Senin, 26 Juni 2017   |   Tsulasa', 1 Syawal 1438 H
Pengunjung Online : 4.137
Hari ini : 38.517
Kemarin : 33.803
Minggu kemarin : 557.755
Bulan kemarin : 7.570.538
Anda pengunjung ke 102.686.079
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Haji Morshidi bin Haji Marsal

a:3:{s:3:

1. Riwayat Hidup

Haji Morshidi bin Haji Marsal, akrab dipanggil Mussidi, dilahirkan pada tanggal 22 Juni 1955 di Bandar Sri Begawan, Brunei Darussalam. Ayahnya, Haji Marsal bin Haji Hassan, seorang guru besar yang sangat dihormati. Ia memiliki koleksi buku dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan menanamkan budaya gemar baca pada Mussidi sejak kecil. Mussidi pun tumbuh dan besar menjadi pribadi yang gemar membaca karya-karya sastra, sehingga ia telah mengenal karya sastra peraih hadiah Nobel John Steinbeck, The Gapes of Wrath, sejak di bangku sekolah dasar. 

Mussidi menyelesaikan pendidikan dasarnya di sekolah-sekolah Melayu di Brunei Darussalam pada tahun 1974. Pada tahun yang sama, Mussidi mendapat beasiswa Kerajaan Brunei Darussalam untuk melanjutkan studinya di Dartington College of Arts, Totnes, Devon, Inggris dan tiga tahun kemudian, ia dapat meraih gelar Diploma of Art and Design in Education. Setahun setelah itu, 1978, ia memperoleh Certificate of Special Studies in Two Dimensional Expression dari universitas yang sama. Pada tahun 1988 ia kembali ke Inggris untuk mengikuti pelatihan di Postgraduate Diploma in Electronic Graphics di Coventry Polytechnic selama setahun. Setelah itu, Mussidi kembali ke Brunei dan bekerja di departemen Radio dan Televisi Brunei Darussalam sebagai desainer gambar hingga saat ini.

Pada tahun 1981-an, Mussidi pernah menjadi pengang­guran, sebelum bekerja di departemen Radio dan Televisi Brunei. Ketika itu, perseteruan yang terjadi di Brunei antara partai politik lokal (Partai Rakyat Brunei) dan penguasa Inggris menyulitkan Mussidi untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang dan keahliannya. Kondisi seperti ini memaksanya untuk menulis cerpen demi mengobati rasa rendah diri yang ada dalam dirinya. Menurut Mussidi, siapapun yang pernah menganggur akan merasa sangat rendah diri akibat tidak memiliki suatu pekerjaan.

Latar belakang pendidikan di bidang seni lukis dan kegemaran membaca buku-buku sastra banyak membantu Mussidi dalam penulisan cerpen-cerpennya. Di samping itu, penguasaannya pada teori-teori dan aliran-aliran seni lukis dari berbagai negara, memudahkannya untuk mengilustrasikan berbagai persoalan hidup yang dihadapi masyarakat Brunei, yang kemudian dituangkan dalam bentuk cerpen dan novel.

Karya pertama Mussidi Masalah-Masalah berhasil meraih juara pertama “Lomba Menulis Cerpen” dalam acara Isra‘ Mi‘raj Nabi Muhammad saw. yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Brunei Darussalam pada tahun 1981. Pada tahun berikutnya, Mussidi kembali mengikuti lomba menulis cerpen dalam acara yang sama dan berhasil meraih juara kedua dengan judul cerpen Suasana. Maka sejak itu, Mussidi mendedikasikan dirinya dalam dunia sastra dan semakin produktif menulis cerpen dan novel. Dalam tempo sebulan, ketika itu, ia mampu menyelesaikan tiga buah cerpen: Kecoh, Suasana dan Jantung.  

