Jumat, 18 Agustus 2017   |   Sabtu, 25 Dzulqaidah 1438 H
Pengunjung Online : 1.614
Hari ini : 8.083
Kemarin : 30.342
Minggu kemarin : 225.915
Bulan kemarin : 10.532.438
Anda pengunjung ke 103.006.724
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Tan Malaka

a:3:{s:3:

1. Riwayat Hidup

a. Masa Kecil dan Remaja

Tan Malaka dilahirkan di Nagari Pandan Gadang, Suliki, Lima Puluh Kota, Sumatra Barat, dengan nama Ibrahim. Belum ada data yang pasti ihwal tanggal kelahiran Tan Malaka. Banyak yang menyebut ia dilahirkan pada 19 Februari 1896, namun ada pula yang merunut bahwa angka lahir Ibrahim Tan Malaka adalah tanggal 2 Juni 1897.

Ayah Ibrahim, Rasad, berasal dari marga Chaniago, sementara ibunya, Sinah, berpuak Simabur. Konon, leluhur ibunda Ibrahim berasal dari Kamang, Bukittinggi, sedangkan moyang sang ayah datang dari Bonjol, utara Payakumbuh, yang melarikan diri ketika Perang Paderi meletus. Ayah Ibrahim adalah seorang pegawai rendahan yang bekerja sebagai mantri suntik dan petugas yang mengatur distribusi garam di kampungnya. Gaji sang ayah yang hanya belasan gulden tentu saja sangat terbatas untuk membiayai keluarganya. Karena keterbatasan itulah, Rasjad hanya mampu menyekolahkan Ibrahim ke sekolah dasar Kelas Dua, sekolah milik kolonial untuk anak-anak rakyat kebanyakan.

Berkah bagi Ibrahim, meski dikenal agak badung, otaknya cukup cemerlang. Saking cerdasnya, guru-guru Ibrahim di sekolah Kelas Dua merekomendasikannya untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah guru negeri untuk guru-guru Bumiputera di Fort de Kock (sekarang Bukittinggi). Sekolah ini adalah satu-satunya lembaga lanjutan bagi lulusan sekolah Kelas Dua setelah menempuh pendidikan selama lima tahun. (Majalah Tempo, 17 Agustus 2008: 78-79)

Kesempatan bagi Ibrahim untuk melanjutkan sekolah ke Bukittinggi justru menjadi kepusingan tersendiri bagi Rasjad mengingat kondisi ekonominya yang sangat pas-pasan. Sekolah di Fort de Kock itu terkenal dengan sebutan “Sekolah Raja”, artinya, hanya anak-anak dari kalangan berada/bangsawan saja yang bisa bersekolah di situ. Untunglah, guru-guru sekolah Ibrahim sangat meyayanginya, dan mereka terus berjuang agar Ibrahim dapat diterima di “Sekolah Raja”.

Segala cara dimaksimalkan agar tujuan mulia itu bisa terlaksana. Asal-usul keningratan ibunda Ibrahim ternyata dianggap cukup untuk alasan mendaftar: moyang sang ibu adalah salah satu pendiri Pandan Gadang dan juga membawahi beberapa datuk. Peluang Ibrahim semakin terbuka karena ternyata kecerdasannya menjadi nilai lebih, meski Ibrahim terkadang berlaku bandel, ia sangat gemar menghabiskan waktunya untuk bermain sepakbola.

Maka kemudian Ibrahim berhasil diterima menjadi siswa “Sekolah Raja” di Bukittinggi. Inilah perantauan perdana Tan Malaka keluar dari kampung halamannya. Di lingkungannya yang baru, Ibrahim berkenalan dengan budaya bangsa yang menjajah negerinya, ia mulai mendalami bahasa Belanda. Ibrahim juga menyibukkan diri dengan bergabung menjadi anggota orkes sekolah yang dipimpin oleh Gerardus Hendrikus Horensma, seorang Belanda yang menjadi gurunya di “Sekolah Raja”. Selain itu, Ibrahim tidak meninggalkan kegemarannya bersepakbola, ia masih sering bermain bersama teman-teman sekolahnya.

Setahun sebelum masa sekolahnya di Bukittinggi usai, Ibrahim dipanggil pulang ke tanah kelahirannya. Saat itu tahun 1913, umur Ibrahim belum genap 17 tahun, diadakan rapat adat untuk memilih Ibrahmi sebagai datuk. Ia merupakan anak lelaki tertua keluarga Simabur, yang itu berarti ia harus bersiap-siap memangku gelar datuk sebelum ayahnya wafat. Sebagai datuk, nantinya Ibrahim memimpin tiga marga keluarga: Simabur, Piliang, dan Chaniago.

Kaum tetua adat dibuat gusar karena Ibrahim dengan tegas menolak penobatan itu. Ibrahim tetap bersikukuh sampai akhirnya ia diberi pilihan yang saat itu terasa sangat sulit baginya: menolak gelar atau kawin! Takut kawin muda, Ibrahim angkat tangan dan terpaksa menerima gelar tertinggi dalam adat Minang itu. Maka nama lengkapnya menjadi Ibrahim Datuk Tan Malaka. Pesta penobatannya digelar besar-besaran selama 7 hari 7 malam.

Namun, pesta suka-cita tersebut ternyata berujung perpisahan. Ibrahim alias Tan Malaka harus segera meninggalkan tanah kelahirannya, hijrah ke negeri Belanda untuk meneruskan pendidikan di sekolah guru di Harleem, pasca kelulusannya dari “Sekolah Raja” di Bukittinggi. Tan Malaka mendapat beasiswa atas jasa baik G. Horensma, guru sekolah Tan yang teramat sayang padanya. Sebelumnya, upaya Tan Malaka untuk bisa pergi ke Belanda terbentur masalah biaya kendati orang sekampungnya sudah iuran mengumpulkan uang namun tetap saja tak cukup.

Sampai di sini, kisah kelana Tan Malaka dimulai. Dari Nagari Pandan Gadang, Tan Malaka beringsut ke Bukittinggi untuk kemudian siap mengepakkan sayap menjelajahi semesta. Tujuan Tan pertama adalah: Harleem.

b. Masa Pergerakan Nasional

Akhir 1913, Tan Malaka menjejakkan kaki di negeri kincir angin untuk melanjutkan studinya di sekolah tinggi pendidikan guru (Rijkweekschool) di Harleem. Kota kecil yang terletak di bagian utara Belanda ini menjadi kawah candradimuka bagi proses berpolitik Tan Malaka. Seringkali Tan duduk manis di antara teman-teman pondokannya yang sedang asyik berdiskusi. Namun, pada masa awal perkenalannya di dunia debat itu Tan tak langsung melakoni peran aktif. Bagi Tan Malaka, politik adalah terra incognita, ia lebih banyak mengamati dan mendengar. (Majalah Tempo, 17 Agustus 2008: 82-83)

Pemahaman politik Tan Malaka kian menuju matang karena iklim lingkungannya yang cukup mendukung, termasuk kebiasaan Tan seperkawanan yang suka melahap bacaan-bacaan bergenre panas, di antaranya adalah surat kabar bergaris anti Jerman, De Telegraaf, dan Het Volk, koran penyeru anti kapitalisme dan anti imperialisme. Tan Malaka tidak bisa menghindar dari gejolak politik global yang terjadi pada tempo itu, kurun di mana Perang Dunia I sedang berkecamuk. Tan Malaka merasa bahwa ia tiba-tiba berada dalam semangat dan paham yang ia sebut sebagai revolusioner.

