Close
 
Senin, 25 Mei 2026   |   Tsulasa', 8 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 282
Hari ini : 8.202
Kemarin : 26.243
Minggu kemarin : 221.971
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

21 oktober 2008 05:50

Melacak Jejak Sejarah dan Budaya Nenek Moyang di Indonesia

Melacak Jejak Sejarah dan Budaya Nenek Moyang di Indonesia

Yogyakarta, MelayuOnline.com– “Terimakasih, for welcoming us...We are very glad to be here meeting our brothers and sisters. Indonesian and South African Muslim are one family, and  I have to thank to Indonesian Muslim for bringing Islam to South Afrika”. Itu sebagian kalimat yang diucapkan oleh Syeikh Umar Ghabir, Khatib ternama dan anggota Majlis Ulama Afrika Selatan (Afsel), di depan jamaah Masjid Agung Yogyakarta, Sabtu malam (18/10).


Syeikh Umar begitu bersemangat saat menyampaikan banyak hal terkait dengan sejarah perkembangan Islam dan kondisi sosio kultural masyarakat Muslim Melayu Afrika Selatan. Sejumlah 13 orang Melayu Muslim Afsel lainnya berbaur, duduk bersama para jamaah sambil menikmati segelas teh hangat dan dua gorengan khas Yogyakarta. Sekilas agak sulit membedakan mana orang Indonesia dan mana orang Afsel. Secara fisik, mereka tidak jauh berbeda. Namun dari segi busana, tata cara berpakaian Melayu Muslim Afsel lebih mirip dengan Muslim India.  


Di tengah ceramahnya yang menekankan persaudaraan antara kedua bangsa, beberapa kata dari bahasa Melayu terlontar oleh Syeikh Umar, seperti “terima kasih”, “nasi”, “cambuk”, “maskawin”, dan lain-lain. Kepada Hadi Kurniawan dan Ali Rido, dari MelayuOnline.com, Andradjati (Konsul Jenderal RI di Cape Town, Afrika Selatan) yang ikut dalam rombongan itu mengatakan bahwa kata-kata tersebut memang sudah menjadi bahasa mereka sehari-hari. Meskipun bahasa ibu komunitas Melayu Muslim Afsel adalah bahasa Inggris, namun beberapa kata Melayu masih digunakan.


Syeikh Umar
Kira-kira 15 menit berbicara, isi ceramah Syeikh Umar membangkitkan antusiasme para jamaah. “Mas, tolong matikan HP nya ya!”, kata salah seorang jamaah kepada seorang jamaah lainnya karena tidak mau terganggu dengan bunyi telepon seluler. Suasana serius tampak pada raut muka para jamaah mengikuti alur ceramah Syeikh Umar. Suara ulama Afsel itu terkadang tinggi, rendah, dan datar, namun tetap mengumbar senyuman.

Kisah tragis masyarakat Melayu Muslim Afsel pada masa penjajahan dikisahkan dengan emosi yang meluap-luap. “Bangsa Melayu bukanlah budak. Di hadapan Allah, semua manusia adalah sama. Yang membedakan adalah ketakwaannya. Islam menolak perbudakan. Setiap kita sujud merupakan simbol bahwa ketundukan kita hanyalah kepada Allah, bukan kepada bangsa kolonial”, kata Syeikh Umar yang diterjemahkan oleh Andradjati.  

Ia menambahkan “Bangsa Melayu adalah bangsa yang merdeka dan mandiri. Kita punya kreativitas yang tampak pada budaya kita. Budaya yang agung dan tetap kita pertahankan hingga sekarang. Kami menjaga tradisi yang diwariskan oleh Syeikh Yusuf dari Makassar selama 300 tahun. Salah satunya adalah membaca Ratib Al Haddad untuk meneguhkan keimanan kami. Bait-bait dalam Ratib Al Haddad itu dahulu dibaca oleh para pengikut Syeikh Yusuf di tengah perbudakan dan penyiksaan supaya mendapatkan kekuatan dari Allah”.

“Di Indonesia, sekarang kami menyaksikan sendiri bahwa bangsa Melayu benar-benar bangsa yang mandiri. Kerajinan dan kesenian berkembang sesuai dengan budaya kita. Ini sungguh luar biasa. Oleh karena itu, kami berharap hubungan persaudaraan antara dua bangsa semakin baik dengan cara saling mengunjungi satu sama lain”, tuturnya.

Kehadiran rombongan Melayu Muslim Afsel di Indonesia bertujuan untuk melihat secara langsung negeri nenek moyang mereka, khususnya di Makassar. “Kami senang sekali bisa melihat tanah nenek moyang kami di Makassar. Kami juga berusaha menemukan sanak-saudara kami di kota itu jika memungkinkan. Dahulu orang-orang Makassar dibawa Belanda ke Cape Town berjumlah 49 orang termasuk Syeikh Yusuf”, jelas Fatiegh, kepala rombongan, kepada MelayuOnline.com.


Ketika MelayuOnline.com bertanya “Seberapa keyakinan Anda bahwa nenek moyang Anda berasal dari Makassar, padahal raut wajah Anda sudah tidak seperti orang Makassar?”. Dengan senyum Fatiegh menjawab, “Kami sudah melakukan penelitian dan hasilnya sangat meyakinkan bahwa nenek moyang kami berasal dari Makassar. Jadi, sepenuhnya kami yakin akan hal itu. Keyakinan itulah yang mendasari kami datang ke sini untuk melacak akar-akar sejarah dan budaya kami”.

Kepada MelayuOnline.com Andradjati menjelaskan bahwa kunjungan ke Indonesia terjadi atas kerjasama antara Konsulat Jenderal RI di Cape Town dengan komunitas Melayu Muslim Afsel untuk mengenalkan negeri asal nenek moyang, sekaligus mencari jejak sejarah dan budaya mereka di Indonesia.

“Konsulat Jenderal RI di Cape Town beberapa tahun terakhir ini tengah giat mengenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat Muslim Afrika Selatan. Cukup mudah untuk membuktikan kepada mereka bahwa kita berasal dari akar sejarah dan budaya yang sama. Beberapa tradisi kita seperti upacara cukur rambut bayi, selamatan, gotong-royong, dan lain-lain tidaklah berbeda dengan tradisi mereka. Untuk itu, event  kebudayaan, seperti kesenian dan pertukaran pemuda sering kita adakan”, kata Andradjati.

“Kalau MelayuOnline.com membutuhkan informasi apapun tentang Melayu Afsel silahkan hubungi saya. Kita bisa bekerjasama untuk mengembangkan dan memperkaya kajian kemelayuan bersama-sama”, tambahnya.


Kunjungan tersebut direncanakan akan berlangsung selama tiga minggu. Beberapa kota yang akan dihampiri antara lain Bali, Makassar, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, dan Banten. Adapun kunjungan ke Yogyakarta merupakan kerjasama antara Konsulat Jenderal RI di Cape Town dengan Badan Pariwisata Daerah (Baparda) Yogyakarta. Tampak Kepala Baparda DIY, Tazbir, S.H, M. Hum, turut mendampingi rombongan.

Menurut Tazbir, “Sejarah keislaman di Yogyakarta sudah seharusnya diketahui oleh masyarakat Muslim Afsel, karena sejarah keislaman Yogyakarta menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah Islam di Nusantara”.  

(Ali Rido/brt/24/10-08)


Dibaca : 7.763 kali.

Tuliskan komentar Anda !