Kamis, 14 Desember 2017   |   Jum'ah, 25 Rab. Awal 1439 H
Pengunjung Online : 1.240
Hari ini : 353
Kemarin : 39.723
Minggu kemarin : 254.041
Bulan kemarin : 5.609.877
Anda pengunjung ke 103.955.051
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Siti Aisyah We Tenri Olle


We Tenri Olle, sang Datu Tanete

Riwayat Hidup

Siti Aisyah We Tenri Olle adalah datu (ratu) pertama di Kerajaan Tanete, Sulawesi Selatan. Meski berstatus sebagai datu pertama di Tanete, sayangnya riwayat hidup sosok Siti Aisyah We Tenri Olle (selanjutnya ditulis We Tenri Olle) masih belum banyak ditulis. Maklum saja, selain minimnya tulisan yang mengangkat tentang beliau, We Tenri Olle sendiri nyaris tidak meninggalkan tulisan tentang dirinya. Setidaknya hanya satu tulisan yang diakui merupakan buah pikir beliau. Tulisan tersebut adalah terjemahan dari karya monumental I La Galigo. Sebuah epos dari kebudayaan Bugis.

Satu hal yang pasti adalah We Tenri Olle terlahir sebagai anak bangsawan Tanete. Ibu We Tenri Olle bernama Colliq Poedjie, kemudian bergelar Arung Pancana. Sesuai dengan gelarnya, Arung Pancana adalah seorang Aru di Pancana. Aru sendiri merupakan nama penguasa yang lazim disebut dalam kebudayaan Sulawesi. Aru merupakan kepala pemerintahan yang berdiri sendiri (otonom). Daerah kekuasaan seorang aru dinamakan wanua (daerah). Sedang wanua tersusun dari beberapa panili (kampung). Kedudukan We Tenri Olle sendiri nantinya berada di atas wanua, sebagai  Datu Tanette  ke- XVIII atau Kepala Negara Tanete ke-XVIII (J.A. Bakkers, “Tanette en Baroe (Celebes)”: 1862 dalam Matanasi (ed.): 2008, 267).

Ayah We Tenri Olle bernama La Tunampareq alias To Apatorang dengan gelar Arung Ujung. Dari perkawinan ini lahir tiga orang anak, satu laki-laki dan dua perempuan. Anak laki-laki bernama La Makkawaru, dan dua anak perempuan bernama Siti Asisyah We Tenri Olle dan si bungsu I Gading yang kemudian memperoleh gelar Arung Attaka di Sopeng. Setelah La Tunampareq meninggal dunia, Colliq Poedjie tinggal di Tanete bersama ayahnya, La Rumpang. La Rumpang naik tahta setelah La Patau, Raja Tanete sebelumnya diusir Belanda (Aru Pancana Toa, “I La Galigo”: 1995, dalam Matanasi (ed.): 2008, 264).  

Belum diketahui secara pasti kapan We Tenri Olle dilahirkan. Hanya saja dirunut dari namanya, Siti Aisyah We Tenri Olle, jelas kala itu budaya Islam telah berpengaruh di Tanete. Nama Siti Aisyah adalah bukti bahwa pengaruh Islam telah masuk ke Sulawesi Selatan.

Kedatangan Islam di Sulawesi Selatan tidak bisa dipisahkan dengan resminya Islam diterima di Kerajaan Gowa dan Tallo pada 9 Jumadil Awal 1014 H atau 22 September 1605 M. Penerimaan Islam di kerajaan tersebut ditandai pula dengan kedatangan tiga orang datuk atau datuk talua (Makassar) atau datuk tellué (Bugis), yaitu Abdul Makmur (Datuk Ri Bandang), Sulaiman (Datuk Patimang), dan Abdul Jawad (Datuk Ri Tiro). Ketiga datuk ini datang dari Koto Tengah, Minangkabau. Mulai dari titik inilah, Kerajaan Gowa dan Tallo, Makassar dan selanjutnya Sulawesi Selatan pada umunya, terpengaruh dengan kebudayaan Islam, termasuk Tanete. (J. Noorduyyn, “Origins of South Celebes Historical Writing,”: 1975  dalam Sewang: 2005, 2 dan 89-90) 

