Rabu, 28 Juni 2017   |   Khamis, 3 Syawal 1438 H
Pengunjung Online : 5.166
Hari ini : 47.020
Kemarin : 30.666
Minggu kemarin : 557.755
Bulan kemarin : 7.570.538
Anda pengunjung ke 102.712.775
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Muslim Burmat

a:3:{s:3:

1. Riwayat Hidup

Awang Haji Muslim bin Haji Burut, yang akrab dipanggil Muslim Burmat, dilahirkan pada tahun 1943 di Brunei Darussalam. Data lain tentang riwayat hidup Burmat masih dalam proses pengumpulan data.

2. Pemikiran

Muslim Burmat adalah sastrawan Brunei Darussalam yang terkenal dengan novel-novelnya yang bertemakan “Hijrah.” Hijrah di sini diartikan sebagai perpindahan dari kehidupan yang serba susah menuju ke kehidupan yang lebih baik. Ia membagi hijrah ke dalam dua bentuk, yaitu hijrah fisik dan hijrah pemikiran atau keyakinan. Hijrah fisik, menurutnya, adalah perpindahan dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Sedangkan hijrah pemikiran atau falsafah hidup adalah perubahan pola pikir negatif ke arah yang positif. Di antara novel-novelnya yang berkenaan dengan tema hijrah adalah: Lari Bersama Musim, Hadiah Sebuah Impian, Puncak Pertama, Maka, Sidang Burung, Pohon-pohon di Alps dan Burung Salji.

a. Hijrah Fisik

Penggambaran Muslim Burmat tentang hijrah fisik secara gamblang dapat ditemukan dalam novel-novelnya yang berjudul: Lari Bersama Musim, Hadiah Sebuah Impian dan Puncak Pertama. Ketiga novel tersebut bercerita tentang kehidupan sebagian masyarakat Brunei yang mengalami kesulitan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka harus berpindah-pindah dari tempat satu ke tempat yang lain, namun kepindahan mereka selalu menghadapi berbagai rintangan.

Dalam novel Lari Bersama Musim, Burmat menceritakan kehidupan Adam dan keluar­ganya yang mendapat ancaman dari jenis tumbuhan beracun yang bernama Gonyaulax di Kampung Ayer (Kampung Setia). Untuk menghindari ancaman tersebut, maka keluarga Adam pindah ke daerah daratan, Kampung Kiarong untuk mencari penghidupan yang lebih baik dengan cara bertani. Namun, perpindahan mereka ke daerah ini tidak memberikan kebahagiaan bagi keluarga Adam. Justru sebaliknya, mereka mengalami berbagai macam cobaan. Tanaman padi mereka selalu diserang hama, sehingga mereka selalu gagal panen. Akibatnya, mereka tidak bisa membeli tanah, karena harganya relatif mahal; si Kuntum tidak bisa melanjutkan sekolah; Saniah sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia, karena tidak bisa membeli obat; dan begitu pula Adam yang akhirnya meninggal dunia. Pesan sekaligus kritikan yang hendak disampaikan Burmat dalam novel ini adalah agar Kerajaan Brunei memberikan bantuan kepada masyarakat Brunei yang masih berada di bawah garis kemiskinan, seperti keluarga Adam. Jika pihak Kerajaan Brunei tidak segera membantu, maka mereka akan menjadi miskin dan menderita selama-lamanya.

Dalam novel Hadiah Sebuah Impian, Burmat menceritakan tentang hijrah Ghafur dari Timur Tengah ke kampungnya (Temburong) untuk merubah pola pikir masyarakatnya agar meninggalkan perbuatan-perbuatan yang menyesatkan. Pada awal­nya, Ghafur tidak diterima oleh masyarakatnya. Namun, berkat kesabarannya menyam­paikan dakwah, ia akhirnya diterima dan berhasil menyatukan masyarakat di kam­pungnya.

Sedangkan dalam novel Puncak Pertama, Burmat menceritakan tentang kehidupan Ahmad dan keluarganya yang selalu pindah dari tempat ke tempat lain. Pada awalnya, keluarga Ahmad tinggal di Kampung Ayer, kemudian pindah ke Kampung Seria. Dari Seria mereka pindah lagi, karena mereka terlibat dalam gerakan maker ‘perserikatan pekerja‘ yang dipimpin oleh Samy dan Leong. Mereka kemudian dipecat dari pekerjaannya, sehingga akhirnya mereka menumpang di tanah milik Datuk Kadir. Setelah itu, mereka pindah lagi, karena tanah yang ditempati tersebut akan diambil Datuk Kadir. Ahmad dan keluarganya terus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari penghidupan yang lebih baik hingga akhirnya Ahmad membuat kesimpulan, sebagaimana di bagian akhir cerita novel ini bahwa Ahmad dan keluarganya pindah dari satu tempat ke tempat lain hanya ingin meraih cita-citanya untuk memiliki tanah, meskipun sedikit (sempit).

