Sabtu, 27 Mei 2017   |   Ahad, 1 Ramadhan 1438 H
Pengunjung Online : 5.768
Hari ini : 25.689
Kemarin : 79.515
Minggu kemarin : 688.898
Bulan kemarin : 5.828.511
Anda pengunjung ke 102.473.949
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Abdul Rivai

a:3:{s:3:

1. Riwayat Hidup

Abdul Rivai adalah pelajar Indonesia lulusan sekolah dokter Bumiputera pertama yang mampu meneruskan kuliah ke sekolah kedokteran di Belanda, juga sebagai dokter Indonesia pertama yang diterima sebagai calon doktor (strata-3) di Eropa. Selain dikenal sebagai dokter, Abdul Rivai juga meriwayatkan namanya di ranah pers dan pergerakan nasional. Dia merupakan orang Indonesia pertama yang menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu dari Eropa, yaitu koran berkala Pewarta Wolanda yang diterbitkan dari Amsterdam, Belanda, pada 1900. Rivai juga tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang mengirimkan tulisan jurnalistiknya dari luar negeri ke tanah air.

Di ranah pergerakan nasional, Abdul Rivai menyalurkan perjuangannya melalui Indische Partij (IP) yang digagas oleh Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Soewardi Soerjaningrat, pada akhir 1913. Setelah IP diberangus aparat kolonial, Abdul Rivai bergabung dengan Insulinde (organisasi penerus IP), dan bersama Tjipto Mangoenkoesoemo, Rivai terpilih sebagai wakil anggota Volksraad (Dewan Rakyat) Hindia Belanda pada 1918, saat pertamakali Volksraad dibentuk. Abdul Rivai terkenal sangat vokal, kritis, dan berani dalam berbagai forum serta sidang-sidang Dewan Rakyat.

Abdul Rivai dilahirkan di Palembayan, Bengkulu, pada 13 Agustus 1871, dari kalangan keluarga yang cukup terhormat. Ayahnya, Abdul Karim, adalah seorang guru di sekolah Melayu, begitu pula kakak lelakinya yang juga berprofesi sebagai pengajar. Sementara Siti Kemala Ria, sang ibunda, menurunkan darah bangsawan kepada Rivai. Sang ibu masih keturunan dari Raja Muko-Muko Bengkulu. Itulah sebabnya mengapa Abdul Rivai bisa memperoleh pendidikan yang cukup baik di sekolah elit milik pemerintah Hindia Belanda.

Beruntung Rivai tumbuh besar dan berkembang di tengah nuansa politik etis –politik balas budi– yang kemudian sangat berpengaruh dalam membentuk mentalitas dan karakternya. Abdul Rivai menjadi pejuang pergerakan yang taktis namun tidak mengidap alergi terhadap perkembangan zaman dan kemajuan.

Sedari belia, watak keras lagi ulet Rivai memang sudah terlihat. Keteguhannya tak kenal mati. Apapun yang menjadi cita-citanya harus tercapai, dan untuk itu dia rela menderita serta sanggup berkorban. Rivai muda bertekad, dia harus pandai berbahasa Belanda untuk dapat meneruskan pendidikannya di sekolah dokter Bumiputera di Jawa (Soebagijo IN, 1976:2).

Setelah lulus dari sekolah lanjutan, tekad Rivai untuk merantau semakin mantap demi cita-citanya menjadi dokter. Maka, dengan modal seadanya, Rivai menyeberang lautan menuju Batavia untuk bersekolah di STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artchen), sekolah dokter Bumiputera. Rupanya tekad, bakat, dan otak Rivai memang cemerlang. Dia diterima sebagai di STOVIA pada 1886 atau pada usia 15 tahun.

Abdul Rivai merupakan salah satu Bumiputera pertama yang memilih STOVIA sebagai landasan karirnya. Selain Rivai, beberapa orang Indonesia lainnya yang menjadi pemula bersekolah di STOVIA antara lain Wahidin Soediro Hoesodo, Radjiman Wediodiningrat, Tirto Adhi Soerjo, dan kemudian dilanjutkan generasi Tjipto Mangoenkoesoemo, Soewardi Soerjaningrat, Soetomo, Abdoel Moeis, hingga Djamaluddin Adinegoro.

Setelah delapan tahun bergelut dengan segala aktifitas di STOVIA, Rivai akhirnya lulus dalam ujian akhir pada 1894. Setamat STOVIA, Rivai ditugaskan menjadi dokter di Medan. Rivai menjelma menjadi seorang dokter Bumiputera yang cerdas, berambisi, hemat, dan bertekad bulat. Sisi prestasi akademis Rivai memang cukup menonjol.

