Close
 
Senin, 24 April 2017   |   Tsulasa', 27 Rajab 1438 H
Pengunjung Online : 8.126
Hari ini : 55.277
Kemarin : 52.079
Minggu kemarin : 401.091
Bulan kemarin : 5.093.107
Anda pengunjung ke 102.198.696
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

07 mei 2013 07:30

Resume Dialog Budaya Melayu: “Revitalisasi Kearifan Budaya Melayu, Kini dan Masa Datang”

Ragam pemikiran tentang kebudayaan Melayu dipaparkan dalam Dialog Budaya Melayu pada 3-5 Desember 2012 di Ballroom Hotel Premiere, Pekanbaru, Riau. Para pemakalah, baik dari dalam maupun luar negeri, yang datang dari berbagai disipilin ilmu mencoba mengupas segala hal tentang Melayu. Inilah resume 15 pemikiran para pemakalah tersebut.

1. Sastra Melayu: Mendatangi Diri - (Taufik Ikram Jamil)[i] 

Membicarakan sastra Melayu tak bisa dilepaskan dari Penerbit Balai Pustaka (Balai Poestaka). Dalam kegiatan menerbitkan karya sastra, Balai Pustaka menggunakan tiga bahasa sebagai medium sastra, salah satunya adalah bahasa Melayu Tinggi. Selama periode 1920-1940, Balai Pustaka telah menerbitkan banyak karya sastra Melayu, di antaranya adalah Hikayat Hang Tuah dan Gurindam Duabelas. Menurut Prof. Dr. Teeuw, Hikayat Hang Tuah merupakan karya prosa Melayu yang sampai tahun 1980-an belum ada tandingannya. Sementara itu, Gurindam Duabelas merupakan sebuah lompatan kreatif dalam dunia sastra pada saat orang sedang “mabuk” dalam syair dan pantun yang telah begitu lama membumi.

E.U. Kartz, seorang sarjana dari Jerman pada 1980-an pernah mengatakan, Riau tidak mengambil keuntungan dari kenyataan bahasa ibunya, bahasa Melayu, yang saat itu digunakan sebagai medium sastra. Pasalnya, dari sekian ribu pengarang Indonesia yang telah diidentifikasi oleh Kartz, hanya 8 (delapan) pengarang asal Riau yang dikenal secara nasional. Namun, dari angka yang sedikit itu, mereka ternyata mampu mencatatkan diri sebagai sebagai pelopor dalam setiap zamannya.

Dalam rentang periode Balai Pustaka – Pujangga Baru (1930-an), terdapat Soeman Hs yang berhasil mempelopori penulisan prosa detektif dan humor. Pada era 1970-an, Sutardji Calzoum Bachri memberikan wawasan baru dalam penulisan maupun pembacaan puisi, serta membongkar filsafat berbahasa. Selain itu, hadir pula Ibrahim Sattah yang telah mengangkat permainan anak-anak secara menawan dalam khazanah sastra Indonesia. BM Syamsudin juga muncul sebagai cerpenis yang mampu melepaskan ketergantungan penulisan prosa dari kungkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sekitar tahun 1980-an hingga 1990-an, penulisan sastra di Riau kurang bergairah. Namun, beberapa guru sastra di Riau tetap berusaha untuk berkarya mengembangkan sastra Melayu sebagaimana yang diperlihatkan oleh Hasan Yunus, Tenas Effendy, Ediruslan Pe Amanriza, dan Idrus Tintin, Rina Entin, Fakhrunnas MA Jabbar, Abel Tasman, dan Rida K. Liamsi. Karya-karya sastra yang dihasilkan oleh para pengarang Riau tersebut adalah upaya mereka mendatangi diri dengan melalui suatu proses waktu yang disebut dengan sejarah.

Perkembangan sastra Melayu di Riau juga tidak lepas dari peran penting sejumlah media massa lokal Riau yang telah memberikan kepedulian tinggi, khususnya dalam hal memberikan halaman atau peluang yang memadai untuk pemuatan sastra Melayu. Riau Pos misalnya, menyediakan empat halaman penuh setiap pekan untuk budaya dan sastra. Namun, usaha penerbitan yang terkait khusus dengan buku-buku sastra Melayu belum menggembirakan karena pasarannya masih sangat terbatas. Hal ini sebagai anti tesis dari kenyataan yang menyebutkan bahwa buku sastra Melayu belum menjadi bacaan yang diminati oleh masyarakat luas, baik dari kalangan masyarakat Melayu sendiri maupun masyarakat selain Melayu.

2. Seni Panggung Teater Melayu di Malaysia - (Prof. Datin Dr. Rahmah Bujang)[ii]

Pemerintah Malaysia telah menetapkan bahwa Seni Budaya dan Warisan Budaya Melayu sebagai salah satu sektor utama dari tiga Dasar Industri Kreatif Negara (DIKN). Tujuan dari penetapan tersebut adalah untuk meningkatkan pendapatan negara sekaligus memartabatkan Warisan Budaya Melayu di Malaysia. Terbukti pada 2008, industri kreatif ini mampu menyumbangkan dana sekitar RM. 9,4 Miliar kepada Keluaran Dasar Negara Kasar (KDNK)

Salah satu unsur dari Seni Budaya dan Warisan Budaya Melayu adalah Seni Panggung Teater Melayu. Kesenian ini meliputi beberapa bentuk, antara lain Boria, Jikey, Mek Mulung, Menora, Main Peteri, Sewang, Awang Batil, Selampit, Wayang Kulit, Makyung, Bangsawan, Randai, Ketoprak, Sandiwara, Teater Muzikal, dan Dramatari. Seni Panggung Teater Melayu ini dikelola oleh Kementerian Kebudayaan Kesenian Negara Malaysia.

Seni Panggung Teater Melayu mulai dikembangkan sejak 2007 dengan menampilkan Seni Teater Bangsawan yang melakukan pementasan pada akhir pekan kedua atau ketiga setiap bulan di Panggung Bandaraya, Kuala Lumpur. Pada perkembangannya, bentuk kesenian ini kemudian secara rutin dipentaskan setiap tahun dalam berbagai kegiatan seni budaya, seperti lomba teater dari tingkat negeri (daerah) hingga kebangsaan (nasional) dan festival teater di berbagai perguruan tinggi di Malaysia.

Di Malaysia terdapat beberapa pusat pengkajian dasar-dasar berteater yang didirikan sebagai upaya untuk mengembangkan Seni Panggung Teater Melayu, antara lain Akademi Seni Kreatif untuk dasar lakon dan penulisan skrip atau naskah, dan Kru Akademi yang mengajarkan dasar-dasar teknologi dalam pementasan, termasuk teknik 3D dalam pembuatan film. Sementara itu, pusat pengembangan teater di tingkat strata 1 dapat ditempuh di Univeristi Malaya yang menawarkan sejumlah program, di antaranya Teater Bangsawan dalam 2D, Koreografi Makyung, dan Perbandingan Humor dalam Makyung.

Di Malaysia juga tersedia beberapa media sebagai platform untuk penerbitan artikel-artikel yang tentang Seni Teater Melayu. Media-media tersebut antara lain Jurnal Pangajian Melayu yang diterbitkan oleh Akademi Pengajian Melayu, Tirai Panggung oleh Pusat Kebudayaan, Wacana Seni Journal of Arts Discourse (USM) dari Pusat Seni, dan Jurnal Aswara.

3. Seni Pertunjukan Dalam Budaya Melayu: Perbincangan Tertumpu Pada Makyong Kelantan – (Prof. Dr. Haron Daud)[iii]

Menurut Prof. Pudentia MPSS dalam “The Revitalization of Mak Yong in the Malay World,” dalam Wacana (Jurnal Ilmu Pengetahuan Budaya) Vol. 12, No. 1 (April 2010), hal: 1-19, Makyong merupakan kesenian Melayu, yang salah satunya dikembangkan di Kelantan, berupa seni persembahan tradisional yang menggabungkan unsur-unsur ritual, lakon, tarian, musik, cerita, serta teks percakapan formal dan bersahaja yang telah diterima oleh UNESCO sebagai salah satu bentuk seni persembahan warisan dunia. Pada 1950-an hingga 1970-an, kesenian ini sangat populer di kalangan masyarakat Kelantan di Malaysia dan Pattani di Thailand. Kesenian ini sering dipertunjukan di Terengganu, Kedah, serta di Kepulauan Riau, dan Jambi (Indonesia).

