Rabu, 26 April 2017   |   Khamis, 29 Rajab 1438 H
Pengunjung Online : 2.669
Hari ini : 6.533
Kemarin : 65.310
Minggu kemarin : 401.091
Bulan kemarin : 5.093.107
Anda pengunjung ke 102.211.169
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Emil Salim

a:3:{s:3:

1. Riwayat Hidup

Emil Salim dilahirkan di Lahat, Sumatera Selatan, Indonesia, pada tanggal 8 Juni 1930. Ia memiliki kecerdasan dan daya analisa yang tajam dalam mengambil kesimpulan, menyampaikan pendapat dan berargumentasi. Selain itu, ia merupakan pribadi yang terbuka, sehingga disenangi oleh banyak orang. Sebagai salah seorang peletak dasar ekonomi Orde Baru, maka ia mendapat julukan Berkeley Mafia. Ia menikah dengan Roosminnie Roza pada tahun 1958, dan dikaruniai dua orang putra dan beberapa orang cucu.

Pendidikan formal yang pernah ditempuh Emil Salim yaitu: Frobel School (1935-1946) dan Europesche Lagere School (1936-1940) di Banjarmasin, Kalimantan Tengah dan meneruskan pelajaran pada sekolah yang sama di Lahat, Sumatera Selatan (1940-1942). Ia juga pernah sekolah di Dai Ichi Syo-Gakko Pelembang (1942-1944), lalu masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Palembang (1945-1948). Setelah lulus, ia merantau ke Bogor, Jawa Barat, untuk melanjutkan pendidikan di SMA Republik (1948-1951). Kemudian masuk ke Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI), Jakarta (1951-1958). Setelah menyelesaikan studi di UI, ia dikirim ke Universitas California, Berkeley, Amerika Serikat dan berhasil meraih gelar Master of Arts (1962) dan gelar doktor (Ph.D) (1964) dengan disertasi berjudul: Institutional Structure and Economic Development.  

Emil Salim mengawali karirnya di Universitas Indonesia ketika ia diangkat sebagai asisten dosen Sumitro Djojohadikusumo. Waktu itu, ia masih tercatat sebagai mahasiswa. Kemudian, ia diangkat menjadi dosen dan selanjutnya dikukuhkan menjadi guru besar FE UI (1983). Ia juga pernah tercatat sebagai dosen Seskoad di Bandung dan Seskoal di Jakarta (1971-1973).

Selain di bidang akademik, karirnya di bidang politik juga berjalan mantap dan menuai kesuksesan. Beberapa jabatan penting yang pernah disandangnya, adalah: anggota Tim Penasehat Ekonomi Presiden (1966), anggota Tim Penasihat Menteri Tenaga Kerja (1967-1968), dan Ketua Tim Teknis Badan Stabilitas Ekonomi (1967-1969). Di samping itu, selama 22 tahun ia menyandang beberapa jabatan menteri dalam berbagai bidang, di antaranya: Menteri Negara Penyempurnaan dan Pembersihan Aparatur Negara merangkap Wakil Kepala Bappenas (1971-1973), Menteri Perhubungan (Kabinet Pembangunan II 1973-1978), Menteri Negara Urusan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (Kabinet Pembangunan III 1978-1983), Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (Kabinet Pembangunan IV-V (1983-1993), dan pernah tercatat sebagai Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN - 1999).

Emil Salim juga pernah aktif dalam berbagai organisasi, seperti Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI) Sumatera Selatan dan merangkap Ketua Tentara Pelajar Palembang (1946-1949); Ketua IPPI Bogor dan anggota Korps Mobilisasi Pelajar Siliwangi (1949); Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI) tahun 1954; anggota Kehormatan Persatuan Insinyur Indonesia (1992); Ketua Tim Screening UNDP (1999); dan Ketua Umum Yayasan Kohati. Selain itu, ia juga pernah memprakarsai translokasi gajah dari Air Sugihan ke hutan Lebong Hitam di Palembang, Sumatera Selatan (1992).  

2. Pemikiran

Sebagai pengamat ekomoni-politik, Emil Salim pernah mengungkapkan pandangannya mengenai hubungan antara penyalahgunaan kekuasaan dengan korupsi. Ia berkeyakinan, bentuk penyalahgunaan kekuasaan merupakan salah satu pemicu terjadinya korupsi. Dalam hal ini, ada keterkaitan dan saling ketergantungan antara birokrat negara dan masyarakat. Birokrat negera akan tersenyum jika jasa yang diberikan kepada masyarakat mendapat imbalan sejumlah uang, sehingga muncul istilah smiling money. Dengan demikian, para birokrat negara hanya memanfaatkan jabatannya untuk memainkan peran dengan meminta sejumlah uang dari pekerjaannya dalam melayani masyarakat.

Menurut Emil Salim, untuk memberantas praktek-praktek korupsi di kalangan birokrat, peran rakyat dalam berbagai kegiatan perlu dilibatkan secara maksimal. Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu diingatkan adanya peranan negara dan kekuatan rakyat. Emil Salim menegaskan, jika peranan negara masih kuat dibandingkan dengan kekuatan rakyat, jelas masih ada kecenderungan para birokrat melakukan praktik korupsi. Oleh karenanya, perlu adanya keseimbangan peran atau check and balance antara negara dan rakyatnya. Selain itu, media massa harus dijadikan sebagai salah satu alat kontrol agar peran negara tidak terlalu kuat. Untuk itu, setiap peran dan kiprah negara dan birokratnya harus terus dikontrol.      

3. Karya-karya

Sebagai sosok ilmuwan, Emil Salim telah melahirkan beberapa karya, di antaranya:

  1. Collection of Writings (1969-1971).
  2. Secretariat of Bappenas (1971).
  3. Perencanaan Pembangunan dan Pemerataan Pendapatan, diterbitkan oleh Idayu (1974).
  4. Masalah Pembangunan Ekonomi Indonesia (1976).
  5. Lingkungan Hidup dan Pembangunan, diterbitkan oleh Mutiara (1981).
  6. Kembali ke Jalan Lurus, Kumpulan Esei (1966-1999).
  7. Dan lain-lain

4. Penghargaan

Atas dedikasi dan jasa-jasanya, Emil Salim telah dianugerahi beberapa penghargaan, di antaranya:

  1. Pria Berbusana Terbaik (tahun 1980).
  2. Zayed International Prize for the Environment, kategori Tokoh Lingkungan Hidup, dari Yang Mulia Jenderal Sheikh Mohammad Bin Rashid Al-Matoum-Putra Mahkota Dubai, di Dubai (tahun 2006).

 

Sumber Foto:

www.tokohindonesia.co.id.
Dibaca : 7.050 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password