Namun, cerpen yang ia hasilkan tersebut tidak dapat langsung dipublikasikan, sebab saat itu hanya ada satu majalah Bahana Dewan Bahasa dan Pustaka yang menjadi media publikasi di Brunei Darussalam, sehingga membutuhkan waktu yang relatif lama untuk menunggu cerpennya diterbitkan. Sementara cerpen keduanya Suasana baru diterbitkan pada tahun 1984, meskipun telah ia kirimkan ke majalah tersebut pada tahun 1981. Karena itu, ia kirimkan cerpen ketiganya KECOH ke majalah Mastika di Malaysia untuk menjaga agar semangat berkaryanya tetap berkobar. Ternyata, dalam waktu tiga bulan, cerpen yang ia kirimkan tersebut telah dimuat dalam majalah Mastika, dan menjadi cerpen pertamanya yang diterbitkan di luar negeri. Sedangkan, karya-karya Mussidi berikutnya telah dimuat dalam berbagai media, baik di dalam maupun di luar negara Brunei Darussalam, seperti Malaysia dan Singapura.

2. Pemikiran

Sebagai cerpenis, Mussidi memiliki konsep tersendiri dalam menghasilkan karya-karya cerpen. Pada awalnya, konsep yang ia gunakan dalam menulis cerpen adalah dengan gaya bahasa yang bersifat denotatif. Dalam konsep ini, ia hanya ingin bercerita mengenai realitas kehidupan masyarakat Brunei dengan bahasa biasa, bersifat polos, dan mengandung unsur-unsur kelangsungan makna, sehingga tidak akan menimbulkan interpertasi dari pembaca. Selain itu, konsep ini sama seperti cerpen-cerpen konvensional lainnya, dimana penulis berusaha untuk mempengaruhi pembaca bahwa apa yang sedang mereka baca adalah sebuah realitas yang benar-benar terjadi. Diantara karya-karyanya yang menggunakan konsep ini yaitu Jantung, Senyum dan Punggung.

Untuk lebih konkritnya, penerapan konsep ini dapat dilihat dalam petikan cerpen Jantung seperti berikut: “Dari kamar ini keluar seorang gadis remaja genit tanpa bibir tanpa mulut. Ia berjalan pantas, malu-malu tak menoleh-noleh kiri kanan. Tanpa bibir tanpa mulut ia sudah tidak lawa (cantik) lagi”.

Namun, dalam perkembangan selanjutnya, Mussidi kemudian mendapat pengaruh-pengaruh dari luar, sehingga ia meninggalkan konsep awalnya. Pengaruh-pengaruh tersebut di antaranya dari cerpen-cerpen sastra nusantara, realisme magis Amerika Latin dan cerpen-cerpen yang bersifat konseptual atau metafiksi. Dari ketiga pengaruh tersebut, tampaknya karya-karya Mussidi lebih banyak dipengaruhi oleh cerpen-cerpen yang bersifat konseptual atau metafiksi. Sehingga, cerpen-cerpen yang ia hasilkan didominasi oleh cerpen-cerpen yang bersifat metafiksi. Salah satu ciri dari cerpen ini adalah selalu menyadarkan pembaca bahwa apa yang mereka baca hanyalah sebuah cerpen yang berisi tentang cerita-cerita fiksi semata, dan hanya terjadi dalam cerpen tersebut. Selain itu, dalam cerpen seperti ini selalu menekankan pada penggunaan bahasa yang lebih puitis, asonantif dan personifikatif. Mussidi memilih konsep ini karena dua alasan yaitu; pertama, karena ia tidak percaya bahwa tulisan yang banyak memuat pesan-pesan mampu merubah suatu masyarakat, bahkan justru akan membosankan bagi pembaca; kedua, karena ia ingin menunjukkan bahwa ia juga mampu menghasilkan karya-karya tulis dengan gaya bahasa yang lebih puitis, asonantif dan personifikatif.

Untuk ketiga gaya bahasa ini ia gambarkan dalam cerpennya Arik, Lawwamah dan Sayap, sebagai berikut:

Dalam Arik, Mussidi cenderung menggunakan gaya bahasa yang lebih puitis, mengandung nilai-nilai estetis, seperti, “Malam Sepi dan cahaya suram (remang-remang) di wad (kamar) itu seperti mendamparkannya ke ruang masa silam. Masa-masa lalu seperti terapung-apung di awangan (awan) pikirannya. Itulah yang mau dielak: melayani fikiran dan kenangan. Alangkah baiknya pada saat-saat seperti itu jika ada cucu buat teman berbual”.