Novel-novel Muslim Burmat yang bertema “hijrah” fisik di atas, ingin menyampaikan kritik terhadap penguasa Kerajaan Brunei Darussalam agar segera membantu masyarakatnya yang menderita. Disamping itu, ia juga ingin memberitahukan kepada masyarakat di seluruh dunia bahwa negeri Brunei Darussalam yang terkenal sebagai negeri yang kaya raya, ternyata masih ada sebagian rakyatnya yang hidup dalam kemiskinan.

b. Hijrah Keyakinan atau Pemikiran

Novel-novel Muslim Burmat yang bertema hijrah pemikiran atau keyakinan dapat ditemukan dalam karyanya yang berjudul: Maka, Sidang Burung, Pohon-pohon di Alps dan Burung Salji.

Dalam novel Maka, Burmat menceritakan tentang perbedaan pola pikir masyarakat yang berdasarkan emosi dan rasio tentang cara mengusir seekor buaya putih yang berkuasa di kampung mereka. Buaya putih tersebut bisa menghilang dan menjelma menjadi apapun dalam sekejap mata. Keberadaan buaya putih tersebut meresahkan masyarakat di kampung itu, sehingga mereka tidak berani keluar rumah untuk mencari nafkah. Menghadapi gangguan tersebut, maka masyarakat mengadakan pertemuan (musyawarah) untuk menemukan cara bagaimana mengusir buaya putih itu dari kampung mereka. Dalam pertemuan tersebut, terjadi perbedaan pendapat antara Ali (anak muda) dengan Pak Murni (Kepala Kampung). Untuk mengatasi masalah tersebut, Ali selalu bertindak sendiri dengan emosi dan terburu-buru, ia tidak memikirkan akibat yang akan ditimbulkan. Sedangkan Pak Murni, dari kaum terpelajar dan rasional, berpendapat bahwa tidak boleh emosi dan terburu-buru dalam menghadapi ancaman yang besar, sebab masalah tersebut tidak akan pernah selesai jika dilakukan dengan ketergesaan.  Dalam novel ini, Burmat menggambarkan perbedaan pola pikir antara golongan muda (Ali) dan golongan berpendidikan (Pak Murni). Penghij­rahan pemikiran di sini adalah meninggalkan cara berpikir yang emosional ke rasional.

Dalam novel Pohon-Pohon di Alps, Burmat menceritakan tentang pertemuan antara dua budaya yang berbeda yaitu Timur dan Barat. Budaya Timur diperankan oleh Yazid, pelajar dari Brunei. Sedangkan budaya Barat diperankan oleh Merinda, seorang gadis dari Eropa. Dalam novel ini diceritakan bahwa Yazid telah jatuh cinta kepada Merinda. Namun, Merinda adalah gadis yang sulit “dijinakkan”, sangat egois dalam bertindak, dan tidak bisa menerima budaya Timur. Begitu juga Yazid, ia tetap mempertahankan nilai-nilai budaya Timur dengan tidak mengikuti gaya dan budaya Eropa (Barat). Untuk memperoleh cinta Merinda, Yazid selalu berusaha meyakinkan Merinda bahwa orang Timur memiliki sifat yang tidak terburu-buru dan tidak sombong, membela haknya dan bertanggungjawab, namun Merinda tetap tidak mau menerima penjelasan dari Yazid, dan Merinda lebih memilih Miguel sebagai kekasihnya yang juga berasal dari Eropa. Dari cerita novel ini, meskipun Yazid gagal meraih cinta Merinda, namun ia berhasil mempertahankan jati dirinya sebagai orang Timur. Menurut Burmat, ini juga termasuk hijrah pemikiran, karena nilai-nilai positif dari Timur tidak terpengaruh oleh nilai-nilai negatif dari Barat.

Sementara, dalam novel Burung Salji, Burmat menceritakan tentang perkawinan antara Din (pemuda Brunei) dan Lucy (gadis Eropa). Lucy yang beragama Katolik sangat mencintai Din yang beragama Islam. Lucy kemudian rela berkorban keluar dari agamanya untuk memeluk agama Islam. Perpindahan agama yang dilakukan Lucy tersebut merupakan hijrah keyakinan untuk mencari kebenaran dan kedamaian hidup.

