Close
 
Jumat, 8 Mei 2026   |   Sabtu, 21 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 2.608
Hari ini : 29.283
Kemarin : 31.042
Minggu kemarin : 209.627
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

01 april 2011 08:17

Mengenal Sistem Pertanian Tradisional Jambi

Mengenal Sistem Pertanian Tradisional Jambi

Oleh Yusuf Efendi

Jambi adalah sebuah daerah agraris yang terletak di pesisir timur bagian tengah Pulau Sumatra. Jambi dianggap sebagai salah satu daerah asal dari suku bangsa Melayu, yaitu dari Kerajaan Melayu yang dulu terletak di Batang Hari.

Sebagian besar penduduk Jambi berprofesi sebagai petani. Hal ini selaras dengan kondisi geografis Jambi dengan kontur tanah yang subur. Di antara penduduknya masih ada yang hingga kini mempertahankan sistem pertanian tradisional.

Orang Jambi memiliki sistem pertanian yang khas. Mereka memilih sawah dan ladang sebagai media bertani mereka. Orang Jambi tradisional memiliki sistem pertanian dan nama yang hampir sama dengan masyarakat di Indonesia laninya. Menurut mereka, terdapat tiga model sawah, yaitu sawah payau, tadah hujan, dan irigasi. Sawah payau adalah sawah yang dibuat di atas sebidang tanah yang secara alamiah telah mendapat air dari suatu sumber air, atau tanahnya sendiri telah mengandung air.

Sawah tadah hujan adalah sebidang tanah kering yang diolah dengan mempergunakan cangkul atau bajak yang diberi galangan atau pematang, sedangkan pengairannya sangat tergantung pada hujan. Sementara itu, sawah irigasi adalah sejenis tanah sawah yang digarap dengan sistem irigasi, namun tanah ini diolah dengan cara memakai sumber air dari mata air atau sungai.

Selain sawah, orang Jambi juga bercocok tanam di ladang. Ada dua tipe tanah yang cocok untuk dijadikan ladang, yaitu umo renah dan umo talang. Umo renah adalah ladang yang cukup luas yang terbentang pada sebidang tanah yang subur dan rata. Tanah tersebut terdapat di pinggir-pinggir sungai dan di lereng-leeng bukit yang mendatar. Ladang ini umumnya akan ditanami padi dengan melubangi tanah dengan cara ditugal, lalu benih padi dimasukkan di dalamnya. Di sekitar padi, biasanya akan ditanam benih tanaman lain, seperti mentimun, labu, atau kacang.

Berbeda dengan umo renah, umo talang adalah ladang yang dibuat orang di dalam hutan belukar yang letaknya jauh dari perdesaan. Sarana untuk menuju umo talang berupa jalan setapak yang mereka buat sendiri. Pada umo talang, orang biasanya akan membangun sebuah pondok kecil sederhana. Pondok ini berfungsi sebagai rumah sementara bagi petani yang menunggui ladang hingga panen tiba. Umo talang biasanya akan ditanami padi dan tanaman pendukung di sekitarnya.

Dalam mengolah tanah, orang Jambi juga menggunakan cara tradisional, seperti penggunaan kincir air sebagai sistem pengairan dan peralatan seperti cangkul, sabit, parang, serta bajak kerbau. Kincir air dianggap tepat karena di Jambi banyak terdapat sungai dengan airnya yang deras.

Tantangan Pertanian di Jambi

Sistem pertanian tradisional ini masih dilestarikan oleh orang Jambi, khususnya di pedesaan. Namun, berbagai tantangan menerpa semenjak munculnya alat-alat pertanian modern, semisal traktor. Selain itu, banyak petani yang menjual sawah lalu beralih profesi menjadi buruh. Tantangan ini tentu saja sangat berat, belum lagi harga gabah yang terus menurun, sehingga menimbulkan kerugian saat panen tiba.

Mempertahankan nilai tradisional dalam sistem pertanian Jambi memang bukanlah sesuatu yang gampang. Pemerintah diharapkan peduli dengan nilai tradisional ini karena jika nilai itu hilang, maka hilang pula identitas budaya orang Jambi. Dapatlah dibayangkan, jika seluruh petani menjual sawah ladangnya dan beralih profesi, maka tentu nilai kebudayaan Jambi juga akan ikut hilang. Dalam konteks ini, sistem pertanian bukan hanya sekadar aturan, lebih daripada itu, ia adalah identitas budaya.

Sistem irigasi, umo renah dan umo talang adalah sebuah periode sejarah orang Jambi dalam kehidupan pertanian mereka. Sistem ini mereka ciptakan sebagai upaya untuk tidak sekadar bertahan hidup, melainkan adalah tuntutan kemanusiaan, karena sistem itu dikerjakan secara kolektif.

Umo renah dan umo talang adalah sebuah bukti bahwa sistem itu dibangun dari pengalaman mereka ketika hidup berdampingan dengan alam. Mereka mengalami, merasakan, dan memikirkan pemberian alam kepada kehidupan mereka. Umo renah serta umo talang menjadi perwujudannya. Dengan ini, sudah selayaknya kebudayaan tradisional ini dijaga.

__________

Yusuf Efendi, Redaktur www.MelayuOnline.com

Sumber: http://lyna.student.umm.ac.id


Dibaca : 2.557 kali.

Tuliskan komentar Anda !