Selasa, 28 Februari 2017   |   Arbia', 1 Jum. Akhir 1438 H
Pengunjung Online : 2.510
Hari ini : 12.580
Kemarin : 50.301
Minggu kemarin : 233.537
Bulan kemarin : 4.156.978
Anda pengunjung ke 101.819.915
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Abdullah Hussain

a:3:{s:3:

1. Riwayat Hidup

Abdullah bin Hussain dilahirkan pada tanggal 25 Maret 1920 di Sungai Limau Dalam, Yan, Kedah Darul Aman, Malaysia. Ia adalah sastrawan Malaysia yang terkenal memiliki banyak pengalaman dan menguasai beberapa bahasa asing.

Ketika berusia 6 tahun, Abdullah bin Hussain mulai belajar di Sekolah Melayu, Sungai Limau, dan selesai tahun 1931. Setahun kemudian, tahun 1932, ia meneruskan pedidikan di Sekolah St. Michael, Alor Setar hingga lulus kelas tujuh, tahun 1935. Pada tahun 1943, ia mengikuti kursus di Syonan Koa Kunrenzo (Sekolah Latihan Pegawai Tinggi) selama tiga bulan di Singapura.

Abdullah bin Hussain mengawali karirnya sebagai pembantu kasir pada perusahaan penggalian biji logam di Pahang tahun 1939. Pada tahun yang sama, ia pindah ke Pulau Pinang bekerja di surat kabar Sahabat. Di Pulau Pinang, ia senantiasa mendapat dorongan menjadi penulis dari Ahmad Noor Abdul Shukoor, seorang penulis terkenal pada waktu itu. Selain itu, ia juga aktif dalam perkumpulan surat kabar Sahabat yang kerap mengadakan pertemuan sesama penulis di Utara Semenanjung. Setelah itu, ia melahirkan dua buah karya cerita berjudul Binti Penghulu dan Harta dan Jodoh Menanti di England yang dimuat dalam surat kabar Sahabat. Tahun 1940-1941, ia bekerja sebagai asisten penulis pada surat kabar Saudara di Pulau Pinang, dan menerbitkan dua buah karya novelnya berjudul Kasih Isteri dan Dia dan Kekasihku.

Abdullah bin Hussain mulai bergelut di bidang politik, ketika ia bekerja sebagai pegawai di Kementerian Tentara Inggris di Sungai Petani, Kedah, hingga kedatangan tentara Jepang tahun 1942. Namun, sebelum tentara Jepang menduduki Kedah, ia dibawa oleh pasukan Fujiwara Kikan ke Kuala Lumpur. Selanjutnya, ia dikirim ke Sumatera, Indonesia sebagai fifth columnis (mata-mata) dan diberi tugas di Gunseikanbu. Setelah itu, ia dikirim ke Singapura mengikuti kursus di Syonan Koa Kunrenzo selama tiga bulan. Selesai kursus, ia kembali ke Aceh, Sumatera, dan dilantik sebagai pegawai Gunseibu di Langsa. Selama di Aceh, ia mendirikan surat kabar Acheh Shimbun dan menjadi koresponden di surat kabar Sumatera Shimbun. Selain itu, ia juga mengikuti beberapa lomba mengarang roman sejarah dan cerpen. Pada tahun 1943, ia meraih juara kedua dalam lomba mengarang cerpen di Aceh dengan judul Manusia Baru.

Setelah Perang Dunia Kedua usai, Abdullah kembali aktif dalam dunia politik, ketika ia diangkat sebagai Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Langsa. Setelah itu, ia dilantik sebagai Kepala Daerah Langsa. Pada tahun 1947, ia dipercaya sebagai Kapolda di Pulau Sabang dan merangkap sebagai Wakil Kepala Bagian Penelitian Kemasyarakatan di Kepolisian. Pada tahun 1948, ia diutus ke Pulau Pinang sebagai agen pemerintah daerah Aceh sebagai Pengurus Cordoba Trading Co (perusahaan ekspor- impor). Ia juga pernah menjadi Pengurus Pacific Trading Co. yang bertugas sebagai agen penyelundupan senjata ke Indonesia di Phuket, Thailand hingga tahun 1949. Tahun 1951, ia kembali ke Medan, Sumatera menjadi penulis di majalah Puspa. Pada acara perayaan Hari Buruh di Medan, ia mengikuti lomba menulis cerpen dengan karya Kario Buruh Kebun. Dalam lombat tersebut, ia keluar sebagai juara pertama. Pada tahun yang sama (1951), Abdullah Hussain meninggalkan Medan menuju ke Singapura menjadi pegawai di Perusahaan Perkapalan Acheh Trading and Shipping Company yang berpangkalan di sana.

