Close
 
Minggu, 16 Agustus 2026   |   Isnain, 2 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 130
Hari ini : 8.196
Kemarin : 43.662
Minggu kemarin : 179.363
Bulan kemarin : 11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

02 april 2007 03:20

Kearifan Lancang Kuning

Kearifan Lancang Kuning
Ilustrasi

Oleh: Drh. Chaidir

Lancang Kuning berlayar malam
Haluan menuju ke laut dalam
Kalau nakhoda kuranglah paham
Alamatlah kapal akan tenggelam. 

LAGU Lancang Kuning adalah lagu rakyat yang sangat populer di Riau, negeri yang dijuluki Bumi Lancang Kuning. Dalam sebuah versi sejarah Melayu, kapal Lancang Kuning legendaris itu teng­gelam di Tanjung Jati, perairan Bengkalis. Tak terurai je­las apakah musibah itu akibat human error ataukah karena kega­nasan alam yang tak teratasi oleh kemam­puan seorang anak manusia.

Pesan lirik lagu itu gamblang, tidak ada yang tersem­bunyi. Untuk melayarkan sebuah kapal, seorang nakho­da haruslah paham. Filosofi kapal Lancang Kuning ber­layar malam ini, agaknya menjadi satu dari sekian ba­nyak untaian butir kearifan Melayu yang melintasi zaman dan mengandung dimensi universal. Sampai kini, setiap kali, ketika kita berada dalam suatuproses pemilihan seorang pemimpin, entah itu Ketua RT, RW, Kepala Desa, Ketua Partai atau pemilihan seorang kepala daerah atau ke­pala pemerintahan, kita selalu diingatkan pesan Lan­cang Kuning ini. Hati-hati memilih pemimpin. Karena seorang pemimpin, kendati dalam konsep kepemim­pinan Melayu hanya didulukan selangkah dan ditinggi­kan seranting, tapi hak dan kewajiban yang melekat pa­danya cukup besar. Seorang pemimpin, pada tingkatan apapun, tidak hanya mendapatkan hak-hak istimewa dibandingkan dengan mereka yang dipimpin, tetapi juga dipundaknya terletak tanggungjawab yang berat, yang merupakan amanah yang harus dipikulnya. Amanah itu bila dilaksanakan dengan baik dia akan menjadi berkah, namun bila disalahgunakan dia akan menjadi musibah.

Kenapa perumpamaannya sebuah kapal yang ber­layar malam? Kenapa tidak sebuah kapal yang berlayar saja, tidak pakai siang dan malam? Agaknya, itu pulalah yang menandakan keberpahaman orang-orang tua kita dulu, yang menciptakan syair lagu itu. Tentu tidak ada kaitannya dengan kapal penyelundup atau kapal perom­pak, sebuah stigma yang acapkali diberikan pada masyarakat tradisional di kepulauan. Sebuah kapal yang berlayar malam, dia tidak bersuluh benderang matahari tapi bersuluh kunang-kunang bin­tang di langit. Alpa membaca bintang alamatlah kapal akan kehilangan arah tujuan. Alpa membaca karang alamatlah kapal akan kandas. Alpa membaca ombak alamatlah kapal akan tenggelam

Ketika dewasa ini kita sedang dibuai oleh sepoi-sepoi angin demokrasi, ada yang menggugah bersuara lantang. Kita bukan hanya memilih seorang presiden, kita mencari sosok seorang pemimpin yang bisa menjadi superman, bisa menjadi hero bahkan superhero. “Kita memer­lukan seorang pahlawan untuk menyelamatkan bangsa ini”, ratap Anis Matta dalam bukunya “Mencari Pahlawan Indonesia”. Kita mencari seorang pucuk pim­pinan yang mampu membawa bangsa ini segera keluar dari keterpurukan dan segera berpacu dalam suatu lang­kah yang pasti menuju puncak. Kalau hanya sekadar men­cari seorang presiden, kita sudah punya peng­alaman dengan lima presiden. Masing-masing dengan kebesarannya, sebagaimana sms yang saya terima. Presi­den Soekarno, adalah seorang pemimpin besar. Presiden Soeharto, jenderal besar. Presiden BJ Habibie, ilmuwan besar, Presiden Abdurrahman Wahid, ulama besar dan Presiden Megawati Soekarnoputri, memiliki nama besar. Terlepas dari jasa-jasa dan segala kelebihannya masing-masing, kelima presiden tersebut dianggap belum mam­pu memberikan suatu solusi yang tepat untuk membawa bangsanya ke puncak kejayaan. Bahwa beliau-beliau itu telah menorehkan sejarah, tentu tidak bisa dipungkiri. Dulu —barangkali karena kita terlalu hemat me­milih presiden— potensi kepemimpinan tidak terangkat secara optimal; bayangkan, 53 tahun merdeka, kita baru memiliki dua orang presiden. Kita pun kemudian ngebut bongkar pa­sang presiden. Diharapkan dengan demikian kita akan segera mendapatkan apa yang kita cari, tapi ternyata be­lum juga. Oleh karenanya berbagai seminar, diskusi dan dialog diadakan untuk mencari sosok yang sesuai dengan tuntutan zaman.

