Selasa, 25 April 2017   |   Arbia', 28 Rajab 1438 H
Pengunjung Online : 8.687
Hari ini : 75.030
Kemarin : 52.079
Minggu kemarin : 401.091
Bulan kemarin : 5.093.107
Anda pengunjung ke 102.200.801
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Fakhrunnas MA Jabbar

a:3:{s:3:

Fakhrunnas M.A. Jabbar (Sastrawan), lahir di Desa Tanjung Baru­lak, Kampar, Riau pada 18 Januari 1959. Ke­ge­mar­annya me­nulis dimulai sejak SMP. Artikel, esai, cer­pen, dan puisinya dimuat di sejumlah me­dia lokal dan nasional, seperti Hori­son, Kompas, Repu­blika, Media Indonesia, Tempo, Riau Pos, Kartini, Nova, Citra, Suara Pembaruan, dan sebagai­nya. Buku­nya yang di­ter­bitkan adalah Di Bawah Matahari (1981) dan Mata­hari Malam, Mata­hari Siang (1982), ditulis bersama pe­nyair Husnu Abadi; Meditasi Sepasang Pipa (1987) di­tulis ber­sama penyair Wahyu Prasetya; Buya Zaini Kuni: Sebutir Mu­tiara di Lubuk Bendahara (1993) berupa autobiografi, serta H. Soeman Hs.: Bukan Pen­curi Anak Perawan (1998), auto­biografi yang terpilih seba­gai buku terbaik Anugerah Sagang tahun 1999. Be­be­rapa buku cerita anak karyanya juga telah di­terbitkan antara lain Anak-anak Suku Laut (Pustaka Utama Grafiti, 1994), Me­­nembus Kabut (Departemen Agama RI, 1985), dan Me­nyingkap Rahasia di Bumi Harapan (1997). Cerpen­nya yang ber­judul “Rumah Besar Tanpa Jendela” dimuat dalam Buku Cerpen Horison Sastra Indonesia (Horison, 2001) dan diangkat oleh Chaerul Umam se­bagai sinetron di LaTivi (2002). Pres­tasinya di bidang sastra antara lain juara pertama lomba pe­nulisan cerpen yang dise­leng­garakan oleh Bali Post (1992) dan juara per­tama lomba pe­nu­lisan cerpen yang diselengga­rakan oleh Universitas Se­belas Maret (1993). Pada Desember 2006, bukunya yang berjudul Sebatang Pohon Ceri di Serambi telah memperoleh Anugerah Sagang 2006 dalam kategori Karya Buku Pilihan Sagang.

Hari-harinya disibukkan dengan memberi ce­ra­mah sastra dan budaya serta membaca puisi di se­jumlah kota seperti Kuala Lumpur, Singapura, Pekan­baru, Padang, Medan, Jambi, Lampung, Jakarta, dan Bandung. Sering menghadiri dan membaca puisi pada even sastra seperti Hari Sastra di Malaysia, Pertemuan Puisi Indonesia (1987) di TIM Jakarta, Malam Bosnia (1995) di TIM Jakarta, Malam Solidaritas Islam (1996) di TIM Jakarta, Gong Melayu 2001 (2001) di TIM Jakar­ta, dan Baca Sajak Tempuling Rida K. Liamsi (2003) di TIM Jakarta. Bahkan pernah diundang oleh Unesco Korea Selatan (1999) bersama dua budayawan In­do­­ne­sia lainnya dalam acara 99 Cultural Exchange Pro­gramme ASEAN-Republic of Korea di Seoul dan Kyong Ju.

Ia juga aktif dalam berbagai organisasi kesenian dan kebu­dayaan, antara lain sebagai Sekretaris Komite Program Yaya­san Puisi Nusantara (1980—1984), Sekre­ta­ris Lembaga Seni Budaya Pemuda KNPI Riau (1981—1985), Sekretaris Him­punan Seni Budaya Islam/HSBI (1983—1995), dan anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Riau (1994—1996). Sastrawan lulusan Fakul­tas Perikanan Jurusan Manajemen Sumberdaya Per­air­an Universitas Riau (UNRI) ini menjadi dosen di Uni­versitas Islam Riau sejak tahun 1986. Namun saat ini bekerja sebagai Manajer Public Relation sebuah pe­rusahaan swasta di Pangkalan Kerinci, Pelalawan, Riau.

Dibaca : 6.403 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password