Rabu, 22 Februari 2017   |   Khamis, 25 Jum. Awal 1438 H
Pengunjung Online : 3.946
Hari ini : 16.153
Kemarin : 51.860
Minggu kemarin : 233.537
Bulan kemarin : 4.156.978
Anda pengunjung ke 101.769.736
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Isa Kamari

a:3:{s:3:

1. Riwayat Hidup

Isa Kamari dilahirkan pada tanggal 19 Mei 1960 di Singapura. Disamping sebagai penyair, ia juga penulis produktif yang telah menghasilkan banyak karya dalam berbagai genre, seperti cerpen, puisi, cerita drama, novel dan esei sastra. Di antara genre tersebut, yang paling menonjol adalah penulisan novel. Isa Kamari pantas mendapatkan pujian karena novel-novelnya memiliki gaya intertekstual dan semiotik yang bagus dan muncul di tengah-tengah ketandusan novel di Singapura.

Isa Kamari pernah mengenyam pendidikan di Institut Raffles dan Maktab Rendah Nanyang di Singapura. Pada tahun 1985, ia meraih gelar Sarjana Muda di bidang Sastra dari Universitas Nasional Singapura. Tahun 1988, ia meraih gelar Sarjana Muda (B. Arch.) di bidang Senibina dari universitas yang sama. Saat ini, ia sedang menjalani program Master Falsafah (M.Phil.) dalam kajian Sastra di Pusat Pengkajian Bahasa, Kesusastraan dan Kebudayaan, Universitas Kebangsaan Malayasia (UKM).

Pada tahun 1988-1993, Isa Kamari bekerja sebagai arsitek di Lembaga Perumahan dan Pembangunan (HDB). Tahun 1993-1996, ia bekerja di sebuah perusahaan senibina di Singapura. Sampai saat ini, ia bekerja sebagai arsitek utama di Departemen Pengangkutan Darat (LTA) di Singapura. Selain itu, Isa Kamari juga memegang beberapa jabatan penting, di antaranya anggota Lembaga Pengarah Arsip Negara; panitia pelaksana Festival Seni Singapura; panitia Pelaksanaan Galeri Seni Negara; dan anggota khusus Penggalakan Bahasa Melayu di Kementerian Pendidikan Singapura. 

Dalam konteks kesusastraan, Isa Kamari mulai menggumuli dunia sastra ketika masih di bangku sekolah. Pada tahun 1979, sajak pertamanya telah dimuat dalam majalah Berita Minggu Singapura. Setelah itu, karya-karyanya juga dimuat dalam majalah Dewan Sastra dan Lianhe Zaobao, berupa antologi bersama, di antaranya Tiga Warna Bertemu, Terminal Terakhir, Singa, Literature in Singapore, The Fiction of Singapore, Anthology of Asean Literature, Journeys, Antology of Singapore Poerty, dan New Nation. Selain itu, beberapa sajak dan novelnya juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Mandarin, seperti novel Satu Bumi diterjemahkan ke bahasa Mandirin dengan judul Yi Pien Re Tu, diterbikan pada tahun 1999.

Di sela-sela kesibukannya, Isa Kamari juga memiliki beberapa kegiatan lain, di antaranya menulis naskah drama, teater dan lirik lagu; menerbitkan album lagu dan video dokumentasi; membaca puisi dan membawakan makalah dalam seminar di beberapa negara; dan mengadakan diskusi tentang penulisan kreatif untuk murid-murid sekolah di Singapura. Saat ini, Isa Kamari dalam menjalani aktifitasnya, ia senantiasa mendapat dukungan dan doa dari istri dan kedua putrinya.

2. Pemikiran

Sebagai sastrawan kontemporer, Isa Kamari selalu berusaha memperbaiki dan menyempurnakan karya-karyanya. Usaha ini telah ia lakukan pada keempat novelnya, yaitu Satu Bumi, Kiswah, Menara dan Tawassul.

Novel pertama Satu Bumi telah dicetak ulang pada tahun 2002, karena adanya perubahan-perubahan, khususnya pada catatan sejarah. Pencetakan ulang dilakukan agar dapat menguatkan cerita dan menghindari kesalahpahaman dan kekeliruan yang terdapat pada edisi pertama yang dicetak tahun 1998.

