Sabtu, 27 Mei 2017   |   Ahad, 1 Ramadhan 1438 H
Pengunjung Online : 7.669
Hari ini : 50.413
Kemarin : 79.515
Minggu kemarin : 688.898
Bulan kemarin : 5.828.511
Anda pengunjung ke 102.474.979
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Chaidir

a:3:{s:3:

1. Riwayat Hidup

Drh. H. Chaidir, MM, dilahirkan pada tanggal 29 Mei 1952 di dusun Pemandang, kecamatan Rokan IV Koto, kabupaten Rokanhulu, Riau, Indonesia. Riwayat pendidikan Chaidir mulai dari Sekolah Dasar (SD) di Lubuk Bendahara, Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Ujung Batu, Rokan Hulu, dan memperoleh ijazah sekolah menengah dari Sekolah Asisten Apoteker (SAA) Ikasari dan dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Setia Dharma jurusan Paspal Pekanbaru Riau. Pada tahun 1973, ia merantau ke kota pendidikan, Yogyakarta, meneruskan pendidikan di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, dan berhasil meraih gelar Dokter Hewan tahun 1978. Pada tahun 1986, ia berangkat ke Australia belajar selama 3 bulan di Queensland University, Brisbane dan James Cook University, Townsville. Tahun 1990-1991, ia meneruskan pendidikan di IFFAO Reggio Emilia, Italia. Tahun 2001, ia berhasil meraih gelar Master pada program studi Magister Manajemen dari Universitas Padjadjaran Bandung.  

Kiprah Chaidir di dunia pemerintahan dan kepemimpinan, bermula ketika ia bekerja di Ditjen Peternakan di Jakarta selama 2 tahun. Pada tahun 1987, ia pindah bekerja di Badan Otorita Batam di Batam. Kemudian ia terpilih sebagai Ketua Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) di Batam dan Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) di Riau. Tahun 1992-1997, Chaidir terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Propinsi Riau dari Fraksi Golkar. Tahun 1994, ia bersama Nasrun Effendi, terpilih sebagai delegasi KNPI Pusat menghadiri Sidang Umum PBB di New York sebagai peninjau. Tahun 1995-1999, ia terpilih sebagai Ketua Komisi D DPRD Propinsi Riau. Pada periode 1997-1999, kiprahnya sebagai Anggota DPRD masih terus berlanjut. Pada tahun 1999, ia terpilih sebagai Ketua DPRD Propinsi Riau periode 1999-2004, dan kembali terpilih pada jabatan yang sama pada periode 2004-2009. Tahun 2000, ia terpilih sebagai wakil Ketua Assosiasi Pimpinan DPRD Propinsi se-Indonesia. Pada tahun 2005, ia terpilih sebagai Koordinator Badan Kerjasama Pimpinan DPRD Propinsi se-Indonesia untuk wilayah Sumatera. Sejak tahun 2003, ia terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Daerah Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) Propinsi Riau. Meskipun disibukkan dengan berbagai aktifitas, ia masih meluangkan waktu berkunjung ke berbagai negara, seperti Korea Selatan, Taiwan, Jerman, Belanda, Spanyol, Inggeris, Swiss, Afrika Selatan, dan negara-negara Asia Tenggara dalam berbagai kegiatan. Tahun 2001, sebagai Pembina Sanggar Malay Dance, ia memimpin delegasi kesenian Riau untuk mengadakan pertunjukan dalam acara Pekan Indonesia di Greoux Les Bains di Prancis.

Disamping aktifitasnya sebagai Ketua DPRD Riau, ia juga aktif menulis kolom di sejumlah media, menerbitkan buku-buku, dan memimpin Tabloid Mentari yang terbit di Pekanbaru. Selain itu, undangan sebagai pembicara juga terus berdatangan dari sejumlah universitas dan berbagai forum seminar.

