Selasa, 12 Desember 2017   |   Arbia', 23 Rab. Awal 1439 H
Pengunjung Online : 4.802
Hari ini : 33.772
Kemarin : 43.322
Minggu kemarin : 254.041
Bulan kemarin : 5.609.877
Anda pengunjung ke 103.945.934
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Sayyid Muhsin Al-Masawi

a:3:{s:3:

1. Riwayat Hidup

Nama lengkap Sayyid Muhsin Al-Masawi adalah Sayyid Muhsin bin ‘Ali bin ‘Abd al-Rahman al-Masawi. Ia merupakan tokoh Melayu asal Palembang yang memiliki kontribusi penting terhadap pengembangan pendidikan Islam bagi masyarakat Melayu di Mekkah, Saudi Arabia. Ia lahir pada tahun 1905 di Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia.

Sayyid Muhsin mendapatkan pendidikan secara intensif dari ayahnya sendiri sebelum memasuki jenjang sekolah formal. Setelah itu, ia mulai memasuki sekolah formal Madrasah Nurul Islam di Jambi. Di sekolah ini, ia mendapatkan dasar-dasar keagamaan yang sangat kuat. Ia kemudian melanjutkan studi di Madrasah Sa‘adah al-Darain di kota yang sama. Ketika ayahnya meninggal pada tahun 1919, ia kemudian pulang ke kampung halamannya di Palembang, dan meneruskan studinya di sebuah sekolah negeri, Madrasah Hukumiyah. Ia juga belajar kepada seorang ulama kharismatik di kampung halamannya yang bernama Haji ‘Idrus. Ia juga mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan kepada masyarakat sekitar.

Pada tahun 1921, Sayyid Muhsin kemudian pergi ke Mekkah, Saudi Arabia. Di kota ini, ia melanjutkan studinya di Madrasah ash-Shaulatiyah, yang dimulai pada tahun 1923. Selain belajar di Masjid al-Haram, masyarakat Melayu juga belajar di madrasah ini. Ide pendirian madrasah ini datang dari para pemuda Melayu yang sadar akan pentingnya memajukan pendidikan Islam, dakwah, dan kemajuan bangsa rumpun Melayu di Mekkah. Pengusung ide yang paling utama adalah Sayyid Muhsin sendiri. Ia pun belajar di institusi yang mana dirinya terlibat dalam proses pendiriannya. Di madrasah ini, ia belajar kepada ulama-ulama berpengaruh, di antaranya adalah Syeikh Hasan bin Muhammad al-Masyath, Syeikh Daud Dihan, Syeikh Abdullah bin al-Hasan al-Kuhaji, Syeikh Hasbullah as-Sanqithi, dan Syeikh Tengku Mahmud Zuhdi bin Abdur Rahman al-Fathani. Kepada ulama-ulama tersebut, ia belajar ilmu tafsir, ilmu kalam, ilmu falak, dan ilmu faraidh.

Pada tahun 1929, Sayyid Muhsin kemudian pergi ke Hadhramaut, tepatnya di Tarim, Yaman Selatan, untuk memperluas carawalanya mengenai Islam dan juga untuk mengunjungi golongan ‘Alawiyin (keturunan Rasulullah SAW) di sana. Belajar di Hadhramaut sudah menjadi tradisi ulama-ulama Melayu sejak dulu. Di sana ia juga sering mengikuti sejumlah halaqah (pengajian). Di antara ulama-ulama yang mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan kepadanya adalah Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri, Syeikh Yusuf Taj al-Mankatsi, Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani, dan sebagainya. Ia hanya menetap selama tiga bulan di Hadhramaut. Ia kemudian kembali ke Mekkah.

Setibanya di Mekkah, Sayyid Muhsin banyak disibukkan dengan kegiatan mengajar di rumahnya sendiri. Ia mengajar berbagai macam disiplin keilmuan. Murid-muridnya berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, tidak hanya bersal dari bangsa rumpun Melayu saja. Meski banyak disibukkan dengan aktivitas mengajar, ia juga masih menyempatkan dirinya untuk memperdalam ilmunya di Masjid al-Haram. Ia belajar ilmu sanad kepada Syeikh Umar Ba Juneid, Syeikh Sa‘id bin Muhammad al-Yamani al-Khalidi. Ia juga belajar ilmu silsilah kepada Syeikh Muhammad Ali bin Husein al-Maliki, Syeikh Umar Hamdan, dan Syeikh Abdullah bin Muhammad Ghazi. Ia juga belajar kepada ulama-ulama di Masjid al-Madinah al-Munawwarah, seperti Syeikh Abdul Qadir bin Taufiq asy-Syibli, Syeikh Muhammad al-Baqi al-Laknawi, Saiyid Zaki bin Ahmad al-Barzanji, Syarif Abdul Hayy bin Abdul Kabir al-Kinani al-Fasi, dan Syeikh Muhammad Ali Awadal-Maghribi as-Salwi.