Tan Malaka tidak kuasa mengelak dari perkembangan politik dunia. Perang besar yang berkecamuk telah menebar pengaruh dalam ideologi Tan Malaka. Selain membaca koran-koran ”kiri”, ia mulai lapar informasi politik. Tan Malaka semakin lahap memamah De Vries, toko buku menjadi tempat di mana Tan selalu berada. Buku karya para filsuf dan pemikir populer pada zaman itu, seperti Thus Spoke Zarathustra dan Wille zur Macht (Will to Power) karya filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche, seolah menjadi kitab suci bagi Tan Malaka. Begitu pula The French Revolution karya Thomas Carlyle, penulis esai ternama Skotlandia. Dari buku ini Tan Malaka mengenal semboyan liberte, egalite, fraternite (kemerdekaan, persamaan, persaudaraan).

Pada 1916, Tan Malaka meninggalkan Harleem untuk pindah ke Bussum. Di kota yang tidak begitu jauh dari Amsterdam ini naluri kritis Tan semakin terpantik. Ia mulai sadar bahwa terdapat kesenjangan yang cukup nyata dalam kehidupan masyarakat, yakni adanya kaum borjuis yang bergaya mewah dan kaum proletar yang hidupnya merana.

Tak lama setelah Tan Malaka menetap di Bussum, meletuslah Revolusi Komunis di Rusia yang menggelegar pada Oktober 1917. Revolusi besar inilah yang juga memberi keyakinan pada Tan Malaka bahwa dunia sedang beralih ke lajur sosialisme. Pikiran Tan Malaka mulai dipenuhi dengan puspa ragam ide segar tentang masa depan bangsanya, bangsa Indonesia yang masih ditindas imperialisme Belanda.

Pemikiran yang membuncah di benak Tan Malaka memperoleh pelampiasan ketika Soewardi Soerjaningrat (kelak bersulih nama menjadi Ki Hadjar Dewantara) menawarinya untuk menjadi duta Indische Vereeniging (IV) dalam kongres pemuda Indonesia dan pelajar Indologie di Deventer, Belanda. Di forum inilah, untuk pertama kalinya, Tan Malaka membeberkan gagasan yang selama ini menggumpal di dalam benaknya. Indische Vereeniging merupakan organisasi pelajar/mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi di Belanda.

Memasuki tahun 1918, Tan Malaka kian merapat ke dunia politik dengan rajin mengunjungi rapat-rapat Indie Weerbaar (Milisi Bumiputera, semacam wajib militer untuk rakyat sipil), yang sering diadakan Indische Vereeniging yang waktu itu telah berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Sebagai pelajar yang datang dari bangsa yang dijajah, Tan Malaka akhirnya menemukan pencerahan bahwa sudah saatnya diadakan revolusi di negerinya dengan tujuan agar terlepas dari penjajahan.

Tan Malaka berpendapat, Sosialisme adalah salah satu pilihan supaya misi mulia tersebut dapat dicapai. Daya upaya Tan Malaka untuk semakin mendekatkan diri ke garis politik, dengan mengusung gagasan Sosialisme, seringkali menemui jalan buntu, bahkan ketika Tan Malaka berusaha mengurus perizinan untuk mengajar politik di sekolah Belanda.

Akibat dipersulit terus-menerus, Tan Malaka akhirnya berkeputusan untuk pulang saja ke Indonesia, bermaksud menerapkan segala ilmu yang ia peroleh, termasuk wawasan berpolitik yang dalam hal ini yakni Sosialisme. Pada 1919, Tan Malaka kembali ke tanah air setelah 6 tahun lamanya berkubang dalam pencarian jati diri dan idealisme di negeri yang menjajah negerinya. Tan Malaka pulang hanya dengan satu tujuan dan cita-cita: mengubah nasib bangsa Indonesia.

Di Indonesia, Tan Malaka sempat bekerja sebagai asisten pengawas sekolah di Deli, Sumatra Timur (Deli kemudian masuk ke wilayah administratif Sumatra Utara setelah provinsi Sumatra Timur dihapuskan), selama dua tahun. Selama mengajar, Tan Malaka berhubungan cukup erat dengan anak-anak didiknya, ia sering mengajak murid-muridnya berdiskusi bahkan tak jarang Tan Malaka menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah mereka secara bergiliran.

Ihwal pendidikan kaum tertindas, Tan Malaka meyakini bahwa, hanya dengan pendidikan kerakyatan-lah kemerdekaan rakyat bisa diperoleh. Dengan membimbing rakyat Bumiputera ke arah kemajuan maka rakyat tidak akan lagi dibodohi, rakyat akan memiliki kekuatan untuk menghadapi kekuasaan pemilik modal yang berdiri di atas pendidikan yang berdasarkan kemodalan.

Selain berkecimpung di ranah pencerdasan anak bangsa, Tan Malaka juga intensif memberikan bantuan kepada kaum buruh di Deli. Kala itu, Deli memang terkenal sebagai daerah perkebunan yang mempekerjakan orang-orang Bumiputera sebagai kuli. Tan Malaka dengan sukarela menyediakan diri sebagai tempat kaum buruh berkeluh-kesah, misalnya tentang kesewenang-wenangan yang dilakukan tuan tanah atau oknum aparat kolonial. Kebanyakan para kuli itu buta huruf dan terjerat berbagai peraturan kontrak yang merugikan.

Tan Malaka kemudian menyiarkan penderitaan kaum buruh perkebunan di Deli itu dengan mengirimkan artikel-artikelnya ke berbagai media suratkabar, seperti Liberal. Medan, dan Sumatra Post. Aksi jurnalisme advokasi yang dilakoni Tan Malaka tersebut tak urung membuat kaum tuan tanah dan aparat kolonial kebakaran jenggot.

Tan mendapati perkembangan yang cukup signifikan dalam pergerakan bangsa Indonesia bahwa organisasi pergerakan rakyat Indonesia sedang bersemangat memperjuangkan keadilan. Tanggal 2-6 Maret 1921, Tan Malaka mengikuti Kongres Sarekat Islam di Yogyakarta. Di dalam kongres perhimpunan rakyat Indonesia terbesar inilah, untuk pertamakalinya  Tan Malaka bertemu muka dengan tokoh-tokoh pergerakan terkemukan yang tergabung dalam kepengurusan SI, di antaranya adalah Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, Hadji Agoes Salim, Abdoel Moeis, juga Semaoen dan Darsono.

Waktu itu, pergolakan besar sedang menggerogoti internal SI yang tengah diterpa ancaman perpecahan. Penyebabnya adalah kebijakan aturan disiplin partai yang didengungkan oleh Hadji Agoes Salim dan Abdoel Moeis, keduanya pendukung setia Tjokroaminoto. Usulan itu tidak disetujui oleh beberapa anggota/pengurus SI yang lain, terutama orang-orang SI cabang Semarang yang dimotori Semaoen, Darsono, juga Tan Malaka. Maklum, nyaris semua anggota SI cabang Semarang juga merangkap sebagai anggota ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereeniging), organisasi radikal berhaluan Komunis yang didirikan oleh Sneevliet pada Mei 1915 (Shiraishi, 1997: 115).

