Close
 
Senin, 15 Juni 2026   |   Tsulasa', 29 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 627
Hari ini : 10.475
Kemarin : 19.032
Minggu kemarin : 184.896
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

23 mei 2011 04:10

Salah Paham dalam Ungkapan Melayu

Salah Paham dalam Ungkapan Melayu

Oleh Yusuf Efendi

Ungkapan atau pantun Melayu adalah salah satu sumber pengetahuan bagi semua orang. Bagi orang Melayu sendiri, ungkapan Melayu adalah sumber ajaran budi pekerti, baik terhadap anak-anak, remaja, maupun orangtua. Ungkapan Melayu memiliki makna tersirat yang dalam. Pembaca dibebaskan untuk menafsirkan ungkapan Melayu yang ada. Ada yang cocok, ada pula yang tidak.

Terdapat delapan petuah leluhur dalam ungkapan Melayu terhadap anak. Pertama, Bergantung pada nan Satu, berpijak pada nan Esa, berpulang pada nan Tunggal. Maksud ungkapan ini adalah agar nilai-nilai keagamaan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa selalu dijadikan pegangan utama dalam hidup. Kedua, Hidup berkaum sepakaian. Maksudnya agar sang anak menjunjung nilai persatuan dan kesatuan, senasib sepenanggungan dalam hidup.

Ketiga, Hidup sifat bersifat. Ungkapan ini dimaksudkan agar anak mampu mempraktekkan nilai-nilai terpuji, mampu membawa diri, dan tidak membuat diri malu. Keempat, Hidup berkeadaan mati berketepatan yang mengajarkan kepada anak agar kokoh pendirian, percaya diri, pantang menyerah, dan rela berkorban. Kelima, Hidup bertenggangan mati berpegangan. Ungkapan ini mendidik anak agar memiliki tenggang rasa antarsesama. Dalam ungkapan Melayu lain disebutkan: Yang hidup bertenggangan, yang mati berpegangan. Menenggang sesama hidup, berpegang pada imannya.

Keenam, Hidup berketurunan, mati berkepanjangan, mengajarkan agar anak mewariskan sesuatu yang terpuji, baik dalam bentuk hasil karya maupun jasa dan nama baik. Dalam ungkapan lain disebutkan: yang tebu menyentak naik, meninggalkan ruas dengan bukunya. Yang manusia menyentak turun, meninggalkan adat dengan pusakanya. Atau banyak anak banyak rejeki.   

Ketujuh, Hidup menggulut air setimba, mengajarkan agar anak memanfaatkan waktu untuk menambah pengetahuan dan tidak malas. Kedelapan adalah Sifat tua. Ungkapan ini mengajarkan agar sang anak menjadi pemimpin yang rendah hati dan bijaksana. Dalam ungkapan lain disebutkan: Kecilnya dipimpin, besarnya memimpin. Tahu sarang dengan sangkarnya, tahu bakal dengan alurnya.    

Silang Sengkarut Pemahaman

Ungkapan banyak anak banyak rejeki umumnya dimaknai bahwa orang yang memiliki anak banyak, pastilah banyak pula rejekinya. Menurut pengetahuan budaya Melayu, ungkapan ini sebenarnya belum sempurna. Ada kalimat setelahnya yang terpenggal. Secara lengkap, ungkapan tersebut sebenarnya berbunyi:

Banyak anak banyak rejeki

Banyak hutang yang dibawanya

Banyak fitnah yang akan menimpa

Ungkapan di atas hendaknya dimaknai sebagai peringatan, bukan himbauan agar memiliki banyak anak. Peringatan bahwa jika orangtua memiliki banyak anak, maka ia harus betul-betul mendidik dan mengajarkan budi pekerti anak dengan baik. Jika tidak, maka sang anak justru akan mendatangkan kesengsaraan. Dalam pengetahuan orang Melayu, anak yang mendatangkan rejeki adalah anak yang sudah menjadi “orang”. Artinya, seorang anak yang perilakunya sesuai dengan budi pekerti Melayu. Meskipun tidak dapat menjalankan delapan petuah di atas dengan sempurna atau paling tidak sang anak berusaha untuk meneladani petuah-petuah itu.

Dalam pengetahuan orang Melayu, anak yang mendatangkan rejeki adalah anak yang sudah menjadi “orang”. Artinya, seorang anak yang perilakunya sesuai dengan budi pekerti Melayu. Meskipun tidak dapat menjalankan delapan petuah di atas dengan sempurna, paling tidak sang anak berusaha meneladani petuah-petuah itu. Semua itu menandaskan akan pentingnya pendidikan anak sejak dini.

Menjadikan anak sebagai “orang” adalah kewajiban orangtua. Belajar dari petuah-petuah pendidikan orangtua Melayu terhadap anak di atas, dapatlah disimpulkan bahwa mendidik anak bukanlah tugas mudah karena setiap zaman akan berpengaruh kepada kejiwaan sang anak. Namun, bukanlah pula hal yang sulit jika orangtua sudah menyiapkan segalanya dengan baik. “Didiklah anak sesuai dengan zamannya,” demikian salah satu ajaran Melayu yang masih relevan untuk dijalankan.

__________

Yusuf Efendi, Redaktur www.MelayuOnline.com

Foto: http://www.adicita.com


Dibaca : 1.429 kali.

Tuliskan komentar Anda !