Seorang pemimpin pada dasarnya adalah seorang nakhoda. Dia dituntut harus mampu menakhodai ka­palnya supaya selamat sampai ke pulau tujuan, tidak kurang sesuatu apapun. Dan untuk selamat sampai ke pulau tujuan, sang nakhoda haruslah paham, begitulah yang diajarkan kearifan Melayu. Seluruh kompetensi secara sederhana dihimpun dalam kata paham. Namunsesungguhnya bila kita renungkan lebih dalam, paham disini mengandung dimensi capability, capacity dan credibility, suatu persyaratan minimal untuk menjadi se­orang nakhoda yang baik, yang tidak hanya tidak men­celakakan penumpang kapalnya, tetapi sekaligus mampu memberikan kesenangan kepada penum­pangnya.

Capability, capable, kapabilitas, mengandung makna cakap, tanggap, tangguh. Seorang nakhoda harus mampu melayarkan kapalnya di tengah gelap gulita de­ngan hanya bersuluh bintang gemintang. Sang nakhoda harus mampu berlayar di tengah badai, tidak boleh ma­buk diayun gelombang. Sekali layar terkembang ber­pantang surut ke belakang.

Capacity, kapasitas, mengandung makna mampu. Sang nakhoda harus memiliki kemampuan untuk membaca bintang di langit, harus mengerti ilmu falak, menguasai navigasi, sehingga mampu mengarahkan haluan sesuai tujuan. Sang nakhoda harus mampu mem­baca arah dan mata angin, mampu mengukur tinggi gelombang dan mampu membaca laut berkarang.

Credibility, kredibilitas, mengandung makna dapat dipercaya. Di tangan nakhoda tergantung nasib dan nyawa ribuan penumpang. Memang benar nasib dan nyawa di tangan Tuhan, tapi bila Tuhan menggunakan otoritasnya, maka tetap saja yang bertanggungjawab adalah sang nakhoda. Sang nakhoda harus bisa di­percaya untuk tidak menyinggahkan kapalnya di pela­buhan yang tidak perlu, sebaliknya harus mampu me­ngendalikan dirinya untuk tidak sombong. Titanic adalah sebuah kapal yang tercanggih pada zamannya di awal abad 20. Kapal megah itu disebutkan tidak akan bisa tenggelam. Namun apa lacur, belum lagi genap satumalam berlayar dari Eropa menuju Amerika, kapal itu tenggelam ke dasar samudra Atlantik yang dingin membeku. Tidak kurang dari 1500 penumpangnya te­was. Nakhoda juga tidak boleh tergoda untuk menjadi bajak laut, kendati dia bisa kalau dia mau. Dengan bermodal kredibilitas, maka seribu lembar kontrak sosial pun tidak akan ia takuti. Karena apapun yang dilakukan oleh seorang pemimpin yang credible dan memiliki  integritas, akan selalu dilandasi dengan itikad baik untuk kemaslahatan umat.

Kearifan Lancang Kuning adalah kekayaan kearifan lokal yang universal, kearifan milik semua dan untuk semua. Banyak nakhoda yang pintar, tapi kita agaknya memerlukan nakhoda yang paham, yang berani menantang badai dan paham bagaimana melewatinya dengan selamat.

Sumber: Chaidir. 2006. Membaca Ombak. Yogyakarta: Penerbit Adicita Karya Nusa.

Foto: http://tpusher.blogspot.com

Dibaca : 5.929 kali.

Tuliskan komentar Anda !