Seusai kongres di Yogyakarta, Semaoen mengajak Tan Malaka mampir ke Semarang. Semaoen menilai, kehadiran Tan Malaka sangat berguna bagi gerakan rakyat revolusioner di Indonesia. Semaoen adalah Ketua SI cabang Semarang yang terplih sejak 6 Mei 1917 (Dewi Yuliati, 2000: 38). Di Semarang, kedua aktivis Merah itu sepakat untuk mendirikan sekolah kerakyatan. Sekolah rakyat yang didirikan Semaoen dan Tan Malaka bertujuan untuk mendidik calon-calon pemimpin bangsa yang revolusioner dari kaum Murba, yakni kaum rakyat proletar.

Sementara itu, trik dan intrik di tubuh internal di kepengurusan SI semakin parah. Barisan pendukung Tjokroaminoto kian menyudutkan posisi Semaoen dan segenap rombongan SI Semarang. Tan Malaka, yang telah menanamkan Sosialisme sebagai idealismenya, mantap berdiri di belakang kubu Semaoen. Hingga akhirnya SI benar-benar terpecah karena orang-orang SI Semarang merasa sudah tidak sejalan lagi. Mereka kemudian mendeklarasikan Partai Komunis Hindia yang sebelumnya dikenal sebagai SI Merah, sementara SI pro Tjokroaminoto dinamakan SI Putih. Partai Komunis Hindia pada akhirnya nanti menjelma menjadi Partai Komunis Indonesia atau PKI, menyesuaikan diri dengan perkembangan politik yang terjadi.

Semaoen terpilih menjadi Ketua Umum PKI pertama dan segera menggalakkan aksi boikot besar-besaran di kalangan kaum pekerja dan buruh, terutama orang-orang proletar yang bekerja di jawatan kereta api. Pemerintah kolonial yang merasa resah akibat serangkaian boikot yang dipantikkan PKI kemudian mengadili Semaoen dan Darsono yang dianggap sebagai aktor utama di balik segala aksi boikot itu. Akhirnya, kedua pemimpin PKI tersebut dijatuhi hukuman buang ke negeri Belanda.

Sepeninggal Semaoen dan Darsono, Tan Malaka dipercaya mengambil-alih kemudi organisasi merah terbesar di Indonesia itu. Dalam Kongres PKI ke-II di Semarang yang dihelat pada 25 Desember 1921, Tan Malaka terpilih sebagai Ketua Umum PKI menggantikan Semaoen yang sedang menjalani hukuman pengasingan ke negeri Belanda.

Popularitas dan pengaruh Tan Malaka sebagai orang tertinggi di partai komunis terbesar ke tiga di dunia itu sangat vital dan membuat namanya menjadi semakin melesat. Tan Malaka agak berbeda dengan Semaoen dan kawan-kawannya yang mengganggap tabu aliansi dengan kalangan Islam. Sebaliknya, Tan Malaka mengajukan tawaran rekonsiliasi, ia menilai perlu adanya kerja sama antara PKI dengan SI pimpinan Tjokroaminoto.

Menurut hemat Tan, perbedaan pendapat yang terjadi antara kedua partai hanyalah menjadi bagian dari taktik licik kaum imperialis untuk memecah-belah kekuatan rakyat Indonesia. Tan berpendapat bahwa jika perbedaan antara Islamisme dan Komunisme semakin dilebih-lebihkan, justru akan memberi keuntungan kepada musuh bersama, yaitu kaum imperialisme yang diperankan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Tan berharap agar PKI dan SI segera bersatu kembali untuk mewujudkan tujuan yang sepaham, yakni mengusir imperialisme Belanda dari bumi Indonesia. Sayang, perjuangan Tan Malaka untuk merujukkan kembali romansa Islam dan Komunisme –seperti yang terjalin ketika Semaoen dan Darsono masih tergabung dalam kepengurusan pusat SI– nampaknya tak pernah terwujud.

Sepak-terjang Tan yang kelewat bernyali, termasuk dengan berani mencoba menyatukan dua kekuatan besar rakyat Indonesia: Komunisme dan Islam, membuat pemerintah kolonial cemas. Ditambah lagi pergerakan nyata anak-anak PKI di bawah pimpinan Tan Malaka yang semakin meresahkan. Pada akhirnya, tanggal 2 Maret 1922, aparat pemerintah kolonial Belanda menangkap Tan Malaka di Bandung setelah terjadi pemogokan besar-besaran oleh buruh pelabuhan dan pabrik minyak. Pada Mei 1922, Semaoen kembali dari Moskow dan mendapati cara kepemimpinan Partai Komunis telah dihancurkan secara buruk sekali oleh pemerintah (Van Niel, 1984: 264).

Para buruh yang melakukan boikot tersebut tergabung dalam serikat pekerja bernama Vaksentral-Revolusioner, di mana Tan Malaka menjabat sebagai wakil ketuanya. Setelah diadili dengan dakwaan mengganggu ketertiban umum dan memberi pengaruh yang tidak baik dengan tujuan menggulingkan kekuasaan yang sah, Tan Malaka akhirnya harus kembali ke negeri Belanda untuk keduakalinya, kali ini statusnya bukan selaku pelajar melainkan sebagai orang buangan yang wajib menjalani hukuman pengasingan. Pada 29 Maret 1922, Tan Malaka berangkat dari pelabuhan Tanjung Priok, Betawi, menuju ke kampung halaman penjajah, menyusul Semaoen dan Darsono yang telah dibuang terlebih dulu.

Kendati dicerabut paksa dari bumi pertiwi, pesona Tan Malaka tak pernah habis. Pada Januari 1923, Tan Malaka dipercaya oleh Komunis Internasional menduduki posisi sebagai pengawas untuk regional Asia Tenggara, meliputi Indonesia, Malaya (sekarang mencakup Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam), Thailand, Burma (Myanmar), Filipina, serta Vietnam. Banyak kalangan yang tidak sepakat dengan posisi baru yang diemban Tan Malaka ini, bahkan terutama dari orang-orang PKI sendiri, termasuk Semaoen, Alimin, dan Musso. Bahkan, Alimin meragukan keabsahan mengenai mandat veto Komunis Internasional kepada Tan Malaka. Alimin menyebut Tan Malaka sebagai “orang yang suka mengklaim dirinya penting dan punya kekuasaan.”

Kendati demikian, beberapa kali Tan Malaka nekat menghadiri forum-forum yang diadakan Komunis Internasional dengan membawa nama PKI. Pada Oktober 1922, Tan Malaka tiba di Moskow, Rusia, untuk ikut serta dalam Kongres Komunis Internasiona, namun Tan Malaka hadir bukan sebagai anggota yang mempunyai hak suara, melainkan selaku penasehat. Dalam Kongres Komintern ke-4 yang dihelat pada 5 November-5 Desember 1922 tersebut Tan Malaka berkesempatan berbicara selama 5 menit, seperti wakil-wakil dari Asia lainnya. Di hadapan forum kongres yang dihadiri oleh para dedengkot Komunis dari seluruh dunia itu, Tan Malaka kembali melontarkan gagasan akan perlunya koalisi dengan kaum Pan-Islamisme, seperti yang pernah ia tegaskan sewaktu memimpin PKI, kendati pada akhirnya gagasan itu tidak pernah menemui jalan terang.