Rivai berkeinginan melawat ke Eropa dan untuk itu kemudian dia mengumpulkan uang. Setelah tabungannya terkumpul sebanyak 20.000 gulden, dia mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai dokter di Medan. Tujuannya kini adalah meneruskan sekolah ke Belanda. Van Deventer, salah seorang penganjur politik etis, sangat menyokong maksud Rivai itu (Agung DH,  2007: 12).

Namun, birokrasi berkata lain. Izin Rivai untuk menuju Belanda dipersulit orang pemerintahan yang tidak suka padanya. Rivai terpaksa harus menunggu keputusan dari pemerintah Hindia Belanda. Penghujung tahun 1899, Rivai akhirnya mendapatkan rekomendasi untuk meneruskan pendidikan ke Belanda. Tinta emas telah ditorehkannya: Abdul Rivai adalah dokter Bumiputera pertama yang berhasil merasakan bangku sekolah kedokteran di Belanda.

Kendati Rivai akhirnya diterima di Universitas Utrecht, Belanda, lagi-lagi dia mengalami kendala birokrasi. Rivai terancam tidak dapat mengikuti ujian akhir karena tak memiliki ijazah HBS (Hogeere Burger School, sekolah menengah). Sementara ijazah STOVIA yang dikantonginya dianggap tidak cukup memenuhi syarat untuk menempuh ujian sekolah dokter Belanda di fakultas kedokteran. Rivai diminta agar lebih dulu menempuh ujian persiapan sebelum sepenuhnya dapat dianggap sebagai mahasiswa kedokteran.

Meski kecewa, Rivai akhirnya mengalah. Dari Ultrecht, dia pindah ke Amsterdam untuk menempuh ujian persiapan sebelum mengikuti kuliah kedokteran di Universitas Utrecht. Dari Amsterdam inilah pada 1900 Abdul Rivai memprakarsai penerbitan surat kabar Pewarta Wolanda dengan bantuan Y. Strikwerda, seorang mantan asisten residen (Ahmat Adam, 2003: 160). Kendati diterbitkan dari Belanda, Pewarta Wolanda hadir dengan bahasa Melayu! Gebrakan yang tak biasa inilah yang menjadi bukti kentalnya rasa nasionalisme yang mengalir di darah Abdul Rivai sebagai orang Indonesia sejati.

Selain mengurusi Pewarta Wolanda, dokter Abdul Rivai memutuskan untuk terjun ke dunia jurnalistik. Rivai sering mengirimkan tulisan-tulisannya ke berbagai media massa yang terbit di Belanda maupun di tanah air. Boleh jadi Abdul Rivai merupakan orang Indonesia pertama yang mengirimkan tulisan jurnalistiknya dari luar negeri, melalui jasa telegraf yang kala itu menjadi teknologi informasi yang tercepat dan terhebat.

Dalam artikel-artikelnya, Rivai banyak menyoroti soal diskriminasi –seperti yang dialaminya sendiri atas hegemoni orang-orang Belanda terhadap kaum Bumiputera– dan sekaligus memperjuangkan supaya siswa-siswa Bumiputera lulusan STOVIA dapat langsung diterima di perguruan tinggi kedokteran di negeri Belanda.

Rivai sebenarnya sudah melakoni kegiatan menulis sejak berusia 21 tahun.  Pada 1892, Abdul Rivai meluncurkan karya terjemahan berjudul “Pengadjaran Perihal Melakukan Kewadjiban Orang Beristeri”, yang berisi tentang panduan pernikahan. Selanjutnya, berkat ketajaman pena dan tulisan-tulisannya yang menikam ketidakberesan, nama Rivai sebagai jurnalis segera melambung tinggi, bahkan melebihi statusnya sebagai dokter. Rivai dikenal sebagai seorang penulis yang pandai menyusun kata-kata, terlebih lagi dia selalu berani mengkritik segala apa yang dianggapnya kurang baik. Ketangkasan dan keberanian Rivai menyebabkan dia tak mau kalah dan tak mau dihinakan oleh siapapun, terlebih oleh orang Belanda.