Pengaruh Islam pertama kali memang terpusat di lingkup istana. Sehingga ketika lingkup istana telah kuat, maka pengaruh ini otomatis menyebar ke masyarakat. Di Tanete sendiri, Islam juga berpengaruh kuat dalam lingkup istana. Hasilnya banyak nama pembesar istana di Tanete yang memakai nama Islam, salah satunya adalah Siti Aisyah We Tenri Olle.

Meski pengaruh Islam sangat kuat di lingkup Kerajaan Tanete, tapi  tidak menutup ruang bagi kebudayaan lain untuk masuk. Nyatanya, ketika La rumpang naik tahta di Kerajaan Tenete, muncul orang Barat yang menjalin ikatan cukup kuat dengan Kerajaan Tanete bernama B.F. Matthes dan Ida Pfeiffer. Ida Pfeiffer adalah orang Austria yang melakukan perjalanan keliling dunia dan menyempatkan diri singgah di Tanete pada April 1853. Interaksi antara We Tenri Olle dengan Ida Pfeiffer, ditengarai menjadi alasan kuat minat seorang We Tenri Olle di kemudian hari untuk memajukan kaum wanita di Tanete.

Imajinasi tentang kemajuan wanita, mulai terwujud ketika We Tenri Olle naik tahta sebagai Datu Tanete. Sebenarnya terdapat pertentangan atas naiknya We Tenri Olle sebagai datu. Pertentangan itu justru datang dari sang ibu. Pertentangan diawali dengan sikap tidak setuju jika We Tenri Olle naik sebagai datu karena masih mempunyai saudara laki-laki, La Makkawaru, yang menurut Colliq Poedjie lebih berhak menduduki tahta dibandingkan dengan We Tenri Olle yang notabene seorang wanita.

Pertentangan untuk menentukan posisi datu akhirnya mereda dengan keluarnya keputusan dari La Rumpang untuk mengangkat We Tenri Olle sebagai Datu Tanete. Keputusan dari La Rumpang sekaligus mengakhiri pertentangan karena hak mengangkat datu menjadi kewenangan La Rumpang, Ayah Colliq Poedjie, sekaligus Kakek We Tenri Olle, Datu Tanete ke-XVII. Sang kakek lebih memilih We Tenri Olle karena penilaian yang kurang baik atas sikap La Makkawaru. Bagi La Rumpang, La Makkawaru tidak lebih daripada seorang penjudi dan pemadat. Beda halnya dengan We Tenri Olle.

Usulan tentang kenaikan We Tenri Olle dilaporkan kepada Gouverneur Celebes en Onderhorigheden (Gubernur Sulawesi dan Daerah Taklukan) pada 1852. Usulan ini diterima, sehingga bertahtalah We Tenri Olle sebagai Datu Tanete ke-XVIII pada 1855, menggantikan kakeknya, La Rumpang Megga Matinro Eri Moetiara .

Ketika bertahta menjadi Datu Tanete, We Tenri Olle menikah dengan Datu Bakka (Soppeng) bernama La Sandji Oenroe. Dari pernikahan ini lahirlah We Pantjaiktana Bunga Walie, I Pateka Tana, I Hawang, dan seorang anak laki-laki bernama Le Dessoe –yang kemudian menjadi pengganti La Sangadji Onroe sebagai Datu Bakka (D.A.F Brautigam, “Nota betreffende het zelfbesturend landschaap Tanette”: 1914 dalam Frederick dan Soeroto, “Pemahaman Sejarah Indonesia: Sebelum dan Sesudah Revolusi”: 2005 dalam Matanasi (ed.): 2008, 264-265).