Secara etimologi, Makyong berasal dari nama “Mak Hiang”, yaitu nama semangat padi (semakin berisi, semakin merunduk) yang mempunyai kaitan dengan Dewi Sri, Dewi Hindu-Jawa. Makyong juga dikaitkan dengan unsur ketuhanan dan pemujaan terhadap kekuatan gaib dan gejala alam, seperti yang terdapat dalam lirik lagu “Mengadap Rebab”, lagu yang mengiringi tarian pembukaan dalam semua pertunjukan Makyong. Oleh karena itu, Makyong diyakini berasal dari kepercayaan anismisme, aliran kepercayaan, serta amalan dalam permohonan.

Makyong memiliki tiga fungsi, yaitu sebagai upacara ritual, hiburan, dan media pengobatan tradisional melalui Pateri Makyong. Sebagai upacara ritual, Makyong tidak hanya melibatkan manusia, tetapi juga makhluk gaib seperti jin, hantu, dan jembalang. Oleh karena itu, ritual yang yang dilakukan oleh bomoh atau orang tertentu ini harus menggunakan mantera dan peralatan khusus, seperti kemenyan, beras kunyit, dan sebagainya untuk berhubungan dengan makhluk gaib agar terhindar dari berbagai gangguan yang bisa merusak jalannya upacara dan merasuki para pemain maupun penonton. Upacara ritual Makyong meliputi ritual buka panggung, perasap perkakas (alat musik), menyalakan dian (lilin), amalan individu, angkat kenduri, dan menutup panggung. Khusus upacara perasap perkakas terdiri dari tiga bagian, yaitu upacara perasap rebab, perasap gendang, dan perasap gong.

Berdasarkan hasil penelitian, rata-rata penggiat Makyong berpendapat bahwa ritual dan unsur magis, terutama penggunaan mantera dalam pementasan Makyong tidak dapat dihindarkan. Bahkan, ada pendapat yang mengatakan, jika tidak ada ritual maka tidak akan ada Makyong. Namun, beberapa penggiat Makyong, seperti Che Mat Jusoh dan Saari Abdullah (almarhum) mengakui bahwa mereka tidak lagi melibatkan ritual dan unsur magis, tetapi cukup dimulai dengan membaca Bismillahirrahmanirrahim dan berdoa kepada Allah untuk keselamatan semua pihak. Kesimpulan dari argumen adalah budaya ritual dalam Seni Persembahan Makyong Kelantan masih diamalkan oleh kelompok tertentu.

4. Nilai-Nilai Asas Jatidiri Melayu sebagai Perekat Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa, dan Bernegara – (Orasi Budaya: Prof. Tenas Effendy)[iv] 

Saat ini, cara membangun bangsa dan negara yang sejahtera tidak lagi membicarakan bagaimana kebudayaan Melayu dapat tumbuh dan berkembang, tetapi bagaimana kebudayaan Melayu itu dapat diangkat menjadi jatidiri bagi semua masyarakat Melayu yang majemuk. Di dalam kemajemukan tersebut terdapat nilai-nilai asas jatidiri yang sama, yang dapat dijadikan acuan, landasan, dan pola berpikir dalam mewujudkan kesatuan dan persatuan bangsa.

Salah satu nilai asas jatidiri Melayu yang penting adalah keterbukaan yang membuka peluang terjadinya persebatian antara pendatang dan masyarakat setempat. Sejarah telah membuktikan bahwa melalui sifat keterbukaan ini, masyarakat Melayu selalu siap menerima beragam puak, suku bangsa, bahkan semua pihak yang mendatangi daerahnya dengan muka yang jernih dan hati yang lapang, untuk hidup dan berusaha, memberikan peluang untuk menetap dan berketurunan sehingga melahirkan masyarakat Melayu yang majemuk.

Sifat keterbukaan dalam budaya Melayu juga dikawal oleh sifat-sifat saling hormat-menghormati, tolong-menolong, tenggangrasa, serta menjaga kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dalam ungkapan budaya Melayu dikatakan, hidup serumah beramah-tamah, hidup sedusun tuntun-menuntun, hidup sekampung tolong-menolong, hidup senegeri beri-memberi, hidup sebangsa rasa-merasa. Jika ungkapan ini diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka persengketaan, perseteruan, prasangka buruk, dan permusuhan di antara sesama akan hilang. Sebaliknya, jika ungkapan ini diabaikan, maka yang terjadi adalah hidup serumah sumpah-menyumpah, hidup sekampung gulung-menggulung, hidup senegeri iri-mengiri.

Hubungan persebatian antara pendatang dan penduduk setempat juga tidak terlepas dari sifat saling menghormati semua pihak. Dahulu, asas ini ditaati oleh kedua belah pihak sehingga jarak hubungan antara mereka semakin mengecil dan dapat melebur dalam satu kesatuan yang utuh. Dalam ungkapan Melayu dikatakan: di mana bumi pijak, di sana langit dijunjung; di mana air disauk, di sana ranting patah. Ungkapan ini berarti bahwa siapapun kaum yang mendatangi suatu kawasan, maka ia berkewajiban menghormati tatanan nilai, adat, budaya, dan agama yang berlaku di dalam masyarakat tersebut. Hal ini juga sesuai dengan ungkapan Melayu yang mengatakan: pantang mengorang-orang di kampung orang, pantang menghulu-hulu di kampung penghulu, pantang meraja-raja di kampung raja.

Budaya Melayu memang terbuka, tetapi tidak semua unsur luar dapat diterima. Pepatah mengatakan, kalau kecil kami sambut dengan telapak tangan, kalau besar kami tadahkan dengan nyiru. Nyiru ini berfungsi untuk mengayak dan menapis (filterisasi) unsur-unsur dari luar tersebut. Jadi, konsep budaya Melayu ketika menghadapi era global adalah unsur memfilter terlebih dahulu segala hal yang masuk ke dalam alam budaya Melayu. Hal ini sesuai dengan ungkapan Melayu, yang sesuai kita pakai, yang tertelan kita makan, yang senonoh kita jadikan contoh, yang sepadan kita jadikan teladan.

Dalam kenyataan sekarang, nilai-nilai budaya Melayu sudah banyak dilupakan sehingga berakibat pada munculnya krisis moral, kepemimpinan, dan kepercayaan. Lebih jauh, akibat dari berbagai krisis tersebut, kini muncul budaya korupsi, kemaksiatan, prostitusi, narkoba, perjudian, tindak kejahatan dan kekerasan, perkelahian massal, dan sebagainya. Ungkapan di mana bumi pijak, di sana langit dijunjung kini pun berubah menjadi di mana bumi dipijak, di situ bumi di kaveling.

Orang Melayu kini harus bersikap lebih arif dan bijaksana dalam bertindak agar bangsa ini tidak semakin jatuh ke dalam kenistaan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah meningkatkan penanaman nilai-nilai asas budaya Melayu yang Islami ke dalam diri setiap insan Melayu secara luas. Nilai-nilai yang mengandung tunjuk ajar dan petuah tersebut diharapkan dapat menjadi simpul pemersatu bangsa dan mewujudkan kehidupan yang aman, damai, dan sejahtera. Dengan nilai-nilai itu pula, petuah-amanah, tuah sakti hamba negeri, esa hilang dua terbilang, patah tumbuh hilang berganti, takkan Melayu hilang di bumi, yang pernah didengungkan oleh Laksamana Hang Tuah pada masa silam tersebut, dapat diwujudkan dengan sebaik-sebaiknya.

