Kamis, 30 Maret 2017   |   Jum'ah, 2 Rajab 1438 H
Pengunjung Online : 4.213
Hari ini : 33.232
Kemarin : 95.293
Minggu kemarin : 569.905
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 102.018.818
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Yusmar Yusuf

a:3:{s:3:

1. Riwayat Hidup

Yusmar Yusuf lahir pada tanggal 5 Desember 1961 di Teluk Belitung, Bengkalis, Riau, Indonesia. Sejak kecil, ia telah dididik oleh orang tuanya dengan ilmu agama. Tak jarang ia  mendapat hukuman yang berat dari orang tuanya, jika ia lalai melaksanakan ajaran agama. Dengan latar belakang agama yang kuat tersebut, Yusmar kemudian tumbuh dan besar dalam kondisi yang tetap berpegang pada nilai-nilai relijius. Berkat latar belakang keagamaan yang kuat itu pula, Yusmar tumbuh menjadi pribadi yang kuat memegang nilai-nilai kebenaran. Sejak kecil, seorang Yusmar telah terbiasa menceramahi orang lain yang dianggapnya salah, atau telah melakukan penyimpangan, walaupun orang itu adalah keluarganya sendiri.

Sebagai seorang anak yang tumbuh dalam keluarga yang agamis, maka bukanlah hal yang aneh jika Yusmar memiliki niat dan tekad yang kuat untuk menuntut ilmu, sebab menuntut ilmu merupakan perintah agama. Pendidikan dasar hingga strata satu ia selesaikan di Riau. Gelar S-1 bidang komunikasi ia raih dari Universitas Riau pada tahun 1982, kemudian ia melanjutkan program master bidang psikologi sosial di Universitas Padjajaran Bandung. Pada tahun 1994, ia berhasil menyelesaikan program doktornya di Universitas Padjajaran di bidang sosiologi, dengan disertasi: Baba-Tauke Awang Melayu: Relasi Antar Etnik di Riau. Selain pendidikan formal, Yusmar Yusuf juga pernah menempuh beberapa pendidikan non-formal, di antaranya mengikuti kursus sejarah musik klasik dan barok di Pusat Kebudayaan Jerman tahun 1990, mendalami bahasa dan kebudayaan Belanda secara intensif, dan juga bahasa Jerman secara ekstensif di Goethe Institut.

Berkaitan dengan karier akademis dan non-akademis, Yusmar mengawalinya dengan mengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Riau sebagai dosen sosiologi. Ketika ia melanjutkan program master ke Bandung dan mendalami bahasa Belanda, ia juga kemudian aktif mengajar Bahasa Belanda, dan tercatat sebagai anggota Ikatan Pengajar Bahasa Belanda (IPBB-Erasmus) cabang Bandung.

Setelah menyelesaikan program masternya, Yusmar kemudian mengasuh ruang Konsultasi Psikologi di harian pagi Riau Pos, dari tahun 1993 hingga 1994. Selanjutnya, pada tahun 1995, ia diangkat menjadi dekan di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Lancang Kuning, Riau. Selain itu, ia juga dipercaya sebagai anggota Dewan Penyunting pada Lembaga Penerbitan UNRI Press. Saat ini (2007), Yusmar menjabat sebagai Ketua Pusat Pengkajian Bahasa dan Budaya Melayu (P2BKM) Universitas Riau.

Sebagai budayawan, Yusmar telah beberapa kali menghadiri pertemuan dunia Melayu dan membawakan makalah dalam berbagai seminar, baik even nasional maupuan internasional. Pada tahun 1999, ia menjadi penggagas dan ketua Pengarah Panitia Pertemuan Alam Pemikiran Melayu Se-Dunia di Batam. Selain itu, ia juga banyak melakukan penelitian dalam bidang kebudayaan dan kemasyarakatan di daerah Riau.

2. Pemikiran

Sebagaimana budayawan dan pemikir Melayu lainnya, Yusmar juga sangat prihatin dengan nasib puak Melayu saat ini yang terpecah-pecah ke dalam berbagai sekat golongan, wilayah administrasi, paham dan kepentingan. Kondisi yang tercerai-berai tersebut mengakibatkan puak Melayu tidak pernah mampu membangun suatu kerangka kesadaran yang sama, yang ia sebut sebagai emosi kolektif.

Adalah hal yang lumrah pada saat ini, jika Melayu dipahami sebagai suatu entitas yang sempit, bersifat sangat lokal dan tidak disatukan oleh suatu struktur kesadaran yang sama (emosi kolektif). Oleh sebab itu, ada sebutan Melayu Riau, Deli, Palembang, Malaysia, Pontianak dan sebagainya. Pemaknaan terhadap setiap entitas Melayu ini benar-benar sangat partikular, sehingga aspek keserumpunan jadi terabaikan. Berdasarkan fakta sosial tersebut, betapa malangnya nasib puak Melayu ini, tidak dipahami oleh komunitasnya sendiri. Menurut Yusmar, inilah salah satu akar kemunduran puak Melayu di Nusantara ini.