Usai kongres, Tan Malaka diminta oleh Karl Radek, pemimpin Komunis di kawasan Asia, untuk menulis sebuah buku. Tan Malaka dipersilahkan menulis tentang apa saja, yang penting menyangkut Indonesia. Buku karya Tan Malaka itu akhirnya terbit pada 1924. Pemerintah Rusia mencetak hasil pikiran yang oleh Tan Malaka ditulis dalam bahasa Rusia tersebut sebanyak 5000 eksemplar pada 1925. Sebenarnya buku itu sudah selesai sejak 1923, dan bisa jadi karena kedahsyatan pemikirannya itulah pada tahun yang sama Tan Malaka sudah berada di Kanton, Cina, sebagai Wakil Komunis Internasional untuk Asia Timur.

Di Kanton, Tan Malaka berhubungan dengan Sun Yat-sen atau Sun Man, pemimpin Kuomintang yang pada 1912 mendeklarasikan Republik menggantikan sistem pemerintahan Cina yang sebelumnya berbentuk kerajaan. Kedua tokoh besar Asia itu membicarakan banyak hal. Sun Man, misalnya, menyarankan agar Indonesia bekerja sama dengan Jepang melawan Belanda. Tapi Tan Malaka tak yakin pejuang Indonesia bisa bekerja sama Jepang yang dinilainya juga berjiwa imperialis, serupa dengan Belanda.

Selama di negeri tirai bambu, saban hari Tan Malaka berusaha menjalin relasi dengan para para aktivis partai Kuomintang dan kalangan Komunis Cina. Pada Juni 1924, Tan Malaka memperoleh mandat dari Moskow untuk hadir pada konferensi Serikat Buruh Merah Internasional yang kebetulan dihelat di Kanton. Konferensi itu dihadiri pula wakil dari PKI, yang datang waktu itu adalah datang Alimin dan Budisutjitro.

Konferensi diadakan selama enam hari dengan agenad menggalang gerakan para pelaut dan buruh pelabuhan di kawasan Pasifik. Tan Malaka dipercaya memimpin rapat pada hari kedua. Pada hari terakhir, Tan didaulat menjadi Ketua Organisasi Buruh Lalu Lintas Biro Kanton yang baru didirikan. Tugas pertamanya menerbitkan The Dawn, majalah bergenre Komunis bagi kaum pelaut. Menyusul penerbitan majalah ini, Tan mencetak sebuah buku tipis berjudul Naar de Republiek Indonesia yang merupakan buku pertama karya Tan Malaka yang menggagas sebuah negara merdeka bernama Republik Indonesia.

Sementara itu, ketidaksepahaman yang terjadi antara Tan Malaka dan tokoh-tokoh sentral PKI lainnya kian runyam di perjalanan tahun 1926. Berawal dari perundingan di Prambanan pada tahun itu, kelompok kiri di Indonesia yang dimotori oleh Semaoen, Alimin, Musso, juga Darsono, merancang gerakan perlawanan terhadap pemerintahan kolonial. Sejarawan Mestika Zeid menganalisis penolakan Tan Malaka atas rencana ini. Menurut Zeid, sebagai pemikir yang cemerlang dan otentik sejak masa mudanya, Tan Malaka memiliki cukup alasan mengapa pemberontakan seperti ini harus dikesampingkan. Salah satu argumennya ialah bahwa kekuatan pergerakan belum cukup matang. Masih diperlukan pembenahan organisasi partai guna menggalang basis massa yang kuat dan meluas, bahkan di luar kelompok komunis.

Tan Malaka, lanjut Zeid, menganjurkan untuk sementara waktu pemimpin-pemimpin gerakan memperkuat organisasi dan tetap melakukan aksi-aksi ”pemanasan” dan agitasi di tempatnya masing-masing. Pendirian ini telah diutarakannya kepada Kelompok Prambanan. Dari Singapura, tempat di mana Tan Malaka saat itu berada, ia telah menulis pandangannya lewat sebuah risalah bertajuk Massa-Actie. Tan Malaka menampik rencana kelompok Prambanan seraya menyimpulkan bahwa rencana pemberontakan itu merupakan tindakan blunder yang bisa menjadi bumerang terhadap partai sendiri, bahkan juga terhadap semua partai nasionalis. PKI pecah, sebagian menyokong Tan, yang lain tetap mendukung rencana Prambanan. Komunis Internasional yang semula diandalkan pun lepas tangan. Joseph Stalin, Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet, menolak mendukung pemberontakan yang tak terorganisasi dan hampir pasti bakal gagal.

Nyatanya memang demikian. Secara sporadis, pemogokan diikuti sabotase dan perlawanan bersenjata tetap terjadi di Batavia, Tangerang, daerah Priangan, Solo, Pekalongan, dan berakhir di Silungkang, Sumatera Barat. Dimulai pada 12 November 1926 tengah malam dan padam pada 12 Januari 1927. Pasca perlawanan itu, PKI justru hancur, para aktivisnya diciduk untuk kemudian dipenjara atau dibuang ke Bouven Digul.

Kegagalan perlawanan yang membuat PKI lebur itu tidak membuat Tan Malaka menyerah dan berhenti berjuang. Bagi Tan Malaka, justru jauh lebih penting memikirkan perjuangan mencapai kemerdekaan nasional. Selepas kehancuran PKI di tangan aparat kolonial, Tan Malaka, bersama Subakat dan Djamaluddin Tamin, mendeklarasikan Partai Republik Indonesia pada Juni 1927 di Bangkok, Thailand.

Pada 1931, Tan Malaka bertemu Alimin, keduanya membicarakan pemulihan kerja sama, tapi kembali berujung pada kata tidak sepakat. Perjalanan sejarah kemudian meriwayatkan, betapa Tan Malaka harus berdiri di seberang tokoh-tokoh Komunis Indonesia lainnya. Oleh rekan-rekan separtainya sendiri, Tan Malaka seringkali dicap sebagai si pemecah belah, Trotskyite, pengikut Leon Trotsky yang menjadi lawan politik Stalin.

Semenjak itu Tan Malaka tidak dapat pulang ke Indonesia karena kondisi perpolitikan di Hindia Belanda yang sedang gencar-gencarnya menghabisi orang-orang yang diklaim pengikut Komunis. Tan Malaka  meneruskan arus kelananya, kali ini ke berbagai pelosok wilayah di Asia, kebanyakan di Tenggara. Tak lama setelah mendeklarasikan Partai Republik Indonesia di Bangkok, Tan Malaka ditangkap di Filipina pada Agustus 1927. Tan Malaka kemudian diusir dan dititipkan di kapal yang akan berangkat menuju Pulau Amoy, Cina.

Pada 1930, Tan Malaka masuk ke Shanghai dengan mengaku sebagai Ossario, wartawan Filipina untuk majalah Bankers Weekly. Bulan Oktober 1932, Tan Malaka pindah ke Hongkong karena pecah perang antara Cina dan Jepang. Baru sebentar di Hongkong, Tan Malaka tertangkap dan pada Desember 1932 ia dilempar kembali ke Shanghai. Selang beberapa tahun kemudian, Tan Malaka kembali ke Pulau Amoy serta mendirikan sekolah bahasa Inggris dan Jerman pada 1936. Setahun berselang, Tan Malaka terpaksa lari ke Burma (Myanmar) karena Jepang menyerang Pulau Amoy.