Pada awal abad ke-20 itulah Rivai terlibat debat dengan AA Fokker, pejabat Belanda yang mengklaim lebih fasih berbahasa Melayu ketimbang orang Melayu sendiri. Jelas, sebagai orang asli Melayu, Rivai tidak terima atas kecongkakan Fokker. Melalui Pewarta Wolanda, juga lewat beberapa surat kabar lainnya, Rivai turun gelanggang menghadapi Fokker. Rivai bahkan menantang Fokker untuk berdebat di mimbar publik. Dalam forum tersebut, emosi Fokker terpancing, dia berang karena ada seorang inlander rendahan yang mencari perkara dengan orang Belanda dari kalangan terhormat seperti dirinya.

Serangan Rivai semakin tidak terbendung, sedangkan Fokker yang kian kalap akhirnya mengucap pledoi tanda kekalahan: “Seorang Belanda tidak boleh berbahasa Melayu!” (Soebagijo IN, 1981: 545). Dalih Fokker justru menandai kemenangan Rivai. Fokker tidak hanya terbukti payah dalam menunjukkan kebisaan berbahasa Melayu yang diakui dimilikinya. Sebaliknya, keluarbiasaan Rivai membikin para penganjur politik etis serta para pembesar di Belanda jadi terpesona, dan hikmahnya, Abdul Rivai diperkenankan untuk segera melanjutkan studi di Fakultas Kedokteran Universitas Ultrecht.

Seiring waktu, nama besar Abdul Rivai sebagai jurnalis ulung bersama Pewarta Wolanda terdengar sampai ke tanah air. Bersama Henri Constant Claude Clockener Brousson, seorang tentara Belanda yang juga penggiat media, Abdul Rivai menerbitkan Bandera Wolanda sejak 15 April 1901. Bandera Wolanda menempati kantor redaksi di Batavia dan dewan redaksinya terdiri dari Brousson, Rivai, Tehupeiorij, dan Wiggers.

Sebagai salah seorang redaktur utama Bandera Wolanda, Abdul Rivai memerankan lakonnya dari Belanda, sementara ketiga redaktur lainnya menjalankan keredaksian di dalam negeri. Beberapa nama lain yang pernah terlibat dalam penerbitan Bandera Wolanda antara lain Liem Soen Hwat dari Sibolga, Raden Mas Pandji Sosrokartono (kakak lelaki Kartini), serta Mas Abdullah yang menjadi ilustrator majalah ini di Amsterdam (Ahmat Adam, 2003: 162-163).


Bandera Wolanda

Ketika mengelola Bandera Wolanda inilah Abdul Rivai sempat tersangkut perkara dengan kaum putihan alias kalangan Muslim Hindia Belanda. Dalam Bandera Wolanda edisi Juni 1901, dimuat sebuah artikel atas nama Brousson dengan judul “Agama Protestan dan Islam” yang di antaranya menyatakan bahwa ada banyak kesamaan antara ajaran Islam dan Kristen Protestan. Tak pelak, artikel itu memantik kritik.

De Trijd, koran Katolik terbitan Amsterdam, berteriak paling keras dengan menegaskan, tulisan di Bandera Wolanda itu akan memicu ketegangan antara orang-orang Islam yang tidak terdidik dan rekan-rekan Katolik mereka di ketentaraan, dan bakal membuat umat Muslimin akan merasa lebih superior dibanding orang Katolik. Seruan kontra juga dari datang kalangan Islam yang tidak terima agamanya disama-samakan dengan agama lain.

Akibat polemik ini, Brousson dipanggil menghadap ke Kantor Kementerian Urusan Jajahan untuk dimintai keterangan. Awalnya Brousson menolak mengakui bahwa dia yang menulis artikel itu, tetapi pada akhirnya dia meminta maaf. Dalam surat tertanggal 3 Oktober 1901, Brousson memberikan penjelasan bahwa pendekatannya terhadap Islam diakui kurang teliti sehingga dia menulis dengan ceroboh bahwa Islam penuh prasangka dan kesesatan. Brousson berjanji tidak akan lagi menyentuh isu-isu keagamaan.

Akan tetapi, pengusutan lebih mendalam terhadap kasus ini masih terus dilakukan oleh pihak intelejen. Hasilnya, penyidik mencurigai bahwa bukan Brousson yang menulis artikel itu, melainkan Abdul Rivai. Beberapa pihak, bahkan dari luar lingkaran pemerintah, juga meyakini kecurigaan itu.

Wartawan kawakan sekaligus editor Pembrita Betawi, F. Wiggers, adalah salah satu orang yang berusaha mengendus keterlibatab Abdul Rivai dalam polemik itu. Melalui suratnya kepada Brussink, Kepala Percetakan Albrecht & Co., perusahaan percetakan di Batavia yang menerbitkan Bandera Wolanda, tertanggal 19 Desember 1901, Wiggers mencurigai bahwa penulis artikel itu sebenarnya adalah Abdul Rivai.

