Close
 
Senin, 15 Juni 2026   |   Tsulasa', 29 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 665
Hari ini : 10.464
Kemarin : 19.032
Minggu kemarin : 184.896
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

13 april 2011 03:38

Mitos dan Legenda dalam Teks-Teks Hikayat Melayu

Mitos dan Legenda dalam Teks-Teks Hikayat Melayu

Oleh Mujibur Rohman

Para ahli sejarah Eropa seperti Windstedt, Crawfurd, Bottom, Maier, dan para orientalis lainnya jelas akan kecele ketika mengkaji aspek kesejarahan dari naskah-naskah Melayu. Sebab naskah-naskah itu, sebutlah Hikayat Hang Tuah, Hikayat Merong Mahawangsa, Sejarah Melayu, dan lain sebagainya, memunculkan kenyataan sejarah, namun dibalut dengan mitos, legenda, fakta, dan fantasi yang berjalin-kelindan.

Dominasi pendekatan sejarah pada naskah hikayat terus berlangsung sejak zaman kolonial, bahkan mungkin hingga kini. Pada mulanya adalah Eropa yang menggunakan sejarah sebagai kaidah untuk menata pengetahuan setelah Revolusi Industri. Kemudian menyusul kolonialisme yang membawa serta para intelektual untuk mengkaji daerah koloni mereka. Adalah sebuah persoalan ketika para sarjana kolonial Eropa kemudian menggunakan kaidah itu di sembarang tempat. Demikian juga terhadap naskah-naskah hikayat di dunia Melayu. Para sarjana kolonial ini menganggap tulisan-tulisan Melayu selalu mengacu pada dunia di luar teks. Kemudian mereka menganggap tulisan berbau sejarah itu sebagai naskah “sejarah” itu sendiri.

Lantas, apakah para pengarang hikayat tidak mampu membedakan antara sejarah dan mitos serta antara fakta dan fiksi? Jelas keliru kalau semata-mata mengatakan demikian. Justru inilah salah satu keahlian para pengarang Melayu klasik di mana mereka mampu mencampurkan sejarah dan mitos di dalam tulisan mereka. Ada dua hal menarik di sini ketika mengacu pada cara penulisan yang demikian (Sweeney, 2005:9). Pertama, hikayat menjadi khazanah untuk mengolah berbagai macam pengetahuan manusia. Kedua, jelas bahwa narasi dalam naskah-naskah tersebut merupakan aspek penting sebagai cara untuk mengungkapkan pengetahuan dan pengalaman manusia. Teks naratif menjadi kaidah primer dalam budaya berorientasi lisan.

Pengabaian beberapa faktor seperti tersebut di atas menjadikan para sarjana kolonial Eropa menganggap remeh tulisan-tulisan Melayu. Bahkan, Crawfurd menilai—berdasarkan seleranya sendiri—Hikayat Hang Tuah tidak berguna sedikit pun. Ini hanya sedikit contoh kesombongan Eropasentrisme dalam pengetahuan serta pengkajian budaya dan teks Melayu yang sembarangan.

Sebenarnya para pengarang Melayu sepenuhnya sadar akan penggunaan cerita-cerita legenda dan mitos di dalam tulisan mereka. Tentu saja ada beberapa maksud yang hendak dicapai oleh pengarang dengan model penulisan seperti itu. Paling tidak, para pengarang tersebut hendak menunjukkan kepada para pembaca bahwa di balik apa yang mereka tulis terdapat makna yang lebih fundamental. Selain itu, penggunaan mitos dan legenda dalam naskah Melayu klasik adalah upaya mempertahankan kenyataan cerita itu sendiri. Para pengarang naskah-naskah Melayu klasik tersebut menggunakan kenyataan sejarah sebagai landasan penulisan mereka. Namun, demi “memelihara” kenyataan itu sendiri mereka justru menggunakan cara pengungkapan tidak langsung di mana kemudian mitos dan legenda dimunculkan.

Legenda dan mitos juga (di)muncul(kan) sebagai salah satu upaya untuk mempertahankan kesucian dan kesakralan raja beserta keluarganya. Hal ini terlihat pada cerita dalam Sejarah Melayu di mana pernikahan Iskandar Zulkarnaen dan Putri Syahrul Bariah dihadiri oleh Nabi Khidir. Mitos yang digunakan sebagai upaya mempertahankan kesakralan juga terdapat pada Hikayat Merong Mahawangsa. Cerita-cerita tersebut juga menjadi semacam cara untuk melegitimasi kesucian, kehormatan, dan kekuasaan raja. Oleh karena itu, merangkai cerita dan fakta tentang raja dan keturunannya dengan mitos dan legenda menjadi lebih penting daripada sekadar menggambarkan fakta sejarah.

Hussain Othman (2008) mengajukan dua pendekatan dalam memahami mitos dan legenda dalam naskah-naskah Melayu berbau sejarah, yaitu tafsir dan takwil. Dua pendekatan ini digunakan sebagai upaya untuk lebih memahami apa yang adalah di dalam teks dan di luar teks. Akan tetapi, pemahaman peristiwa-peristiwa di luar teks tidak hanya dipahami melalui sekadar peristiwa sejarah sebagaimana yang dilakukan para sarjana kolonial Eropa.

Tafsir dan takwil mengacu pada dua pembagian ayat-ayat di dalam Alqur’an, yakni muhkamat (yang telah jelas maknanya) dan mutasyabihat (yang belum jelas maknanya). Tafsir merupakan cara pendekatan pemahaman terhadap ayat-ayat muhkamat. Tafsir mengacu pada teks yang ada atau apa yang disebutkan dalam ayat tersebut. Tafsir menggunakan teks sebagai acuan utama. Dengan demikian, ketika menggunakan pendekatan tafsir pada naskah-naskah Melayu mensyaratkan naskah tersebut jelas maknanya. Sama halnya dengan pendekatan pada ayat muhkamat, pendekatan tafsir pada teks-teks Melayu menggunakan teks sebagai rujukan utama.

Takwil adalah upaya untuk memahami ayat mutasyabihat dengan menginterpretasi simbol-simbol yang ada di dalam ayat tersebut. Acuan penafsiran yang digunakan adalah sumber-sumber di luar ayat. Penerapan takwil pada naskah-naskah Melayu adalah memahami teks dengan mengacu pada sumber lain di luar teks, misalnya peristiwa sejarah, atau cerita dan fakta-fakta yang lain.

__________

Mujibur Rohman, Redaktur MelayuOnline.com dan TengkuAmirHamzah.com

Sumber Foto: http://hafizomar.fotopages.com


Dibaca : 1.795 kali.

Tuliskan komentar Anda !