Ketika dalam perjalanan menuju Burma, Tan Malaka bisa saja turun di Singapura, tetapi ia tidak mau memakai kesempatan itu karena jika Tan Malaka tidak turun di Rangoon, Burma, sesuai jaminan yang diminta nahkoda kapal yang ditumpanginya, ia akan kehilangan uang sebesar US$ 25. Tan Malaka tiba di Rangoon pada 31 Agustus 1937. Namun, hanya sebulan di Rangoon, Tan Malaka langsung meluncur ke Singapura. Di Singapura, Tan Malaka mengajar bahasa Inggris dan matematika di sekolah Tionghoa. Ketika Jepang menyerbu, ia akhirnya bisa pulang ke Indonesia melalui Penang pada Mei 1942.

Tan Malaka berlayar ke Medan pada 10 Juni 1942 dengan nama samaran sebagai Legas Hussein. Dari Medan sang pejalan jauh ini singgah dulu di Padang, dan mengganti lagi namanya sebagai Ramli Hussein, setelah itu lalu melanjutkan perjalanan ke Lampung untuk selanjutnya memulai petualangan berikutnya menuju tanah Jawa. Beberapa bulan pasca tentara Jepang berhasil menduduki wilayah Indonesia, Tan Malaka di Jakarta pada Juli 1942 dan tinggal di daerah Rawajati, atau di daerah Pancoran, Jakarta Selatan. Di sinilah Tan Malaka sukses mencipta Madilog dan Aslia.

Setahun kemudian, Tan Malaka beringsut ke Banten dan menjadi kerani di pertambangan batu bara di Bayah dengan menggunakan nama Ilyas Hussein. Tan Malaka bertahan di area ujung kulon pulau Jawa itu hingga dua tahun kemudian, pada saat menjelang Sukarno-Hatta atas nama rakyat Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945.

b. Masa Kemerdekaan dan Akhir Hayat

Dua bulan sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia diumumkan, sebenarnya Tan Malaka sempat datang ke Jakarta. Awal Juli 1945, dengan memperkenalkan diri sebagai Ilyas Hussein, berasal dari Bayah, Banten Selatan, Tan Malaka ke kediaman Sukarni, salah seorang tokoh muda revolusioner, di Jalan Minangkabau, Jakarta. Di rumah itu sudah ada tokoh-tokoh pemuda yang lain termasuk Chaerul Saleh, B.M. Diah, serta dua orang putra Tjokroaminoto, yaitu Anwar dan Harsono Tjokroaminoto. Tamu dari jauh itu bermaksud hendak menghadiri kongres pemuda di Jakarta. (Majalah Tempo, 17 Agustus 2008: 30-31).

Di forum tersebut, Ilyas Hussein menyampaikan analisisnya tentang kemerdekaan dan politik Indonesia saat itu. Situasi memang lagi genting, penjajah Jepang sudah di tepi jurang kekalahan dalam Perang Asia Timur Raya. Ulasan Hussein tentang proklamasi membuat Sukarni terpukau. Pikiran Hussein sama persis dengan tulisan-tulisan Tan Malaka yang selama ini dipelajari Sukarni. Setelah mendengar analisis Hussein, Sukarni semakin mantap bahwa proklamasi harus segera diumumkan.

Tanggal 6 Agustus 1945, Ilyas Hussein terlihat lagi di Jakarta, kali ini yang menjadi sasarannya adalah rumah B.M. Diah, Ketua Angkatan Baru yang juga redaktur koran Asia Raya, satu-satunya koran yang terbit di Jakarta pada masa pendudukan Jepang. Utusan Bayah itu menanyakan kabar mutakhir situasi perang. Setelah satu jam Diah memberikan informasi, Hussein menyatakan pendapatnya bahwa pimpinan revolusi kemerdekaan harus di tangan pemuda. Hanya sehari setelah pertemuan itu, esoknya Diah ditangkap tentara Jepang gara-gara menuntut kemerdekaan dan menentang sikap lunak Soekarno-Hatta. Ilyas Hussein buru-buru pulang ke Banten untuk mempersiapkan langkah-langkah selanjutnya.

Di Bayah, Tan Malaka terus bergerak, ia terlibat rapat rahasia dengan para pemuda Banten di Rangkasbitung. Dalam rapat itu Hussein mengobarkan pidato yang menggelora. ”Kita bukan kolaborator!” katanya. ”Kemerdekaan harus direbut kaum pemuda, jangan sebagai hadiah.” Kekalahan Jepang, menurut Hussein, tinggal menunggu waktu. ”Sebagai rakyat Banten dan pemuda yang telah siap merdeka, kami bersumpah mewujudkan proklamasi itu,” demikian pamungkas pidato Hussein. Bahkan Hussein menunjukkan keseriusannya, bila Soekarno-Hatta tidak mau menandatangani naskah proklamasi kemerdakaan, Hussein bersitegas bahwa ia sanggup menandatanganinya, asal seluruh rakyat dan bangsa Indonesia menyetujui dan mendukungnya.

Oleh seluruh pendukungnya di Banten, Hussein diutus kembali ke Jakarta. Ia diminta menjalin kontak dengan Sukarni dan Chaerul Saleh. Peserta rapat berduyun-duyun menuju Stasiun Saketi, Pandeglang, untuk mengantar Hussein naik kereta ke Jakarta. Meski Tan Malaka tidak tahu bahwa pada akhirnya Sukarni, Chaerul Saleh, serta para pemuda lainnya membawa Sukarno-Hatta ke Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945 dini hari agar kedua pemimpin bangsa itu segera meneken naskah proklamasi, namun di balik itu semua Tan Malaka memegang peranan penting dalam membakar keyakinan kaum muda bahwa kemerdekaan harus segera diumumkan.

Kira-kira sebulan lebih dua hari setelah kemerdekaan Indonesia diumumkan, Tan Malaka kembali menggeliat. Ia turut menggerakkan pemuda untuk menggelar rapat raksasa di Lapangan Ikada (kini kawasan Monas), Jakarta, pada 19 September 1945 (Majalah Tempo, 17 Agustus 2008: 24-25). Tidak lama kemudian, pasukan Sekutu yang diboncengi tentara Belanda yang tergabung dalam NICA (Nederlands Indie Civil Administration) datang lagi ke Indonesia pada 28 September 1945. Tan Malaka terus ikut bergerakn demi mempertahankan kedaulatan negerinya. Pada 1 Januari 1946, misalnya, dari Purwokerto Tan Malaka menggalang kongres Persatuan Perjuangan untuk mengambil-alih kekuasaan dari tentara Sekutu.

Namun kemudian Tan Malaka dan Sukarni ditangkap di Madiun pada 17 Maret 1946, karena Persatuan Perjuangan dituduh akan mengkudeta pemerintahan Soekarno-Hatta. Sejak itu, keduanya hidup dari penjara ke penjara di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada Juni 1948, Tan Malaka dan Sukarni dipindahkan ke penjara Magelang di mana Tan Malaka di situlah menulis Dari Penjara ke Penjara. Tan Malaka baru dibebaskan pada 16 September 1948.