5. Tradisi Lisan dan Politik Marjinalitas – (Dr. Bisri Effendy)[v]

Clifford James Geertz, seorang antropolog asal Amerika Serikat, pernah mengajukan tesis bahwa kebudayaan itu mengandung unsur evaluatif. Kebudayaan dalam konteks ini diproduksi dan direproduksi untuk merespon sesuatu yang baru ataupun yang dihadirkan, baik secara ekologis maupun (kekuatan-kekuatan) sosial. Salah satu bentuk artikulasi kebudayaan tersebut adalah tradisi lisan.

Banyak komunitas etnik, tradisi, agama, dan kesenian, menganggap bahwa tradisi lisan adalah faktor yang paling memungkinkan dan efektif sebagai media untuk merespon dan menyikapi perubahan yang dilakukan oleh kekuatan eksternal (sosial, politik, ekonomi, dan agama). Bahkan, tidak sedikit dari komunitas tradisi di negeri ini yang memproduksi atau mereproduksi tradisi lisan untuk melakukan politik marjinalitas melalui cara negosiasi kultural, siasat, dan perlawanan (resistence) terhadap kekuatan eksternal tersebut.

Masyarakat Natuna di Provinsi Kepulauan Riau adalah salah satu contohnya. Pada akhir masa Orde Baru, masyarakat Natuna memprotes kebijakan pemerintah yang akan menjadikan wilayah mereka sebagai tujuan transmigrasi besar-besaran untuk proyek penanaman kelapa sawit yang menggunakan area seluas 60% di Pulau Bunguran. Protes masyarakat Natuna ini semakin diperparah ketika proyek gas bumi mulai diperbincangkan.

Salah satu bentuk perlawanan yang dilakukan masyarakat Natuna terhadap kondisi tersebut adalah mengaktualisasikan mitos-mitos, seperti Orang Hunian (orang bunian), Syekh Husin sang Penunggu Gunung Ranai, dan Empat Syekh Penyangga Empat Sudut Bumi Bunguran. Para tokoh dalam mitos tersebut dikatakan akan marah jika bumi Bunguran terkoyak dan akan menimbulkan wabah atau bencana. Munculnya peristiwa-peristiwa “aneh” seperti traktor terguling ke jurang, pekerja tertimpa pohon yang roboh, traktor yang pindah tempat di malam hari, hingga peristiwa traktor yang mesinnya mati secara tiba-tiba, selalu dikaitkan dengan mitos tersebut.

Selain mitos sebagai media perlawanan, sebagian masyarakat Natuna pada masa itu juga melakukan ritual pembacaan kisah “Juragan Budiman”, yaitu syair-syair yang menceritakan tentang perebutan kekuasaan politik. Pada tahun 1990-an, sejumlah komunitas di Batam, seperti Nongsa, juga pernah melakukan ritual pembacaan surat Yasin dan qunut nazilah secara rutin dan intensif. Ritual ini adalah sebagai bentuk protes terhadap rencana pembangunan industri di wilayah itu yang mengancam keberadaan mereka.

Bunguran pada akhirnya tetap tercabik-cabik oleh berbagai proyek, meskipun mitos-mitos Natuna, ritual pembacaan kisah “Juragan Budaman”, dan pembacaan surat Yasin dan qunut nazilah telah dilakukan. Hal yang sama terjadi juga dengan pembangunan Batam yang terus berlangsung hingga menggusur komunitas Nongsa. Kenyataan ini bukan berarti bahwa serangkaian mitos dan sederet doa yang telah didengungkan tidak mampu membendung kekuatan yang menimpa kedua wilayah tersebut. Tetapi, persoalannya adalah kekuatan tersebut memang bagaikan raksasa yang tak terbendung oleh kekuatan-kekuatan kultural.

Dari kenyataan tersebut, muncul sejumlah pandangan bahwa tradisi lisan hanyalah suara komunitas lokal, mistis yang merepresentasikan keterbelakangan, simbolik, dan syirik. Bahkan, ada pandangan yang mengatakan bahwa tradisi lisan hanyalah performance art, sastra, dan linguistik yang secara romantis dielukan sebagai sesuatu yang unik-eksotis.

Menyikapi pandangan-pandangan di atas, penulis berharap agar semua pihak bersikap lebih arif dan manusiawi untuk mengakhiri de-humanisasi tradisi lisan. Sebab, walau bagaimanapun, tradisi lisan merupakan bagian dari kehidupan dan budaya orang Melayu yang tidak bisa dipisahkan. Selain itu, kehadiran mitos-mitos di atas mengambarkan betapa kritisnya orang Melayu. Dengan melakukan humanisasi tradisi, berarti kita telah membuka ruang optimisme terciptanya kehidupan yang lebih adil dan manusiawi.

6. Jaringan Pelayaran Melayu(Dr. Bondan Kanumoyoso, M.Hum)[vi]

Secara geografis, kawasan dunia Melayu memiliki posisi yang strategis, yaitu terletak dalam jaringan perdagangan yang menghubungkan antara Samudera Hinda dengan Laut Cina Selatan. Selain itu, kawasan ini juga merupakan pintu masuk dari arah barat untuk kegiatan perdagangan rempah-rempah pada abad 16-17 Masehi. Oleh karena itu, kawasan dunia Melayu disebut-sebut sebagai salah satu jaringan pelayaran terpenting di dunia.

Ada dua jalur maritim utama yang menjadi urat nadi kegiatan pelayaran di kawasan dunia Melayu, yaitu Selat Melaka dan Selat Sunda. Kekuatan politik yang menguasai perdagangan di Selat Melaka adalah Kota Melaka. Kota ini merupakan titik simpul jaringan perdagangan yang menghubungkan dunia Melayu dengan jalur-jalur maritim yang meliputi India, Persia, Jazirah Arab, Afrika Timur, Laut Tengah, Siam, Pegu, Cina, dan Jepang. Jaringan ini merupakan salah satu jaringan perdagangan terbesar di dunia pada abad ke-16 M.

Kunci utama keberhasilan Kota Melaka menjadi kota dagang internasional terletak pada kebijakan-kebijakan perdagangan yang diberlakukan oleh penguasa Melaka kala itu. Para penguasa ini memberlakukan beragam kebijakan yang dapat menguntungkan semua pihak. Selain itu, penguasa Melaka juga menyediakan fasilitas-fasilitas penunjang untuk kegiatan perdagangan seperti pelabuhan, pasar-pasar, dan gudang.

Di sisi lain, kekuatan politik yang menguasai perdagangan di Selat Sunda adalah Kesultanan Banten. Kunci utama keberhasilan Banten menjadi kota dagang internasional adalah pengendalian daerah penghasil lada di ujung Barat Pulau Jawa dan Lampung. Banten mencapai kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682). Pada masa itu, Banten memiliki armada kapal yang kuat dengan bangunan model Eropa. Armada kapal tersebut secara aktif berlayar melakukan kegiatan perdagangan hingga ke berbagai tempat, seperti Persia, India, Siam, Vietnam, Cina, Filipina, dan Jepang. Mereka melengkapi diri dengan surat resmi dari Sultan Banten.

Memasuki paruh kedua abad 17 M, banyak kota pelabuhan yang dikuasai oleh orang-orang Eropa yang berasal dari Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris, dan Perancis. Melaka merupakan kota pelabuhan pertama di kawasan Melayu yang dikuasai oleh Portugis pada 1511. Selanjutnya, kota-kota pelabuhan penting lain yang jatuh ke tangan bangsa Eropa, di antaranya Batavia, Banten, Riau, Bengkulu, Makassar, Ambon, dan sebagainya.

Salah satu kepentingan bangsa Eropa menguasai kota-kota pelabuhan di Kepulauan Nusantara adalah untuk mengamankan pasokan rempah-rempah dan komoditi lainnya. Meskipun kota-kota pelabuhan tersebut telah dikuasai oleh orang Eropa, namun dunia perdagangan dan pelayaran di kawasan Nusantara pada abad 17-18 M tetap berjalan lancar. Hal ini dikarenakan bangsa Eropa hanya tertarik pada komoditi-komoditi yang laku di pasar internasional.

