Fakhrunnas MA Jabbar

Fakhrunnas M.A. Jabbar (Sastrawan), lahir di Desa Tanjung Barulak, Kampar, Riau pada 18 Januari 1959. Kegemarannya menulis dimulai sejak SMP. Artikel, esai, cerpen, dan puisinya dimuat di sejumlah media lokal dan nasional, seperti Horison, Kompas, Republika, Media Indonesia, Tempo, Riau Pos, Kartini, Nova, Citra, Suara Pembaruan, dan sebagainya. Bukunya yang diterbitkan adalah Di Bawah Matahari (1981) dan Matahari Malam, Matahari Siang (1982), ditulis bersama penyair Husnu Abadi; Meditasi Sepasang Pipa (1987) ditulis bersama penyair Wahyu Prasetya; Buya Zaini Kuni: Sebutir Mutiara di Lubuk Bendahara (1993) berupa autobiografi, serta H. Soeman Hs.: Bukan Pencuri Anak Perawan (1998), autobiografi yang terpilih sebagai buku terbaik Anugerah Sagang tahun 1999. Beberapa buku cerita anak karyanya juga telah diterbitkan antara lain Anak-anak Suku Laut (Pustaka Utama Grafiti, 1994), Menembus Kabut (Departemen Agama RI, 1985), dan Menyingkap Rahasia di Bumi Harapan (1997). Cerpennya yang berjudul “Rumah Besar Tanpa Jendela” dimuat dalam Buku Cerpen Horison Sastra Indonesia (Horison, 2001) dan diangkat oleh Chaerul Umam sebagai sinetron di LaTivi (2002). Prestasinya di bidang sastra antara lain juara pertama lomba penulisan cerpen yang diselenggarakan oleh Bali Post (1992) dan juara pertama lomba penulisan cerpen yang diselenggarakan oleh Universitas Sebelas Maret (1993). Pada Desember 2006, bukunya yang berjudul Sebatang Pohon Ceri di Serambi telah memperoleh Anugerah Sagang 2006 dalam kategori Karya Buku Pilihan Sagang.
Hari-harinya disibukkan dengan memberi ceramah sastra dan budaya serta membaca puisi di sejumlah kota seperti Kuala Lumpur, Singapura, Pekanbaru, Padang, Medan, Jambi, Lampung, Jakarta, dan Bandung. Sering menghadiri dan membaca puisi pada even sastra seperti Hari Sastra di Malaysia, Pertemuan Puisi Indonesia (1987) di TIM Jakarta, Malam Bosnia (1995) di TIM Jakarta, Malam Solidaritas Islam (1996) di TIM Jakarta, Gong Melayu 2001 (2001) di TIM Jakarta, dan Baca Sajak Tempuling Rida K. Liamsi (2003) di TIM Jakarta. Bahkan pernah diundang oleh Unesco Korea Selatan (1999) bersama dua budayawan Indonesia lainnya dalam acara 99 Cultural Exchange Programme ASEAN-Republic of Korea di Seoul dan Kyong Ju.
Ia juga aktif dalam berbagai organisasi kesenian dan kebudayaan, antara lain sebagai Sekretaris Komite Program Yayasan Puisi Nusantara (1980—1984), Sekretaris Lembaga Seni Budaya Pemuda KNPI Riau (1981—1985), Sekretaris Himpunan Seni Budaya Islam/HSBI (1983—1995), dan anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Riau (1994—1996). Sastrawan lulusan Fakultas Perikanan Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan Universitas Riau (UNRI) ini menjadi dosen di Universitas Islam Riau sejak tahun 1986. Namun saat ini bekerja sebagai Manajer Public Relation sebuah perusahaan swasta di Pangkalan Kerinci, Pelalawan, Riau.
Dibaca : 7.766 kali.
Berikan komentar anda :