Dalam Lawwamah, Mussidi cenderung dengan gaya bahasa asonansi yaitu gaya bahasa yang berwujud perulangan bunyi vokal yang sama, seperti, “Aku bagaikan mati. Jari-jemariku kaku. Jasadku terbelenggu dihimpit ruang sempit dan lidahku terbujur bagai mayat di dalam mulutku. Tembok kukuh di sekelilingku. Kucari-cari nafas di dalam dada. Tak ada. Kupekakan diri. Kudapati jantungku mati. Hatiku beku. Nadiku hilang denyut”.

Dalam Sayap, Mussidi lebih kental dengan gaya bahasa personifikasi (penginsanan) yaitu gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati yang tidak bernyawa seolah-olah berwujud manusia, baik dalam tindak-tanduk, perasaan, dan perwatakan manusia lainnya, seperti, “Kemudian pada satu ketika angin semilir (sepoi-sepoi) berpuput (berhembus) mendesir, membuat gemerisik daun-daun, menyebarluaskan keharuman bunga-bunga liar yang sedang mekar, pada satu hari ketika matahari malu-malu menyinarkan cahayanya, lalu pokok-pokok (pohon-pohon) pun kehilangan bayang-bayang”.

Dengan demikian, dari penjelesan dan contoh-contoh tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa Mussidi adalah seorang penulis yang sangat kreatif. Ia tidak ingin terpaku pada satu konsep dalam menulis, tetapi ia selalu mengembangkan konsep-konsep baru, sehingga karya-karyanya diminati banyak pembaca, baik di negara Brunei Darussalam, maupun di Malaysia dan Singapura. 

3. Karya-karya

Sebagai sastrawan, Mussidi telah melahirkan banyak karya sastra berupa cerpen dan novel yang diterbitkan dalam berbagai bentuk, di antaranya:

a. Karya-karya Mussidi yang terbit dalam majalah dan bulletin, yaitu:

“Kecoh”, dalam Mastika, Malaysia, 1981; “Jantung”, dalam Berita Minggu, Singapura, 1982; “Senyum”, dalam Berita Minggu, Singapura, 1982; “Mual”, dalam Berita Minggu, Singapura, 1982; “Alhamdulillah! Alhamdulillah”, dalam Sarina, Brunei Darussalam, 1982; “Betty”, dalam Bahana, Brunei, 1982; “Punggung”, dalam Berita Minggu, Singapura, 1984; “Arik”, dalam Bahana, Brunei, 1984; “Kopiah”, dalam Bahana, Brunei, 1984; “Sengatan” dalam Bahana, Brunei, 1985; “Tuk Tamir”, dalam Bahana, Brunei, 1985; “Bebal”, dalam Bahana, Brunei, 1985; “Hijab-hijab dan Sebuah Perumpamaan”, dalam Bahana, Brunei, 1986; “Ambillah”, dalam Bahana, Brunei, 1986; “Lawwamah”, dalam Bahana, Brunei, 1986; “Sayap”, dalam Bahana, Brunei, 1987; “Jangaan!”, dalam Bahana, Brunei, 1987; “Insomania”, dalam Bahana, Brunei, 1987; “Fitnatul Kubra”, dalam Bahana, Brunei, 1988; “Bukit”, dalam Bahana, Brunei, 1988; “Gemala”, dalam Bahana, Brunei, 1988; “Berita Perdana”, dalam Bahana, Brunei, 1989; “Raja Ikan”, dalam Bahana, Brunei, 1990; “Paranoia”, dalam Bahana, Brunei, 1990; “Pergelutan”, dalam Bahana, Brunei, 1990; “Istidraj”, dalam Bahana, Brunei, 1991; “Anu”, dalam Bahana, Brunei, 1991; “Levitasi”, dalam Bahana, Brunei, 1991; ”Oh!”, dalam Bahana, Brunei, 1991; “Bujang Si Gandam”, dalam Bahana, Brunei, 1992; “Payah”, dalam Bahana, Brunei, 1992; “Cerpen Cinta”, dalam Bahana, Brunei, 1992; “Hajat”, dalam Borneo Bulletin, Brunei, 1993; “Bibir”, dalam Bahana, Brunei, 1993; “Kawanmu”, dalam Bahana, Brunei, 1994; “Paksi”, dalam Bahana, Brunei, 1994; “Tai”, dalam Bahana, Brunei, 1995; “Tum”. dalam Bahana, Brunei, 1995; “Ada Yang Tidak Betul Dengan Jiran Saya”, dalam Bahana, Brunei, 1996; “Orang Yang Tidak Suka Pada Saya dan Melakukan Sesuatu Yang Tidak Saya Sukai Terhadap Saya di Belakang Saya”, dalam Bahana, Brunei, 1996; “Honi”, dalam Bahana, Brunei, 1997; “Tangga”, dalam Bahana, Brunei, 1997; “Tercemar”, dalam Bahana, Brunei, 2000; “Nipis”, dalam Bahana, Brunei, 2003; “Gaji”, dalam Radio Brunei; “Pekerjaan”, dalam Radio Brunei; “Penyaksian”, dalam Borneo Bulletin, Brunei; dan “Telanjang”, dalam Borneo Bulletin, Brunei.