Dugaan berbagai pihak yang mendakwa Abdul Rivai sebagai orang pertama di balik penulisan artikel yang menghebohkan itu cukup masuk akal. Ada beberapa alasan. Pertama, Abdul Rivai berasal dari kalangan Muslim yang cukup taat dan tentu saja pengetahuannya tentang ke-Islaman jelas lebih matang daripada Brousson yang notabene orang Belanda.

Kedua, kendati seorang Muslim, Rivai bukan seorang yang fanatik, pemikirannya cukup liberal, sangat terbuka dan respek pada hal-hal yang berbau Barat, termasuk soal Kristen. Ketiga, posisi Rivai yang masih berada di Belanda sangat memungkinkan dia menulis soal-soal yang di Hindia Belanda dianggap tabu, dan kedudukan Rivai di Belanda itu menjadikan keamanannya relatif lebih terjamin.

Pemerintah Hindia Belanda memang menganggap persoalan yang menyangkut Islam sebagai hal yang sensitif. Apalagi kemudian tersiar kabar bahwa Brousson telah masuk Islam. Banyak kalangan, termasuk pemerintah kolonial dan pers, percaya pada kebenaran kabar tersebut.

Kondisi yang semakin tidak nyaman membuat Brousson dan Rivai memutuskan untuk mengundurkan diri dari keredaksian Bandera Wolanda. Keadaan bertambah runyam karena mereka berselisih dengan perusahaan Albrecht & Co. yang mencetak Bandera Wolanda, ditambah lagi terdengar kabar bahwa Brousson memang ingin pensiun dari dinas militernya karena dia ingin lebih berkonsentrasi di dunia pers.

Namun, jejak langkah Rivai di tapak-tapak pers Indonesia belumlah usai. Masih berkubu dengan Brousson, Rivai menggagas penerbitan Bintang Hindia pada Juli 1902. Dua organisasi Belanda, Algemeen Nederlandsch Verbond dan Vereeniging Oost en West, menyokong usaha Brousson dan Rivai. Dewan pimpinan kedua organisasi itu bahkan menyurati Kementerian Urusan Jajahan agar mendukung penerbitan Bintang Hindia yang disebutkan bertujuan untuk “mempromosikan pertumbuhan kebudayaan penduduk Pribumi dan memperkuat ikatan antara Belanda dan wilayah jajahannya” (Ahmat Adam, 2003: 168).


Henri Constant Claude Clockener Brousson

Mulanya, posisi Rivai di keredaksian Bintang Hindia adalah redaktur dan editor. Namun tidak lama setelah Bintang Hindia resmi beredar, Rivai langsung naik jabatan sebagai pemimpin redaksi meski kedudukannya masih di Belanda (Agung DH, 2007: 14). Berbeda dengan Brousson yang lebih berperan secara teknis di Bintang Hindia, Rivai memainkan lakonnya di ranah isi dan pemikiran yang kemudian menjadi poin khusus dalam setiap penerbitan Bintang Hindia.

Ketika edisi percontohan Bintang Hindia dilempar ke publik pada Juli 1902, Rivai menulis bahwa majalah dua mingguan itu –yang Rivai sebut sebagai “soerat tjerita” – mengemban tujuan yang ambisius lagi mulia yakni untuk memajukan pengetahuan rakyat hingga bisa mencapai status “bangsawan pikiran”, yakni bangsawan yang bukan lantaran faktor keturunan, melainkan orang yang menjadi “bangsawan” melalui perjuangan intelektualitas.

Bintang Hindia dengan warna nasionalismenya beranjak redup saat Rivai mengundurkan diri pada 1907.  Perlahan tapi pasti, Bintang Hindia semakin kehilangan pamor, gairah yang dulunya bergejolak mulai luruh, suara-suara yang menyerukan kemajuan Bumiputera seperti yang dulu keluar dari pena Rivai kian lamat-lamat terdengar, lirih, bahkan kemudian senyap sama-sekali. Hingga akhirnya, koran yang pernah menggebrak dunia pers di Belanda maupun di Hindia itu menghembuskan nafas cetak penghabisan tahun 1910

