Jumat, 21 Juli 2017   |   Sabtu, 26 Syawal 1438 H
Pengunjung Online : 1.977
Hari ini : 13.850
Kemarin : 75.246
Minggu kemarin : 692.982
Bulan kemarin : 6.361.067
Anda pengunjung ke 102.872.590
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Abdul Ghani Hamid

a:3:{s:3:

1. Riwayat Hidup

Abdul Ghani Hamid atau dikenal Lazuardi (nama pena), dilahirkan pada tanggal 13 April 1933, di Kampung Singlap (Kampung Bahru), East Coast Road, Singapura. Ia adalah seorang seniman (pelukis) dan sastrawan yang telah menyumbangkan banyak karya di Singapura sejak masih duduk di bangku sekolah. Sebagai seorang sastrawan, ratusan karya tulisnya berupa puisi, sajak, cerpen, dan kisah (cerita) telah dipublikasikan, baik yang berbahasa Melayu maupun Inggeris; sebagai seorang pelukis, ia telah mengikuti lebih dari 60 pameran lukisan sejak tahun 1950. Abdul Ghani Hamid memiliki seorang istri dan empat orang anak.

Pendidikan yang telah ditempuh Abdul Ghani Hamid yaitu pernah belajar di jurusan Bahasa Melayu dan Inggris. Ia juga pernah mengecap pendidikan di Raffles Institution, Teluk Kurau, Singapura (1951-1954). Di Raffles Institution, ia mulai mengembangkan minatnya untuk menulis. Di institusi ini pula, pertama kali ia menyumbangkan karya tulisnya, berupa puisi dan artikel pada majalah dan surat kabar Melayu di Singapura, dan pertama kali mengadakan pameran seni dalam acara Pesta Belia. Setiap karyanya yang diterbitkan setiap minggu mendapat bayaran $ 5 Singapura.

Setelah menyelesaikan pendidikan, Abdul Ghani Hamid bekerja di Singapore Municipality yang kemudian dikenal dengan City Council atau Public Utilities Board (PUB) hingga tahun 1988. Meskipun sibuk dengan berbagai pekerjaan, tapi minatnya dalam menulis dan melukis masih tetap dilakoni. Jika ia merasa jenuh menulis, maka ia beralih melukis, demikian pula sebaliknya. Jika pekerjaan menulis tidak memberikan inspirasi, maka ia tinggalkan ke pekerjaan melukis, dan sebaliknya. Kalau ia paksakan terus menulis ataupun melukis, tentu hasilnya tidak masksimal. Oleh karena itu, karya-karya yang dihasilkan merupakan karya tulis dan karya lukis yang sangat mengagumkan. Kemudian, tahun 1962, ia telah mendirikan Angkatan Pelukis Aneka Daya (APAD) dengan semboyan Secita Mencipta. Selain itu, ia juga aktif mengikuti berbagai kegiatan lomba seni di Singapura.

2. Pemikiran

Salah satu pemikiran Abdul Ghani Hamid yang dapat diketengahkan dalam tulisan ini adalah untuk memajukan sastra Melayu ke tingkat yang lebih tinggi, maka seorang penulis harus berani berkorban. Seperti yang pernah dilakukannya ketika hendak menyukseskan pementasan Wak Cantuk, ia rela mengorbankan uangnya sejumlah $ 7000, anugerah dari Tun Sri Lanang. 

3. Karya-karya

Sebagai seniman, Abdul Ghani Hamid telah menghasilkan banyak karya berupa cerita non-fiksi, novel, kumpulan puisi, dan drama, yaitu:

Cerita non-fiksi:

  1. Sekilas Pandang Senilukis dan Perkembangannya,  (1960).
  2. Mengenang Pak Zubir, (1988).
  3. Kegiatan Kolektif Pelukis-Pelukis Melayu, (1990).
  4. Seni Indah Masjid di Singapura, (1990).
  5. Yaakob Mohmed, (1990).
  6. An Artists Note, (1991).
  7. Harun Seorang Penulis, (1994).
  8. Kesan Citra, (1995).

Novel:

  1. Delima Merah di Jari Manis (novel, 1977).
  2. Desa Ini Hatiku, (1985).

Kumpulan puisi:

  1. Jalinan Rasa (kumpulan puisi, 1964)
  2. Mata dan Hati, (1972).
  3. Breezes: Selected Poems, (1973-1978).
  4. Nota, (1988).
  5. Fragmen 40, (1995).
  6. Tawajuh, (1997).
  7. Sepanjang Jalan Ini, (1998).
  8. A Journey With No End, 1998).

Drama

  1. Wak Cantuk, (1998).

4. Penghargaan

Atas karya dan jasa-jasanya pada seni dan sastra, Abdul Ghani Hamid telah menerima beberapa penghargaan, di antaranya:

  1. Anugerah Tun Sri Lanang (1997).
  2. Anugerah Southeast Asia Writers Award (1998).
  3. Anugerah Cultural Medallion (1999).
  4. Artikel dan Puisi pertama dimuat dalam majalah Hiburan, di Singapura (1948).
  5. Kumpulan Puisi pertama, Jalinan Kasih, (1964).
  6. Puisi berbahasa Inggris pertama dimuat dalam New Nation, (1973).
  7. Puisinya, Nilai, dimuat dalam Seri Puisi MRT,  (1996).  

 

Sumber:

http://exhibitions.nlb.gov.sg/literarypioneers/writers/malay/abdulghanihamid/
gallery_photos.php
Dibaca : 8.297 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password