b. Karya-karya Mussidi dalam bentuk antologi perseorangan, yaitu:

  1. KECOH. Brunei: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1991.
  2. “A4” (novel); “Jangaaan!”, Insomania, Ambillah, Sayap, Paranoia, Raja Segala Taman, Levitasi, Berita Perdana, Raja Ikan, dan Anu” (cerpen), dalam A4. Brunei: Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei, 1995.
  3. Bukit, Payah, Cerpen Cinta, Hajat, Bujang Si Gandam, Kawanmu, Bibir, Paksi, Tai, Ada Yang Tidak Betul Dengan Jiran Saya, dalam TAI. Brunei: Penerbit HM, 1995.
  4. NIPIS, kumpulan cerpen (1981-2003); CD-Room (2005).
  5. TUM!, kumpulan novel. Brunei: Penerbit HM, 2000.

c.   Karya-karya Mussidi dalam bentuk antologi bersama, yaitu:

  1. “Masalah-masalah, Suasana”, dalam SUASANA. Brunei: Kementerian Urusan Agama Brunei Darussalam, 1983.
  2. Basikal Idaman (cerpen anak-anak). Brunei: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1988.
  3. “Arik”, dalam Rantau Utara. Brunei: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1989.
  4. “Gemala”, dalam Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1991.
  5. “Pergelutan”, dalam Pergelutan Hidup. Brunei: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1992.
  6. “Gaji”, dalam Meniti Waktu, Brunei: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1993.
  7. “Kopiah, Kecoh, Pergulatan”, dalam Apabila Sungai Mengalir (When the river flows)-dua bahasa: Melayu dan Inggeris. Brunei: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1995.
  8. Pulau Senyuman (cerpen anak-anak). Brunei: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1997.
  9. “Berita Perdana, Raja Ikan, Bibir, Paksi”, dalam Meniti Jembatan Usia. Brunei: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1998.
  10. “Ada yang Tidak Betul dengan Jiran Saya”, dalam Orang di Jembatan. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 2001.
  11. “Tai, Ada Orang yang tidak suka pada saya dan melakukan sesuatu yang tidak saya sukai terhadap saya di belakang saya, Tangga”, dalam Sungai Siarau. Brunei: Dewan Bahasa dan Pustaka, 2003.

4. Penghargaan

Atas karya dan jasa-jasanya pada sastra, Mussidi telah dianugerahi beberapa penghargaan, di antaranya:

  1. Juara I Lomba Menulis Cerpen dengan judul Masalah-Masalah pada acara Isra‘ Mi‘raj dari Departemen Agama Brunei, tahun 1981.
  2. Juara II Lomba Menulis Cerpen dengan judul Suasana pada acara Isra‘ Mi‘raj dari Kementrian Urusan Agama Brunei, tahun 1982.
  3. Juara I Lomba Menulis Cerpen dari QAF Holdings Berhad, tahun 1991.
  4. Hadiah Kreatif Majalah Bahana, kategori Cerpen Terbaik, tahun 1989 hingga 1997, 2000, dan 2003.
  5. Penghargaan dari SEA Write Award di Bangkok tahun 1994.

 (TN/tkh/1/8-07)

Sumber :

  • ms.wikipedia.org
  • googlepages.com
  • www.lineclear.com
  • www.republika.co.id
  • www.toseeka.com
  • www.undetectableproxy.com
Dibaca : 8.138 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password