Senin, 27 Februari 2017   |   Tsulasa', 30 Jum. Awal 1438 H
Pengunjung Online : 1.320
Hari ini : 4.762
Kemarin : 70.200
Minggu kemarin : 233.537
Bulan kemarin : 4.156.978
Anda pengunjung ke 101.811.917
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Muhammad Bukhari Lubis, H.

a:3:{s:3:

1. Riwayat Hidup

Haji Muhammad Bukhari Lubis atau Bukhari Lubis dilahirkan pada tanggal 16 Agustus 1953 di Mekkah. Kata Haji di depan namanya bukanlah sekedar gelar sebagai bukti telah menunaikan rukun Islam yang kelima, tetapi Haji sudah menjadi nama awalnya sebagaimana tertera pada akte kelahiran. Ia adalah anak bungsu dari 11 orang bersaudara dari pasangan H. Ahmad Lubis dan ibu Hajjah Tariah Nasution yang berasal dari Panyabungan, Sumatera Utara, Indonesia. Kedua orangtuanya sangat tekun beribadah sehingga bertekad kuat bisa menunaikan ibadah haji. Untuk mewujudkan impiannya, mereka pun merantau untuk mencari biaya perjalanan haji, mulai dari Sumatera Utara, kemudian ke Rao di Sumatera Barat, hingga akhirnya menetap di Perak Malaysia pada akhir tahun 1920. Berkat kegigihannya bekerja, maka pada tahun 1952, mereka sudah bisa mendaftar haji, dan setahun kemudian baru berangkat ke Mekkah bersama beberapa anaknya. Ketika hendak berangkat haji, Hajjah Taria Nasution sedang mengandung Bukhari Lubis sehingga mereka harus menetap di Mekkah selama 3 bulan menunggu kelahiranya. Setelah beberapa waktu dilahirkan, Bukhari Lubis (masih bayi) bersama keluarganya kembali ke Perak, Malaysia.

Sejak kecil, Bukhari Lubis sudah mendalami pendidikan agama dari ibunya, seperti membaca Alquran dan ibadah lainnya. Selain itu, ibunya mendidiknya agar senantiasa mengenakan kopiah dan sarung, dan membiasakan membaca surat Yasin setiap malam Jumat. Kemudian, ibunya juga sering bercerita tentang ajaran tarekat (tasawuf) di Mandailing, Sumatera Utara. Berkat didikan ibunya, ia terdorong untuk masuk ke sekolah menengah agama Izzuddin Shah Ipoh dan Kolej Islam Klang. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) tahun 1973. Selama kuliah di UKM, ia pernah mendapat pelajaran dari 2 (dua) cendekiawan Indonesia, yaitu Buya Hamka dan Zakiah Darajat. Kemudian, ia melanjutkan ke jenjang S-2 pada bidang sastra Islam di Universitas Chicago, Amerika Serikat. Di sana, ia sempat berteman akrab dengan Amien Rais dan Ahmad Syaifii Maarif melalui kegiatan keislaman, seperti mengikuti pengajian Tarekat Naqshahbandiyah setiap malam Jumat. Setelah meraih gelar master tahun 1980, ia kembali kuliah jenjang S-1 di Universitas Nasional Jakarta, cabang Kuala Lumpur dan selesai tahun 1984. Kemudian, pada tahun 1989, ia berhasil meraih gelar doktor (Ph.D) dari Universitas California, Amerika Serikat, disertasinya tentang perbandingan Puisi Sufi dengan doktrin Wahdat al-Wujud di Persia, Turki dengan Melayu.  

Bukhari Lubis mengawali karirnya sebagai dosen di UKM pada tahun 1980. Setelah pensiun dini dari UKM, ia kemudian menjadi dosen kontrak di Universiti Pendidikan Sultan Idris Tanjung Malim, Perak, Malaysia. Selain itu, ia juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya: Ketua I Sastrawan Perak; Wakil Ketua Persatuan Seni Khat Kebangsaan; Anggota Persatuan Kesusastraan Bandingan Malaysia; Nadwah Persuratan Islam se-Malaysia; Pengarah Perbadanan Perpustakaan Umum Perak; dan Anggota Kehormatan Rabit al-Adab al-Hadith bil-Qariah dan Peivand Society.

2. Pemikiran

Salah satu pemikiran Bukhari Lubis yang dapat diketengahkan dalam tulisan ini, yaitu berkaitan dengan Sastra Islam sebagaimana tertuang dalam disertasi doktornya. Dalam disertasi tersebut, ia menilai sebagian umat Islam menghayati agamanya hanya sebatas ibadah, belum menghayati sebagai sesuatu yang besar dan menjadi nilai hidup. Sebagai contoh, tidak adanya usaha untuk mengembangkan tradisi sastra di kalangan pemeluk agama Islam. Padahal, sastra merupakan bagian dari keindahan dalam Islam, dan hal itu tidak bisa dinafikan. Bukhari Lubis menemukan tidak adanya minat di kalangan kaum tarekat, terutama di Malaysia untuk menumbuhkan tradisi menulis puisi, khususnya pengagungan pada Tuhan (sufisme). Berbeda dengan masa keemasan Islam pada abad silam yang telah melahirkan beberapa sastrawan, seperti Jalal al-Din Rumi, Hazif, dan Syekh Sadi, dimana karya-karya mereka telah memberikan sumbangan besar bagi pencerahan spiritualisme. Menurut Bukhari Lubis, hal itu terjadi disebabkan adanya anggapan dari sebagian umat Islam bahwa, sastra itu haram dengan mengaitkan salah satu ayat Alquran yang menyebutkan penyair itu teman setan. Ia menyanggah anggapan tersebut, karena mereka membaca ayat tersebut sepotong, tidak sampai selesai. Inilah salah satu realitas yang sering terjadi di kalangan sebagian umat Islam, dalam memaknai ayat Alquran mereka tidak melihat ayat itu secara utuh. Dengan demikian, penyempitan pemikiran dalam Islam ini menyebabkan zaman keemasan budaya Islam sulit dibangkitkan kembali.

3. Karya-karya

Sebagai sastrawan, Muhammad Bukhari Lubis telah melahirkan beberapa karya, di antaranya:

  1. Kesusastraaan Bangsa-Bangsa Islam: Sebuah Bunga Rampai, Kuala Lumpur: Karisma Publications Sdn. Bhd.
  2. Bunga Rampai Sastera Parsi, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia (1990).
  3. Persuratan Islam, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia (1990).

4. Penghargaan

Atas karya dan jasa-jasanya, Bukhari Lubis telah dianugerahi beberapa penghargaan, antara lain:

  1. Khidmat Cemerlang dari Universiti Kebangsaan Malaysia (1992).
  2. Pingat Darjah Ahli Mahkota Perak (1996)
  3. Khidmat Masyarakat Universiti Kebangsaan Malaysia (1999).
  4. Hadiah Sastra Perdana Malaysia DBP (1998/1999).
Dibaca : 7.578 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password