Selama memerintah, beberapa kebijakan telah dilakukan We Tenri Olle. Antara lain: perubahan struktur pembagian wilayah negeri, penelusuran kembali karya monumental I La Galigo, dan pendirian sekolah bagi seluruh lapisan masyarakat. Selama We Tenri Olle memimpin, Tanete menjadi wilayah yang cukup kondusif. Salah satu indikasinya adalah Tenete tidak pernah terlibat perang melawan Belanda.

We Tenri Olle lebih memilih mengambil sikap kooperatif dengan Belanda untuk menciptakan suasana kondusif. Suasana kondusif memungkinkan rakyat Tanete bisa melakukan segala aktivitas, termasuk di dalamnya aktivitas perekonomian dan pemerintahan.

Era kondusif ini tetap terpelihara sampai We Tenri Olle turun tahta pada 1910, setelah setengah abad memimpin (1855-1910). Sembilan tahun pasca turun tahta, pada 1919 We Tenri Olle meninggal dunia dan dimakamkan di Pancana yang kini termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Tanete Rilau di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan (www.id.wikipedia.org). Makamnya dibangun menyerupai bentuk kubah, model arsitektur Eropa (“Makam We Tenri Olle Raja Tanete ke XVIII”, tersedia di www.barru.go.id).


Makam We Tenri Olle di Pancana.
Pancana kini termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Tanete Rilau,
Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan

Pemikiran

Sebagai datu di Tanete, We Tenri Olle memiliki pengaruh dan kekuasaan yang sangat luas. Lewat kekuasaan inilah, We Tenri Olle mengaplikasikan berbagai pemikiran, terutama di bidang kepemimpinan, kesusasteraan, dan pendidikan. 

A. Kepemimpinan

Sebagai pucuk pimpinan di Kerajaan Tanete, We Tenri Olle berusaha menempatkan diri sebagai pemimpin yang bijaksana. We Tenri Olle mencoba memadukan antara beberapa budaya yang dijadikan landasan di era kepemimpinannya, yaitu Budaya Islam, Bugis, dan politik yang bersinggungan langsung dengan Belanda.

Tentang kepemimpinan sendiri, dalam budaya Bugis, muncul salah satu naskah kuno yang mengajarkan tentang kepemimpinan. Naskah tersebut dinamakan Naskah Pau-Pauna Sehek Maradang (Hikayat Syekh Maradang). Disebutkan dalam naskah tersebut, kewajiban seorang pemimpin ada 5, yaitu:

Orang yang pintar adalah orang yang memikirkan bagaimana menciptakan kesejahteraan suatu negeri; Orang yang kaya adalah orang yang memiliki harta benda dan mendermakan kekayaannya untuk membangun negerinya; Orang pemberani adalah orang yang dapat melindungi rakyatnya; Wali adalah orang yang dimuliakan Allah; dan Fakir adalah orang yang diterima doanya oleh Tuhan. (Hafid dan Hadrawi: 1996/1997, 122)

Dari 5 tuntunan yang diajarkan melalui Hikayat Syekh Maradang inilah, dapat dilihat tipikal kepemimpinan We Tenri Olle. Misalnya saja tipe kepemimpinan We Tenri Olle dalam mengatur wilayah serta politik dalam dan luar negeri kerajaan.

We Tenri Olle mencoba menjadi orang yang pintar dan pemberani dengan memikirkan bagaimana menciptakan kesejahteraan bagi negeri sekaligus melindungi rakyatnya. Salah satu sikap yang diambil oleh We Tenri Olle adalah sikap kooperatif dengan Belanda. Tujuannya adalah menciptakan situasi kondusif agar segala kegiatan rakyat dan pemerintahan bisa berjalan dengan lancar.

Kepemimpinan We Tenri Olle dalam memimpin Kerajaan Tanete memang tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Belanda. Baik secara langsung atau tidak langsung, Belanda turut membentuk karakter kepemimpinan yang dibawakan oleh We Tenri Olle, bahkan sejak We Tenri Olle naik tahta pada 1855.

