Sabtu, 25 Maret 2017   |   Ahad, 26 Jum. Akhir 1438 H
Pengunjung Online : 8.576
Hari ini : 60.422
Kemarin : 72.414
Minggu kemarin : 301.775
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 101.989.860
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Chalida Fachruddin

a:3:{s:3:

1. Riwayat Hidup

Chalida Fachruddin (peneliti) dilahirkan pada tanggal 24 Oktober 1941 di Pematang Siantar, Sumatera Utara, Indonesia. Ia adalah ibu dari tiga orang anak yaitu Meuthia Fadila Fachruddin (sulung), Isfan Fachri Fachruddin, dan Dian Fithri Fadila Fachruddin (bungsu), serta nenek dari tiga orang cucu yaitu Farica Amanda Fachri, Nadhila Suhaila Syahriandi,  dan Asyrafi Omar Fachri.  

Pada tahun 1991, pada usia 50 tahun, Chalida Fachruddin melanjutkan program doktor pada Jururan Antropologi dan Sosiologi di Univeristas Kebangsaan Malaysia (UKM). Setelah kurang lebih tujuh tahun belajar di UKM, pada tahun 1998, ia berhasil meraih gelar doktor (Ph.D) dengan disertasi berjudul Labuhan Deli: Organisasi Sosial Sebuah Komuniti Melayu di Sumatera Utara, Indonesia.

Kini, Chalida Fachruddin banyak berkiprah di dunia akademik dan kemasyarakatan. Ia tercatat sebagai dosen senior di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Sumatera Utara (USU). Sejak tahun 2003, ia dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang ilmu Antropologi di USU oleh menteri Pendidikan Nasional Abdul Malik Fajar. Di bidang kemasyarakatan, ia pernah melakukan penelitian mengenai komunitas Melayu di Sumut dengan cara menetap dan melibatkan diri secara langsung dalam aktifitas masyarakat setempat di perkampungan nelayan Melayu di kawasan Labuhan Deli, Medan selama setahun. Sebagai seorang dosen di Fisipol USU, ratusan mahasiswa yang dibimbingnya lebih banyak mengarahkan penelitian pada kehidupan masyarakat tradisional, seperti etnis Karo, Nias, Batak Toba, Simalungun, Pakpak Dairi, Mandailing, dan Angkola. Oleh karena itu, menjelang akhir masa studi program doktor di Malaysia, salah seorang rekannya sesama antropolog di USU, Profesor Usman Pely, menganjurkan agar Chalida menfokuskan penelitiannya pada persoalan kehidupan orang Melayu. Demikian pula, Tengku Luckman Sinar (anak Sultan Serdang), sekarang menjadi Pemangku Adat Serdang, juga memberikan saran yang serupa agar ia tetap fokus pada kehidupan orang Melayu.

2. Pemikiran

Dalam disertasinya, Chalida Fachruddin mengemukakan bahwa, saat ini kekuasaan orang Melayu sudah tidak lagi menonjol dalam kehidupan sehari-hari. Realitas ini disebabkan orang Melayu tidak memiliki sifat menantang, tapi lebih senang mengalah jika berhadapan dengan konflik. Akibatnya, mereka tidak agresif dan selalu kalah bersaing dengan etnis maupun bangsa lain, sehingga menjadi kaum minoritas di kampung sendiri.

Pada abad ke-19 M, orang Melayu pernah mencapai puncak kejayaan dan memegang roda perekonomian di kawasan perairan Malaka. Saat itu, mereka telah menguasai beberapa sektor perekonomian di kawasan tersebut, seperti perdagangan, pelayaran, maupun pertanian. Meskipun sektor pertanian dan perikanan merupakan kegiatan utama dalam sistem sosial orang Melayu, namun kegiatan tersebut belum mampu meningkatkan perekonomian mereka. Kejayaan orang Melayu waktu itu, terletak pada penguasaan sektor pelayaran dan pelabuhan-pelabuhan penting di Selat Malaka. Dengan menguasai jalur perdagangan internasional tersebut, kerajaan Melayu saat itu memainkan peran yang strategis dalam percaturan politik antaranegara. Akan tetapi, setelah penjajah Belanda datang memperkenalkan sistem penyewaan tanah (konsesi) yang sebagian besar milik para sultan Melayu, kejayaan tersebut akhirnya runtuh.

Dalam sistem penyewaan tanah tersebut, para sultan menerima uang dalam jumlah besar dari pengusaha Belanda tanpa mengeluarkan modal dan mengerjakan tanah. Kemudian, tanah milik sultan yang dikelola masyarakat untuk kebutuhan sendiri tidak bisa lagi mereka manfaatkan karena telah disewakan kepada pihak Belanda. Dengan demikian, rantai perekonomian antara sultan dan rakyatnya terputus. Sementara itu, Belanda tidak mengizinkan rakyat Melayu menentukan sendiri tanamaan yang ingin dikembangkan di tanah tersebut, sehingga rakyat Melayu terpaksa haru bekerja sebagai buruh di kebun-kebun yang telah disewa Belanda tersebut. Namun, karena sifatnya yang tidak suka diperintah, rakyat Melayu tidak mau bekerja di perkebunan tersebut dan mereka lebih memilih bekerja sebagai nelayan dan petani dengan menggarap tanah yang tidak dikuasai Belanda untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Menurut Chalida, pergeseran peran orang Melayu di sektor perekonomian tersebut tesebut berlanjut sampai sekarang. Bahkan, pada masa pembangunan pun, orang Melayu lebih senang menuruti perkataan pemimpin nonformalnya (seperti pemuka agama), daripada tunduk dan patuh kepada pemimpin formal (seperti camat atau lurah). Akibatnya, berbagai program pembangunan yang dijalankan pemerintah di kawasan Melayu tidak menuai hasil yang optimal.

3. Karya-karya

Sebagai peneliti, Chalida Fachruddin telah melahirkan beberapa karya tulis, di antaranya:

  1. Tradisi Menepi: Pengukuhan Identitas Orang Melayu di Kotamadya Medan, (1999).
  2. Pemberdayaan Perwiridan dalam Komunitas Nelayan Melayu untuk Menghasilkan Pelaksanaan Otonomi Daerah, (2000).
  3. Etos Kerja Nelayan Melayu, (2001).

4. Penghargaan

(dalam proses pengumpulan data)

Dibaca : 4.878 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password