Setelah mentas dari Bintang Hindia, tersiar kabar baik untuk Rivai, dia diterima di Universitas Gent, Belgia, yang menyediakan program doktor tanpa disertasi tetapi dengan ujian terbuka. Pengumuman resmi dari Universitas Gent tertanggal 23 Juli 1908 menegaskan suka-cita itu: “Abdul Rivai telah diuji secara terbuka sesuai dengan undang-undang. Fakultas memutuskan bahwa yang bersangkutan telah lulus dengan memuaskan.” Dengan demikian, Abdul Rivai menjadi orang Indonesia alumni STOVIA (sekolah pendidikan dokter Bumiputera) pertama yang diterima sebagai calon doktor (Strata-3) di universitas di Eropa (Abdul Rivai, 2000: xvii)

Pada 1911, Rivai pulang ke tanah air dengan menyandang titel dokter lulusan Eropa. Rivai langsung diganjar jabatan tinggi sebagai opsir kesehatan pada angkatan militer di Cimahi, Jawa Barat. Dokter Pribumi yang mampu menempati jabatan sepenting itu merupakan hal yang istimewa.

Setahun kemudian, Rivai dipindahtugaskan ke Padang.  Seringkali Rivai bentrok dengan atasannya yang orang Belanda, kaum Bumiputera masih dianggap orang rendahan. Karena merasa selalu direndahkan dan dipersalahkan, Rivai mengajukan surat pengunduran diri dari pegawai Dinas Kesehatan pada Januari 1912 (Perniagaan, 23 Januari 1912). Abdul Rivai kemudian membuka praktek partikelir, awalnya di Semarang kemudian pindah ke Surabaya.

Berprofesi menjadi dokter tidak lantas membuat Abdul Rivai mandul dalam upaya terus berusaha memajukan bangsanya. Ketika pada 5 Oktober 1912 Tiga Serangkai menggagas Indische Partij alias IP, Abdul Rivai pun turut serta dengan mempelopori pendirian IP pertama di Sumatra pada 19 November 1912 (Tjahaja Timoer, 21 November 1912).

Selanjutnya pada 8 Februari 1913, Rivai memimpin pembentukan IP cabang Padang (Perniagaan, 10 Februari 1913). IP sendiri adalah organisasi yang terbuka bagi segala kalangan. Selain itu, IP juga merupakan perhimpunan politik pertama di Indonesia yang dengan tegas menyerukan kemerdekaan Hindia untuk Hindia, kemerdekaan Hindia (Indonesia) dari Belanda (Iswara N Raditya, 2008: 199).

Pada 1913, IP dibubarkan karena dianggap membahayakan. Para mantan aktivis IP kemudian mendirikan Insulinde sebagai organiasasi pengganti IP (De Expres, 1 April 1913 dan Perniagaan 2 April 1913). Abdul Rivai pun masuk dalam jajaran pengurus Insulinde. Organisasi ini kemudian mewujud besar dengan banyak cabang-cabangnya di daerah. Pendirian beberapa cabang Insulinde tersebut semisal di Yogyakarta pada 17 April 1913, Kendal pada 21 April 1913, Batavia pada 14 Mei 1913, serta di beberapa daerah lainnya (Perniagaan, 23 April 1913, 2 dan 16 Mei 1913).

Insulinde berideologi sama dengan IP, organisasi politik untuk segala kalangan yang menjadi warga Hindia Belanda, dan berjuang demi kedaulatan rakyat Hindia. Selama beberapa tahun ke depan, gerakan Insulinde berperan cukup sentral dalam mengawal proses penyadaran kebangsaan. Hingga akhirnya dibentuklah Volksraad (Dewan Rakyat) oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda pada Mei 1918. Volksraad didirikan sebagai lembaga dengan satu majelis yang hanya mempunyai wewenang memberi nasehat kepada Gubernur Jenderal (Ricklefs, 1995: 243).

Gubernur Jenderal van Limburg Stirum mengumumkan anggota-anggota Volksraad pada 18 Mei 1918. Abdul Rivai, bersama Tjipto Mangoenkoesoemo, terpilih sebagai wakil dari Insulinde (Djawi Hiswara, 21 Januari 1918). Abdoel Moeis dan Tjokroaminoto mewakili Sarekat Islam (SI), Achmad Djajadiningrat dan Pangeran Prangwedono dari Regentbond, Koesoemo Joedho, Koesoemo Oetojo, dan Radjiman Wediodiningrat dari Boedi Oetomo (BO), serta beberapa orang Bumiputera lainnya (Suradi, 1997: 15).

