Close
 
Senin, 15 Juni 2026   |   Tsulasa', 29 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 629
Hari ini : 10.433
Kemarin : 19.032
Minggu kemarin : 184.896
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

29 april 2011 04:00

Wacana Kolonial dan Hegemoni Barat

Wacana Kolonial dan Hegemoni Barat

Oleh Mujibur Rohman

“Pengetahuan adalah kekuasaan” demikian menurut Michel Foucault (1926-1984) seorang filsuf, teoritisi sosial, dan ahli sejarah Prancis. Pengetahuan dapat menjadi senjata ideologis yang dapat menundukkan dan menguasai. Pengetahuan adalah kekuasaan, dan pengetahuan dapat berkolaborasi dengan aparat kekuasaan bagi kehendak kuasa itu sendiri. Pengetahuan menjadi senjata ampuh yang dapat mengendalikan dan menggiring orang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

Melalui pengetahuan itulah sebenarnya kolonialisme mempertahankan kekuasaannya di tanah jajahan. Kolonialisme bukan hanya upaya untuk menjarah-rayah sumber daya suatu wilayah, namun juga menciptakan kesadaran tertentu bagi masyarakat koloni mereka. Mereka menciptakan kesadaran tertentu bagi masyarakat pribumi berdasarkan asumsi, stereotip, dan anggapan bahwa masyarakat pribumi adalah terbelakang, primitif, tidak beradab, pemalas, dan lain-lain. Tentu saja anggapan-anggapan tersebut berdasarkan ukuran dan kesadaran umum masyarakat penjajah, katakanlah masyarakat Eropa. Ini menjadi salah satu cara untuk merekonstruksi kesadaran identitas masyarakat pribumi.

Konstruksi identitas yang dibangun kolonial akhirnya menjurus pada kesimpulan bahwa tujuan wacana kolonial yang disebarkan lewat berbagai media adalah membelah penjajah-terjajah ke dalam dua kutub yang saling bertentangan. Jika pribumi pemalas dan tidak beradab, maka penjajah adalah sebaliknya. Hal ini memperlihatkan hubungan penjajah dan yang terjajah adalah hubungan yang hegemonis-dominatif,  sehingga bagaimanapun tidak cocoknya, sebuah asumsi akan tetap dipaksakan pada masyarakat pribumi.

Wacana yang disebarkan para penjajah inilah yang menciptakan kondisi di mana kesadaran masyarakat kolonial terbentuk. Penjajah menaklukkan pribumi dengan menggiring kesadaran mereka pada kesadaran tertentu di mana kaum pribumi berada dalam posisi subordinat. Wacana kolonial muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari teks-teks melalui berbagai media maupun gambar iklan sekalipun.

Asumsi dan konstruksi kesadaran masyarakat pribumi sebagai masyarakat yang belum beradab inilah yang menjadi landasan penjajahan merupakan proyek mulia: misi pemberadaban. Akan tetapi, alih-alih memberadabkan masyarakat pribumi, kenyataan praktik kolonialisme justru berbanding terbalik dengan misi pemberadaban. Keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi Barat yang menjadi visi dunia justru mewariskan keunggulan kulit putih atas kulit berwarna yang menciptakan hubungan timpang dengan pribumi.

Akhirnya, wacana yang disebarkan kolonialisme tersebut bukan hanya berdampak pada saat pendudukan kolonialisme masih berlangsung. Hingga saat ini di mana negara-bangsa terjajah sudah mendapatkan kemerdekaan secara formal kesadaran inferior masyarakat bekas jajahan itu terus muncul. Tambahan pula, sarjana-sarjana Barat itulah yang memegang kendali ilmu pengetahuan. Selama beratus-ratus tahun menjadi bangsa terjajah, selama itu pula penjajah menerjunkan para ilmuan untuk melakukan penelitian di tanah jajahan. Hasil penelitian ini kemudian menjadi bentuk pengetahuan baru mengenai masyarakat terjajah yang terkadang bias sebagai sebuah bentuk representasi.

Bentuk-bentuk representasi sebagai inti wacana kolonial dalam tulisan, film, maupun gambar bukan terhadap masyarakat non-Barat menghasilkan tekanan yang timpang dalam kontes tatanan dunia modern. Kemunculan istilah “Dunia Ketiga” merupakan proses konstruksi di mana “Dunia Pertama” terbentuk. Kemunculan wacana-wacana baru bagi negara-negara terjajah atau bekas jajahan memperlihatkan bahwa mereka adalah ladang bagi pengembangan ilmu pengetahuan Barat. Misi pemberadaban di masa lalu kolonial yang belum selesai menjadi jalan bagi Barat untuk terus melakukan penguasaan negara-negara berkembang.

Tentu saja pengetahuan yang telah mereka peroleh dari tanah jajahan di masa lalu kolonialisme akan tetap mereka klaim sebagai milik mereka. Mereka mempelajari, menuliskan kembali, dan memamerkan kepada publik dunia apa yang telah mereka temukan dan pelajari sehingga kolonialisme bukan sekadar ajar pamer senjata dan kekuasaan, namun juga ajang bagi pelancong dan ilmuwan bagi pengembangan ilmu pengetahuan Barat. Melihat hal ini, Foucault (dalam Smith, 2005: xviii) berkomentar, “Efek dari kisah para pengembara ini telah memberikan sumbangan besar bagi pengetahuan Barat yang sebanding dengan pengumpulan data ilmiah secara sistematis”.

Pengetahuan itulah yang nanti akan dipelajari oleh masyarakat pribumi. Mereka mempelajari budaya dan peradaban mereka dari orang lain yang apesnya justru dari pihak yang menjajah mereka. Hal tersebut memunculkan kondisi di mana masyarakat pribumi selalu tergantung dan mengimpor pengetahuan dari penjajahnya. Namun, melepas ketergantungan tersebut bukan hal yang mudah. Bangsa-bangsa bekas jajahan itu, bangsa-bangsa yang terhimpun di bumi Melayu misalnya, harus berusaha keras menemukan identitas mereka sendiri. Artinya, bangsa-bangsa di bekas jajahan harus mampu mengkaji (ulang) kebudayaan mereka melalui perspektif mereka sendiri. Kajian-kajian tentang masyarakat Melayu yang selama ini bias karena dominasi kolonialisme perlu dikaji kembali. Hanya dengan begitu masyarakat pribumi akan bisa merekonstruksi identitas kebudayaannya.

__________

Mujibur Rohman, Redaktur www.MelayuOnline.com & www.TengkuAmirHamzah.com

Sumber foto: www.mercury.soas.ac.uk


Dibaca : 1.730 kali.

Tuliskan komentar Anda !