Senin, 23 Oktober 2017   |   Tsulasa', 2 Shafar 1439 H
Pengunjung Online : 577
Hari ini : 18.012
Kemarin : 37.117
Minggu kemarin : 220.469
Bulan kemarin : 7.753.475
Anda pengunjung ke 103.512.636
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Taufik Ikram Jamil

a:3:{s:3:

1. Riwayat Hidup

Taufik Ikram Jamil dilahirkan pada tanggal 19 September 1963 di Teluk Belitung, Bengkalis, Riau, Indonesia. Disamping seorang sastrawan, ia juga seorang cerpenis dan wartawan yang cukup dikenal. Ia menikah dengan Umi Kalsum dan dikaruniai tiga orang anak yaitu Tuah Kalti Takwa (sulung), Megat Kalti Takwa dan Nadim Kalti Takwa (bungsu).

Taufik Ikram Jamil mengenyam pendidikan mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di Bengkalis. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Riau, dan selesai tahun 1987.

Sebelum menggeluti dunia kewartawanan, Taufik Ikram Jamil telah menjadi sastrawan dan dan penyair.  Ia  mulai bekerja sebagai wartawan dari tahun 1983 di sejumlah media. Tahun 1988,  ia  terakhir bergabung sebagai wartawan pada harian umum Kompas Jakarta. Pada tahun 1991, ia mendirikan Yayasan Membaca yang bergerak di bidang kebudayaan. Yayasan ini kemudian menerbitkan jurnal Menyimak yang memuat karya-karya sastrawan setempat. Kemudian, tahun 1999, Yayasan ini bermetamorfosis menjadi Yayasan Pusaka Riau yang bergerak dalam berbagai bidang, di antaranya kebudayaan, penerbitan, dan kesenian. Pada tahun 2002, ia berhenti menjadi wartawan di harian Kompas untuk mencurahkan pikiran dan ide-ide kreatif demi kemajuan seni. Maka pada tahun itu juga, ia mendirikan dan mengetuai Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) di Pekanbaru, satu-satunya akademi kesenian di Sumatera, dimana ia sendiri menghibahkan uang pribadinya sebesar Rp. 2,5 juta kepada yayasan tersebut. Dalam perkembangannya, setelah hampir tiga tahun berdiri, akademi ini telah menampung 120 mahasiswa dan memiliki aset lebih dari Rp. 1,5 miliar. Kiprah Taufik Ikram Jamil di dunia seni semakin mantap ketika ia diangkat menjadi Ketua Umum Dewan Kesenian Riau (DKR) untuk periode 2002-2007.

Dalam dunia kesusasteraan, Taufik Ikram Jamil banyak menghasilkan karya yang telah dimuat dalam berbagai media cetak seperti Riau Pos, Kompas, Berita Buana, Republika, Suara Pembaruan, Kartini, Horison, Kalam dan Ulumul Qur‘an. Kumpulan puisinya yang pertama diterbitkan adalah Tersebab Haku Melayu, kemudian menyusul kumpulan cerita pendek Sandiwara Hang Tuah, Membaca Hang Jebat, dan roman Gelombang Sunyi. Adapun karya sastranya yang berisi tentang sejarah terhimpun dalam berbagai antologi di Pekanbaru, Jakarta, Yogyakarta, Lampung, Makassar, Surabaya dan Kuala Lumpur, misalnya Negeri Bayang-bayang dan Soeharto dalam Cerpen Indonesia, serta antologi cerpen dalam bahasa Inggris Menagerie 4.

Tema-tema yang sering diangkat Taufik Ikram Jamil dalam karyanya, khususnya pada genre cerpen, banyak berkaitan dengan sosial-budaya Riau. Salah satu cara untuk memilih sebuah tema, ia selalu akrab dan peduli terhadap nasib kaum Melayu Riau yang hidup dalam kemisikinan, yang tak mampu duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain di kawasan kerjasama Singapura dan Johor (Sijori). Profesinya sebagai wartawan banyak membantu untuk mengenal lebih dalam situasi dan persoalan-persolan sosial di lapangan. Berbasis pengenalan lapangan itu, ia mampu menghasilkan karya-karya yang bermutu, sehingga karya-karyanya menjadi kitab khatam kaji bagi para mahasiswa di Riau bahkan di Belanda. Seorang pakar sastra Belanda, Dr. Will Derks telah membahas karya-karyanya dalam sebuah bunga rampai tentang pembangunan Asia yang diterbitkan di London  tahun 1998.