Abdul Rivai sangat vokal semasa menjadi anggota dewan. Dia tidak hanya cakap dalam memainkan pena, namun juga jago pidato. Orasi-orasi yang dilantangkannya di forum-forum Volksraad selalu berapi-api dan berisi. Pada Juli 1918, Rivai dan Radjiman Wediodiningrat menyampaikan surat permohonan pengunduran diri dari keanggotaan Volksraad. Alasan keduanya mengundurkan diri adalah karena mendapat tugas dari Raja Surakarta Susuhunan Pakubuwono X untuk pergi ke Eropa guna mendampingi putra-putra Susuhunan (Djawi Hiswara,18 Juni 1918).

Abdul Rivai kembali melawat ke Eropa, antara lain ke Belanda dan Swiss untuk mendampingi para pangeran kasunanan yang menuntut ilmu di sana. Pada kurun 1919-1921 Rivai berkelana ke negara-negara Eropa yang dulu belum sempat dia singgahi dan kemudian ke Amerika. Sepanjang perjalanannya itu, Rivai selalu mengirim tulisan-tulisannya ke tanah air demi kemajuan bangsanya.

Selama di benua seberang, Rivai terlibat dalam keredaksian Bintang Timoer selaku redaktur pembantu. Tulisan Rivai tetap ganas, berisi kritik, menelanjangi ketidakberesan. Slogan “kemajuan” dan “tanah air” yang didengungkan Rivai menjalar ibarat benih yang disemaikan di antara pemuda-pemuda Indonesia, baik yang berada di tanah air maupun yang sedang merantau di negeri orang. Dengan berbekal pena, Rivai memimpin dan menyadarkan bangsanya, sehingga berpuluh-puluh surat dari tanah air diterimanya. Kebanyakan dari surat-surat itu berisi sanjungan serta pujian atas jasa Rivai membuka mata banyak orang yang tertindas tentang politik penjajahan.

Ketika menetap di Belanda, Rivai menjadi saksi hidup ketika Mohammad Hatta dan kawan-kawannya yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia (PI) ditangkap pemerintah Belanda pada 1927 dengan tuduhan menjadi anggota perkumpulan terlarang, terlibat pemberontakan, dan menghasut. Rivai segera menulis kritikannya terhadap pemerintah Belanda melalui Bintang Timoer.

Selain itu, Rivai juga menggagas dibentuknya studiefonds alias lembaga donor untuk membantu anak-anak Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Belanda. Dalam Bintang Timoer edisi 28 Februari 1928, Abdul Rivai menulis:

“Dari tanah Indonesia, oleh pemerintah poen ada dikirimkan beberapa pemoeda-pemoeda ke Nederland oentoek mempeladjari ilmoe jang boleh terpakai dalam djabatan dan pergaoelan di sini. Tetapi, sebagai bangsa yang sadar, haroeslah bangsa Indonesia djangan menganggap sadja pemerintah itoe baboe, mentjoekoepi segala apa. Bangsa itu sendiri haroes beroesaha mengadakan fonds sendiri jang dapat mengirimi anak-anak moeda ke loear negeri, karena dalam soetaoe bangsa semoea-moea maoe djadi pegawai pemerintah, tiada besar pengharapan bangsa itoe oentoek doeodek di tingkatan atas, karena djoestroe kemadjoean itoe tiada semoea didapat dengan doedoek di kantor pemerintahan.” (Bintang Timoer, 28 Februari 1928).

Setelah puas merasakan gemah-ripah kehidupan di Eropa dengan segala modernitasnya, Abdul Rivai kembali ke tanah air pada 1932. Sembari membuka klinik pengobatan di Tanah Abang, Batavia, Rivai tetap konsisten di jalur jurnalistik dengan masih membantu keredaksian Bintang Timoer dan memperoleh honor 100 gulden, upah yang terbilang sangat lumayan untuk zaman itu. Rivai sendiri sebenarnya tidak berharap mendapat imbalan dari Bintang Timoer, kendati kalaupun ada, dia tidak menampiknya. “Saja soeka bekerdja dengan pertjoema kalau Bintang Timoer sendiri beloem sanggup membajar, tetapi bilamana sanggoep, saya minta bajaran,” ujar Rivai suatu kali (Soebagijo IN, 1981: 547).

Meski berprofesi sebagai dokter, bukan berarti Rivai kebal penyakit. Pada suatu kali saat Rivai mulai sakit-sakitan, dokter pribadinya menyarankan agar Rivai pindah ke tempat yang berhawa sejuk. Rivai kemudian pindah ke Bandung. Namun, kesejukan Paris van Java ternyata tidak mampu untuk menyelamatkannya dari takdir. Akhir riwayat, pada 16 Oktober 1937, Abdul Rivai menghembuskan nafas pamungkas di kediamannya, Sumatrastraat, Bandung.