Pada tahun 1933 (sumber lain menyebut tahun 1934), bersama Syeikh Haji Zubeir bin Ahmad al-Filfulani, Sayyid Muhsin pernah mendirikan Madrasah Dar al-Ulum ad-Diniyah di Syu‘ib Ali, Mekkah. Madrasah ini merupakan wadah pendidikan bagi para pendatang asal Indonesia di Mekkah. Banyak lulusan madrasah ini yang kemudian mengajar di madrasah-madrasah di Indonesia, baik negeri maupun swasta. Sayyid Muhsin bertindak selaku mudir (pimpinan) di madrasah ini. Ia meninggal pada tahun 1935. Syeikh Haji Zubeir bin Ahmad al-Filfulani yang awalnya menjabat sebagai wakil mudir kemudian menempati posisi yang ditinggalkan Sayyid Muhsin.

Sayyid Muhsin adalah ulama Melayu asal Palembang yang amat berpengaruh. Hal ini dibuktikan dengan begitu banyak murid-muridnya yang kemudian berhasil mengembangkan dakwah dan pendidikan Islam di daerahnya masing-masing. Salah seorang muridnya yang amat terkenal adalah Syeikh Muhammad Yasin bin Isa bin Udiq al-Fadani al-Indunisiyi asy-Syafi‘ie (1916-1989), yang merupakan ulama di Padang, Sumatera Barat, Indonesia. Ia merupakan Mudir Madrasah Dar al-Ulum ad-Diniyah yang keempat (1946-1990) setelah Syeikh Ahmad al-Manshuri (1940-1946).

2. Pemikiran

(Dalam proses pengumpulan data)

3. Karya

Meski umur Sayyid Muhsin tidak begitu panjang, namun dirinya telah menulis banyak karya yang bernilai penting. Semua karyanya berbahasa Arab. Karya-karyanya pernah dijadikan bahan utama ketika ia mengajar di Madrasah Dar al-Ulum al-Diniyah. Di antara karya-karyanya adalah sebagai berikut:

  1. Al-Nafhah al-Hasaniyyah Syarh al-Tuhfah al-Saniyyah fi al-Faraid
  2. Madkhal ila ‘Ilm al-Ushul
  3. Nahj al-Taysir Syarh Manzhumah al-Zamzami fi Usul al-Tafsir
  4. Jam‘ al-Thamr Ta‘liq ‘ala al-Manzhumah Manazil al-Qamar
  5. Al-Jadad Syarh Manzhumah al-Zubad (berupa manuskrip yang belum sempat diselesaikannya)
  6. Al-Nushush al-Jawhariyyah fi al-Ta‘arif al-Mantiqiyyah
  7. Adillah Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah fi Daf‘ Syubuhat al-Firaq al-Dallah al-Muttadi‘ah
  8. Al-Rihlah al-‘Ilyah ila al-Diyyar al-Hadramiyyah

Karya-karya tersebut di atas merupakan bagian dari keseluruhan karya yang dihasilkan oleh Sayyid Husein. Ternyata masih terdapat karya-karya lain yang belum begitu dikenal oleh masyarakat Melayu. Salah satu sebabnya adalah karena ketidakjelasan di mana letak karya-karyanya yang lain. Sebagai contoh, Syeikh Muhammad Yasin bin ‘Isa al-Fadani pernah menulis kitab berjudul Janiy ats-Tsamar Syarh Manzhumah Manazil al-Qamar, yang merupakan syarah terhadap karya al-Allamah Khalifah bin Ahmad an-Nabhani al-Falaki tentang ilmu falak. Sebelum Syeikh Muhammad Yasin bin ‘Isa al-Fadani men-syarah kitab tersebut, Sayyid Muhsin sebenarnya pernah melakukan taqrirat (memberi pujian dan keterangan untuk mengukuhkan suatu perkara) terhadap kitab karya al-Allamah Khalifah bin Ahmad an-Nabhani al-Falaki tersebut. Hanya saja, karya Sayyid Muhsin tentang hal ini masih belum jelas. Hal ini merupakan salah contoh bahwa ternyata masih banyak karya-karya lain yang belum dikenal oleh masyarakat.

4. Penghargaan

(Dalam proses pengumpulan data)

(HS/tkh/21/9-07)

Sumber :

  • www.ulama-nusantara-baru.blogspot.com.
  • www.sunarwoto.wordpress.com.
Dibaca : 10.982 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password