Di sini novel-novel Burmat yang bertema “hijrah” pemikiran atau keyakinan ingin menyampaikan pesan bahwa orang Timur adalah orang yang senantiasa menjaga dan mempertahankan nilai-nilai budaya Timur, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh budaya orang Barat. Demikian pula dalam hal keyakinan, dalam novel Burung Salji misalnya, ia menggambarkan orang Melayu (Islam) yang berhasil menikahi gadis Eropa, tanpa harus meninggalkan agama Islam. Justru sebaliknya, gadis Eropa yang beragama Katolik berganti memeluk agama Islam untuk memperoleh kedamaian dalam hidup. Dengan demikian, meskipun disampaikan dengan perspektif Melayu Islam yang kuat, novel-novel di atas berperan dalam menggambarkan dan mengkonstruksi suatu komunitas "antarkaum" yang menjadi cikal bakal Brunei Darussalam. Ia berusaha membangun kesadaran persatuan masyarakat Brunei, baik pada level lokal maupun pada level nasional. Persamaan pengalaman sejarah, persamaan visi, dan persamaan kepentingan adalah unsur penting yang mempersatukan masyarakat Brunei Darussalam dengan didasarkan pada kebudayaan (Melayu).

Setelah bertahun-tahun mendalami dan berkarya dalam kesusastraan, kemudian Burmat mendapat respon dan tanggapan yang positif dari penulis-penulis lokal, sehingga ia dianggap setara dengan Pramoedya Ananta Toer, novelis asal Indonesia yang pernah dinominasikan menjadi peraih hadiah Nobel di bidang kesusastraan. Apalagi, sejak Burmat mendapat penghargaan SEA Write Award di Bangkok pada tahun 1996, banyak cerpenis dan novelis muda Brunei Darussalam yang tergugah dengan kontribusi karyanya.

Namun demikian, Zeffri Arif, salah seorang sastrawan muda Brunei Darussalam, menganggap Burmat sebagai salah satu sastrawan Brunei yang kurang berani merambah bahasa-bahasa dan tema-tema baru, karena situasi dan kondisi serta budaya Brunei yang sangat ketat terhadap nilai-nilai moral dan agama, sehingga menyebabkan gaya bahasa yang digunakannya masih konvensional dan temanya pun masih terbatas pada hijrah.

3. Karya-karya

Muslim Burmat adalah seorang penulis sastra yang sangat produktif, sehingga ia telah melahirkan banyak karya, di antaranya:

  1. Jalinan. Kuching: Borneo Literature Bureau, 1967.
  2. Pelarian: Bandar Sri Begawan: Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei, 1977.
  3. Lari Bersama Musim. Bandar Sri Begawan: Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei, 1982.
  4. Hadiah Sebuah Impian. Bandar Sri Begawan: Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei, 1983.
  5. Nasib Si Pengail. Petaling Jaya: Macmillan, 1983.
  6. Bunga Rampai Sastra Melayu Brunei. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Sastra, 1984.
  7. Puncak Pertama. Bandar Sri Begawan: Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei, 1988.
  8. Terbenamnya Matahari. Bandar Sri Begawan: Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei, 1996.
  9. Urih Pesisir. Bandar Sri Begawan: Universitas Brunei Darussalam, 1999.
  10. Makna Sebenar Sebuah Ladang. Bandar Sri Begawan: Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei, 2002.
  11. Terbang Tinggi. Singapura: Pustaka Nasional, 2004.
  12. Maka. Bandar Sri Begawan: Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei, 2004.
  13. Sidang Burung. Bandar Sri Begawan: Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei, 2006.
  14. ‘Nataidu. Bandar Sri Begawan: Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei, 2006.
  15. Dari Hujung ke Hujung.
  16. Sebuah Pantai di Negeri Asing.
  17. Pohon-pohon Terbuang: Antologi Cerpen. Malaysia: Penerbitan Panamas, 2006.

4. Penghargaan

Atas karya dan jasa-jasanya di bidang sastra, Muslim Burmat telah menerima sejumlah penghargaan, di antaranya:

  1. Dari Kesultanan Brunei Darussalam, tahun 1983, sebagai Juara II “Lomba Menulis Novel” dalam rangka menyambut hari Kemerdekaan Brunei Darussalam, dengan novelnya yang berjudul Puncak Pertama.
  2. Dari SEA Write Award, di Bangkok, tahun 1986.
  3. Dari Kesultanan Brunei Darussalam, tahun 1996, sebagai Juara I “Lomba Menulis Novel” dalam rangka menyambut hari pengangkatan Sultan Brunei Darussalam, dengan novelnya yang berjudul Terbenamnya Matahari.
  4. Dari Sastra Nusantara Johor Baru, di Malaysia, tahun 2000.
  5. Dari MASTERA (Majelis Sastra Asia Tenggara) kategori novel terbaik yang berjudul Urih Pesisir, di Kuala Lumpur, Malaysia, tahun 2001.
  6. Dari Sastra Brunei Darussalam, di Brunei Darussalam, tahun 2002. 
  7. Dari MASTERA (Majelis Sastra Asia Tenggara), di Brunei Darussalam, tahun 2006.

(TN/tkh/14/9-07)

Sumber :

  • ilmu.ssl.sabah.gov.my
  • www.brudirect.com
  • www.republika.co.id
Dibaca : 14.978 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password