Kamis, 30 Maret 2017   |   Jum'ah, 2 Rajab 1438 H
Pengunjung Online : 1.720
Hari ini : 10.365
Kemarin : 33.260
Minggu kemarin : 569.905
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 102.020.773
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Tengku Dahril

a:3:{s:3:

1. Riwayat Hidup

Tengku Dahril dilahirkan di Pelalawan, Riau, Indonesia, pada tanggal 6 Januari 1954, dari pasangan Tengku Said Albenawar dan Hj Tengku Syarifah Maimunah. Ia menikah dengan Hj. Tengku Khairani dan telah dikaruniai empat orang anak, yaitu: H T Adriansyah (sulung), Hj. T Devi Eustiarina, Hj. T Sriharma Yanti dan T. Muhammad Rafianda Habibie Dahril (bungsu).  

Pendidikan formal yang pernah ditempuh Tengku Dahril mulai dari Sekolah Dasar (SD) tahun 1966, Sekolah Menengah Pertama (SMP) tahun 1969 di Pelalawan, dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Selatpanjang tahun 1972. Selanjutnya, pada tahun 1976, ia meraih gelar Sarjana Muda pada Fakultas Perikanan Universitas Riau (Unri). Setahun kemudian, tahun 1977, ia melanjutkan studi program sarjana pada Jurusan Teknik Penangkapan Ikan di Fakultas yang sama, dan berhasil meraih gelar Sarjana Perikanan (Ir) pada tahun 1978. Setelah itu, ia mendapat beasiswa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jepang untuk melanjutkan studi program master pada Jurusan Oceanografi, Fakultas Perikanan Universitas Nagasaki, Jepang pada tahun 1979,  atas rekomendasi dari seorang dosen seniornya Prof. Dr. H. Muchtar Ahmad MSc. Di bawah bimbingan Prof. Dr. Shoji Iizuka, ia meraih gelar Master of Science (MSc) pada tahun 1981, dengan studi kasus mengenai Red Tide Plankton. Pada tahun 1991, Tengku Dahril meraih gelar doktor (Ph.D) pada bidang Ilmu Kelautan (Marine Science) di Gradute School of Marine Scince and Engineering, Nagasaki University, Jepang atas biaya Japan Society for the Promotion of Science (JSPS).

Ketika masih kuliah di Universitas Riau, Tengku Dahril pernah tercatat sebagai mahasiswa teladan tahun 1977, dan mendapat undangan dari Presiden RI menghadiri acara Peringatan Detik-detik Proklamasi di Istana Negera bersama mahasiswa teladan lainnya dari seluruh Indonesia. Sebagai mahasiswa berprestasi, ia kemudian diangkat sebagai asisten dosen di Fakultas Perikanan Universitas Riau, Sekretaris Lembaga Penelitian Fakultas, sekaligus Kepala Perpustakaan Fakultas. Setelah meraih master tahun 1981, ia diangkat sebagai dosen tetap di Fakultas Perikanan Unri dan sebagai Sekretaris Jurusan Akuakultur hingga tahun 1984. Setelah itu, ia menjabat sebagai Ketua Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan (1985-1988). Selain itu, jabatan penting lain yang pernah disandangnya yaitu: sebagai ketua Kelompok Studi Pengembangan Wilayah Perairan, anggota Tim Perencanaan (SP4) Unri; ketua Stasion Penelitian Pengembangan Wilayah Perairan Umum di Desa Kampung Pinang; dan penyusun rencana pembangunan Marine Station di Dumai. Di tempat lain, ia dipercaya sebagai Sekretaris Pusat Kajian Pembangunan Pedesaan (FKPP) di Universitas Islam Riau (1981-1984); sebagai Direktur FKPP (1985-1988); dan  Dekan Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau (1985-1988).

Setelah meraih gelar Doctor (PhD) dari Universitas Nagasaki Jepang pada tahun 1991, Tengku Dahril diangkat lagi menjadi Dekan Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau. Setahun kemudian, tahun 1992, ia diangkat sebagai Pembantu Rektor I bidang Akademis, dan sebagai Rektor selama dua periode (1993-2001). Pada tahun 1994, ia pernah menggagas dan mengetuai Pelaksanaan Kongres Nasional Pertama Alquran dengan tema “Alquran, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta Upaya Peningkatan Kesejahteraan Ummat”. Kemudian, tahun 1995, ia dipromosikan sebagai Guru Besar Madya oleh senat Universitas Riau dan diangkat sebagai Guru Besar penuh dalam bidang kimia air laut dan planktonologi (1998). Dalam tahun 1998, ia juga pernah menggagas sekaligus memimpin panitia pembentukan Kabupaten Pelalawan bersama tokoh masyarakat lainnya. Tahun 2000, dipercaya oleh Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Melayu Riau untuk menjadi Ketua Panitia Pengarah Kongres Rakyat Riau II. Tahun 2001, sebagai Wakil Ketua Dewan Eksekutif di Perguruan Tinggi Islam. Sejak tahun 2004, ia diminta oleh Gubernur Riau H. M. Rusli Zainal untuk menjabat Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau. Disamping itu, ia juga sering mendapat undangan dari luar negeri untuk menghadiri berbagai forum penting, di antaranya menghadiri Konferensi Internasional Federasi Perguruan Tinggi Islam Sedunia di Rabat, Moroko (1998); dan menghadiri undangan dari Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Raja Abdullah dalam konferensi Islam internasional mengenai perpustakaan Islam di Riyad untuk membawakan makalah.  

