Senin, 16 Oktober 2017   |   Tsulasa', 25 Muharam 1439 H
Pengunjung Online : 1.865
Hari ini : 21.515
Kemarin : 21.597
Minggu kemarin : 157.490
Bulan kemarin : 7.753.475
Anda pengunjung ke 103.479.657
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Armijn Pane

a:3:{s:3:

1. Riwayat Hidup

Armijn Pane lahir pada tanggal 18 Agustus 1908 di Muara Sipongi, Tapanuli Selatan, Medan. Selain “Armijn Pane”, ia memiliki beberapa nama yang lain yaitu: Ammak, Ananta, Anom Lengghana, Antar Iras, AR., A.R., Ara bin Ari, dan Aria Indra. Dengan nama-nama itu ia menulis puisi dalam majalah Pedoman Masyarakat, Poedjangga Baroe, dan Pandji Islam. Armijn Pane juga memiliki beberapa samaran seperti; Adinata, A. Jiwa, Empe, A. Mada, A. Panji, dan Kartono. Ia adalah anak ketiga dari 8 bersaudara, kakak kandung Lafran Pane dan adik kandung Sanusi Pane. Ayahnya, Sutan Pengurabaan Pane selain sebagai guru dan aktivis Partai Nasional, juga seorang seniman daerah yang pernah menulis sebuah cerita daerah berjudul Toblok Haleon.

Pendidikan formal yang pernah ditempuh Armijn Pane yaitu mulai dari Hollandsislandse School (HIS) Padang Sidempuan dan Tanjung Balai. Kemudian masuk Europese Lagere School (ELS), yaitu pendidikan untuk anak-anak Belanda di Sibolga dan Bukittinggi. Pada tahun 1923 menjadi Studen Stovia (sekolah kedokteran) di Jakarta, namun tidak selesai. Pada tahun 1927, ia pindah ke Nederlands-Indische Artsenschool (NIAS), ‘sekolah kedokteran’ di Surabaya. Jiwa seni yang terpatri dalam dirinya tidak dapat dibendung lagi sehingga ia kemudian masuk ke AMS bagian AI jurusan Bahasa dan Kesusastraan di Surakarta hingga tamat tahun 1931.

Semasa hidupnya, Armijn Pane telah melakoni beberapa pekerjaan pada  berbagai bidang, seperti di bidang pendidikan, ia tercatat sebagai guru Bahasa dan Sejarah di Perguruan Taman Siswa, di Kediri dan Jakarta. Di bidang penerbitan, sejak tahun 1933-1938, ia menjabat sebagai redaksi majalah Pujangga Baru dan mengasuh majalah Indonesia bersama Mr. St. Moh. Syah dan Boeyoeng Saleh sejak tahun 1955. Selain itu, ia juga memimpin majalah Kebudayaan Timur dan sebagai redaktur di percetakan Balai Pustaka sejak tahun 1936. Sementara di bidang seni, pernah menjabat Kepala Bagian Kesusastraan di Pusat Kebudayaan Djakarta dan  menjadi anggota Komosi Istilah (zaman Jepang), serta sebagai penganjur Balai Bahasa Indonesia. Selanjutnya, ia juga aktif dalam organisasi kebudayaan dan kesastraan, di antaranya; penganjur dan Sekretaris Lembaga Kebudayaan Indonesia (LKI), Kepala Bagian Kesusastraan di Pusat Kebudayaan, serta sebagai anggota Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN), setelah tahun 1950. Demikian pula dalam dunia film Armijn aktif sebagai anggota sensor film (1950—1955).

Di kalangan para sastrawan, Armijn Pane dikenal sebagai salah seorang pelopor pendiri majalah Pujangga Baru. Karya-karya yang telah dihasilkan oleh Armijn Pane, banyak dipengaruhi oleh beberapa pemikiran tokoh sastrawan lainnya, seperti; Noto Soeroto, Rabindranath Tagore, Krisnamurti dan pelajaran Theosofie. Selain itu, gerakan kesusastraan sesudah tahun 1880 di negeri Belanda tampak juga mempengaruhi karya-karyanya. Armijn Pane juga dikenal sebagai sosok pengarang yang berpendirian kokoh. Ia mengibaratkan keyakinannya seperti pohon beringin. Hal itu diungkapkannya pada pengantar novelnya, Belenggu seperti berikut, “kalau keyakinan sudah menjadi pohon beringin, robohlah segala pertimbangan yang lain.”

Armijn Pane meninggal dunia dalam usia 62 tahun, pada hari Senin, tanggal 16 Februari 1970 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Ia meninggal akibat terserang penyakit Pneumonic Bronchiale yaitu pendarahan otak di kepalanya. Dimakamkan di Pemakaman Karet, Jakarta, berdampingan dengan makam kakaknya, Sanusi Pane, yang meninggal satu tahun sebelumnya. Armijn Pane meninggalkan seorang istri dan seorang anak angkatnya berusia 6 tahun saat itu.

2. Pemikiran

Dalam sebuah ceramah tentang sastra pada tanggal 15-1-1970 di Taman Ismail Marzuki, Armijn Pane mengungkapkan pandangannya bahwa untuk menjadi pengarang dunia keindahan terlebih dahulu harus kita dapatkan dan harus kita memiliki sikap hidup yang tegas untuk melaksanakan tugas sebagai pengarang. Selanjutnya, ia menegaskan bahwa untuk mengarang ada beberapa langkah yang harus ditempuh yaitu; mengumpulkan bahan, mendapatkan ide, dan menyusun kerangka cerita. Dalam struktur karangan harus selalu ada tiga pihak, yaitu; yang dilawan, yang melawan, dan yang menggerakan. Di samping itu, seorang pengarang harus memiliki hati nurani, moral, dan inspirasi, yaitu inspirasi yang dikendalikan oleh pengarang, agar pengarang selalu sadar terhadap apa yang harus dilakukan.

3. Karya-karya

Sebagai sosok sastrawan dan seniman, Armijn Pane telah menghasilkan beberapa karya, antara lain:

  1. Gamelan Djiwa (Puisi), Bagian Bahasa Djawa, Kebudayaan Departemen Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan (tahun 1960).
  2. Djiwa Berdjiwa (Puisi), diterbitkan oleh Balai Pustaka, Jakarta (tahun 1939).
  3. Belenggu (Novel), diterbitkan oleh Dian Rakyat. Jakarta, Cet. XIV (tahun 1991). 
  4. Djinak-Djinak Merpati (Kumpulan Cerpen), diterbitkan oleh Balai Pustaka Jakarta, Cet. I (tahun 1940).
  5. Kisah Antara Manusia (Kumpulan Cerpen), diterbitkan oleh Balai Pustaka Jakarta, Cet I  (tahun 1953), Cet. II (tahun 1979).
  6.  “Antara Bumi dan Langit” (Drama),  Dalam Pedoman, 27 Februari 1951.

4. Penghargaan

Atas Jasa-jasanya dalam bidang seni (sastra), Armijn Pane telah diberi penghargaan Anugerah Seni dari pemerintah tahun 1969.

Kredit foto :

www.arts.auckland.ac.nz

Dibaca : 13.177 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password