Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Opini
10 februari 2007 03:03
Alam Melayu, Dunia Selat (Kita Bangsa Hilir)
Oleh : Dr. Yusmar Yusuf
Sepanjang korpus Melayu, begitu juga catatan berserak tentang sejarah Melayu, romantika, dinamika, dialektika, komedia, tragika humanika Melayu dan suksesi raja-raja Melayu dan nasab serta zuriatnya, senantiasa berhubung horizontal dengan dunia yang paling akrab dan hampir dengan diri manusia Melayu; sungai, selat, teluk, tanjung, tokong dan bukit. Di tilik dari sudut Psikologi Lingkungan (Envinromental Psychology), seluruh elemen yang saya sebut tadi dimasukkan ke dalam lingkungan fisis-biosferik. Sebuah bentangan elemen terukurkan (tangible) yang memberi suasana batin dengan cetak denominasi psikologis yang memperkaya dan memperkasa dunia dan alam batin Melayu. Relasi simbiosis lingkungan fisis-biosferik (sebagai dunia) dengan Melayu sebagai sebuah kesadaran kolektif (sebagai alam) membuat bangsa Melayu sangat terikat dengan alam yang memberi pencanderaan cerdas bagi Melayu, yang ujung-ujungnya melahirkan kepiawaian kosmologis yang tertuang dalam bidal, pantun, talibun, gurindam, petatah-petitih. Elemen-elemen simbolik ini terlahir berkat interaksi cerdas dan kearifan tinggi memucuk yang dimiliki Melayu. Sehingga bangsa yang mekar di Tenggara benua Asia ini bukanlah bangsa yang liar, tetapi amat santun, bertabiat halus, meletakkan alam yang bersatu dengan dunia, tidak menjarakkan dunia dalam deskrepansi dahsyat sebagaimana Barat memandangnya sejauh ini.
Muasal titiwangsa Melayu, termaktub dalam kilasan sejarah Melayu yang bergerak dari mitos Bukit Siguntang di Palembang, kemudian menghilir dan bertapak di tanah Bangka. Ketika bergerak dari sebuah pucukbukit di tanah Perca, generasi awal ini pun mendapat tapak kehangatan baru di tanah Bangka. Dari Perca ke Bangka, tidak dilalui dengan kekuatan supranatural, tidak juga oleh gerakan natural, tetapi digerakkan oleh sebuah desakan fenomenal; “melintas selat”. Ya, selat Bangka. Setelah berakrab dengan ‘dunia air perdana’ (sungai), tampuk Melayu ini berakrab dengan ‘dunia air kedua’ (selat). Seterusnya, selat tidak setakat menjadi dunia bagi orang Melayu, tetapi telah menjadi alam, baik ketika “generasi tampuk” ini menghilir ke Bintan, masuk Temasik dan membuka bandar Melaka di Semenanjung Tanah Melayu. Seluruh rangkaian mutiara dan titik pertemuan (al Mualaqat; asal mula nama Melaka) yang dibangun seterusnya oleh bangsa Melayu, tidak bisa jauh dari jilatan air, terutama air masin. Rata-rata al Mulaqat [rendezvous], terletak di sepanjang tebing selat. Selat menjadi nadi komunikasi, nadi dagang dan perniagaan, nadi gerakan militer untuk mengangkut misiu dan peluru.
Pada sayap yang lain, rata-rata kerajaan Melayu yang kuat, selalu berada dekat dengan sumber peluru, yang pada masa itu setara dengan penguasaan minyak yang dilakukan Amerika Serikatke atas negara-negara Teluk hari ini. Berlantunlah jargon tinggi: “Barang siapa yang menguasai minyak, dialah penguasa dunia’ kata Amerika. Cogan ini hanyalah sebuah pengulangan klasik yang telah dilakukan oleh sultan-sultan Melayu. Kerajaan Melayu meletakkan ibukota (Bandar Diraja) berada tidak jauh dari sumber peluru (tambang timah). Siak Sri Indrapura, salah satu kerajaan Melayu yang disegani pada suatu masa, memiliki sumber timah di hulu sungai, Riau-Lingga-Johor punya cadangan timah di Singkep, Karimun dan pulau Kundur, juga beberapa cadangan di tanah besar Semenanjung. Timah, bagi raja-raja Melayu, setara dengan uranium bagi negara-negara pengembang nuklir di abad modern ini.
Siapa yang menguasai sumber timah, dia akan menjadi kerajaan yang kuat dan disegani. Beberapa kali serangan Aceh ke Riau, ke Siak, juga ke Melaka, sebenarnya ada kaitan dengan sumber timah ini. Untuk sampai mengolah timah, membawa dan menjual timah, laluan perdana yang diandalkan adalah kawasan perairan bernama selat. Selat menjadi ‘superhighway’ bagi Melayu dalam pengembangan tamadun. Saya selalu menyebut bahwa kita adalah bangsa Selat, yang terletak di pelantar terhilir peradaban. Islam, peradaban besar India dan Cinamenjadi jinak untuk serantau Indonesia, berkatselat kita yang berfungsi sebagai ‘penawar’. Islam menjelita dan menjadi suntingan di mahkota Melayu berkat selat-selat. Perniagaan dan kepiawaian dalam dunia memasak yang berasal dari Cina harus melalui pintu perdana bernama selat-selat kita. Sepanjang selat itulah Melayu menyeduh, menawar dan menjinakkan segala sesuatu yang asing dan aneh yang berasal dari luar; sesuatu yang tak lazim, kemudian dilazimkan, sesuatu yang liar dijinakkan, sesuatu yang datang dengan apa adanya, diubah dengan rasa dan perisa yang sejalan dengan lidah tropika.Berkat kita yang bermastautin di hilir inilah, saudara mara kita yang berada di hulu sungai menjadi bangsa Melayu yang selamat, terpelihara oleh rempuhan badai pembaruan yang datang bak gelombang bertubi-tubi.