Di bidang organisasi, Tengku Dahril juga pernah memegang beberapa jabatan penting, yaitu sebagai wakil Koordinator Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Pekanbaru sejak 1982, dan sebagai Koordinator sejak 1994 hingga sekarang; Ketua Pusat Inkubasi Usaha Kecil (PINBUK) Riau; dan sejak  2006, menjabat sebagai Ketua Umum ICMI Riau. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Biro Cendekiawan, Penelitian dan Lingkungan Hidup Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Provinsi Riau. Disamping itu, ia juga aktif dalam beberapa organisasi profesi, seperti The Plankton Society of Japan, The Japanese Society of Fisheries, Limnology and Oceanography Society of America, Asian Fisheries Society (AFS), Ikatan Perikanan Indonesia (Ispikani), Ikatan Umum Alumni Terubuk, dan Persatuan Insinyur Indonesia, serta anggota kehormatan The Japan Society the Promotion of Science (JSPS).

Tengku Dahril juga aktif melakukan penelitian di berbagai bidang dan menyampaikan makalah dalam pertemuan ilmiah. Pada tahun 1988 dan 1990, ia pernah mendapat bantuan biaya penelitian dari International Foundation of Science, Swedia, dan biaya penelitian dari USAID. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di berbagai jurnal dan buku, serta telah diseminarkan dalam berbagai forum ilmiah baik di dalam maupun di luar negeri, seperti di Pekanbaru, Medan, Jakarta, Bogor, Semarang, Malang, Makassar, Fukuoka, Tokyo, Rabat, Riyad, dan Manila. 

Semenjak menjabat Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau, tahun 2004, Tengku Dahril sibuk dengan pencanangan sebuah program khusus untuk mengentaskan kemiskinan melalui pengentasan kebodohan. Untuk itu, ia telah mencanangkan berbagai program khusus, di antarnya wajib belajar 9 tahun yang harus tuntas akhir tahun 2008. Selain itu, untuk meningkatkan mutu pendidikan, fokus utama yang menjadi perhatiannya adalah peningkatan jumlah, mutu serta kesejahteraan para guru. Maka, pada tahun 2005 yang lalu, diadakan pengangkatan 1.100 orang guru tidak tetap untuk Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kemudian, menyekolahkan 2.000 orang guru Sekolah Dasar ke jenjang S1. Untuk itu, ia telah mengadakan kerja sama dengan berbagai Universitas, seperti Universitas Terbuka, FKIP Unri, Universitas Pendidikan Indonesia Bandung dan Universitas Terbuka Malaysia. Peningkatan mutu pendidikan juga diupayakan dengan membangun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang baru dan mengembangkan yang sudah ada. Tidak hanya itu, ia juga meningkatkan fasilitas sekolah dan membangun pusat-pusat keunggulan di setiap kabupaten dan kota se-Riau, sehingga para lulusannya diharapkan mampu bersaing secara regional, nasional, dan bahkan internasional.

2. Pemikiran

Salah satu ide dan gagasan Tengku Dahril yang dapat diketengahkan dalam tulisan ini, yaitu mengenai peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Ide dan gagasan ini tertuang dalam karyanya, Lentera Menuju Insan Kamil: Gagasan Membangun SDM Riau pada bagian pengantar. Tengku Dahril mengemukakan, salah satu tujuan pendidikan yaitu menghasilkan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki akhlak yang mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, untuk membangun Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, maka jiwa dan raga manusia harus dibangun dengan ditopang oleh iman dan taqwa. Bangsa yang cerdas dan berkualitas adalah bangsa yang beriman dan bertaqwa, berbudi pekerti luhur, berilmu dan berwawasan luas, sehat dan suka bekerja keras, serta memiliki budaya, estetika dan peradaban yang tinggi. Manusia yang cerdas mampu memikirkan secara jernih segala hal yang di sekitarnya yang diciptakan Allah SWT, termasuk yang ada pada dirinya sendiri. Kemudian, hasil pemikiran tersebut, dikelola dan dimanfaatkan bagi kesejahteraan diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negaranya.  

3. Karya-karya

Sebagai intelektual, Tengku Dahril telah melahirkan beberapa karya, di antaranya:

  1. Islam, Ekonomi Kerakyatan dan Melayu, (kumpulan tulisan mingguan di harian Riau Pos),  Riau, 2004.
  2. Lentera Menunju Insan Kamil (Gagasan Membangun SDM Riau), Riau: Yayasan Taman Karya (Takar), 2005.
  3. Dll.

4. Penghargaan

Atas kiprah dan jasa-jasanya dalam dunia pendidikan, Tengku Dahril telah dianugerahi beberapa penghargaan, di antaranya:

  1. Dosen Teladan di Fakultas Perikanan Universitas Riau dari Rektor Universitas Riau (1984).
  2. Dosen Teladan II Tingkat Universitas Riau dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (1984).
  3. Satya Lencana Karya Satya 20 Tahun, kategori sebagai PNS tanpa cacat dari Presiden Republik Indonesia (1997).
Dibaca : 7.562 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password