2. Pemikiran

Sebagai pemimpin masyarakat, Chaidir memiliki beberapa konsep kepemimpinan dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya, di antaranya konsep kepemimpinan Melayu, pemikiran dan sejarah. Ketiga konsep kepemimpinan Chaidir tersebut akan dijelaskan secara singkat sebagai berikut:

1.

Konsep kepemimpinan Melayu yang dimaksud di sini adalah konsep kepemimpinan yang didasarkan pada kearifan budaya Melayu masa lalu. Menurut Chaidir, seorang pemimpin harus memahami tradisi dan amanah kepemimpinan yang diembannya, baik yang termaktub dalam sejarah maupun yang terdapat dalam kearifan budaya Melayu. Salah satu kearifan budaya Melayu yang dijadikan Chaidir sebagai pedoman dalam memimpin masyarakatnya adalah risalah Raja Haji Ali berjudul Tsammarat al-Muhimmah. Dalam risalah tersebut, dikemukakan dengan jelas mengenai tugas-tugas seorang pemimpin yaitu: Pertama, menegakkan keadilan melalui badan peradilan (dalam ilmu politik disebut arbitrator). Sebagai ulama Melayu, Raja Ali Haji dalam risalah tersebut mengidentifikasi keislaman dengan kemelayuan. Oleh karena itu, untuk meneggakan keadilan, hukum yang diberlakukan adalah hukum syariah yang bersumber dari Alquran, hadis, ijmak dan qiyas. Karena hukum syariah ini merupakan hukum tertinggi dalam penegakan keadilan, maka segala peraturan perundang-undangan harus disusun berdasarkan ajaran syariah tersebut. Kedua, menjadi suri teladan atau panutan bagi masyarakatnya. Raja Hali Haji dalam risalahnya mengindekkan pemimpin dengan khalifah atau imam. Imam adalah seorang pemimpin yang diikuti segala hukum dan perintahnya, kecuali perilaku kufur dan maksiat, baik lahir maupun batin. Kedudukan imam atau pemimpin adalah menegakkan agama Islam dan melaksanakan keadilan di antara sesama manusia berdasarkan syariah Islam. Ketiga, mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Menurut Raja Ali Haji, salah satu bukti pemimpin yang baik dan dianggap berhasil dalam memimpin adalah memperhatikan sarana dan prasana kepentingan umum, misalnya membangun masjid, sekolah, asrama bagi musafir, jembatan, jalan umum, kota, pasar, rumah, saluran air, dan kontor polisi. Oleh karena itu, sebagian pendapatan negara tidak hanya dialokasikan untuk kepentingan negara (duniawi), tapi juga untuk kehidupan ukhrawi. Dengan demikian, seorang pemimpin harus mampu menciptakan negeri religius yang damai dan memberikan kesejahteraan baik moril maupun materil bagi masyarakatnya.

Raja-raja Melayu di masa lampau yang menerapkan ketiga konsep di atas, terbukti mampu memajukan dan memakmurkan kerajaan-kerajaan di Riau, seperti Riau Lingga dan Siak Sri Indrapura. Oleh karena itu, ketiga konsep ini yang diterapkan Chaidir dalam melaksanakan tanggungjawabnya sebagai pemimpin, dengan harapan Propinsi Riau menjadi negeri yang maju dan makmur di masa yang akan datang.