Segera setelah bebas dari penjara, Tan Malaka dan Sukarni mendirikan Partai Murba yang dideklarasikan pada 7 November 1948. Akan tetapi, Pergerakan Tan Malaka lagi-lagi harus dihentikan oleh bangsa setanah-airnya sendiri. Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer ke II, di mana Tan Malaka dengan sekuat tenaga berusaha melakukan perlawanan, ia justru ditangkap oleh Tentara Republik Indonesia. Pada  21 Februari 1949 di desa Selopanggung yang terletak di kaki Gunung Wilis, Kediri, Tan Malaka dieksekusi, lagi-lagi dengan dakwaan melawan pemerintahan Soekarno-Hatta.

2. Pemikiran

a. Materialisme, Dialektika, dan Logika (Madilog)

Tidak bisa tidak, pemikiran Tan Malaka sangat lekat dengan Materialisme, Dialektika, dan Logika (Madilog), yang telah ditulisnya sejak 15 Januari 1942-30 Maret 1943, di Cililitan, Jakarta. Madilog adalah karya penting Tan Malaka sebagai salah satu warna tegas dalam memberikan kontribusi metode berpikir bagi kaum proletar Indonesia. Madilog merupakan bentuk perlawanan jenius Tan Malaka terhadap penindasan. Hasil pemikiran ini menjadi ranah perjuangan Tan Malaka di luar jalur fisik, berusaha melepaskan dari kolonialisme mental yang akut. Kolonialisme mental itu adalah penyakit feodalisme, yang oleh Tan Malaka disebut berasal dari budaya ketimuran, dan merupakan akar bertahannya status quo penjajahan itu sendiri.


Melalui Madilog, Tan Malaka menawarkan jalan yang lebih logis untuk meruntuhkan pola pikit yang pasif atau dogmatis. Cara berpikir pasif dan dogmatis ini bertalian dengan kepercayaan masyarakat yang percaya terhadap kekuatan-kekuatan gaib (mistik) sehingga menyebababkan mereka tidak percaya kepada kemampuan intelektual dan kekuatan mereka sendiri untuk mengubah dunia materi. Tan Malaka mengecam  cara berpikir dogmatis yang dirasanya dapat menjerumuskan masyarakat ke dalam penipuan diri sendiri, kepasifan, mentalitas budak, dan itulah yang mengakibatkan takluknya dunia Timur kepada Barat.

Sebaliknya, Tan Malaka respek terhadap cara berpikir dialektis karena itu memungkinkan orang mengembangkan pemikiran atau intelektualnya secara terus menerus. Dengan demikian, kunci dari pengertian dialektika Tan Malaka adalah cara berfikir aktif dan terus menerus alias berpikir dinamis. Akan tetapi, berpikir dinamis juga harus berlandaskan akal atau logika. Di sini akan tampak pertemuan antara visi adat dan falsafah Minangkabau dengan cara berpikir yang ingin dikembangkan Tan Malaka.

Madilog menyebutkan cara berpikir berdasarkan materialisme (kebendaan), dialektika (pertentangan), dan logika (rasionalitas). Aroma modernisme memang kental dengan Madilog ini, meski Tan Malaka tetap memegang teguh keyakinan bahwa modernisme tidak boleh dikultuskan. Madilog bertujuan untuk mengikis feodalisme, dan modernisme menjadi pemantik apinya.

Madilog, sebagai cara berpikir ilmiah yang mendasarkan ilmu pengetahuan sebagai dasar, lebih bersifat futuristik. Tan Malaka menerawang ke masa depan sekaligus menolak cara berpikir yang dogmatis. Madilog ditulis Tan Malaka untuk memenuhi minimnya atas pandangan hidup (weltanschauung) bangsa Indonesia. Menariknya, dalam menulis Madilog, Tan Malaka berada dalam orisinalitas pikiran yang murni. Madilog tidak hanya berbicara masalah filsafat sebagai dasar, melainkan juga banyak mengupas ihwal planet, matahari, bumi, trigonometri, serta banyak penemuan modern yang dikritisinya.

Oleh Tan Malaka, temuan-temuan modern tersebut tidak hanya dikritik logika pikirnya, namun pada saat yang sama dicarikan juga solusinya. Kerangkanya tetap dengan dialektika merupakan dasar pijakannya. Jawaban-jawaban kaku pada banyak temuan modern yang hanya mampu menjawab “ya” sebagai “ya”, diserang habis-habisan oleh Tan Malaka dan ia sekaligus menunjukkan bahwa produk modernisme itu pun tidak kunjung menyelesaikan persoalan manusia.

Logika yang kaku, bagi Tan Malaka, hanya mampu berkata “ya” sebagai “ya” dan “tidak” sebagai “tidak”. Logika seperti ini harus didialektikakan agar jawaban “ya” bisa berubah menjadi “tidak” atau sebaliknya. Madilog mengajari orang untuk belajar menolak pada setiap kepastian, yang sebenarnya tidak pasti. Bagi Tan, semua bisa didialektikakan. Dialektika adalah penolakan terhadap segala bentuk kemapanan sebagai pangkal masalah dari status quo. Apalagi mentalitas rakyat terdogma semangat kemapanan, rakyat tentu akan sulit melepaskan diri dari dirinya sendiri. Di sinilah kaum proletar butuh berpikir secara dialektis, demikian Tan Malaka menyimpulkan. (Tan Malaka, Madilog, 1943).

Dialektika yang Tan Malaka ajukan justru tidak terlalu mengarus pada teori Hegel yang galib dianggap sebagai bapak dialektika. Madilog lebih condong ke arah dialektika yang dirumuskan oleh Marx-Engels yang menyatakan bahwa dialektika mesti menjelma menjadi gerakan materi yang nyata. Filsafat dialektika ala hegel, yang merumuskan tesis, antitesis, dan sintesis, dengan kebenaran yang menyeluruh hanya dapat tercapai melalui perkembangan dinamis, dari taraf gerakan yang paling rendah menuju taraf gerakan yang paling tinggi. Semua berkembang, terus-menerus, berubah, tetapi tetap berhubungan satu sama lain. Hegel lebih memfokuskan pemikiran bahwa untuk mencapai kebenaran mutlak, pemikiran lebih penting daripada materi. (Rizal Adhitya Hidayat, Majalah Tempo, 17 Agustus 2008: 97).

Sementara itu, bagi Marx-Engels, proses dialektika ini lebih cocok diterapkan dalam ranah materi melalui revolusi perpindahan dominasi kelas yang satu ke kelas yang lain sampai tercapai suatu bentuk kelas yang sebenarnya, yaitu masyarakat tanpa kelas. Di sinilah pembedanya, jika dialektika Hegel akrab dan dimonopoli kaum borjuis, dialektika Marx-Engels lebih dekat dengan kaum proletar yang miskin dan ditindas.