Pada awal abad ke-17 M, Aceh muncul sebagai kota pelabuhan Islam yang menggantikan peran Melaka. Pada pertengahan abad 17 M, Riau yang terletak di selatan Selat Melaka juga mulai tumbuh menjadi kota pelabuhan penting di Nusantara. Setelah kejatuhan kota pelabuhan Riau di tangan Belanda pada 1784, kota pelabuhan Siak muncul menggantikan peran Riau sebagai pemasok bahan-bahan mentah dari Sumatera ke Melaka.

Selama berabad-abad, kegiatan perdagangan maritim di kawasan dunia Melayu telah membawa berbagai pengaruh, seperti agama, sistem politik, ekonomi, keragaman etnis, bahasa, cara hidup, dan sebagainya. Salah satu pengaruh yang cukup menonjol adalah munculnya bahasa Melayu sebagai lingua franca (bahasa penghubung) bagi suku-suku maupun bangsa-bangsa yang di hidup di kawasan Asia Tenggara. Pada akhirnya, penggunaan bahasa yang sama tersebut di kemudian hari menjadi Bahasa Nasional, yaitu Bangsa Indonesia.

7. Karya Budaya dan Masalahnya di Sumatera - (Dr. Heriyanti Ongkodharma, MA.)[vii]

Karya budaya adalah peninggalan masa lalu sebagai hasil kegiatan, baik berwujud benda (tangible) maupun nonbenda (intangible) yang memiliki nilai penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan, sejarah, dan kebudayaan. Warisan budaya yang berwujud benda meliputi naskah, bangunan sakral maupun profan, serta kawasan cagar budaya. Sementara itu, warisan budaya tak benda meliputi upacara adat, religi, musik, tarian, dan ilmu pengetahuan.

Melalui karya budaya, perspektif budaya daerah tertentu dapat diketahui. Pulau Sumatera misalnya, merupakan salah satu kawasan Melayu di Nusantara yang telah menghasilkan berbagai karya budaya. Di kawasan Melayu ini juga terdapat karya budaya pada masa Hindu-Budha, terutama candi-candi, antara lain Candi Muara Jambi, Padangroco, Pulausawah, Padangcandi (Teluk Kuantan), Muaratakus.

Keruntuhan Kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 mendorong berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam di daerah Melayu, salah satunya adalah Kesultanan Melayu Riau. Pada masa kekuasaannya, kesultanan ini meninggalkan banyak karya budaya, khususnya karya budaya tangible berupa situs-situs budaya, makam, masjid, istana, benteng, dan sebagainya. Pulau Bintan (Kepulauan Riau) yang pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Riau menyimpan berbagai karya budaya, seperti situs Kota Piring, Situs Kota Lama, Makam Daeng Marewah, dan Makam Daeng Celak.

Daik (Pulau Lingga, Kepulauan Riau) yang juga pernah menjadi pusat kedudukan Sultan (Yang Dipertuan Besar) Kesultanan Riau juga menyimpan beragam situs budaya, seperti Masjid Tua Daik, Masjid Sultan Daik, situs Istana Damnah, situs Istana Robat, Istana Bilik 44, Makam Merah, Bukit Cengkeh, Makam Sultan Mahmudsyah III, Benteng Bukit Cening, dan Benteng Kuala Daik. Pulau Penyengat yang pernah menjadi pusat Pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga juga menyisakan beragam karya budaya, seperti Masjid Raya Pulau Penyengat, Makam Engku Puteri Raja Hamidah, Makam Raja Ali Haji, Makam Raja Jaafar dan Raja Ali, Makam Raja Abdurrahman, Istana Engku Bilik, Gedung Tabib Kerajaan, Makam Raja Haji Fisabilillah, Istana Raja Ali Marhum Kantor, Benteng Bukit Kursi, Benteng Bukit Penggawa, Rumah Hakim Raja Abdullah, Perigi Putri, Makam Embung Fatimah, dan sebagainya.

Permasalahan yang dihadapi sekarang adalah karya-karya budaya Melayu tersebut memiliki kondisi ketahanan yang cukup rentan, rapuh, dan mudah rusak. Oleh karena itu, perlu dilakukan langkah-langkah konkret untuk meningkatkan pengamanan terhadap aset peninggalan sejarah dan budaya tersebut. Karya budaya sebagai sumber data yang memiliki sifat movable perlu ditetapkan sebagai unmovable. Selain itu, perlu dilakukan berbagai kegiatan penyadaran terhadap masyarakat untuk melindungi, memelihara, dan mengelola, serta meneruskan kepada generasi mendatang. Kegiatan penyadaran tersebut juga mencakup upaya meningkatkan peran serta masyarakat untuk mempertahankan keaslian, melindungi dari pencurian, serta tidak memperjualbelikan karya-karya budaya tersebut.

8. Geospasial Budaya Melayu Nusantara – (Ir. Agus Hendratno, MT)[viii]

Secara garis besar, kedatangan orang-orang Melayu atau rumpun Austronesia ke wilayah Nusantara terbagi menjadi dua gelombang. Gelombang pertama adalah ras Melayu dari bangsa Proto Melayu (Melayu Tua) yang diperkirakan datang ke Nusantara sekitar tahun 2500-1500 SM. Mereka datang ke Nusantara melalui dua jalur, yaitu jalur barat dan timur. Jalur barat melalui Semenanjung Tanah Melayu terus ke bagian barat Nusantara, termasuk Sumatera, selanjutnya menyebar ke seluruh Indonesia. Sementara itu, jalur timur melalui Teluk Tonkin menuju Taiwan (Formosa), Filipina, Sulawesi, Maluku, dan kemudian menyebar ke seluruh Indonesia.

Orang-orang Melayu Tua datang ke Nusantara membawa kebudayaan Batu Muda (Neolitikum), di mana peralatannya terbuat dari batu yang bentuknya sudah halus. Hasil budaya mereka adalah kapak persegi dan kapak lonjong. Kebudayaan kapak persegi digunakan oleh mereka yang melalui jalur barat, sedangkan kebudayaan kapak lonjong digunakan oleh mereka yang melalui jalur timur.

Gelombang kedua adalah ras Melayu dari bangsa Deutro Melayu (Melayu Muda). Kedatangan bangsa Melayu Muda ini diperkirakan mulai terjadi sekitar tahun 300 SM dengan membawa kebudayaan logam atau perunggu. Kedatangan mereka juga memaksa sebagian bangsa Proto Melayu menyingkir ke daerah pedalaman. Meskipun tersingkir ke pedalaman, mereka tetap bermukim di sekitar air. Inilah yang menjadi ciri khas orang-orang Melayu, yakni mereka tidak bisa jauh dari air.

Berdasarkan sejarah persebaran orang-orang Melayu dulu dan kini (Melayu Modern) dapat diketahui bahwa ekosistem budaya Melayu selalu terkait dengan lingkungan pesisir, rawa-rawa, dataran banjir (tepian sungai di daerah hilir), dan muara sungai. Hal ini menunjukkan bahwa basis peradaban orang-orang Melayu tumbuh dari ekosistem air. Secara geospasial, ekosistem air tersebut tersebar di kawasan Semenanjung Tanah Melayu, pesisir timur Sumatera, di tepian sungai-sungai besar di Jambi, Palembang, Riau, Aceh, Deli, dan kemudian mengalir ke Selat Melaka dan ke perairan Riau Kepulauan.

Peradaban Melayu banyak terdapat di ekosistem air atau perairan karena dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, pertimbangan kemudahan mendapatkan batu-batuan dari sungai untuk membangun berbagai macam artefak, khususnya bagi masyarakat Proto Melayu yang menganut kebudayaan Neolitikum. Kedua, kemudahan untuk bercocok tanam dan perikanan. Daerah yang subur untuk pertanian terdapat di tepian sungai-sungai besar yang memiliki akumulasi humus, sedangkan daerah yang cocok untuk perikanan (mencari ikan) terdapat di tepian muara dan pesisir). Ketiga, kemudahan transportasi air untuk jalur perdagangan eksternal. Keempat, kemudahan untuk mendapatkan air bersih, jauh dari resiko erupsi gunung api dan tanah longsor. Kelima, kemudahan berinteraksi (akulturasi budaya yang bersifat terbuka) dan berimigrasi.

