan modern atau video game yang semakin mudah didapat.

Dahulu, tanaman bambu banyak tumbuh di sekitar lingkungan masyarakat Pangkalpinang. Namun, saat ini, kebun-kebun bambu itu sudah banyak berubah menjadi permukiman penduduk atau tempat usaha. Lahan kosong sudah mulai berkurang, profesi penduduk pun sudah mulai banyak berubah. Dahulu, meskipun ada anggapan pohon bambu adalah sarang hantu, orang masih menanam dan merawatnya karena bambu dibutuhkan dalam kehidupan mereka, salah satunya untuk bahan kerajinan anyaman.

Saat ini, orang yang memiliki kebun bambu justru menjualnya untuk membeli kebutuhan hidup modern, seperti motor, televisi, telepon genggam, atau komputer. Dengan alat-alat ini, masyarakat merasa bambu tidak banyak dibutuhkan lagi, karena sudah dapat digantikan dengan alat-alat modern, termasuk untuk bermain.

Melalui telepon genggam, komputer, atau internet, anak-anak dapat mencari permainan modern dengan beragam model, cara, dan tantangan baru. Mereka dapat bermain sendiri, menentukan caranya sendiri, dan tanpa harus repot-repot mempersiapkannya dengan rumit, seperti halnya bedil bambu yang dimainkan secara kolektif. Dari sini terlihat bagaimana permainan publik berubah menjadi privat. Pergeseran dari budaya kolektif menjadi budaya pribadi yang cenderung egois.

Secara kebudayaan, realitas ini patut disayangkan, karena dengan hilangnya pohon bambu dan serbuan mainan modern, menyebabkan hilangnya permainan tradisional. Padahal jika dicermati, permainan bedil bambu memiliki banyak nilai luhur. Misalnya, anak-anak dapat belajar bekerjasama karena bedil bambu harus disiapkan oleh beberapa orang. Anak-anak juga dapat mendidik dirinya untuk membagi waktu antara ibadah dan bermain, karena permainan ini hanya ada di bulan Ramadhan dan menyambut Idul Fitri.

Bedil bambu juga mengandung makna untuk mendidik anak agar mencintai lingkungan. Dengan menanam pohon bambu, secara tidak langsung mereka menjaga lingkungan mereka agar tidak banyak polusi, karena pohon bambu dikenal rimbun dan dapat menahan laju polusi udara.

Melihat berabagi maknya yang ada, sebagai sebuah permainan tradisional, bedil bambu selayaknya dilestarikan, karena merupakan tradisi leluhur. Oleh karena itu, mari kita selamatkan permainan tradisonal.

_________

Yusuf Efendi, Redaktur www.Melayuonline.com  

Sumber: http://www.kaskus.us


Dibaca : 2.136 kali.

Tuliskan komentar Anda !