Close
 
Rabu, 13 Mei 2026   |   Khamis, 26 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 2.296
Hari ini : 33.798
Kemarin : 33.274
Minggu kemarin : 209.627
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

05 april 2011 06:03

Paman Sam Melayu dari Minahasa

Paman Sam Melayu dari Minahasa

Oleh Iswara N Raditya

Kaum penjajah gerah sekaligus geram akibat kata-kata pedas yang dilontarkan oleh Sam Ratulangi dalam setiap forum Volksraad (Dewan Rakyat bentukan Belanda) di mana ia menjadi anggotanya sejak 1927. Rupanya Belanda “salah” memilih orang. Sam justru menjadi orang yang siap meledakkan kritikan tanpa takut. Dalam suatu kesempatan, Sam pernah berucap:

“Nasib rakyat Indonesia bukan lagi seperti seekor domba yang dicukur bulunya, tapi sudah ibarat seekor ayam yang dikelupas bulunya. Dengan pengertian, domba yang sudah dicukur bulunya masih bisa hidup karena bulunya itu akan tumbuh kembali. Tapi kalau ayam yang dikelupaskan kulitnya, hanya tinggal menunggu matinya saja”.

Kata yang mematikan itu tak hanya dilisankan saja, melainkan juga dimaktubkan dalam Nationale Commentaren. Majalah yang terbit perdana pada 8 Januari 1938 ini menjadi senjata Sam untuk menghantam kolonialis Belanda di mana ia selalu berbahasa Belanda setiap kali menghujamkan kritikan. Maka tidak heran jika kaum kolonial sering tersentak saat membaca majalah yang cukup populer pada kurun 1938-1942. Majalah ini bertujuan untuk melepaskan rasa minder pribumi dari tekanan kolonialisme dengan daya pikat pada isinya yang mengulas isu internasional dari kacamata pribumi.

Sang Peninjau yang Tak Takut Ranjau

Bangsa Melayu serumpun ternyata juga punya Paman Sam yang tidak kalah adidaya. Gerungan Saul Samuel Yacob Ratulangi atau yang lebih dikenal dengan nama Sam Ratulangi lahir pada 5 November 1890 di Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara. Istimewanya, Sam Ratulangi adalah orang Indonesia pertama, atau bahkan satu-satunya, yang memperoleh gelar Doktor dalam bidang Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (Doktor der Natur-Philosophie) dari Universitas Zurich, Swiss. Universitas ini adalah perguruan tinggi ternama yang pernah menghasilkan para maestro dunia seperti Albert Einstein, Max Plank, dan suami-istri Curie.

Sam yang memiliki semboyan “si tou timou tumou tou” atau “manusia baru dapat disebut sebagai manusia jika sudah dapat memanusiakan manusia” ini sudah lama menggeluti karir tulis-menulis. Pada 1934, ia menerbitkan mingguan berbahasa Melayu bernama Penindjauan. Cukup garang tulisan-tulisan Sam, semisal ketika mengomentari soal industri di Indonesia. Di majalah Penindjauan, 20 Maret 1934, Sam berteriak: “Tenaga negeri dan pemerintah hanya beralas akan tenaga ekonomi rakyat!”

Bersama Sam, Penindjauan hadir sebagai peninjau gerak-gerik penjajah. Sam tidak pernah takut kena ranjau kolonial dan justru menikmati perannya sebagai oposisi. Penindjauan tidak sudi tanah airnya dikangkangi oleh bangsa asing, sebagaimana yang ditegaskan oleh Sam:

“Tabiat Penindjauan seolah-olah sudah juga kentara. Tamu yang mula-mula datang tak tersangka-sangka, tiada dengan membawa penghantar, tidak dengan ‘kata pendahuluan’, dengan sekonyong-konyong memperlihatkan rupanya dan isinya, yang menggirangkan hati yang punya rumah... Salahkah kami, kalau kami pertahankan serta kami peliharakan dan sempurnakan tujuan dan cita-cita majalah kita, si cantik Penindjauan ini?”

Kena Jerat Kelicikan Penjajah

Suara galak Sam di majalah Penindjauan membuat panik pemerintah kolonial Hindia Belanda. Untuk membendung pengaruh negatif atas radikalisme Sam itu, dilakukanlah upaya-upaya pembungkaman. Sam dituduh terlibat skandal keuangan. Tudingan tidak jujur diarahkan kepadanya dalam laporan perjalanan dinas anggota Volksraad, dengan dakwaan telah merugikan pemerintah kolonial sebesar 100 gulden.

Tindakan licik kolonial ini lantas jadi polemik. Pers pergerakan nasional mendukung Sam dengan balik mendakwa bahwa pemerintah hanya bermain muslihat. Perang media pun terjadi antara pers pribumi melawan pers putih milik kolonial. Namun, lagi-lagi inlander yang harus menuai kalah. Setelah menjalani proses hukum di kejaksaan kolonial, Sam divonis 4 bulan penjara. Ia menjadi korban tipu daya pemerintah dan pers kolonial Hindia Belanda.

Tahun 1936, Sam harus menjalani tahanan di Sukamiskin, Bandung. Namun, di balik musibah pastilah terkandung hikmah. Selama dibui itulah, Sam justru berhasil mencipta karya yang kemudian cukup mendapat perhatian, yakni Indonesia in den Pasifik yang membahas tentang kedudukan strategis Indonesia di tengah lalu-lintas Asia Pasifik.

Nama Besar yang Mengabadi

Masih banyak karya Sam, antara lain: Serikat Islam (Leiden, 1913), Kurven-Systeme in Volstaendigen Figuren (Zurich, 1917), De Meetkunde voor Euclides (Batavia, 1920), Een Methode voor het Grafisch Teekenen van 2e Graadscurven (Bandung, 1922), serta karangan terakhir yang belum sempat diselesaikan dengan judul Indonesia dalam Gelora Internasional (1949). Sam juga banyak menulis di Nationale Commentaren, Penindjauan, dan media massa lainnya. Tulisan tentang Minahasa juga banyak yang ia tulis meskipun tidak semuanya dipublikasikan.

Sam Ratulangi wafat pada 30 Juni 1949 di Jakarta dan dimakamkan di Tondano. Ia gugur karena serangan jantung di detik-detik pembuangannya menuju Bangka. Atas semua jasa Sam Ratulangi, Pemerintah RI memberi penghargaan, antara lain: Tanda Jasa Pahlawan (1958), Bintang Maha Putera Tingkat I (1960), Tanda Penghormatan Satia Lencana Perintis Pergerakan Kemerdekaan, (1965), Piagam Tanda Kehormatan Dewan Pers (1973), serta Piagam untuk Para Keluarga Pahlawan (1978). Namanya pun banyak diabadikan, termasuk sebagai nama perguruan tinggi dan bandara di Manado, Sulawesi Utara.

__________

Iswara N Raditya, Editor/Redaktur www.MelayuOnline.com

Email: dejavaraditya@yahoo.co.id
Sumber Foto:
http://www.tokohindonesia.com


Dibaca : 1.157 kali.

Tuliskan komentar Anda !