Close
 
Jumat, 24 Maret 2017   |   Sabtu, 25 Jum. Akhir 1438 H
Pengunjung Online : 5.479
Hari ini : 59.848
Kemarin : 39.208
Minggu kemarin : 301.775
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 101.979.464
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

29 juli 2011 07:33

Belajar dari Tradisi Nyekar

Belajar dari Tradisi Nyekar

Oleh Yusuf Efendi

Menjelang bulan Ramadhan, orang Islam di Jawa dan daerah Melayu pada umumnya akan ziarah ke makam leluhur. Mereka akan melakukan tradisi nyekar atau tabur bunga. Meskipun terdapat kalangan yang menganggap kegiatan itu termasuk syirik (menyekutukan Tuhan) karena berakar dari ajaran agama Hindu, namun bagi peziarah, mengunjungi makam leluhur adalah salah satu bentuk penghormatan kepada leluhur dan orangtua yang telah wafat.

Di Jawa dan di tempat lainnya, termasuk di sejumlah daerah Melayu, tradisi nyekar yang dilakukan menjelang bulan Ramadhan biasanya disatukan dengan tradisi nyadran. Selain ziarah kubur, digelar juga selamatan untuk mendoakan arwah leluhur. Nyadran sendiri berasal dari bahasa Arab, sadr, yang artinya “dada” atau “hati”.

Oleh Wali Songo yang merintis tradisi ini, nyadran dimaksudkan untuk menghormati leluhur dan membersihkan hati agar nantinya bisa maksimal dalam menjalankan puasa. Dengan nyekar dan nyadran, peziarah dapat belajar dari kebaikan orang-rang yang telah wafat. Nyekar sendiri sebenarnya tidak hanya dilakukan menjelang puasa Ramadhan, namun juga setiap saat sebagai media untuk introspeksi diri.

Bunga dan Nyekar

Dalam ajaran Hindu, bunga adalah perlengkapan utama untuk menggelar ritual doa dan sesaji, baik untuk keperluan sehari-hari atau dalam ritual adat. Bunga dimaksudkan sebagai persembahan kepada para dewa. Menurut hemat saya, kebanyakan agama di dunia dan kepercayaan lokal sebenarnya juga mengenal bunga sebagai bagian dari upacara pemakaman atau mengenang yang telah wafat. Pemeluk Kristen di Eropa, misalnya, telah lama menggunakan bunga sebagai bagian dari upacara kematian.

Dari realitas di atas, tak heran jika tradisi nyekar dianggap bagian dari tradisi Hindu, Buddha, atau kepercayaan lokal. Namun, sehubungan dengan ziarah kubur yang juga dianggap pengaruh Hindu tampaknya perlu dikaji kembali, karena umat Hindu di Bali pada dasarnya tidak memiliki tradisi nyekar dan ziarah kubur secara rutin. Mereka akan menziarahi kubur hanya sebelum digelar upacara Ngaben (pembakaran mayat) karena setelah itu, keterikatan antara keluarga dan makam sudah tidak ada lagi.

Di sisi lain, ajaran Hindu atau Buddha mengajarkan, bahwa setelah mati, tubuh manusia akan kembali kepada unsur-unsurnya semula, yaitu tanah, air, dan api. Sementara itu, jiwanya akan mengalami proses yang berbeda. Jika hidup orang itu baik, maka ia akan dilahirkan kembali dalam keadaan yang lebih baik. Namun jika sebaliknya, maka dalam kehidupan berikutnya, ia akan “turun derajat”, karena setiap orang dilahirkan menurut karma masing-masing. Jika sempurna, akan meraih moksa, lepas dari lingkaran reinkarnasi dalam kehidupan di dunia.

Berdasarkan kosmologi di atas, tradisi nyekar dan ziarah kubur orang Hindu atau Buddha bisa dipahami sebagai usaha mereka bercermin kepada leluhur dan memahami asal-usul manusia. Tujuan ini pula sepertinya yang sebenarnya ingin dicapai dalam tradisi nyekar yang dilakukan oleh orang Islam di Jawa ataupun di wilayah rumpun Melayu.

Ziarah Kubur: Refleksi Diri

Dengan melakukan nyekar atau ziarah kubur, kita akan dapat mengambil pelajaran dari orang yang wafat untuk dijadikan refleksi diri. Nyekar dan ziarah kubur bukanlah suatu keharusan, namun dengan melakukannya juga bukan menjadi hal yang sia-sia. Doa yang dipanjatkan sebenarnya buka hanya untuk arwah leluhur, namun juga untuk peziarah sendiri.

Ziarah kubur sejatinya hanya titik awal bagi orang yang masih hidup untuk berbuat lebih baik lagi. Jika dimaknai lebih dalam, nyekar dan ziarah kubur sebenarnya untuk kita yang masih hidup. Mereka yang mati memang sudah ketentuan Tuhan. Meneladani kebaikan dari leluhur yang telah wafat dan mengambil sisi baik lalu mengaplikasikannnya, tentu lebih penting daripada hanya sekadar menabur bunga. Oleh karena itu, nyekar dan ziarah kubur jangan hanya berhenti pada tradisinya saja, tetapi juga dihayati folosofinya.  

Dalam banyak hal, tradisi nyekar adalah sesuatu yang positif. Tujuan berziarah dapat dipahami sebagai usaha agar manusia tidak mengalami disorientasi hidup, tidak terlarut dalam problema kehidupan, dan agar tidak lupa dengan hakikat hidup yang dijalani. Saat berziarah, sebenarnya manusia sedang mengukuhkan dirinya kembali dengan menggunakan sosok leluhur sebagai cermin, bukan mengharap bantuan “gaib” leluhur sebagai perantaraan Tuhan.

Dengan demikian, nyekar atau ziarah kubur tampaknya bukanlah tujuan semata, melainkan sarana. Saat berziarah, yang masih hidup akan mengingat mati dan belajar dari kebaikan leluhur sehingga dalam menjalani ibadah puasa akan merasa dibimbing oleh memori kebaikan dari leluhur itu. Tentunya membersihkan hati adalah hal yang dianjurkan dalam Islam.

Akhirnya, selamat menjalankan ibadah puasa bagi seluruh umat muslim.

Yusuf Efendi, Redaktur www.MelayuOnline.com 


Dibaca : 3.010 kali.

Tuliskan komentar Anda !