Novel kedua Kiswah yang dicetak tahun 2002, sudah lebih baik dibandingkan dengan novel sebelumnya Satu Bumi, karena gaya bahasa yang digunakan lebih indah, puitis dan memiliki nilai estetika yang tinggi. Selain itu, ia juga telah berani menyentuh persoalan-persoalan seksual yang dianggap pantang (tabu) dibicarakan yang bisa menimbulkan perbedaan pemahaman di kalangan pembaca dan kritikus, khususnya di Singapura. 

Novel ketiga Menara, Isa Kamari menyodorkan sebuah karya kepada pembaca dengan suatu pengalaman baru. Dalam karya ini, ia mencoba mengarungi sebuah alam yang disebut alam igauan (khayalan). Menurutnya, karya ini tergolong sukar karena menuntut kesabaran dan ketekunan dari pembaca.

Novel keempat Tawassul, muncul menggegerkan dunia kesusastraan dan keagamaan masa kini di Singapura. Kehadiran karya ini merupakan sebuah usaha yang berani, penting dan perlu untuk direnungkan. Ia berusaha membawa pembaca beranjak dari situasi dan kondisi sosio-kultural masyarakat Singapura ke situasi yang baru, yang digambarkan sebagai suatu kawasan pedalaman, jauh dari peradaban dunia. Dalam hal ini, ia memancing minat pembaca untuk memikirkan dan menyelidiki hubungan antara institusi kenabian, ilmu pengklonan dan penafsiran sejarah.

Untuk menciptakan karya yang baik, Isa kamari memiliki empat ciri khas keperibadian yang senantiasa diterapkan dalam menulis, yaitu gaya, karya cipta, kemandirian, dan tindakan. Keempat ciri khas Isa Kamari tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:

Pertama, gaya, yaitu mengarah kepada aspek bahasa yang digunakan. Dari sisi ciri khas ini, Isa Kamari banyak menggunakan kata-kata puitis yang memiliki unsur-unsur keagamaan dalam karya-karyanya. Misalnya, ia banyak mengutip ayat-ayat Alquran dalam keempat novelnya tersebut. Khusus novel Kiswah dan Menara, ciri khas keperibadiannya sangat menonjol dengan bahasa-bahasa puitis yang digunakan.

Kedua, karya cipta, yaitu merujuk pada teknik, metode dan mekanisme penulisan dalam sebuah karya. Cara penulis menyusun sebuah karya dapat menggambarkan keperibadiannya. Dari sisi ini, salah satu ciri khas kepribadian Isa Kamari yang tergambar dalam keempat novelnya adalah kecenderungannya mengklasifikasikan cerita ke dalam bab-bab tertentu. Dalam novel Satu Bumi, pada bab-bab tertentu, ia lebih cenderung memilih tema-tema tentang bumi dan alam. Pada bab-bab tersebut, ia banyak menggunakan kata-kata yang berkaitan dengan alam, seperti pusara, bumi, sungai, belantara, fajar, dan sebagainya. Keperibadian Isa Kamari yang cenderung pada bidang seni bina, juga tergambar dalam keempat novelnya. Ia banyak menggunakan kata-kata yang berkaitan dengan jenis-jenis bangunan, seperti surau (mushollah), monumen, pencakar langit dan rumah parit orang Lomrot yang memiliki nilai seni bina tinggi dan menarik.

Ketiga, kamandirian, yaitu mengarah pada indentifikasi watak penulis, karena setiap penulis memiliki ciri dan sifat, serta cara membinanya tersendiri. Dalam novelnya, Isa Kamari tidak menggunakan sudut pandang orang pertama dalam merefleksikan pengalaman yang dialami sendiri, ia lebih cenderung menggunakan sudut pandang orang ketiga. Misalnya, pengalaman-pengalamannya semasa berbulan madu di India dan Kashmir, dan ketika menunaikan ibada haji di Mekkah, ia refleksikan melalui watak tokoh Iryadi dalam novel Kiswah.

Keempat, tindakan, yaitu mengarah pada cara seorang penulis melakukan tindakan-tindakan dalam menulis sebuah karya untuk mengubah pandangan atau pendirian pembaca. Untuk usaha ini, seorang penulis memerlukan ilmu, perenungan dan keberanian. Menurut Isa Kamari, tidak mudah mengubah pandangan negatif atau kecurigaan masyarakat terhadap seorang mualaf seperti Swee Mei (Aminah) dalam novel Satu Bumi atau terhadap seorang tukang urut seperti Nancy (Nazirah) dalam novel Kiswah. Namun, dengan tindakan yang bijaksana, berani dan perenungannya yang dalam, ia mampu mengubah pandangan negatif dan kecurigaan tersebut terhadap keikhlasan seorang mualaf. Selain itu, ia juga berusaha mengubah persepsi masyarakat yang sangat mudah patuh dan hormat kepada seseorang yang berpengaruh, pandai berpidato dan ceramah agama. Padahal, sesungguhnya di antara mereka ada yang tidak sesuai perilakunya dengan apa  yang disampaikan.