Untuk menuju kebangkitan kembali, maka harus ada redefinisi terhadap kata Melayu, yang lebih menekankan aspek keserumpunan dan kebersamaan sebagai puak Melayu. Dengan itu, emosi kolektif akan terbangun dan langkah menuju persatuan dan kesatuan akan lebih terbuka. Bersamaan dengan terbangunnya persatuan, maka potensi puak Melayu yang berjumlah 300 juta, dan tersebar di Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, Filipina dan Thailand akan lebih optimal dan kuat. Bukti sejarah yang menunjukkan bagaimana persatuan dan kesatuan Melayu mampu membawa pada kebesaran dan keagungan peradaban adalah kerajaan Sriwijaya yang berdiri pada abad ke-7 M. Saat itu, kerajaan Melayu Sriwijaya mampu berdiri kokoh menjadi sebuah imperium yang menguasai kawasan yang sangat luas.

Demikianlah, berdasarkan bukti sejarah tersebut, tampak bahwa penumbuhan dan pembentukan emosi kolektif orang Melayu sangat penting, sebagaimana orang-orang Uni Eropa membangun emosi kolektif keeropaan mereka pada saat ini, sehingga berhasil membangun peradaban Eropa yang besar.

Berkaitan dengan pembentukan emosi kolektif tersebut, menurut Yusmar, ada beberapa kendala yang harus diatasi. Kendala yang paling besar adalah masih kuatnya trauma akibat Traktat London tahun 1824 antara Inggris dan Belanda. Dua negara kolonial kelas satu ini membagi secara sepihak wilayah Melayu menjadi dua bagian: utara milik Inggris dan selatan milik Belanda. Bersamaan dengan itu, rumpun Melayu jadi terpecah belah dan kemudian hidup dan berkembang berbasis pada aspek lokalitas mereka. Dengan kata lain, Traktat London telah memecah belah puak Melayu. Walaupun kemudian penjajah Inggris dan Belanda telah kembali ke Eropa, namun efek dari isi Traktat ini masih terus terasa hingga saat ini. Setidaknya, hal ini bisa dilihat dari acuan masing-masing negara melayu. Indonesia mengacu kepada Belanda, sedangkan Malaysia, Singapura dan Brunei mengacu pada Inggris. 

Walaupun kendala tersebut masih belum terpecahkan hingga saat ini, namun beberapa langkah awal menuju persatuan dan kebangkitan telah dimulai oleh beberapa gelintir orang atau komunitas dalam puak Melayu. Di antara beberapa langkah awal tersebut adalah kunjungan para penulis yang tergabung dalam Gabungan Penulis Nasional (Gapena) ke berbagai negara yang dihuni bangsa Melayu. Upaya serupa juga dilakukan oleh Perkampungan Penulis Melayudi Selat Malaka dengan mengunjungi berbagai negeri yang didiami puak Melayu. Setidaknya, kunjungan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan benih awal rasa persatuan dan keserumpunan dalam diri setiap orang Melayu, sehingga emosi kolektif bisa dibangun secara perlahan-lahan. Pada akhirnya, pemaknaan terhadap kata Melayu tidak lagi dibatasi oleh sekat-sekat geografis yang cenderung ekslusif dan lebih menekankan aspek partikularitas, tapi sebaliknya, Melayu dipahami sebagai sebuah entitas yang luas, menyebar di berbagai kawasan dan disatukan oleh suatu emosi kolektif.

3. Karya-karya

Sebagai budayawan dan ahli psikologi sosial, Yusmar Yusuf telah melahirkan beberapa karya, di antaranya:

  1. Dinamika Kelompok. Bandung: Armico, 1989.
  2. Psikologi Antar Budaya. Bandung: Remaja Rosda Karya, 1991.
  3. Kebenaran Itu Merintih: Tamasya Nalar antara Mihrab dan Bukit Kawin (Telaah atas dua karya penyair Riau). Pekanbaru: Yayasan Membaca, 1992.
  4. “Baba-Tauke Awang Melayu: Relasi Antar Etnik di Riau”. Prisma No.12, Jakarta. LP3ES, 1994.
  5. Kaji Tindak pada Masyarakat Penerima IDT Desa Dusun Tua, Kecamatan Pasir Penyu Inderagiri Hulu. Pekanbaru: Lembaga Penelitian UNRI, 1995.
  6. Percik Air dan Peradaban (tulisan lepas dalam bunga rampai, disunting bersama A.Z. Fachri Yasin). Pekanbaru: Unri Press, 1995.
  7. Gaya Riau: Sentuhan Fenomologis Budaya Melayu di Tengah Globalisasi. Pekanbaru: Pusat Pengkajian Bahasa dan Kebudayaan Melayu Unri, 1996.
  8. “Kebudayaan Melayu Jadi Pemersatu”, Batam Pos. 2006.
  9. “Alam Melayu, Dunia Selat (kita bangsa Hilir)”, Artikel, 2007.

4. Penghargaan

Atas karya dan dedikasinya pada kebudayaan Melayu, Yusmar Yusuf telah dianugerahi penghargaan sebagai Seniman dan Budayawan Pilihan Sagang dari Yayasan Sagang di Pekanbaru, Riau pada tahun 2005.

Website pribadi : www.riaujazzturbulence.com

Dibaca : 7.917 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password