Selasa, 25 April 2017   |   Arbia', 28 Rajab 1438 H
Pengunjung Online : 8.687
Hari ini : 74.997
Kemarin : 52.079
Minggu kemarin : 401.091
Bulan kemarin : 5.093.107
Anda pengunjung ke 102.200.799
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Edi Ruslan Pe Amanriza

a:3:{s:3:

1. Riwayat Hidup

Ediruslan Pe Amanriza (Budayawan), dilahirkan pada tanggal 17 Agustus 1947 di Bagansiapi-api, Rokan Hilir, Riau, Indonesia. Ediruslan Pe Amanriza memulai pendidikannya di Sekolah Rakyat (SR) dan di SMP Bagansiapi-api. Tahun 1961, ia masuk SHD di Medan, meskipun tidak selesai. Tahun 1962, ia masuk ke SKMA Bogor, juga tidak selesai. Pada tahun yang sama, iapun meneruskan sekolahnya di salah satu SMA di Bandung sampai tamat. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di FHPM Universitas Padjajaran Bandung hingga 1969.

Selama hidupnya, Ediruslan P Amanriza telah menjalani berbagai macam aktivitas. Mulai dari kegiatan-kegiatan sosial, organisasi kesenian dan di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Riau. Ia pernah menjadi dosen di Fakultas Sastra Universitas Lancang Kuning, Ketua Umum Dewan Kesenian Riau, Anggota DPRD Tk. I Riau, Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Tabloid Mingguan Azam di Pekanbaru, wartawan majalah Tempo, serta menjadi Ketua Harian Yayasan Lembaga Adat Seni Raja Ali Haji (Bandar Serai), Pekanbarau, Riau.

Disela-sela kesibukannya tersebut, ia tak pernah lepas dari kegiatan menulis atau kesusastraan. Ia mulai bergelut di dunia seni sejak duduk di bangku SMP, tetapi secara sungguh-sungguh menulis, baru ia lakukan sekitar tahun 1967. Sejumlah puisi, cerpen, esai, dan novel telah dihasilkan dan dimuat di beberapa media massa. Sajak-sajaknya dimuat di mingguan Mimbar Demokrasi dan majalah Mimbar Bandung. Karya-karyanya yang lain juga dimuat di harian Sinar Harapan, Haluan (Padang), Kompas, majalah Horison, dan lain sebagainya.  

Ediruslan Pe Amanriza wafat pada hari Rabu tanggal 3 Oktober 2001, sekitar pukul 12.35 WIB, di Rumah Sakit Islam Asifah Sukabumi, Pekanbaru, Riau. Ia wafat setelah tidak kuat melawan kanker paru-paru yang dideritanya selama empat bulan. Ia meninggalkan 4 orang anak dan seorang istri.

2. Pemikiran/Pengaruh

Sebagai seorang budayawan, salah satu pandangan Ediruslan Pe Amanriza tertuang dalam buku kumpulan esai yang berjudul Kita dari Pedih yang Sama. Dalam buku tersebut, ia menyatakan bahwa proses pembangunan itu adalah proses budaya. Pelaksanaan pembangunan harus selaras dengan budaya, supaya tidak menimbulkan resistensi. Pembangunan itu, pada hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia secara lebih berkualitas. Sementara, dalam proses pembangunan ada nilai-nilai baru yang harus diperkenalkan kepada masyarakat. Nilai-nilai baru ini seyogianya melalui proses pengenalan (sosialisasi) terlebih dahulu. Kalau perlu, nilai-nilai baru ini dipadukan dengan nilai-nilai lama yang berguna (akulturasi). Dengan cara itu dapat dilihat sejauh mana sesungguhnya kemampuan masyarakat menyerap nilai-nilai baru yang diperlukan bagi pembangunan yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Dalam hal ini, Ediruslan mengambil sebuah contoh yang pernah terjadi di Papua. Proyek pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah tidak selaras dengan budaya masyarakat Papua. Ketika itu, pemerintah menerapkan nilai-nilai baru ke tengah-tengah masyarakat tradisional. Pemerintah melihat, masyarakat Papua yang tinggal dalam rumah tradisional sangat mengabaikan faktor kesehatan karena tidak memiliki jendela atau ventilasi. Kemudian, mereka dibangunkan rumah modern seperti di Jawa dan Sumatera yang dilengkapi dengan jendela. Namun, rumah modern yang dianggap telah memenuhi syarat kesehatan itu, ditinggalkan oleh mereka dan kembali ke rumah lama. Apa yang salah? tanya Edi dalam esainya, ternyata rumah tradisional yang menurut pemerintah tidak memenuhi syarat kesehatan, justru merupakan antisipasi alamiah penduduk asli untuk menghindarkan diri dari serangan nyamuk malaria. Oleh karena itu Edi bersikukuh, budaya harus menjadi dasar pembangunan, bukan aspek yang harus dibangun, karena budaya hakekatnya tidak sama dengan aspek ekonomi dan politik meskipun keduanya merupakan bagian integral dari kebudayaan.

3. Karya-karya

Sebagai sosok sastrawan dan budayawan, Ediruslan P Amanriza telah menghasilkan beberapa karya berupa sajak, roman, cerpen, esai, dan novel, yaitu :

  • Vagabon, ditulis tahun 1975 (Sajak)
  • Surat-suratku kepada GN, ditulis tahun 1981 (Sajak)
  • Antara Mihrab dan Bukit Kawin, sebuah antologi bersama Taufik Ikram Jamil (tahun 1992)
  • Nyanyian Wangkang, ditulis tahun 1999 (Sajak)
  • Dikalahkan Sang Sapurba (Roman)
  • Jembatan (Kekasih Sampai Jauh), diterbitkan oleh Balai Pustaka (Prosa)
  • Nakhoda Koyan, diterbitkan oleh Balai Pustaka (Prosa)  
  • Ke Langit, diterbitkan oleh Balai Pustaka (Prosa)
  • Panggil Aku Si Sakai, diterbitkan oleh Balai Pustaka (Prosa)
  • Istana Yang Kosong (novel)
  • Manakah Sri, diterbitkan di Malaysia (novel)
  • Di Bawah Matahari, diterbitkan di Malaysia (novel)
  • Kita dari Pedih Yang Sama, diterbitkan oleh UNRI Press tahun 1999 (Kumpulan esai)
  • Aduh Riau Dilanggar Todak (Kumpulan esai)
  • Dan lain-lain.

4. Penghargaan

Atas karya dan jasa-jasanya bagi seni dan budaya, Ediruslan Pe Amanriza telah dianugerahi beberapa penghargaan, yaitu:

  • Pemenang II Sayembara Prosa, dari Dewan Kesenian Jakarta (1998)
  • Anugerah Sagang kategori Seniman Terbaik Pilihan Sagang, dari Yayasan Sagang (1998)
Kredit foto :
www.forumlingkarpena.org
Dibaca : 6.806 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password