Kelima hal di atas menggambarkan bahwa air memiliki fungsi vital bagi kehidupan makhluk hidup di bumi, termasuk manusia. Sebagai komponen penting dalam kehidupan sehari-hari, air juga bisa menjadi pusat peradaban dan kebudayaan orang-orang Melayu.

9. Sejarah Orang Melayu di Nusantara – (Mohd Arof Ishak)[ix]

Ketika membicarakan tentang sejarah orang Melayu di Nusantara, maka terdapat tiga hal yang menjadi pokok penekanan, pertama, menunjuk kepada satu rumpun bangsa yang besar; kedua, menunjuk kepada asal satu tanah air yang asli (natives in a homeland); ketiga, menunjuk kepada satu tamadun dan peradaban tersendiri. Tamadun diartikan sebagai kepemilikan oleh suatu kelompok bangsa terhadap a body of culture, a body of values, and a body of wisdom (suatu kehidupan yang berbudaya, memiliki nilai, dan kebijaksanaan). Sementara itu, peradaban dapat diartikan sebagai suatu cara hidup bermasyarakat, berseni, dan beradat.

Sejarah tidak hanya diartikan sebagai zaman di mana terdapat dokumentasi secara tertulis yang menceritakan keberadaan suatu bangsa. Lebih dari itu, pengertian sejarah yang sebenarnya adalah dokumen tertulis tersebut didukung oleh dalil-dalil (bukti-bukti) lain melalui berbagai kajian ilmu pengetahuan, seperti ilmu arkeologi, lingustik, Deoxyribo Nucleic Acid (DNA), dan sebagainya. Maka, ketika berbicara tentang sejarah bangsa rumpun Melayu di Nusantara tidak hanya membicarakan zaman Kerajaan Sriwijaya di abad ke-17, tetapi juga zaman yang lebih jauh sebelumnya.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa bangsa Melayu berasal dari selatan Cina, Yunan. Pernyataan ini muncul sekitar tahun 1930-an berdasarkan kajian ilmu pengetahuan, khususnya ilmu arkeologi. Namun, teori ini terbantahkan oleh teori ilmu pengetahuan lain yang muncul belakangan. Teori tersebut menyebutkan bahwa rumpun Melayu berasal dari Asia Tenggara atau merupakan penduduk asli Nusantara (natives of Nusantara).

Teori di atas berdasarkan pada sejarah bahwa Asia Tenggara telah melahirkan bangsa-bangsa pertama di Asia, termasuk rumpun Melayu, setelah melalui sebuah proses evolusi. Proses evolusi bangsa-bangsa awal di Asia Tenggara ini dimulai dengan hijrah ke Benua Afrika. Sebagian mereka yang sampai di Afrika terus bergerak ke timur hingga menjadi orang asli Australia dan New Guinea, dan sebagian yang lain berpindah hingga ke Cina.

Berdasarkan ilmu genetik, khususnya kajian DNA di Asia, menunjukkan bahwa manusia bergerak dari selatan (Asia Tenggara) ke utara (Asia Timur). Dalil ini meruntuhkan pendapat para sarjana yang sebelumnya mengatakan bahwa manusia berhijrah dari utara (Cina) ke selatan (Nusantara). Hasil kajian ilmu genetik tersebut membuktikan bahwa masyarakat Asia Tenggara, termasuk rumpun Melayu, lebih tua daripada masyarakat di utara Benua Asia. Penyataan ini diperkuat oleh teori ilmu bahasa yang menyebutkan bahwa suatu bangsa yang tua memiliki keragaman bahasa atau linguistic diversity. Rumpun Melayu sendiri memiliki keluarga bahasa Melayu atau biasa dikenal Malayo-Polynesian atau Austronesian yang tertinggi di Asia.

Rumpun Melayu menghuni gugusan pulau terbesar di dunia. Hal ini mengkondisikan mereka menjadi sebuah bangsa maritim (a maritime people). Laut dan selat bukanlah pemisah, tetapi justru menjadi bagian kehidupan. Mereka tidak hanya dikenal sebagai pengembara, tetapi juga sebagai pedagang. Melalui perdagangan hasil bumi berupa rempah-rempah, rumpun Melayu di zaman silam mampu membangun rangkaian jalur perdagangan antarbangsa terbesar di dunia. Kejayaan inilah yang perlu dihidupkan sehingga tamadun dan peradaban Melayu kembali bersatu seperti dahulu.

10. Minangkabau dan Diaspora Melayu – (Prof. Dr. Phill. Gusti Asnan)[x]

Kajian mengenai diaspora orang Melayu-Minangkabau sudah banyak dilakukan oleh para ahli, baik sejarawan, ilmuwan sosial-politik, maupun pengamat sosial-kemasyarakatan. Hasil kajian para ahli ini relatif memiliki kesamaan informasi yang berkisar pada 4 (empat) tema utama, yaitu wilayah persebaran, waktu/ saat dimulainya persebaran, alasan-alasan persebaran, serta kehidupan di rantau (kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan hubungan dengan penduduk setempat).

Secara garis besar, wilayah persebaran orang Minang terdiri dari dua wilayah utama, yaitu mancanegara dan berbagai pelosok negeri di Nusantara. Persebaran mancanegara terbagi lagi menjadi dua daerah utama, pertama, negara-negara yang letaknya jauh dari Indonesia, seperti Australia, Timur Tengah, Eropa, dan Amerika. Kedua, negara-negara yang berada di sekitar Indonesia, seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Alasan persebaran orang Minang ini dipengaruhi oleh 3 faktor utama, pertama, adanya peristiwa PRRI; kedua, pengiriman mahasiswa ke luar negeri pada masa Orde Lama; ketiga, bekerja di luar negeri sebagai awak kapal, berdagang, dan karyawan di lembaga-lembaga pemerintahan dan perusahan kelas dunia. Sebagian dari mereka menetap di luar negeri bersama keluarga dan sebagian yang lain memiliki istri atau suami orang asing.

Sementara itu, persebaran orang Minang ke negara-negara tetangga mulai terjadi sejak lama. Perantauan ke Semenanjung Malaysia dimulai sejak abad ke-15, sedangkan perantauan ke Singapura mulai terjadi sejak negeri berjulukan ”Kota Singa” itu dibangun oleh Raffles. Perantauan orang Minang ke kedua negeri tersebut berlanjut hingga tahun 1960-an.

Orang Minang merantau ke kedua negeri jiran tersebut didasari oleh beberapa alasan, antara lain karena motif ekonomi (berdagang), diundang untuk menjadi pemimpin (raja), motif politik (terjadinya kekacauan di Ranah Minang seperti perang Paderi, Pemberontakan Pajak dan PKI, perang kemerdekaan, dan PRRI), serta sebagai TKI (sejak tahun 1980-an). Pada umumnya, para perantau Minang ini (kecuali TKI) adalah orang-orang yang relatif mapan dan terpandang (saudagar, bangsawan, pelarian politik, dan orang terpelajar).

Persebaran orang Minang ke seantero Nusantara (di luar Pulau Sumatera) dimulai sejak awal abad ke-20. Daerah-daerah yang menjadi tujuan rantauan mereka, antara lain Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Pulau Jawa adalah daerah rantau yang paling banyak didatangi. Pada awalnya, tujuan para perantau Minang, khususnya anak muda, ke Pulau Jawa adalah untuk menuntut ilmu. Setelah tamat di perguruan tinggi, sebagian besar dari mereka menetap dan bekerja di Pulau Jawa dan menjalin hubungan (suami/ istri) dengan ”Urang Awak”, baik ketika belajar, di tempat kerja, maupun yang datang dari Ranah Minang. Namun, tak sedikit dari mereka yang menikah dengan orang Jawa atau Sunda. Sebagian dari mereka yang telah tamat juga merantau dan menetap di luar Pulau Jawa dan Sumatera karena tugas kerja.