Setelah itu, Abdullah bin Hussain lebih banyak meluangkan waktu dan berkonsentrasi pada bidang penerbitan dan penulisan, di antaranya sebagai koresponden di surat kabar Merdeka dan Berita Indonesia, dan majalah mingguan Merdeka (terbitan Jakarta); pengurus Empiric Film Company; penulis di majalah Bintang dan Film, dan surat kabar Semenanjung; pengurus penerbitan P.Ramlee yang diterbitkan oleh Malay Film Production di Singapura. Di sela-sela kesibukannya, ia juga masih sempat mengadakan kunjungan ke luar negeri. Pada tahun 1957, ia berkunjung ke Saigon sebagai wakil Darul Islam menemui Presiden Ngo Dhien Dhiem dan Presiden Negara Vietnam. Selain itu, ia juga pernah berdomisili di Hong Kong selama beberapa bulan.

Pada tahun 1961, Abdullah bin Hussain pindah ke Kuala Lumpur Malaysia bekerja di penerbitan Oxford University Press sebagai asisten penulis hingga tahun 1964. Dari tahun 1965 hingga 1968, disamping editor pada majalah Angkatan Baru, ia juga bekerja di Franklin Books Programme sebagai asisten penulis. Tahun 1968, ia bekerja di Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, awalnya hanya sebagai asisten penulis, kemudian tahun 1972, ia diangkat menjadi penulis, dan merangkap Pegawai Peneliti di Bagian Pembinaan dan Pengembangan Sastra. Selain itu, ia juga menjadi editor pada beberapa majalah, di antaranya Dewan Masyarakat, Dewan Bahasa, Dewan Sastra, dan Penulis. Ia juga pernah menjadi juru bicara di Persatuan Penulis Nasional (PENA). Sejak itu, Abdullah Hussain banyak melahirkan tulisan cerpen yang bersifat kreatif (pengembangan bakat) yang dimuat dalam Dewan Sastra tahun 1972 dan 1973. Kemudian, tahun 1978-1979, ia dipercaya sebagai Ketua Unit Bahasa dan Sastra di Dewan Bahasa dan Pustaka cabang Sabah di Kota Kinabalu, merangkap pemimpin majalah Dewan Perintis untuk edisi Sabah. Tahun 1979, ia menjadi pakar peneliti di Universitas Sains Malaysia, Pulau Pinang. Tahun 1982, ia bekerja di Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei sebagai Pegawai Bahasa Utama, merangkap Kepala Bagian Pembinaan dan Pengembangan Sastra, serta ketua editor pada majalah Bahana dan Mekar. Selain itu, ia juga pernah menjadi karyawan Tamu Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia pada tahun 1993-1994 dan 1995-1996.  

Ketika masih sebagai penulis pemula, Abdullah bin Hussain banyak membaca karya-karya sastra dari Indonesia, Thailand dan Rusia, yang kemudian memberikan pengaruh pada karya-karyanya. Karya novelnya, Terjebak, Peristiwa dan Aku Tidak Minta, yang memiliki unsur-unsur seram, tragis dan lucu, merupakan inspirasi dan pengalaman yang ia peroleh dari Indonesia dan Thailand. Novel-novelnya yang tebal, merupakan inspirasi dari novel-novel tebal karya sastrawan Rusia. Setelah hampir 40 tahun menulis, Abdullah Hussain masih terus menyumbangkan karya-karyanya pada kesusastraan Melayu yang seakan-akan tidak pernah kekeringan ilham dan tenaga. Karya sastra yang telah ia hasilkan meliputi berbagai genre (bentuk), seperti cerpen, novel, drama, terjemahan, outobiografi maupun biografi. Berkat usaha keras, ia telah menerjemahkan beberapa karya sastra dunia, seperti novel Angin Timur Angin Barat dan Bumi Bertuah (karya Pearl S. Buck), Mutiara (karya Steinbeck), Orang Tua dengan Laut (karya Hemingway) dan Lorong Midaq (karya Naguib Mahfouz). Selain itu, ia juga telah melahirkan beberapa buku biografi tokoh-tokoh Melayu, seperti P. Ramlee (seniman), Za’ba (ahli bahasa Melayu), Tun Datu Haji Mustapha (politikus dari Sabah), dan Harun Aminurrashid (sastrawan).

2. Pemikiran

Sebagai sastrawan berpengalaman, Abdullah bin Hussain selalu menampilkan berbagai karakter suku-bangsa dalam menulis novel-novelnya, karena ia melihat kondisi sosial-budaya masyarakat Malaysia yang sangat heterogen. Oleh karena itu, salah satu cara untuk mempersatukan masyarakat tersebut adalah dengan menggunakan bahasa persatuan, yakni bahasa Melayu. Melalui bahasa Melayu, seluruh masyarakat Malaysia menjadi terikat dalam suatu hubungan persaudaraan sebagai satu bangsa yaitu bangsa Malaysia.

