Close
 
Jumat, 24 Maret 2017   |   Sabtu, 25 Jum. Akhir 1438 H
Pengunjung Online : 5.391
Hari ini : 59.733
Kemarin : 39.208
Minggu kemarin : 301.775
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 101.979.454
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

11 agustus 2011 08:32

Ratu Kalinyamat dan Perjuangan Kedaulatan Melayu

Ratu Kalinyamat dan Perjuangan Kedaulatan Melayu
Ilustrasi Ratu Kalinyamat

Oleh Iswara N Raditya

Nama Ratu Kalinyamat mungkin masih lamat-lamat terdengar. Dalam catatan sejarah nusantara, sosok perempuan pemberani ini memang tidak setenar Kartini atau Cut Nyak Dien. Ratu Kalinyamat adalah anak gadis Sultan Trenggana, pemimpin Kesultanan Demak yang memerintah selama 2 periode, yakni pada kurun 1505-1518 M dan kemudian pada tahun 1521-1546 M. Nama asli Ratu Kalinyamat adalah Retna Kencana. Bagi orang Jepara, Ratu Kalinyamat tentunya mempunyai tempat terhormat karena sang Ratu pernah menjadi pemimpin paling terkemuka di wilayah yang terkenal dengan seni ukirnya itu.

Embel-embel “Kalinyamat” diperoleh dari suaminya, yakni Pangeran Kalinyamat. Ada dua versi tentang asal-usul Pangeran Kalinyamat. Pertama, ia diduga adalah seorang saudagar dari Tiongkok bernama asli Win-tang yang kapalnya karam di perairan dekat Jepara. Ia kemudian berguru pada Sunan Kudus di Demak. Versi kedua menyebutkan bahwa Pangeran Kalinyamat sebenarnya adalah Pangeran Toyib, pangeran dari Kesultanan Aceh Darussalam, putera Sultan Mughayat Syah (1507-1530 M). Pangeran Toyib kemudian berkelana sampai ke Tiongkok dan diangkat anak oleh Tjie Hwio Gwan, seorang pejabat istana di Tiongkok.

Pangeran Toyib kemudian mengajak ayah angkatnya pindah ke Jawa di mana mereka mendirikan desa di daerah yang kini diperkirakan terletak di wilayah Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Desa itu diberi nama Kalinyamat sehingga Pangeran Toyib pun menyandang gelar Pangeran Kalinyamat. Hingga akhirnya, Pangeran Kalinyamat mempersunting puteri dari Kesultanan Demak, yang tidak lain adalah Retna Kencana, puteri kesayangan Sultan Trenggana. Sejak itulah, Retna Kencana juga dikenal dengan nama Ratu Kalinyamat. Oleh Sultan Trenggana, Pangeran Kalinyamat dipercaya untuk memimpin Jepara yang merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Demak. Sedangkan Tjie Hwio Gwan diangkat sebagai Patih Jepara dengan gelar Sungging Badar Duwung. Konon, orang dari Tiongkok inilah yang mula-mula mengajarkan seni ukir di Jepara.

Pada tahun 1549, Pangeran Kalinyamat tewas dibunuh beberapa anak buah Arya Penangsang, Bupati Jipang Panolan yang dianggap memberontak terhadap Kesultanan Demak. Ratu Kalinyamat yang berhasil selamat dari peristiwa itu lalu pergi ke Gunung Daraja. Dengan menyimpan dendam atas terbunuhnya sang suami, Ratu Kalinyamat melakukan semedi tanpa secuil kain pun di tubuhnya. Ia bersumpah tidak akan berpakaian sebelum menggunakan kepala Arya Penangsang untuk keset kakinya. Pada akhirnya nanti, Arya Penangsang mati di tangan Sutawijaya yang kelak mendirikan Kesultanan Mataram Islam. Setelah sumpahnya terpenuhi, Ratu Kalinyamat kembali memimpin rakyat Jepara.

Pendukung Tegaknya Negeri Melayu

Ratu Kalinyamat pernah berperan penting dalam upaya mempertahankan tanah Melayu dari ancaman penjajah Portugis. Pada tahun 1550, atas permohonan Kesultanan Johor, Ratu Kalinyamat mengirimkan 40 kapal perang dengan 4000 prajurit untuk menangkal gangguan Portugis yang mulai mengusik ketenangan di Semenanjung Melayu. Kala itu, armada angkatan laut Jepara memang terkenal cukup kuat karena wilayah Jepara memang mengandalkan sektor maritimnya.

Di Selat Malaka, Angkatan Laut Jepara bekerjasama dengan armada Persekutuan Melayu. Kekuatan gabungan yang terdiri dari 200 kapal perang itu lalu menyerang Portugis dan berhasil merebut sebagian wilayah Malaka. Akan tetapi, Portugis membalas yang membuat pasukan Persekutuan Melayu terdesak. Armada perang Jepara yang masih bertahan terus mendapat gempuran dari Portugis. Akibatnya, sekitar 2000 orang prajurit Jepara gugur di laut dan pantai yang menjadi arena pertempuran. Malangnya lagi, tiba-tiba datang terjangan badai yang membuat kapal-kapal milik Jepara tercerai-berai, tidak banyak yang berhasil selamat sampai kembali ke Jawa.

Pada tahun 1573 M, giliran Kesultanan Aceh Darussalam yang meminta bantuan Ratu Kalinyamat untuk menghadapi Portugis. Ratu Kalinyamat mengirimkan 300 kapal perang beserta 15.000 prajurit. Pasukan besar yang dipimpin oleh Ki Demang Laksamana itu tiba di perairan Malaka pada Oktober 1574. Sayangnya, kedatangan mereka terlambat karena pasukan Aceh telah dipukul mundur. Meskipun demikian, pasukan Jepara tetap menyerang Portugis dan membangun pertahanan di Selat Malaka. Portugis akhirnya mampu menembus pertahanan itu dan menghancurkan 30 kapal perang Jepara. Namun, Jepara tetap menolak perundingan yang ditawarkan Portugis. Kondisi pasukan Jepara di Malaka kian melemah karena 6 kapal pengangkut perbekalan yang dikirim Ratu Kalinyamat berhasil direbut musuh. Armada Jepara kalah lagi, hanya sepertiga dari total pasukan saja yang berhasil kembali ke Jawa dengan selamat.

Jiwa pemberani Ratu Kalinyamat memang tak pernah mati, ia membenci bangsa penjajah yang berambisi mengangkangi nusantara. Meskipun upayanya dalam membantu kembali tegaknya kedaulatan tanah Melayu di Malaka belum membuahkan hasil yang diinginkan, Ratu Kalinyamat tidak pernah mau menyerah. Tak hanya itu, pada tahun 1565 M, Ratu Kalinyamat mengirimkan armada pasukan perang untuk membantu orang-orang Hitu di Ambon melawan Portugis. Atas keberanian yang luar biasa itu, bangsa Portugis menyebut Ratu Kalinyamat sebagai Rainha de Japara, senhora poderosa e rica, de kranige Dame atau “Ratu Jepara, seorang perempuan yang kaya-raya dan berkuasa, seorang perempuan yang gagah berani”. Sang Ratu perkasa ini wafat pada tahun 1579 M.

Iswara N Raditya, Editor/Redaktur www.MelayuOnline.com

Foto: http://m.kaskus.co.id


Dibaca : 5.631 kali.

Tuliskan komentar Anda !