Melalui karya-karyanya, Taufik Ikram Jamil semakin terkenal, sehingga ia sering mendapat undangan untuk menghadiri berbagai even sastra di dalam dan luar negeri. Tahun 2001, ia pernah mewakili Indonesia untuk membaca sajak bersama penyair dari sepuluh negara dalam International Poetry Festival yang diselenggarakan Majelis Sastra Asia Tenggara. Ia juga pernah menjadi pembicara dalam berbagai seminar di beberapa kota besar, di antaranya Jakarta, Bogor, Johor Baru, Kuala Lumpur dan Leiden.

2. Pemikiran

Sebagai putra daerah Riau, Taufik Ikram Jamil sangat prihatin terhadap kondisi kehidupan orang Melayu Riau yang hidup dalam keterpurukan, terutama para petani, buruh, peternak, nelayan dan pedagang. Kondisi keterpurukan ini dapat dilihat pada dua aspek: sosial dan ekonomi. Secara sosial, mereka rata-rata berpendidikan rendah karena minimnya sarana pendidikan; secara ekonomi, mereka tidak memiliki modal untuk mengembangkan usaha ataupun mengelola sumber daya alam yang ada, sehingga penghasilan mereka sehari-hari sangat rendah. Bagi yang bekerja di  perusahaan-perusahaan milik orang asing, mereka mengalami hubungan kerja yang eksploitatif. Dengan kondisi tersebut, sulit bagi mereka untuk bangkit dan keluar dari kondisi keterpurukan yang mereka alami.

Taufik Ikram Jamil melihat, di negara Indonesia ini telah terjadi ketidakadilan terhadap masyarakat Melayu-Riau. Buktinya, keuntungan dolar yang diperoleh dari ladang minyak raksasa di Riau yang dikelola PT. Caltex Pasific Indonesia (CPI) sejak tahun 1930, hanya dinikmati pemerintah pusat dan perusahaan minyak tanpa sepersen pun diberikan kepada masyarakat Riau. Oleh sebab itu, orang Riau menuntut pemerintah pusat agar membagi hasil keuntungan minyak kepada Riau, sehingga Riau bisa mengembangkan dan meningkatkan kualitas ekonomi, sosial dan budaya masyarakatnya. Salah satu kenyataan lain yang sangat ironis di bumi Riau adalah, walaupun perusahaan minyak telah beroperasi sejak 1930, namun tenaga kerjanya mayoritas orang luar Riau. Hal ini disebabkan rendahnya kualitas SDM Riau, karena memang sampai sekarang belum terdapat fakultas pertambangan di Pekanbaru. Hasilnya, orang Riau menjadi semakin tersisih dari laju derap ekonomi di negerinya sendiri.

Berdasarkan kenyataan di atas, Taufik Ikram Jamil mengutip ungkapan seorang sahabatnya yang menyatakan, “Orang-orang Amerika Latin telah memberi emasnya pada Spanyol, tetapi mereka memperoleh bahasa Spanyol. Riau telah memberi bahasa dan emas hitamnya (minyak) kepada Indonesia, tetapi tak ada apa-apa yang diperoleh Riau dari Negara ini”. Ungkapan ini senada dengan pernyataan Prof. Dr. Tabrani Rab, “Saat ini masyarakat Riau sadar betul mereka tertinggal jauh dan ditinggalkan. Mereka tahu betul daerahnya memberikan nilai tambah yang besar bagi pemasukan negara. Tetapi di pihak lain daerahnya justru masih terbelakang. Keterbelakangan paling parah adalah di bidang pendidikan dan sosial ekonomi”. Dalam ungkapan Taufik Ikram Jamil yang lain mengatakan, “Orang Riau bagai tikus mati di lumbung padi”. Ungkapan dan pernyataaan di atas adalah bentuk kegelisahan masyarakat Melayu-Riau yang telah berpuluh-puluh tahun mengalami ketidakadilan. Akibatnya, mereka kehilangan jati diri yang menyebabkan sebagian di antara mereka merasa minder menjadi Melayu-Riau.