Selain menuntut limu, tujuan perantau Minang ke daerah luar Sumatera adalah untuk menyebarkan agama Islam dan sebagai tukang (membuat rumah). Daerah tujuan penyebaran Islam meliputi Pulau Sulawesi, Kalimantan Timur, dan Filipina bagian selatan. Tokoh atau perantau Minang penyebar Islam yang cukup terkenal di Sulawesi Selatan adalah Datuk Ribandang, Datuk Patimang, dan Datuk Ritiro. Sementara itu, perantau Minang dengan tujuan sebagai tukang banyak ditemukan di Kalimantan Barat.

Persebaran orang Minang ke daerah luar Sumatera juga didorong oleh motif ekonomi. Pada awalnya, perniagaan yang mereka lakukan adalah menjual barang-barang kebutuhan rumah tangga. Sejak tahun 1970-an, kegiatan niaga orang Minang mengarah kepada pembukaan rumah makan, toko-toko kelontong, pakaian, dan perhiasan emas.

Persebaran orang Minang yang paling banyak berada di Pulau Sumatera. Daerah tujuan rantauan mereka adalah kawasan barat (pesisir barat) dan bagian tengah Pulau Sumatera yang meliputi Aceh, Lampung, Jambi, Palembang, Riau, Sumatera Timur (Medan), dan Bengkulu. Persebaran orang Minang ke daerah tersebut lebih didorong oleh motif ekonomi, baik sebagai pedagang, guru, maupun pegawai pemerintah. Khusus untuk perantau Minang ke Aceh didorong oleh dua motif utama, yaitu menuntut ilmu (agama Islam) dan berniaga.

Dinamika diaspora orang Minang seperti yang dijelaskan di atas menggambarkan bahwa orang Minang sebagai bagian dari bangsa Melayu memiliki watak perantau. Watak ini merupakan warisan yang diemban dan pusaka yang diterima dari para leluhur mereka. Adanya persebaran orang Minang ini menjadi salah satu penyebab orang Melayu selalu eksis di Nusantara. Keberhasilan ini dapat dicapai karena orang Minang, seperti orang Melayu pada umumnya, memiliki nilai-nilai asas jatidiri yang disebut ”nilai keterbukaan” dan ”tahu diri”. Dengan keterbukaan, mereka berhasil me-Melayu-kan berbagai pendatang dari bangsa lain di Nusantara, seperti Cina dan Belanda. Dengan sifat ”tahu diri” pula, mereka dapat diterima oleh penduduk setempat di daerah perantauan.

11. Diaspora Masyarakat Bugis di Malaysia – (Prof. Madya Dr. Ahmad Jelani Halimi)[xi]

Pada awalnya, orang Bugis bukan merupakan masyarakat pelaut seperti halnya suku Melayu pada umumnya. Mereka lebih dikenal sebagai masyarakat petani, meskipun sebagian aktivitas mereka berada di laut, seperti menangkap ikan dan perdagangan antarpelabuhan. Diaspora orang Bugis secara besar-besaran mulai terjadi pada akhir abad ke-17, yaitu ketika Belanda mulai berkuasa di Sulawesi Selatan, terutama dengan adanya Perjanjian Bongaya antara Kesultanan Gowa dan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada 1667.

Perjanjian Bongaya telah merugikan para bangsawan dan pengusaha lokal. Salah satu isi perjanjian yang paling merugikan pengusaha lokal adalah adanya monopoli VOC terhadap perdagangan di Makassar. Mereka yang tidak menerima perjanjian tersebut kemudian meninggalkan kampung halaman untuk mencari keselamatan dan kehidupan yang lebih baik di tempat lain. Dari sinilah, diaspora orang Bugis mulai berlangsung.

Orang Bugis berdiaspora dengan cara berlayar dari Sabang hingga Merauke menggunakan perahu padewakang, pinisi, patroni, dan palari. Daerah tujuan mereka meliputi Irian Barat ke Filipina, Kalimantan, Kepulauan Nusa Tenggara Timur, Semenanjung Tanah Melayu, Aceh, bahkan hingga ke wilayah utara Australia. Sejak itulah, orang Bugis terkenal sebagai pelaut yang handal dan memiliki semangat berlayar (sompe) yang gigih dan kegisi monro soreng lopie, ko situ tomallabu sengereng (di mana perahu berlabuh, di situlah kehidupan ditegakkan).

Orang Bugis dalam berdiaspora juga dibekali oleh falsafah hidup dan nilai budaya yang biasa dikenal dengan nama siri’ atau malu (harga diri). Pepatah Bugis mengatakan Narekko sompe’ko lao mebela ri lipu langngie, taroi laloi alemu siri, nasaba siri emmi ritu natoriyaseng tau (Jika berlayar ke negeri lain, bekalilah dirimu dengan rasa malu, karena rasa malulah yang menjadikan seseorang disebut manusia).

Berbekal falsafah hidup tersebut, orang Bugis yang berdiaspora ke wilayah Semenanjung Melayu memainkan peranan penting dalam berbagai bidang, seperti perdagangan, politik, dan ilmu pengetahuan. Sekitar abad ke-18, orang-orang Bugis telah berdiaspora di sekitar negeri-negeri Melayu, seperti Johor-Riau, Selangor, Linggi, dan Pahang. Kehadiran orang-orang Bugis di wilayah tersebut bukan menjadi ancaman bagi kerajaan-kerajaan Melayu, khususnya Kerajaan Johor-Riau. Mereka justru diterima dengan baik dan diizinkan membuka perkampungan di kawasan-kawasan yang masih kurang penduduknya, seperti di Lembah Selangor, Linggi, dan Kelang.

Orang Bugis mudah diterima dan dihargai oleh pembesar-pembesar Melayu karena mereka memiliki kemampuan berlayar dan berdagang serta memiliki kapal dagang yang memadai. Selain itu, orang Bugis juga dikenal miliki semangat juang yang tinggi dan keahlian dalam berperang. Maka, beberapa orang Bugis tak jarang diangkat menjadi tentara bayaran untuk membantu konflik di antara para anak raja Melayu (Johor) atau membantu kerajaan untuk memberantas pemberontak di kawasan tersebut.

Sementara itu, diaspora orang Bugis di Malaysia Timur, khususnya di daerah Sabah dan sekitarnya sudah terjadi pada akhir abad ke-19. Diaspora orang Bugis ini bukanlah karena motif politik, tetapi lebih kepada motif ekonomi. Mereka datang ke Sabah pada saat itu bukan sebagai pengungsi atau pelarian politik, tetapi dengan tujuan meningkatkan taraf hidup mereka. Sabah yang terletak di kawasan Selat Melaka memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan, terutama dalam bidang perdagangan, selain karena memerlukan penduduk untuk bisa memajukannya. Orang-orang Bugis yang berdiaspora ke kawasan ini telah berasimilasi dengan masyarakat Melayu setempat sehingga sulit untuk diidentifikasi antara orang Melayu dan orang Bugis.

12. Nahkoda di Laut, Punggawa di Darat: Peran Politik Bugis dalam Sejarah Melayu Abad 18-19 – (Dr. Mukhlis PaEni)[xii]

Dalam sejarah perkembangan Melayu di Nusantara, orang Bugis memiliki peran politik, baik di laut maupun di darat. Di laut, mereka bertindak sebagai nahkoda dalam pelayaran dan sebagai saudagar atau juragan dalam perdagangan. Bentuk kepemimpinan orang Bugis yang terstruktur seperti ini ternyata berlaku juga berlaku di darat ketika mereka telah bermukim secara permanen di suatu daerah. Jika di laut seseorang pemimpin disebut nahkoda, maka di darat disebut punggawa (pemimpin atau ketua). Namun terkadang sebutan nahkoda kepada seseorang tetap digunakan sekalipun ia tidak lagi berlayar. Contohnya adalah Ketua atau Punggawa Bugis di Sinatan tetap disebut Nahkoda Alang.

Dalam sistem kekerabatan orang Bugis di suatu komunitas, punggawa tidak hanya bertanggungjawab sebagai ketua kelompok, tetapi sekaligus sebagai bapak bagi masyarakatnya, pemimpin bagi rakyatnya, dan panutan bagi pengikutnya. Dalam hal kekuasaan lokal, seorang punggawa, ketua, nahkoda atau sulewatang memiliki otoritas penuh terhadap daerah dan mobilisasi atas pengikutnya.