2. Pemikiran

Sosok Abdul Rivai cukup lekat dengan pencitraan sebagai seorang yang sangat pro kemajuan. Rivai berjuang menentang kolonialisme dan imperialisme Belanda dengan jalan yang cerdas. Rivai bukan orang yang bertipe kolot dan kalap dalam menyiasati perjuangannya melawan ketidakadilan. Sebaliknya, dia teramat menikmati berbagai “fasilitas” modern yang “disediakan” pihak lawan dengan tujuan kebaikan dan kemajuan rakyat Indonesia.

Perihal pemaknaan bangsa yang maju, Rivai punya rumusan khusus. Secara garis besar, Rivai membagi manusia Indonesia dalam dua golongan, yaitu bangsawan usul dan bangsawan pikiran. Melalui artikelnya yang dimuat dalam Bintang Hindia tahun 1902, Rivai menjabarkan dua golongan manusia Indonesia yang dirumuskannya itu:

“Bila kita bandingkan bangsa Hindia dengan ‘bangsa koelit poetih‘ maka pelbagai djoea perbedaan, jang akan didapati ... sama besarnja dengan kelainan boemi dan langit ... Apakah sebab perbedaan ini? ... Di tanah Europa adalah doea djinis bangsawan: Bangsawan Oesoel dan Bangsawan Pikiran.” (Bintang Hindia, Nomor Contoh 3, 1902)


Abdul Rivai di Masa Muda

Menurut Abdul Rivai, bangsawan usul terdiri atas orang-orang dari golongan ningrat yang status priyayinya berasal dari faktor keturunan, dengan kata lain memang sudah tergaris ningrat.  Selengkapnya tentang bangsawan usul, Rivai menulis:

“Dari hal bangsawan oesoel itoe ta oesahlah kita berpandjangan kalam, karena bangsawan ini ialah soeatoe takdir djoea. Djika nenek moyang kita –oleh sebab jang atjapkali tiada disengadja– pada zaman poerbakala terhitoeng di dalam kaoem orang bangsawan, maka nyatalah kita poen ‘orang yang berbangsa‘; walaoepoen pengetahoean dan kepandaian kita seperti keadaan ‘kodok di bawah tempoeroeng.‘  Nistjajalah kita berhak, akan berbesar diri; akan tetapi djika ada orang jang tiada hendak meindahkan hak itoe maka tiadalah boleh kita berketjil hati. Sebabnja, maka demikian, karena kita sekarang hidup di abad jang ke XX.” (Bintang Hindia, Nomor Contoh 3, 1902)

Dalam tulisan itu Abdul Rivai menyatakan bahwa status keningratan bangsawan usul sudah berasal dari nenek moyangnya. Rivai menekankan, bagi kalangan yang tidak memiliki garis darah biru tidak perlu khawatir sebab masa itu adalah abad ke-20 di mana yang lebih diperlukan justru pengetahuan yang mumpuni “ketimbang” status sosial keningratan semata. Kaum berpengetahuan maju inilah yang disebut Rivai sebagai bangsawan pikiran. Bangsawan pikiran merupakan golongan priyayi yang muncul bukan karena faktor keturunan melainkan karena hal-hal yang Rivai sebut sebagai kelebihan luar biasa.

“Kekoeatan badan, ketinggian bangsa, dan kemoeliaan oesoel tiadalah pasal yang pertama lagi akan mendjadi orang jang terbilang. Sekarang bolehlah kepandaian dan ilmoe meatoerkan ke dalam bahagian manakah kita terhitoeng. Keadaan inilah menimboelkan ‘bangsawan pikiran‘ ...  Adapun bangsawan pikiran itu boleh didapat oleh sekalian manoesia. Oleh sebab ini, bangsa Hindia (Indonesia) poen boleh menjadi sedemikian.” (Bintang Hindia, Nomor Contoh 3, 1902)

Kesimpulannya, bangsawan pikiran adalah mereka yang mau belajar dan mempelajari pikiran serta pendapat orang-orang lain yang lebih berilmu, dalam hal ini adalah kaum intelektual bumiputera. Penggolongan Rivai atas intelektual sebagai bangsawan pikiran menunjukkan bahwa dia menempatkan kaum terpelajar Indonesia dalam posisi yang sangat penting dalam memimpin bangsanya menuju kemajuan. (Ahmat Adam, 2003: 176).