Dengan demikian, dari sudut ciri khas keperibadiaannya sebagai penulis, Isa Kamari merupakan sastrawan yang berpikiran dinamis. Ia selalu menemukan ide-ide kreatif melalui bacaan dan pengalaman pribadinya maupun bersama orang lain. Ia adalah seorang penulis yang berani dan bertanggungjawab dalam membentangkan isu-isu baru dalam masyarakat, baik yang berkaitan dengan politik maupun masalah keagamaan dalam dunia sastra, meskipun tabu bagi sebagian masyarakat. Di kalangan sastrawan Singapura, Isa Kamari adalah penulis yang produktif dalam berbagai genre. Hingga saat ini belum ada penulis yang mampu menyaingi produktifitas kepengarangannya.

3. Karya-karya

Sebagai sastrawan, Isa Kamari telah melahirkan banyak karya berupa cerpen, puisi, esei sastra, dan naskah drama, di antaranya:

a. Cerpen

  • Sketsa Minda, kumpulan cerpen, 1994.

b. Novel

  1. Satu Bumi, Singapura: Pustaka Nasional, 2002.
  2. Menara, Singapura: Pustaka Nasional, 2002.
  3. Kiswah, Singapura: Pustaka Nasional, 2002.
  4. Tawassul, Singapura: Pustaka Nasional, 2002.
  5. Atas Nama Cinta, 2006.

c. Kumpulan Puisi

  1. Sumur Usia, 1993.
  2. Munajat Skema, 2003.
  3. Ka’bah, 2006.
  4. Cinta Arafah, 2006.
  5. Lorong Wahyu, 2006.

d. Esei sastra

  • Milik Siapa Bumi Yang Satu Ini?

e. Naskah drama/teater

  1. Dua Wajah, (drama TV 10 episode), 2003.
  2. Mengejar Bayangan, (drama TV 9 episode), 2005.
  3. Pintu, (teater), 2006.

f. Album Lagu

  • Cinta Arafah, (album 10 lagu), 2004.

g. Film Dokumentasi

  1. Zaman Ubi Kayu, 2004.
  2. Lambaian Endau, 2006.

4. Penghargaan

Atas karya dan jasa-jasanya pada sastra, Isa Kamari telah dianugerahi sejumlah penghargaan, di antaranya:

  1. Hadiah Puisi dari Majelis Pusat (1986).
  2. Anugerah Buku untuk kategori puisi dengan Sumur Usia dari National Book Development Council, Singapura (1994/1995).
  3. Anugerah Persuratan untuk kategori cerpen dari Majelis Bahasa Melayu, Singapura (1997).
  4. Anugerah Persuratan untuk kategori esei sastra dari Majelis Bahasa Melayu, Singapura (2001).
  5. Penghargaan Saadon Ismail untuk kategori puisi dan cerpen dari Persatuan Wartawan Melayu, Singapura (1995).
  6. Anugerah Persuratan untuk kategori novel dengan judul Satu Bumi dari Majelis Bahasa Melayu, Singapura (1999).
  7. Novel Satu Bumi, terpilih dalam acara Bacalah Singapura! (2005).
  8. Anugerah Persuratan untuk kategori novel dengan judul Menara dari Majelis Bahasa Melayu, Singapura (2003).
  9. Anugerah S.E.A. Write Award di Bangkok, Thailand (2006).
  10. Anugerah Persuratan untuk kategori cerpen dengan judul Pertemuan dari Majelis Bahasa Melayu, Singapura (1997).
  11. Anugerah Persuratan untuk kategori esei sastra dengan judul Milik Siapa Bumi Yang Satu Ini? dari Majelis Bahasa Melayu, Singapura (2001).
  12. Anugerah Singapore Literature Prize untuk kategori novel dengan judul Kiswah (2004).   

Sumber:
www.isakamari.com

Dibaca : 9.757 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password