Di rantau, orang Bugis juga berperan sebagai perantara bagi penduduk lokal untuk berbagi kebutuhan yang didatangkan dari luar daerah. Peran semacam ini biasa disebut mappasilele atau berbagi. Unsur penting dari mappasilele adalah pelayanan. Guna melayani kebutuhan masyarakat lokal, orang Bugis memiliki sarana perahu untuk bepergian dan memperoleh barang kebutuhan sehari-hari. Barang-barang tersebut tidak harus dibeli, namun terkadang diperoleh dengan sistem barter untuk memenuhi kebutuhan bersama.

Selain memiliki sarana transportasi, Bugis-Makassar juga memiliki keistimewaan lain di rantau, yaitu keterampilan berperang. Bermodal keterampilan tersebut, orang-orang Bugis-Makassar kerap terlibat langsung dalam berbagai konflik internal di antara para penguasa lokal di hampir semua daerah yang ada di Nusantara, terutama di kawasan Semenanjung Malaya. Salah satu contohnya adalah keterlibatan Opu DaEng Parani bersaudara dalam konflik perebutan kekuasaan di Kesultanan Johor pada 1722.

Perantau Bugis-Makassar dan organisasinya dalam sejarah Nusantara sepanjang abad ke-17 sampai awal abad ke-19 memiliki peran yang cukup penting. Bahkan, peran penting itu masih terlihat hingga sekarang. Masih banyak tokoh masyarakat atau putra-putri terbaik Bugis-Makassar yang memegang berbagai peranan penting dan mencapai puncak karirnya di negeri-negeri Melayu. Ada 4 hal yang menjadi dasar kearifan orang Bugis dalam sistem kekuasaannya selama kurang lebih dua abad di negeri-negeri Melayu, yaitu ketteng bicara (kepastian hukum), reso (kerja keras/motivasi untuk berprestasi), assimellereng (kesetiakawanan), dan mappasitinaja (kepatutan).

13. Kebudayaan Melayu dan Perubahan Identitas Melayu di Thailand Selatan – (Nik Abdul Rakib bin Nik Hassan)[xiii]

Mayoritas masyarakat Melayu di Selatan Thailand menempati dua kawasan, pertama, kawasan bekas negeri Melayu Patani lama yang sekarang menjadi Provinsi Pattani, Narathiwas, Yala, dan beberapa daerah di Provinsi Singgora. Kedua, kawasan bekas jajahan negeri Kedah yang sekarang menjadi Provinsi Setul dan daerah Sadao, Provinsi Songkhla. Masyarakat Melayu memang menjadi penduduk mayoritas di kedua kawasan tersebut, namun secara keseluruhan, mereka tetap merupakan penduduk minoritas di Thailand.

Masyarakat Melayu di Selatan Thailand menuturkan dua jenis dialek Bahasa Melayu, yaitu dialek Kedah-Perlis dan Patani. Dialek Kedah-Perlis dituturkan oleh orang Melayu yang tinggal di Provinsi Setul dan Daerah Sadao, sedangkan dialek Patani dituturkan oleh keturunan Melayu di Provinsi Pattani, Yala, Narathiwas, dan sebagian dari Provinsi Songkhla. Dialek Patani tergolong bahasa Melayu Timur Laut, yaitu salah satu cabang Bahasa Melayu Kelantan dan Terengganu.

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Melayu Patani menganut dan mengamalkan budaya Melayu. Salah satu unsur budaya yang paling banyak diminati adalah sastra Melayu yang terdiri dari puisi, syair, dan sebagainya. Sastra Melayu ini memiliki peran penting dalam mempersatukan puak-puak Melayu serumpun, baik sesama Melayu setempat maupun dengan masyarakat Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura yang berada di Selatan Thailand. Selain itu, sastra Melayu juga digunakan sebagai alat multikulturalisme antara masyarakat Melayu di Selatan Thailand dengan warga Thailand yang berlainan bahasa, agama, dan budaya.

Sejak negeri Melayu Patani dibawah pengaruh Pemerintahan Thailand, maka terjadi praktek Siamisasi atau asilimasi budaya terhadap masyarakat Melayu di kawasan tersebut. Siamisasi bertujuan untuk memupus perbedaan budaya antara kedua belah pihak, yaitu masyarakat Melayu dan Thai. Beberapa dasar Siamisasi budaya meliputi berbagai bidang, antara lain politik (pemerintahan/kekuasaan), sosial-budaya (kesenian dan kuliner), media massa, dan pendidikan.

Siamisasi di bidang politik misalnya terlihat pada penghapusan kekuasaan raja-raja Melayu dan perubahan struktur kekuasaan seperti jabatan “datodiganti menjadi “nai amphoe sebagai pegawai daerah, dan jabatan “penghulu” diganti menjadi “phu yai ban” sebagai ketua kampung. Sementara itu, Siamisasi di bidang sosial terwujud melalui perkawinan campuran antara masyarakat Melayu dengan orang Thai sehingga lahir ras baru yang dinamakan Malayo-Siamese.

Di bidang kesenian, Pemerintah Thailand telah berhasil menerapkan beberapa seni-budaya Thai ke dalam kehidupan masyarakat Melayu, seperti persembahan Menora, penggunaan bahasa Thai dalam wayang kulit Melayu, permainan anak-anak, dan tinju ala Siam. Kebijakan ini tentu saja melemahkan dan mengikis keberadaan seni-budaya orang Melayu, seperti sandiwara, pantun, syair, sajak, dan buku-buku berbahasa Melayu. Seni budaya Melayu semakin berada di ambang kepunahan dengan tidak adanya lagi tempat di dalam kurikulum pendidikan di Thailand.

Siamisasi melalui media massa juga berhasil dilakukan oleh Pemerintah Thailand. Beberapa contoh Siamisasi ini terlihat pada penyisipan kata-kata atau Bahasa Thai pada media massa berbahasa Melayu. Hal ini secara langsung akan berpengaruh pada perkembangan dan pelestarian Bahasa Melayu di Thailand Selatan. Pelan tapi pasti, Bahasa Melayu akan kehilangan identitasnya.

Hubungan orang Melayu dengan masyarakat Thai yang semakin intensif membuat banyak makanan Thai menjadi makanan kegemaran masyarakat Melayu, misalnya, Som Tam, Tom Yam, Panaeng (gulai), Kaeng Som, Hiau Wan Kaeng, dan sebagainya. Selain makanan, sebagian kue Thai juga menjadi makanan favorit orang Melayu, seperti kue Mo Kaeng. Kondisi ini tentu mengancam keberadaan kuliner khas Melayu di Selatan Thailand.

Jika berbagai Siamisasi tersebut terus dilakukan oleh Pemerintah Thailand, maka hubungan masyarakat Melayu di Selatan Thailand nantinya akan terputus dengan dunia Melayu. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya-upaya untuk mengembalikan masyarakat Melayu di bekas negeri Melayu Patani itu kepada Dunia Melayu.

14. Sebaran Musik Melayu: Sekelumit Catatan Etnomusikologi – (Rizaldi Siagian)[xiv]

Sejauh ini, musik Melayu yang dianggap ”asli” adalah Ronggeng Melayu. Ronggeng merupakan bentuk seni pertunjukan yang memadukan tari, musik, dan sastra (pantun). Dalam pertunjukan Ronggeng, lagu-lagu Melayu ”asli” dinyanyikan oleh penyanyi/ penari perempuan yang disebut ronggeng dengan cara ”menjual” pantun kepada penonton yang menjadi pasangannya menari. Ronggeng Melayu juga diiringi beberapa alat musik seperti biola dan sepasang gendang yang disebut gendang ronggeng, gendang Melayu, atau kini disebut pakpung.