Abdul Rivai sudah dapat memandang jauh ke depan bahwa perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme tidak akan kekal bila dilawan dengan kekuatan fisik. Abdul Rivai cenderung menekankan perjuangan dengan ilmu pengetahuan dan kepandaian, seperti yang ditulisnya dalam salah sebuah edisi surat kabar Bintang Hindia tahun 1902: “Musuh yang bersenjata itu hanya boleh dilawan oleh musuh yang bersenjata pula. Demikian juga ilmu dan kepandaian itu hanyalah cakap dilawan dengan ilmu dan pengetahuan pula.”

3. Karya dan Karir Jurnalistik

  1. Penggagas penerbitan surat kabar Pewarta Wolanda dari Amsterdam, Belanda (1900).
  2. Redaktur surat kabar Bandera Wolanda, terbitan Batavia (1901).
  3. Pemimpin redaksi surat kabar Bintang Hindia, terbitan Batavia (1902).
  4. Redaktur dan koresponden surat kabar Bintang Timoer.
  5. Menulis buku terjemahan “Pengadjaran Perihal Melakukan Kewadjiban Orang Beristeri” (1892).
  6. Menulis buku “Student Indonesia di Eropa” yang merupakan hasil reportase Abdul Rivai selama berkunjung ke Eropa dan melihat dari dekat perjuangan mahasiswa Indonesia di Belanda pada masa kolonial.

4. Jasa dan Pengabdian

  1. Orang Indonesia pertama yang menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu dari Eropa, yaitu Pewarta Wolanda yang diterbitkan dari Amsterdam, Belanda, pada 1900.
  2. Dokter Indonesia pertama yang berhasil melanjutkan studi kedokteran kedokteran di Belanda.
  3. Orang Indonesia pertama yang mengirimkan tulisan jurnalistiknya dari luar negeri.
  4. Orang Indonesia alumni STOVIA (sekolah pendidikan dokter Bumiputera). pertama yang diterima sebagai calon doktor (Strata-3) di universitas di Eropa.
  5. Pelopor pendirian cabang Indische Partij (IP) pertama di Sumatra pada 19 November 1912.
  6. Penggagas  pembentukan  IP cabang Padang pada 8 Februari 1913.
  7. Mengabdikan diri sebagai dokter di Padang pada 1912, kemudian di Semarang dan Surabaya,
  8. Penggagas dibentuknya studiefonds (lembaga donor) untuk membantu anak-anak Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Belanda.
  9. Menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) mewakili Insulinde, angkatan pertama, pada 1918.

(Iswara NR/Tkh/03/05-09)

Referensi Pustaka:

Abdul Rivai, Student Indonesia di Eropa, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia-Yayasan Adikarya IKAPI, 2000.

Adam, Ahmat. “The Vernacular Press and The Emergence of Modern Indonesia Consciousness 1855-1913”. 1998. a.b. Amarzan Loebis. Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.

Agung Dwi Hartanto,  “Abdul Rivai: Jadilah Bangsawan Usulan dan Pikiran”, dalam AN Ismanto (Ed.), Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia, Jakarta: IBOEKOE, 2007.

Iswara N Raditya (Ed.), 7 Bapak Bangsa, Jakarta: Rahzenbook, 2008.

Poeze, Harry, A., “In Het Land van de Overheerser: Indonesiers in Nederland 1600-1950”. 1986. a.b Hazil Tanzil dan Koesalah Soebagyo Toer. Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda (1600-1950), Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2008.

Ricklefs, MC, Sejarah Indonesia Modern, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1995.

Soebagijo IN, Jagad Wartawan Indonesia,  Jakarta: Gunung Agung, 1981.

_______, Sebelas Perintis Pers Indonesia, Jakarta: Djambatan, 1976.

Suradi, Haji Agus Salim dan Konflik Politik dalam Sarekat Islam, Pustaka Sinar Harapan, 1997.

Referensi Surat Kabar:

  • Bintang Hindia, Nomor Contoh 3, 1902
  • De Expres, 1 April 1913
  • Djawi Hiswara, 21 Januari 1918
  • Perniagaan 2 April 1913
  • Perniagaan, 10 Februari 1913
  • Perniagaan, 2 Mei 1913
  • Perniagaan, 23 April 1913
  • Perniagaan, 23 Januari 1912
  • Perniagaan,16 Mei 1913
  • Pewarta, Mei-Juni 1957
  • Tjahaja Timoer, 21 November 1912

Sumber Foto:

Dibaca : 9.435 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password