Rabu, 22 November 2017   |   Khamis, 3 Rab. Awal 1439 H
Pengunjung Online : 684
Hari ini : 10.274
Kemarin : 35.734
Minggu kemarin : 231.579
Bulan kemarin : 7.809.189
Anda pengunjung ke 103.793.458
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Masuri Bin Salikun

a:3:{s:3:

1. Riwayat Hidup

Masuri bin Salikun akrab dipanggil Masuri S.N., dilahirkan di Singapura pada tanggal 11 Juni 1927. Di kalangan sastrawan Singapura, ia dikenal sebagai pelopor pembaharuan sastra Malayu, terutama pada genre sajak atau puisi modern. Ketika masih kecil, ia menjalani kehidupan sehari-harinya pada tiga kawasan di Teluk Kurau, Singapura yaitu Geylang Serai, Paya Lebar dan Lorong Karaeng.

Masuri mulai belajar di Sekolah Melayu Teluk Kurau, meskipun hanya sampai kelas empat. Pada tahun 1933, ia meneruskan pendidikan ke kelas lima di Sekolah Geylang hingga tahun 1940. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di Maktab Perguruan Sultan Idris, Tanjung Malim, Perak, Malaysia. Selain pendidikan formal, Masuri juga pernah mengikuti kursus bahasa Inggris di Mercantile Institution dan C.Y.M.A. College untuk meningkatkan kemampuannya berbahasa Inggris.  

Setelah lulus, Masuri diangkat menjadi guru di Sekolah Geylang hingga tahun 1946. Kemudian tahun 1949-1954, ia menjadi guru di Sekolah Melayu Teluk Kurau. Tahun 1971-1981, ia diangkat menjadi guru besar di Sekolah Rendah Tanah Merah Besar. Tahun 1984-1985, ia diangkat menjadi Research Fellow di Institut Penelitian Asia Tenggara (ISEA). Pada tahun 1986, ia mengikuti program penulisan antarbangsa selama tiga bulan di Universitas Iowa, kemudian diangkat menjadi Honorary Fellow. Tahun 1991-1992, ia menjadi penulis tamu di Lembaga Penelitian Melayu Univeristas Kebangsaan Singapura (NUS).

Dalam konteks kesusastran, Masuri dikenal sebagai penyair yang memiliki perasaan yang halus dan peka terhadap persoalan-persoalan yang terjadi di sekitarnya. Ia juga merupakan sastrawan produktif yang telah melahirkan lebih dari 1000 buah sajak. Sajak pertamanya Bunga Ros dan Ros Kupuja telah dimuat dalam surat kabar Berita Malaya. Setelah perang berakhir di negerinya, ia kemudian melanjutkan kegiatannya menulis di sejumlah media di Singapura. Sajak-sajaknya dimuat dalam majalah Kencana dan Utusan Zaman. Selain itu, ia juga pernah menjabat ketua Ketua I Angkatan Sastra ’50 (Asas ’50) Singapura periode 2001-2005.

Masuri S.N. meninggal dunia pada tanggal 6 Desember 2005, dalam usia 78 tahun di Singapura.

2. Pemikiran

Sebagai sastrawan yang kreatif, Masuri mempunyai pandangan tersendiri dalam penulisan sastra. Menurut Masuri, untuk menjadi seorang penulis yang terkenal, tidak cukup hanya dengan memiliki bakat. Akan tetapi, harus didukung dengan kemauan, kerja keras, ketekunan, dan kerelaan untuk berkorban, baik moril maupun materil. Ia juga menambahkan bahwa, para penulis dapat lebih meningkatkan kreatifitasnya dalam berkarya melalui badan persuratan Angkatan Sastrawan ’50 (Asas ‘50) Singapura. Peningkatan kreatifitas ini bertujuan untuk mengisi jiwa dan rohani masyarakat dengan nilai-nilai yang luhur.  

3. Karya

Sebagai Sastrawan, Masuri telah melahirkan beberapa karya, di antaranya:

  1. “Bunga Ros”, dalam Berita Malaya. Singapura.
  2. “Ros Kupuja”, dalam Berita Malaya. Singapura.

4. Penghargaan

Atas karya dan jasa-jasanya pada sastra, khususnya pada penulisan sajak atau puisi, Masuri telah diberi penghargaan sebagai Pelopor Angkatan Sastra ’50 (Asas ’50) Singapura.

Dibaca : 6.320 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password