Ronggeng Melayu pertama kali berkembang di Sumatera Timur. Dalam tradisi Ronggeng yang berkembang di daerah ini tersimpan repertoar ”lagu-lagu asli” yang dikenal dengan istilah Musik Melayu Deli. Istilah inilah yang kemudian dianggap sebagai ”embrio” musik Melayu modern yang berkembang populer di Nusantara, khususnya pada paruh awal abad ke-20.

Setelah Ronggeng Melayu, musik Melayu yang berkembang pada masa berikutnya adalah Orkes Harmonium atau Samrah. Dinamakan Orkes Harmonium karena musik Melayu ini menggunakan alat musik ”harmonium”, ditambah dengan alat musik lainnya seperti biola, terompet, gendang dua muka, rebana, dan tamborin. Samrah lebih dikenal sebagai musik Betawi, meskipun lagu-lagu yang dibawakan sebagian dari lagu-lagu Melayu seperti Burung Putih, Pulo Angsa Dua, Sirih Kuning, dan Cik Minah. Sendangkan lagu-lagu khas Betawi yang biasa dibawakan adalah Kicir-Kicir, Jali-Jali, dan Lenggang-lenggang Kangkung. Selain itu, Samrah yang berarti ”hiburan malam” juga membawakan lagu Arab, India, Eropa, dan Hindustan.

Seperti halnya di Jakarta, musik Samrah yang telah tersebar ke Jawa Tengah, Madura, hingga ke Manado (Sulawesi Utara) berfungsi untuk mengiringi tarian Melayu dan Betawi, khususnya dalam upacara-upacara perkawinan. Namun, setelah perang kemerdekaan, popularitas Samrah menurun sehingga pemusiknya mencoba mengatrol dengan menambahkan alat musik saksofon untuk mengisi melodi utama. Sementara alat musik harmonium diganti dengan akordion. Sejak itulah, Samrah mulai disebut dengan istilah Orkes Melayu.

Sebelum Orkes Melayu menjadi populer, muncul pula Orkes Gambus, yaitu musik Melayu yang banyak dipengaruhi oleh musik Timur Tengah. Istilah gambus digunakan untuk menamai alat musik petik berdawai tujuh. Menurut para ahli, musik Gambus ini berasal dari Hadramaut, Yaman. Musik ini berkembang pesat di daerah Surabaya. Di antara tokoh-tokoh musik Gambus Surabaya yang terkenal pada tahun 1930-an, di antaranya Sekh Albar (ayahanda Ahmad Albar), Md. Noer All Djawi dengan Orkes Gambus Alwathoninya.

Sementara itu, istilah Orkes Melayu sendiri muncul pertama kali di Nusantara pada 1930-an. Salah satu grup Orkes Melayu yang cukup terkenal di Batavia pada saat itu adalah Orkest Melajoe Sinar Medan, yang dipimpin oleh Abdul Halim. Meskipun grup ini membawakan lagu-lagu Melayu dengan karaktristik Melayu seperti pantun, frase melodis gaya Melayu, dan menambah frasa “aduhai sayang”, “tuan” pada teks lagunya, alat yang digunakan adalah alat musik Barat. Sejak itulah, hibridisasi musik Melayu tampak semakin mengarah kepada pendekatan dan pengadopsian budaya musikal dunia Barat, baik melalui instrumentasi maupun struktur musiknya.

Hibridisasi musik Melayu terjadi karena perilaku dan pergaulan orang-orang Melayu sangat terbuka sehingga menyebabkan kontak dan interaksi timbal balik dengan berbagai jenis dan bentuk kesenian dari dunia luar. Akibatnya, dalam beberapa dekade terakhir perkembangan musik Melayu bergerak untuk menjadi musik Arab, India, dan Barat. Dengan kata lain, musik Melayu lebih mengarah untuk menjadi “orang lain” dan menghilangkan autentisitas ke-Melayu-annya.

15. Diplomasi Budaya Melayu: Suatu Tinjauan Historis – (Prof. Taufik Abdullah)[xv]

Dalam sejarah diaspora ke-Melayu-an di Nusantara, orang Melayu dikenal memiliki sifat terbuka yang kemudian menjadi budaya mereka. Selama ratusan tahun berdiaspora ke berbagai belahan dunia, masyarakat Melayu selalu terbuka terhadap lingkungan maupun kepada penduduk setempat. Dengan sifat keterbukaan inilah, orang-orang Melayu dapat diterima dengan mudah oleh berbagai kalangan. Dengan sifat keterbukaan ini pula, orang-orang Melayu menerima sekaligus menyebarkan kebudayaannya.

Pada masa lalu, persebaran budaya Melayu tidak mengenal adanya klaim teritorial. Dengan mengesampingkan klaim tersebut, orang-orang Melayu, baik sebagai pedagang maupun pelaut, dapat bebas keluar-masuk ke berbagai daerah tanpa klaim sepihak atas nama negara, lebih Melayu atau kurang Melayu. Keberhasilan orang-orang Melayu menyebarkan kebudayaannya tidak terlepas dari peran para aktor penyebar, pemerhati, maupun pemelihara kebudayaan Melayu.

Para aktor penyebar kebudayaan tersebut terdiri dari tiga kelompok, pertama, literati yaitu orang yang bertugas memelihara adat. Orang-orang inilah yang sangat paham dengan adat dan menuliskan tentang adat mereka. Kelompok kedua adalah kelompok pemelihara yang secara sadar atau pun tidak sadar telah menjalankan adat-istiadat dan budaya Melayu. Kelompok ketiga adalah masyarakat biasa. Kelompok inilah yang melahirkan kaum intelektual dan anak-anak muda yang secara sadar telah membingkai dan menyebarkan, bahkan menggugah kebudayaan Melayu yang selama ini telah dijaga oleh kaum literati dan pemelihara.

Budaya selalu dinamis dan mampu masuk ke berbagai kondisi dan lingkungan. Oleh karena itu, kita berharap agar masyarakat Melayu yang kini mulai terkotak-kotak oleh batas teritorial (negara), seperti Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand, Filipina, hingga Madagaskar, perlu berkaca pada sejarah persebaran budaya Melayu masa lalu sehingga klaim budaya yang terkotak-kotak tersebut tidak terjadi lagi.

(Samsuni/opini/01/01-2013)



[i] Taufik Ikram Jamil adalah sastrawan, cerpenis, penyair, sekaligus jurnalis dari Provinsi Riau.

[ii] Pro. Datin Dr. Rahmah Bujang adalah pengajar di Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia.

[iii] Prof. Dr. Haron Daud adalah pengajar di Universiti Malaysia Kelantan.

[iv] Prof. Tenas Effendy adalah Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau.

[v] Dr. Bisri Effendy adalah peneliti Asosiasi Tradisi Lisan.

[vi] Dr. Bondan Kanumoyoso, M.Hum adalah pengajar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

[vii] Dr. Heriyanti Ongkodharma, MA adalah pengajar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

[viii] Ir. Agus Hendratno, MT adalah pengajar di Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik UGM, Yogyakarta dan staf khusus pengurus pusat IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia).

[ix] Mohd Arof Ishak adalah Ahli Jawatankuasa Eksekutif Persatuan Sejarah Malaysia.

[x] Prof. Dr. Phill. Gusti Asnan adalah Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat.

[xi] Prof. Madya Dr. Ahmad Jelani Halimii adalah pengajar di Pusat Pengajian Pendidikan Jarak Jauh Universiti Sains Malaysia, Pulau Pinang.

[xii] Dr. Mukhlis PaEni Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia sekaligus Ketua Lembaga Sensor Film (LSF) di Indonesia.

[xiii] Nik Abdul Rakib bin Nik Hassan adalah Ketua Nusantara Studies Center, sebuah badan bebas hasil dari kerjasama Jurusan Pengajian Melayu di Universitas Prince of Songkhla, Pattani dengan Yayasan Iktisod Widaya, Wilayah Songkla.

[xiv] Rizaldi Siagian adalah musikus yang aktif bermusik dengan menggunakan instrumen tradisional Melayu.

[xv] Prof. Taufik Abdullah adalah peneliti dan sejarawan dari Sumatera Barat.

 


Dibaca : 8.390 kali.

Tuliskan komentar Anda !