Lewat Madilog, Tan Malaka mencoba mensintesiskan kedua pertentangan aliran filsafat tersebut untuk mengubah mental budaya pasif menjadi kelas sosial baru berlandaskan sains, yang dalam kacamata Tan Malaka berarti golongan baru yang bebas dari alam pikiran mistis. Melalui sains, paradigma masyarakat Indonesia harus diubah. Logika ilmiah dikedepankan, pikiran kreatif dieksplorasi dengan langkah dialektis dari taraf perpindahan gerakan kelas sosial dari tingkatannya yang paling rendah sampai paling tinggi berupa kelas sosial baru yang berwawasan Madilog.

b. Sosialisme

Ideologi Tan Malaka secara umum adalah Sosialisme, dan ideologi itulah yang digunakan Tan sebagai kendaraan tempurnya untuk berjuang mengganyang kapitalisme dan imperialisme demi menuju negara Indonesia yang berdaulat. Tan Malaka adalah penggagas awal Republik Indonesia. Pada April 1925, dari Cina Tan Malaka meluncurkan karya pemikirannya bertajuk Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia). Dalam kata pengantar, dia menulis: ”Jiwa saya dari sini dapat menghubungi golongan terpelajar dari penduduk Indonesia dengan buku ini sebagai alat.” (Tan Malaka, Naar de ‘Republiek Indonesia‘, 1925).

Melalui karya inilah Tan Malaka mulai menggagas wujud negara Republik Indonesia yang selama ini masih berada di awang-awang. Untuk mewujudkan itu, kapitalisme dan imperialisme haruslah dihilangkan dari bumi Indonesia. Tan Malaka menelanjangi habis-habisan kebobrokan kolonial Hindia Belanda.

“Pertentangan antara rakyat Indonesia dan imperialisme Belanda makin lama makin tajam. Penderitaan massa bertambah pesat. Harapan dan kemauannya untuk merdeka berlangsung bersama-sama dengan penderitaannya. Politik revolusioner merembes di antara rakyat Indonesia makin lama makin meluas. Pertentangan yang makin tajam antara yang berkuasa dan yang dikuasai menyebabkan pihak yang berkuasa menjadi kalap dan melakukan tindakan-tindakan sewenang-wenang!” seru Tan Malaka (Tan Malaka, Naar de ‘Republiek Indonesia‘, 1925).

Tan Malaka sedikit mengutip wejangan Karl Marx: “Proletariat tak akan kehilangan sesuatu miliknya, kecuali belenggu budaknya”. Oleh Tan Malaka, kalimat tersebut dapat digunakan di Indonesia dengan lebih luas. Di Indonesia, anasir-anasir bukan proletar berada dalam penderitaan yang sama dengan buruh industri, karena di Indonesia tak ada industri nasional atau perdagangan ansional. Dalam bentrokan yang mungkin terjadi antara imperialisme Belanda dan rakyat Indonesia, kata Tan Malaka, tak seorang Indonesia pun akan kehilangan miliknya karena bentrokan itu. Tan Malaka menegaskan, “Di Indonesia kita dapat serukan kepada seluruh rakyat: Kamu tak akan kehilangan sesuatu milikmu kecuali belenggu budakmu!” (Tan Malaka, Naar de ‘Republiek Indonesia‘, 1925)

Sebagai orang yang pernah memimpin organisasi sebesar PKI, meski hanya sebentar, Tan Malaka juga menguraikan visi dan misi partai yang berhaluan Komunis.  Tujuan partai-partai Komunis dunia, ujar Tan Malaka, ialah menggantikan sistem kapitalisme dengan Komunisme. Antara kapitalisme dan komunisme ada satu masa peralihan. Dalam masa peralihan ini, proletariat melakukan diktator atas borjuasi. Ini berarti bahwa proletariat dunia memaksakan kehendaknya atas borjuasi dunia yang berulangkali mencoba mendapatkan kembali kekuasaan politik dan ekonomi yang hilang, agar dapat mempergunakan kembali alat-alat pemeras dan penindasnya.

Dalam masa penindasan itu, negeri-negeri kapitalis alat-alat penindasan borjuasi dunia diganti dengan negeri-negeri Soviet. Soviet adalah wujud diktator proletariat. Tujuan Soviet, menurut Tan Malaka, ialah menghapuskan kapitalisme dan mempersiapkan tumbuhnya Komunisme. Namun, Tan Malaka juga mengakui bahwa negara Soviet sebenarnya belum mewujudkan Komunisme. Untuk mecapai Komunisme orang harus melalui jalan yang lamanya mungkin puluhan tahun. Permulaan Komunisme yang tulen berarti berakhirnya negara Soviet. Negara Soviet, lanjutnya, akan berhenti sebagai negara, yaitu sebagai alat penindas dari proletariat, jika orang-orang borjuasi sebagai pemeras dan penindas telah dibasmi atau berubah menjadi anggota pekerja masyarakat Komunisme.

Tan Malaka berpendapat bahwa kapitalisme di Indonesia masih dalam taraf permulaan perkembangannya. Karena, waktu itu, industri-industri besar seperti industri-industri mesin, lokomotif, dan kapal, bahkan industri-industri yang sangat penitng, seperti tekstil, masih belum ada. Berhubung dengan itu, proletariat Indonesia berada lebih rendah daripada proletariat Eropa Barat dan Amerika. Diktator Proletariat yang tulen akan dapat membahayakan perikehidupan ekonomi di Indonesia, terlebih jika revolusi dunia tak kunjung datang. “Akibatnya, daripada itu bagian yang terbesar daripada penduduk, yaitu orang-orang yang bukan proletar, sangat mudah dihasut melawan buruh Indonesia yang kecil jumlahnya,” Tan Malaka merumuskan (Tan Malaka, Naar de ‘Republiek Indonesia‘, 1925).

Mengenai gagasan kemerdekaan bagi negara Indonesia yang berdaulat, Tan Malaka telah merumuskan sederet program sebagai realisasi perjuangannya. Program-program itu sangat rinci, meliputi bidang politik, ekonomi, sosial, pendidikan, hukum, militer, juga rencana aksi bagi keadilan kaum pekerja.

Tan Malaka menegaskan, jika orang-orang bukan proletar di Indonesia berkehendak berjuang untuk mencapai kemerdekaan nasional, maka mereka harus segera memperoleh bantuan buruh industri yang dengan kesadaran organisasi politik dan sarekat-sarekat sekerjanya akan mampu menghancurleburkan alat-alat politik dan ekonomi imperialis. Kemerdekaan nasional dapat tercapai jika ada kerjasama yang erat antara proletar dan bukan proletar. Jika kerjasama itu terputus maka kemerdekaan hanya memberikan satu jalan bagi perbudakan nasional baru. Tan Malaka pernah berucap, “Sikap dan semangat proletar, tani, dan pemuda Indonesia memuncak, sesuai semua karya dan pengharapan saya selama di perantauan” (Tan Malaka, 2005: 3)

Akhir kalam, Tan Malaka berharap, “Jika kita selanjutnya mendapatkan kemerdekaan itu, kita dapat juga mempertahankannya dengan lebih baik. Dengan tenaga-tenaga yang terdapat di Indonesia kita, nanti sesudah mendapatkan kemerdekaan, dapat melangkah ke arah komunisme internasional lebih cermat dan dengan pengharapan lebih banyak.” (Tan Malaka, Naar de ‘Republiek Indonesia‘, 1925),

3. Karya

Berikut karya-karya yang pernah ditulis Tan Malaka yang sejauh ini telah ditemukan. Karya ini ada yang berupa buku, roman populer, biografi, juga pamflet atau selebaran.  