Sebagai bangsa yang berdiri di pelantar terhilir peradaban, orang Melayu yang duduk di selat ini, hendaklah mengokah dan menyelam keperkasaan misterium yang disediakan oleh selat dengan tradisi (commerce) yang menjadi kuntum bunga peradaban maritime. Peradaban maritime telah teruji mampu menjulang Melayu ke menara dunia. Kerajaan Pasai berdiri tegak berkat Islam sebagai paksi, dan maritime sebagai suluh. Melaka bangkit dan membuana juga karena terkenal efektif dalam manajemen pelabuhan, bongkar muat, dan segala tradisi maritime.
Negeri-negeri Melayu yang bertebing selat dan samudera pada hari ini hendaklah mulai menjeling keperkasaan misterium yang disediakan tradisi maritime itu, agarmenjadi puncak-puncak unggulan yang memucuk di Belitung, menangga di Bangka, membukit di Natuna, menjulang di Bintan, bak kojor di Batam, Dumai, Johor, Serdang, Langkat, Mempawah. Kunci segalanya, adalah pendidikan dan gerakan nurani yang meletakkan skenario pembangunan infrastruktur bagi orang-orang kampung, anak-anak kampung, pembangunan kampung-kampung dengan gerakan “moral village”. Bagi saya, kenapa kampung, karena anak yang dilahir dan dibesarkan di kampung telah membawa satu punat unggulan yang tidak dimiliki orang kota; mereka telah memiliki rumah dan sangkar kebudayaan yang jelas, dan tak perlu dipertengkarkan lagi. Rumah kebudayaan itu bernama MELAYU.
Anak-anak kampung di hilir peradaban ini hendaklah dengan segera dinaikkan arasy kesadaran, arasy pendidikan dan arasy intelektual dalam beragam disiplin ilmu yang berpaksi pada keunggulan maritime. Maritime menjadi kata kunci dan kurikulum agung, sehingga pembangunan Indonesia ke depan dapat dibedakan peruntukannya; ada pembangunan model hulu, ada pula pembangunan model hilir.
Bagi saya, tidak ada pembagian dikotomis antara hilir dan hulu secara keras. Tetapi, di antara keduanya dipatok oleh nilai. Tanah hilir, adalah beranda penerima segala pembaharuan, jendela penyesuaian dan adjustment. Sementara tanah hulu, adalah laci penyimpan nilai, penjaga punggur kayu kebudayaan, pemelihara apa yang turun dari bukit dan mimpi memucuk datuk nenek beribu tahun lalu. Hilir, adalah sebuah fenomena yang siap dikoyak dengan kemampuan jahitan dan sulaman Melayu yang gemulai dan kemayu, romantik dan liris. Tanah hilir, telah menyejarah menjadi tanah yang menerima nilai asing, menerima dan bercanda dengan keanehan dan kelainan, tanah hulu kita pelihara sebagai penyimpan segala khazanah.
Pada hari ini, kita mengalami hal dan ihwal yang serba terbalik (contradictio in terminis); wilayah hulu dihiruk-pikukkan dengan pembangunan fisik, ekonomi kapitalis yang mengoyak-ngoyak dan merobek-robek nilai yang tersimpan dalam laci. Sementara kawasan hilir, sejuk sepi oleh gemuruh pembangunan. Pembangunan yang berlangsung di hilir hanya ditaja dan dilakukan oleh swasta, tanpa perancangan sistemik, oleh individu-individu yang prihatin, bukan oleh sebuah kekuataan negara yang terancang dan terkendali, baik format maupun ekologis. Selari dengan itu, gemuruh yang menghentak kawasan hilir yang berasal dari tamadun asing kian deras dan meninggi. Keadaan ini tidak diimbangi dengan pencahayaan infrastruktur dan suprastruktur yang disediakan di kawasan hilir, sehingga fungsi penapis dan penawar yang sekian lama dijalani oleh kawasan hilir, mengalami ‘mati suri’, alias invalid.
Cogan Sirih
(1). Gerakan pelantar nurani (plate of conscience) hendaklah menjadi rujukan agung, terutama pembangunan jaringan infrastruktur ekonomi kampung-kampung Melayu; sehingga Melayu jadi rembulan dalam segala aktivitas manusia rantau selat.
(2). Meletakkan selat sebagai rujukan orientasi ruang besar kepada anak-anak Melayu, sehingga tradisi maritime yang telah dinisbatkan oleh alam dan dunia kepada Melayu tidak bingkas oleh keteledoran dan kekecohan fikir yang kita emban selama ini.
(3). Mengadakan, membangun nilai ‘kelainan’ sebagai jalan alternatif melalui gerakan kesenian yang bertapak di kampung-kampung sepanjang selat, untuk menanam kesadaran bahwa ‘negeri sakti rantau bertuah’ bukanlah sebuah cogan atau jargon bisu, lumpuh dan buta.
(4). Aliansi negeri-negeri berselat dengan rujukan korpus sejarah Melayu masa lalu menjadi sebuah keniscayaan produktif dan strategis, terutama hubung-kait, dinasti Palembang, Bangka, Bintan, Temasik dan Melaka, kemudiam berundur kepada keadaan kini menjadi Johor, Riau, Bangka, Betawi dan Pontianak. Aliansi ini hendaklah meletakkan ‘dunia selat’ sebagai wilayah cerdas (intelengence area) bagipembangunan Melayu ke depan.
Dr. Yusmar Yusuf (Budayawan), bermastautin di Pekanbaru, Riau, Indonesia