Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Opini
17 april 2007 06:58
Istana Sayap, Saksi Berdirinya Kerajaan Pelalawan
Hasrat besar menyaksikan langsung peninggalan Kerajaan Melayu di Provinsi Riau merupakan salah satu alasan berkunjung ke Desa Pelalawan, Kecamatan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan.
Di desa inilah Istana Sayap, satu dari belasan bekas Kerajaan Melayu di Riau, berada. Istana yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Assyaidi Syarif Hasim (1892-1930) ini menjadi pusat Kerajaan Pelalawan, kerajaan yang diperkirakan berdiri tahun 1811 dan berakhir setelah berdirinya Republik Indonesia tahun 1945-1946.
Keberadaan istana ini sepertinya belum banyak dikenal warga, bahkan masyarakat di Kabupaten Pelalawan sendiri yang berdiri tahun 1999 (sebelumnya bergabung dalam Kabupaten Kampar). Jarang orang yang ditanya tahu jalan menuju ke istana ini.
Setelah bertanya ke sana-kemari, saya baru tahu pasti jalan menuju istana tersebut. Sayangnya, jalan berbatu yang sempit membuat jalur darat tidak dianjurkan sebagai pilihan utama. Apalagi, pada penghujung tahun 2006 jalan tersebut tergenang air. Sebagai gantinya, transportasi sungai dengan menyusuri Sungai Kampar menjadi pilihan terbaik.
Dari jembatan Pangkalan Kerinci di ibu kota Kabupaten Pelalawan, sejumlah pemilik pompong (perahu kayu bermesin) atau speedboat menawarkan jasa menuju Desa Pelalawan. Biaya mencarter satu perahu bermuatan delapan penumpang adalah Rp 350.000.
Selama sekitar 1,5 jam berperahu, terlihat aktivitas masyarakat yang mengandalkan kehidupan mereka dari sungai yang berhulu di Provinsi Sumatera Barat itu. Ada yang mencari ikan, mencuci, mandi, atau sekadar bermain di sungai yang airnya tidak bening lagi.
Sejumlah rumah berderet menghadap ke sungai, diselingi pemandangan deretan pepohonan. Seperti beberapa kawasan di Riau, area hijau semakin terbuka akibat perambahan hutan.
Desa yang dituju merupakan ujung dari dua pertemuan sungai, yaitu Sungai Kampar dan Sungai Rasau. Sungai Rasau mempunyai hulu yang sama dengan Danau Zamrud di Sungai Siak yang dikenal sebagai salah satu sungai terdalam di Indonesia. Di tepi Sungai Siak juga terdapat istana Kerajaan Siak yang diyakini sebagai "saudara tua" Kerajaan Pelalawan.
Istana Sayap
Bangunan megah berwarna kuning gading diapit dua rumah di kanan dan kiri merupakan tanda perjalanan sudah sampai ke tujuan. Kedua bangunan di sisi bangunan utama merupakan alasan penamaan istana itu sebagai Istana Sayap.
Ketiga bangunan adalah bangunan panggung, tampaknya merupakan upaya menghindari banjir. Apalagi lokasi kerajaan berada di pertemuan dua sungai.
Dari warna cat kayu Istana Sayap, bisa ditebak bangunan istana bukanlah bangunan tua. Warna bangunan tampak kontras dibandingkan dengan warna bangunan warga di sekitar istana. Memang, bangunan yang bisa kita jumpai saat ini merupakan rekonstruksi ulang Istana Sayap Pelalawan.
"Karena bangunan asli terbuat dari kayu dan sudah berusia ratusan tahun, seluruh bangunan istana sudah roboh dan tidak ada yang bisa dipertahankan. Karena itu, dibuatlah bangunan baru, hasil rekonstruksi Istana Sayap," tutur Tengku Tarmizi, Kepala Subdinas Pariwisata Pelalawan, dalam wawancara pada awal Februari. Rencananya, tahun ini Istana Sayap "yang baru" akan diresmikan dan dijadikan serupa dengan museum Istana Siak di Kabupaten Siak, Riau.
Sekitar 50 meter dari istana terdapat permukiman warga Desa Pelalawan. Di desa itu tampak sejumlah bangunan dari zaman Kerajaan Pelalawan, antara lain puskesmas dan masjid yang berderet di satu sisi dan tetap berfungsi hingga kini. Sejumlah papan nama di muka bangunan menunjukkan fungsi bangunan itu pada masa kejayaan kerajaan.
Tempat yang dijadikan Puskesmas Datuk Bandar Setia Diraja, misalnya, merupakan Rumah Sakit Keresidenan Pelalawan ketika Istana Sayap masih ada. Di situlah warga mendapat pelayanan medis. Fungsi rumah sakit tetap dipertahankan hingga kini
Masjid Hibbah
Bersisian dengan puskesmas adalah Masjid Hibbah. Papan nama menyebutkan tahun berdirinya masjid, yakni 1936. Keberadaan masjid merupakan salah satu penanda agama mayoritas yang dianut kerajaan dan masyarakat Kerajaan Pelalawan.
Tengku Khairul bin TS Saleh (53), Ketua Pengurus Masjid Hibbah, memaparkan, asal mula nama hibbah tidak berbeda artinya dari kata hibah dalam bahasa Indonesia, yang berarti pemberian. "Masjid ini memang pemberian Belanda untuk Raja Pelalawan. Untuk mengenang peristiwa itu, Raja menamai masjid ini Masjid Hibbah," tutur Khairul.
Di belakang masjid inilah bersemayam jenazah para raja yang pernah berkuasa di Istana Sayap, antara lain Tengku Assyaidi Syarif Hasyim (1894-1930), Tengku Said Osman (1931-1940), dan Tengku Syarif Harun (1940-1946).
Sisa-sisa masuknya Belanda di kerajaan ini juga terlihat dari sejumlah meriam yang berderet di sudut Desa Pelalawan. Sayangnya, lokasi meriam ini terlampau rendah sehingga genangan air dari luapan Sungai Kampar sempat merendam senjata bersejarah ini.
Istana Sayap berikut bangunan bersejarah lainnya merupakan kekayaan sejarah dan budaya milik Desa Pelalawan, dan lebih luas lagi Kabupaten Pelalawan dan Provinsi Riau.
Sayangnya, sebagai aset yang bisa mendatangkan wisatawan, keberadaan Istana Sayap ini belum sepenuhnya layak sebagai tujuan wisata. Jalur transportasi dan prasarana wisata seperti tempat istirahat wisatawan masih harus dibenahi lagi. Tentu saja, diperlukan juga keterpaduan antara penataan wilayah peninggalan budaya dan masyarakat setempat.