3. Karya-karya

Sebagai sastawan, Abdullah bin Hussain telah melahirkan banyak karya berupa novel, esei, drama, terjemahan, autobiografi, biografi dan buku-buku umum, di antaranya:

a. Novel

  1. Dia...Kekasihku. Johor Baru: The Annies Printing Works, 1941.
  2. Kasih Isteri.  Johor Baru, The Annies Printing Works, 1941.
  3. Amin Pemuda Desa.  Pulau Pinang: Angkatan Baru, 1947.
  4. Berenang di Lautan Madu. Singapura: Geliga Limited, 1957.
  5. Kalau Tidak Kerana Tuan. Singapura: Geliga Limited, 1957.
  6. Jangnlah Jangan. Kuala Lumpur: Angkatan Baru, 1964.
  7. Si Bulat Pemuda Desa. Diterbitkan Terang Bulan, 1964.
  8. Terjebak. Kuala Lumpur: Angkatan Baru, 1964.
  9. Peristiwa. Kuala Lumpur: Angkatan Baru, 1965.
  10. Rantau Selamat. Kuala Lumpur: Angkatan Baru, 1965.
  11. Interlok. Kuala Lumpur: Angkatan Baru, 1971.
  12. Intan. Kuala Lumpur: Angkatan Baru, 1973.
  13. Noni. Kuala Lumpur: Utusan Melayu, 1976.
  14. Buih di Atas Air. Kuala Lumpur: Utusan Publication & Distributors Sdn. Bhd., 1980.
  15. Masuk ke Dalam Cahaya. Kuala Terengganu: 1983.
  16. Imam. Kuala Lumpur: Utusan Publication & Distributors Sdn. Bhd., 1995.
  17. Cerpen: Hadiah (bersama A. Bakar Hamid). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1973.
  18. Jejak Langkah (bersama Imail Ahmad). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1975.
  19. Koleksi Cerpen-cerpen Malaysia (antologi bersama). Kuala Lumpur: Universiti Malaya, 1977.
  20. Kota ke Kota. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1977.
  21. Sebuah Impian (antologi bersama). Kuala Lumpur: PENA Sdn. Bhd., 1979.
  22. Tinta Pena (antologi bersama). Kuala Lumpur: PENA Sdn. Bhd., 1981.
  23. Bunga Gunung (antologi bersama). Kuala Lumpur: Berita Publishing Sdn. Bhd., 1982.
  24. Sebuah Pekan Bersama Semporna. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1982.
  25. Menunggu Ratu Adil (antologi bersama). Kuala Lumpur: Abadi Sdn.Bhd., 1984.
  26. Dongeng Merdeka (antologi bersama). Petaling Jaya: Fajar Bakti Sdn.Bhd., 1985.
  27. Dari Kota Cahaya. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka 1997.

b. Drama

  • Di Atas Pentas (antologi bersama). Kuala Lumpur: Tra-tra Publishing & Trading Sdn.Bhd., 1984.

c. Esei/Kritik

  • Penulisan Cerpen: Kaedah dan Pengalaman. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1980.

d. Autobiografi

  • Sebuah Perjalanan. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1984.

e. Biografi

  1. P. Ramlee Seniman Agung. Kuala Lumpur: Utusan Melayu (M) Bhd., 1973.
  2. Pendeta Za’ba dalam Kenangan (bersama Khalid Hussain). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
  3. Harun Aminurrashid: Pembentuk Semangat Kebangsaan. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1982.

f. Terjemahan

  1. Orang Tua dengan Laut (karya Ernest Hemingway). Kuala Lumpur: Oxford University Press, 1961.
  2. Bumi Bertuah (karya Pearl S. Buck). Kuala Lumpur: Pustaka Antara, 1962.
  3. Mutiara (karya Johan Steinbeck). Kuala Lumpur: Oxford University Press, 1962.
  4. Angin Timur Angin Barat (karya Pearl S. Buck). Kuala Lumpur: Pustaka Antara, 1964.
  5. Lorong Midaq (karya Naguib Mahfouz). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1984.

g. Buku-buku Umum

  1. Kamus Istimewa Peribahasa Melayu. Kuala Lumpur: Oxford University Press, 1965.
  2. Kamus Simpulan Bahasa. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1966.
  3. Balabatu dan Lain-lain, Kata Sembunyi. Singapura: Harmy Press, 1959.
  4. Bunga Bahasa. Singapura: Malay Publishing House Ltd., 1961.
  5. Pertemuan Sasterawan Nusantara V (bersama Mohd. Shahri Hussin). Bandar Seri Begawan: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1981.
  6. Canai Budi (kumpulan peribahasa). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka,1997.

4. Penghargaan

Atas karya dan jasa-jasanya pada sastra, Abdullah bin Hussain telah dianugerahi beberapa penghargaan, di antaranya:

  1. Hadiah Novel Nasional dari Syarikat Utusan Melayu dan Public Bank Berhad (1992/1994).
  2. Hadiah Sastra Malaysia dalam novel Imam (1994/1995).
  3. Anugerah S.E.A. Write Award di Bangkok (1981).
  4. Anugerah Sastra Negara Malaysia ke-8 (1996).
  5. Pingat Jawa Hukom Ngon Adat Lembaga Kebudayaan Aceh (LAKA) (1995).
  6. Darjah Kebesaran Dato’ Setia Diraja Kedah (DSDK) dengan gelar Dato’ (1995)
Dibaca : 14.593 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password