2. Dalam konsep pemikiran, Chaidir memahami bahwa kebijakan-kebijakan pemimpin yang didasarkan pada pemikiran dan kebijaksanaan akan lebih lama bertahan daripada menerapkan kebijakan yang didasarkan pada kekuasaan semata. Menurut Chaidir, berpikir secara jernih dan menerapkan kebijakan secara tulus akan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat daripada memanfaatkan kekuasaan secara semena-mena. Dalam hal ini, Chaidir mengacu pada pemikiran Francis Bacon yang mengatakan, bahwa hasil pemikiran dan kebijaksanaan yang tulus mampu bertahan hingga dua puluh lima abad, sedangkan kebijaksanaan yang semena-mena tidak mampu bertahan lebih lama dan cepat dilupakan. Dengan demikian, Chaidir lebih mengendepankan pemikiran dari pada kekuasaan dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya sebagai pemimpin. Pemikiran-pemikiran ini pula terus ia persembahkan untuk kemajuan dan kemakmuran masyarakat Riau dengan berbagai cara.
3. Untuk membentuk pola pikir kepemimpinannya, Chaidir banyak belajar dari sejarah. Ia banyak mempelajari pemikiran para tokoh dunia di masa lalu untuk dijadikan dasar dalam bertindak di masa kini. Pemikiran-pemikiran tokoh dunia yang telah ia pelajari di antaranya Thomas Hobbes dari Leviathan, Will Durrant (sejarawan), Francis Bacon (politikus dan filsuf), Styagraha Gandhi, dan Plato. Ia juga menyelami pemikiran-pemikiran eksistensialis seperti Albert Camus, JP. Sartre, dan Karl Jasper. Kemudian, ia mempelajari pemikiran kepemimpinan Soekarno dan Lao Tse. Selain itu, ia juga mempelajari pemikiran Machiavelli, meskipun tidak sepaham dengan konsep kebudayaan dan keyakinan yang ia anut. Setelah mempelajari beberapa pemikiran tokoh dunia tersebut, Chaidir menjadi seorang politisi intelektual yang mengutamakan pendekatan persuasif. Konsep pemikiran ini ia peroleh dari Lao Tse yang menyatakan bahwa, seorang pemimpin tidak mesti seperti air yang bergemuruh, tapi menjadi sebuah telaga yang tenang dan menyejukkan. Dengan pribadi yang tenang dan sejuk ini, Chaidir tampil di tengah-tengah masyarakat Riau dengan berbagai persoalan, baik ekonomi, politik, maupun sosial budaya, dalam rangka mengatasi persoalan-persoalan tersebut.

3. Karya-karya

Sebagai intelektual, Chaidir telah melahirkan banyak karya berupa buku dan artikel, di antaranya:

a. Karya Chaidir berupa buku, antara lain:

  1. Suara Dari Gedung Lancang Kuning. Pekanbaru: Pusat Peran Serta Masyarakat (PPM), 1998.
  2. Berhutang Pada Rakyat. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa, 2002.
  3. Panggil Aku Osama. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa, 2002.
  4. 1001 Saddam. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa, 2004.
  5. Menertawakan Chaidir (buku humor), Cet. Kedua. Pekanbaru: Yayasan Pusaka Riau, 2006.
  6. Membaca Ombak. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa, 2006.
  7. Geliat Orang-orang Riau. Pekanbaru: Yayasan Pusaka Riau.
  8. Riau Kontemporer. Pekanbaru: Unri Press.

b. Artikel-artikel Chaidir dalam Tabloid Mentari, antara lain:

  1. Tuan Rumah. Edisi No. 241/Th V/17 Juli 4 Agustus 2006.
  2. Dunia Belum Kiamat, Edisi No. 240/Th V/6-16 Juli 2006.
  3. Guru Jumpa Manusia, Edisi No. 236/Th V/18 Mei 2 Juni 2006.
  4. Resentralisasi Samar-samar (Sebuah Catatan Kecil HUT Proklamasi). Edisi No. 243/Th V/17-27 Agustus 2006.
  5. Melodrama Mahatir-Badawi. Edisi No. 242/Th V/5-15 Agustus 2006.
  6. Flu Burung Akhirnya Tiba. Edisi 221/Th V/19-25 Desember 2005.
  7. Bongkar Pasang. Edisi 220/Th V/12-18 Desember 2005.
  8. Bahasa Sastra Bahasa Bunga. Edisi 219/Th V/5-11 Desember 2005.
  9. Menahan Diri. Edisi 217/Th V/21-27 Nopember  2005.
  10. Anggota Dewan Juga Manusia. Edisi 215/Th V/31 Oktober-6 Nopember 2005.
  11. Memberantas Kemiskinan Akal Budi. Edisi 215/Th V/10-16 Oktober 2005.
  12. Buah Simalakama. Edisi 214/Th IV/3-9 Oktober 2005.
  13. Menumpang Kasih Pada Pak Tenas. Edisi 212/Th IV/19-25 September 2005.
  14. Negeri Ilegal?. Edisi 221/Th IV/12-18 September 2005.
  15. Ketika Malam Sepi Bintang. Edisi 221/Th IV/5-11 September 2005.
  16. Malaria Kemiskinan. Edisi 174/Th III/20-26 Desember 2004.
  17. Suara Air Mata. Edisi 173/Th III/13-19 Desember 2004.
  18. Lembaran Baru. Edisi 171/Th III/29 Nopember-5 Desember 2004.
  19. Surga Yang Hilang. Edisi 169/Th III/8-14 Nopember 2004.
  20. The Nine Commandments. Edisi 174/Th III/1-6 Nopember 2004.
  21. Presiden Rakyat. Edisi 1767/Th III/25-31 Oktober 2004.
  22. Saddam Hussein Naik Haji. Edisi 124/Th III/21-27 Desember 2003.
  23. The Old Soldier Never Die. (Catatan Seorang Kawan untuk Mantan Gubri Saleh Djasit). Edisi 123/Th III/14-20 Desember 2003.
  24. Gubernur Selebritis. Edisi 121/Th III/23 Nop. 6 Des. 2003.
  25. Pondok Nabi. Edisi 120-121/Th III/16-22 Nopember 2004.
  26. Dan lain-lain.

c. Artikel-artikel Chaidir dalam Tabloid Serantau, antara lain:

  1. Ada Api Ada Asap. Edisi 17 - 23 Maret 2000.
  2. Albert Einstein. Edisi 14 20 Januari 2000.
  3. Berutang Kepada Rakyat. Edisi 28 Januari 2 Februari 2000.
  4. Sukarno Kecil. Edisi 3 - 9  Desember 1999.
  5. Bulan Negeri Serantau. Edisi 20 26 Agustus 1999.
  6. Democracy, Democrazy. Edisi 22 25 Oktober 1999.
  7. Dewan Pakar. Edisi 31 Maret 6 April 2000.
  8. Di sini Sengan Di Sana Senang. Edisi 3 9 September 1999.
  9. Emas Hitam Kambing Hitam. Edisi 11 17 Februari 2000.
  10. Fenomena Perubahan.  Edisi 24 30 September 1999.
  11. Gunung Es. Edisi 13 20 April 2001.
  12. Gusdur Mania. Edisi 3 9 Maret 2000.
  13. Habis Gelap Terbitlah Terang. Edisi 21 27 April 2000.
  14.  Haji Murah. Edisi 25 Februari 2 Maret 2000.
  15. Hari Perempuan. Edisi 24 30 Desember 1999.
  16. Idul Fitri, Kuburkan Benci Bangkitkan Simpati...Edisi 7 13 Januari 2000.
  17. Kuda Troya. Edisi 27 Agustus 2 September 1995.
  18. Lee Kuan Yew. Edisi 19 25 Nopember 1999.
  19. Maju Kena Mundur Kena. Edisi 4 10 Februari 2000.
  20. Makhluk Sempurna. Edisi 15 21 Oktober 1999.
  21. Marhaban Ya Ramadhan. Edisi 10 16 Desember 1999.
  22. Mata Hati. Edisi 5 10 Nopember 1999.
  23. Mathori Abdul Jalil. Edisi 7 13 April 2000.
  24. Memelihara Konflik. Edisi 16 22 Maret 2001.
  25. Mencoba Memahami Australia. Edisi 26 Nop. 2 Des. 1999.
  26. Dan lain-lain.

4. Penghargaan

Atas karya dan jasa-jasanya pada dunia pendidikan, Chaidir telah dianugerahi penghargaan Kalung Summa Darma Kelas I dari Universitas Riau pada tahun 2004.


Website : http://www.chaidir.com

Dibaca : 6.920 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password