  • SI Semarang dan Onderwijs (1921).
  • Menuju Republik Indonesia / Naar de ‘Republiek Indonesia (1925).
  • Semangat Muda (1926).          
  • Aksi Massa (1926).
  • Patjar Merah Indonesia (1938).
  • Madilog (1943).
  • Manifesto Jakarta (1945).
  • Politik (1945).
  • Rencana Ekonomi Berjuang (1945).
  • Muslihat (1945).
  • Merdeka 100%: Tiga Percakapan Ekonomi Politik (1945).
  • Thesis (1946).
  • Dari Penjara ke Penjara (1948).
  • Islam Dalam Tinjauan Madilog (1948).
  • Pandangan Hidup (1948).
  • Kuhandel di Kaliurang (1948).
  • Gerpolek: Gerilya - Politik - Ekonomi (1948).
  • Proklamasi 17-8-1945, Isi dan Pelaksanaannya (1948).

4. Rekonstruksi Sejarah dan Penghargaan

Malang bagi Tan Malaka, jasa-jasa dan perannya seolah lenyap tanpa bekas hanya gara-gara didakwa menantang pemerintahan Presiden Sukarno di era-era awal penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Republik Indonesia. Setelah sempat tidak diketahui bagaimana dan di mana Tan Malaka menghembuskan nafas penghabisan. Atas andil besar peneliti/sejarawan Belanda, Harry A. Poeze, yang selama 36 tahun lebih berkelana mencari jejak Tan Malaka, sebab dan tempat di mana Bapak Republik Indonesia meninggal dunia akhirnya ditemukan. (Kompas, 13 Agustus 2007).

Tan Malaka ternyata mati dibunuh oleh angkatan perang negerinya sendiri. Menurut hasil temuan Poeze pada 1997, Tan Malaka dieksekusi aparat TNI pada 21 Februari 1949 di desa Selopanggung, Kediri, atas perintah Letnan Dua Soekotjo dari Batalyon Sikatan bagian Divisi Brawijaya. Poeze juga mengungkap bahwa Soekotjo terakhir berpangkat brigadir jenderal dan pernah menjadi Walikota Surabaya. Eksekusi dilakukan karena Tan Malaka dianggap bersalah karena telah menentang pemerintah Sukarno.

Baru pada 2009, dibentuklah Panitia Peringatan 112 Tahun dan 60 Tahun Hilangnya Tan Malaka. Panitia ini didukung oleh Tim Penasehat dari Kementerian Sosial RI antara lan Adnan Buyung Nasution, Zulhasril Nasir, Asvi Warman Adam, Imam Suroso, Aulia Rahman, dan lainnya. Sementara kepanitiaan diketuai oleh Zulfikar Kamarudin (keponakan Tan Malaka) dan dibantu oleh DP Asral (Ketua LPPM Tan Malaka).

Tim tersebut bertugas melakukan penggalian makam almarhum yang diindikasikan sudah 99% adalah makam Tan Malaka, yang akan dibuktikan melalui tes DNA dengan Zulfikar, anak dari Kamaruddin Rasad, adik Tan Malaka, karena Tan Malaka sendiri tidak menikah. Lokasi makam Tan Malaka tersebut terletak di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Penggalian makam ini pada kenyataannya tertunda sampai dua kali karena beberapa kendala (Tempo Interaktif, 12 Maret 2009 dan Okezone.com, 2 Maret 2009).

Tugas lain tim itu adalah menerbitkan buku kenang-kenangan berupa tulisan-tulisan tokoh-tokoh sezaman dengan almarhum yang belum sempat diterbitkan dan tokoh masa kini serta generasi muda sekarang dari berbagai disiplin ilmu.

Beberapa usaha telah dilakukan sebagai bentuk penghargaan atas jasa dan peran Tan Malaka, seperti pendirian Lembaga Penelitian dan Pengkajin Masyarakat (LPPM) Tan Malaka yang diketuai Datuk Putih Arsal, dan peresmian rumah Tan Malaka di Pandan Gadang, Limapuluh Kota, Sumatra Barat, sebagai Museum dan Pustaka Tan Malaka, pada 21 Februari 2008 (PadangKini.com., 2 Maret 2008).

(Iswara NR/tkh/02/04-2009)

Referensi:

Dewi Yuliati, Semaoen, Pers Bumiputera, dan Radikalisasi Sarekat Islam, Semarang. Semarang: Penerbit Bendera, 2000.

Hasan Nasbi, Filosofi Negara Menurut Tan Malaka, Jakarta: LPPM Tan Malaka, 2004.

Hobsbawm, E.J., Nasionalisme Menjelang Abad XXI, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992.

Shiraishi, Takashi, Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1997.

Tan Malaka, Dari Penjara Ke Penjara Bagian I, Jakarta: Teplok Press, 2000.

_______, Dari Penjara Ke Penjara Bagian II, Jakarta: Teplok Press, 2000.

_______, Dari Penjara Ke Penjara Bagian III, Jakarta: Teplok Press, 2000.

_______, Gerpolek, Yogyakarta: Jendela 2000.

_______, Madilog (Materialisme Dialektika Logika), Jakarta: Teplok Press, 2000.

_______, Merdeka 100% (Tiga Percakapan Ekonomi Politik), Tangerang: Marjin Kiri, 2005.

Van Niel, Robert, Munculnya Elit Moden Indonesia, Jakarta: Pustaka Jaya, 1984.

Artikel di Media Massa dan Internet:

-------, “Bapak Republik yang Dilupakan, Tan Malaka (1897-1949), dalam majalah Tempo Edisi Khusus Hari Kemerdekaan, 11-17 Agustus 2006.

-------, “Harry A Poeze: 36 Tahun Berburu Jejak Tan Malaka”, dalam Kompas, 13 Agustus 2007.

-------, “Harry A Poeze: Tan Malaka Sosok yang Terlupakan”, tersedia di www. antarasumut.com, data diunduh pada 28 April 2009.

-------, “Karya-karya Tan Malaka (1897 – 1949)”, tersedia di www.marxists.org, data diunduh pada 28 April 2009.

-------, “Tan Malaka, Terlupakan (Bapak Republik Indonesia Jauh Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945)”, dalam Singgalang, 20 Agustus 2007.

Arief Destika, “Tan Malaka, Pejuang Revolusioner yang Kesepian, tersedia di www. ariefdestika.multiply.com, data diunduh pada 28 April 2009.

Febrianti, ”Museum dan Pustaka Tan Malaka Diresmikan”, tersedia di www.padangkini. com, data diunduh pada 28 April 2009.

Hari Tri Wasono, “Makam Tan Malaka Batal Dibongkar”, tersedia di www. tempointeraktif.com, 12 Maret 2009, data diunduh pada 28 April 2009.

Rizal Adhitya Hidayat, “Madilog: Sebuah Sintesis Perantauan”, tersedia di www.majalah .tempointeraktif.com, data diunduh pada 28 April 2009.

Rus Akbar, “Makam Tan Malaka Dibongkar 12 Maret?”, tersedia di www.okezone.com, 2 Maret 2009, data diunduh pada 28 April 2009.

Saiful Arif, “Madilog, Metode Berpikir Kaum Proletar”, tersedia di www.saifularif.com., data diunduh pada 28 April 2009.

Dibaca : 7.200 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password