Kenyataan-kenyataan tersebut membuat Taufik Ikram Jamil gerah, sehingga mendorongnya untuk berupaya mengembalikan moral masyarakat Melayu Riau yang terpuruk itu. Upaya-upaya yang telah ia lakukan yaitu: Pertama, mendirikan sarana pendidikan di Riau. Sebagai budayawan, ia menyadari bahwa tidak mungkin baginya mendirikan sekolah teknik pertambangan dan perminyakan. Sebagai gantinya, ia mendirikan Yayasan Pusaka Riau yang sesuai dengan bidang dan keahliannya. Yayasan ini ia dirikan dengan tujuan agar masyarakat Melayu Riau mampu bangkit dari keterpurukan, dan sekaligus sebagai sarana bagi para intelektual dan sastrawan Riau untuk mengekspresikan kegelisahan-kegelisahan masyarakat Riau melalui karya-karya. Kedua, menghasilkan banyak karya tulis. Dalam karya-karya tersebut, ia ingin mengangkat jati diri orang Melayu melalui bahasa Melayu, sebab ia berkeyakinan bahwa kehancuran bahasa suatu suku-bangsa adalah permulaan runtuhnya suku-bangsa tersebut. Ia melihat, semakin banyak kata-kata dalam bahasa Melayu yang sulit dimengerti dan jauh dari makna yang sebenarnya. Oleh karena itu, melalui karyanya ia ingin  melestarikan bahasa Melayu yang sesuai dengan makna sebenarnya, dan sebagai sarana untuk meneriakkan dan mengaumkan ekspresi kegelisahan masyarakat Melayu Riau. Penekanan Taufik Ikram Jamil pada bahasa Melayu ini dapat dilihat dalam cerpennya yang berjudul Jumat Pagi Bersama ‘Amuk” dan puisinya yang berjudul Tersebab Haku Melayu. Dalam puisi ini, penggunaan pola tutur khas bahasa Melayu tampak pada kata “Haku” yang telah mendapat awalan huruf “h”. Bagi masyarakat Melayu Riau, panambahan awalan huruf “h” dalam mengucapkan sebuah kata, menunjukkan mereka dalam keadaan kesal dan marah. Pola tutur khas Melayu ini ia gunakan dalam puisinya, sehingga ia tidak perlu menggunakan kata-kata kasar dan anarkhis. Selain itu, Taufik Ikram Jamil tidak menggunakan catatan kaki dalam karya-karyanya, meskipun terdapat kosa kata khas Melayu yang mungkin tidak dipahami orang lain. Ia beranggapan, jika isi buku tersebut dibaca secara keseluruhan, pembaca akan mengerti maksudnya. Kalaupun ada kosa kata yang tidak dimengerti, pembaca bisa membuka kamus bahasa Melayu. Semua kosa kata Melayu yang ia gunakan ada di dalam kamus tersebut.

Usaha-usaha yang telah dilakukan Taufik Ikram Jamil di atas adalah suatu langkah positif untuk membangkitkan moral dan menambah rasa percaya diri masyarakat Melayu Riau, sehingga tidak lagi menunduk bila berhadapan muka dengan orang lain.  

3. Karya-karya

Sebagai sastrawan, Taufik Ikram Jamil telah melahirkan banyak karya, di antaranya:

  1. Tersebab Haku Melayu: Buku Sajak Penggal Pertama. Pekanbaru, Yayasan Membaca, 1994.
  2. Sandiwara Hang Tuah: Kumpulan Cerpen. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo), 1996.
  3. Membaca Hang Jebat. 1995.
  4. Gelombang Sunyi: Sebuah Roman. Jakarta: Kompos, 2001.
  5. Hikayat Batu-Batu: Kumpulan Cerpen. Jakarta: Kompas, 2005.
  6. Hempasan Gelombang. 1999.
  7. Negeri Bayang-bayang (antologi puisi). Pekanbaru, 1996.
  8. Soeharto dalam Cerpen Indonesia. Penerbit Bentang, 2001.
  9. Menagerie 4 (antologi cerpen dalam bahasa Inggris).
  10. Dari Per­cikan Kisah, Membentuk Propinsi Riau (buku sejarah). Pekanbaru: Yayasan Pusaka Riau, 2001.
  11. Jumat Pagi Bersama “Amuk”.

4. Penghargaan

Atas karya dan jasa-jasanya pada sastra dan budaya, Taufik Ikram Jamil telah dianugerahi beberapa penghargaan, di antaranya:

  1. Dari Majalah Horison untuk kategori Cerpen Terbaik berjudul Menjadi Ratu (1997).
  2. Dari Yayasan Sagang untuk kategori Karya Budaya Terbaik berjudul Sandiwara Hang Tuah (1997).
  3. Dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) untuk kategori Cerpen Utama Indonesia berjudul Jumat Pagi Bersama ‘Amuk” (1998).
  4. Dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) sebagai Juara Harapan II dalam Sayembara Penulisan Roman berjudul Hempasan Gelombang (1998).
  5. Dari Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) untuk Kategori Sastra Terbaik berjudul Membaca Hang Jebat (1999).
  6. Dari Yayasan Sagang untuk kategori Seniman Terbaik (2003).
Dibaca : 9.390 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password