Belanda telah mengikat Sulawesi Selatan ketika Perjanjian Bongaya ditandatangani pada 1667. Tapi masuknya Inggris, membuat Belanda kalah perang pada 1811 dan terpaksa pergi dari wilayah Sulawesi Selatan. Baru pada 1816, setelah Inggris kehilangan pengaruh di Sulawesi Selatan, Belanda masuk kembali. Kembali masuknya Belanda ke Sulawesi Selatan dianggap tidak bermuatan hukum dan banyak kerajaan yang menyatakan tidak tunduk pada Belanda sebagaimana diatur dalam Perjanjian Bongaya.

Banyaknya kerajaan yang menyatakan tidak tunduk pada Belanda, memaksa Gubernur Jenderal van der Capellen mengunjungi wilayah Sulawesi Selatan pada 1824. Tujuan kedatangan van der Capellen adalah membujuk beberapa kerajaan untuk menyatakan tunduk pada Belanda. Beberapa kerajaan menyatakan kesediannya untuk tunduk, kecuali Kerajaan Bone. Atas penolakan ini, Bone diserang oleh Belanda yang bersekutu dengan pasukan Makassar dari Gowa pada 1825. Bone dapat dikalahkan. Kekalahan Bone berarti secara umum Belanda mutlak berkuasa di Sulawesi Selatan. Meski demikian, ketika Perang Jawa meletus (1925-1930), muncul kembali perlawanan berskala kecil di Sulawesi Selatan (Ricklefs: 1992, 207).

Pengaruh mutlak Belanda terhadap Sulawesi Selatan bagi We Tenri Olle bukan sebuah ancaman bila We Tenri Olle mengambil sikap tidak menentang Belanda. Berkaca pada penguasa sebelumnya, We Tenri Olle mengambil jalan kooperatif dengan Belanda. We Tenri Olle lebih memilih menjadi pemimpin yang pintar dan pemberani dengan mensejahterakan rakyat, melindungi, dan tidak membawa rakyat ke medan pertempuran dengan Belanda.

Menurut We Tenri Olle, sikap menentang Belanda hanya akan menyengsarakan rakyat. Roda pemerintahan dan alur kegiatan yang berlaku di masyarakat tidak akan berjalan jika dalam keadaan perang. Selain itu We Tenri Olle juga berkaca pada pengalaman para pemimpin Tanete yang menerima tindakan keras dari Belanda sebagai konsekuensi kekalahan perang. Sebut saja nasib yang menimpa La Patau, Raja Tanete yang diusir Belanda pada 1840 dan digantikan oleh La Rumpang, kakek We Tenri Olle. Bahkan We Tenri Olle mendapat penghargaan Commandeurkruis der Orde van Oranje Nassau (Tanda jasa dari Kerajaan Hindia Belanda berbentuk salip yang diberikan pada orang sipil), atas ketidakberpihakannya pada perlawanan terhadap Belanda yang terjadi di Pare-pare pada 1905. (Matanasi (ed.): 2008, 279).

Pemerintahan We Tenri Olle ditandai dengan perampingan struktur pemerintahan kerajaan yang dipimpinnya. Politik desentralisasi diganti dengan sentralisasi. Tujuan dari perubahan tipe pemerintahan ini semata-mata untuk mengatur wilayah Tanete yang merupakan suatu kerajaan dengan luas 61.180 hektar dan berpenduduk 13.362 jiwa pada 1861 (J.A. Bakkers, “Tanette en Baroe”: 1862 dalam Frederick dan Soeroto, “Pemahaman Sejarah Indonesia: Sebelum dan Sesudah Revolusi”: 2005 dalam Matanasi (ed.): 2008, 267).    

Tanete merupakan sebuah wilayah yang pada awalnya dibagi-bagi dalam beberapa kesatuan wilayah dengan pengangkatan seorang pemimpin di tiap bagiannya. Bagian terbawah disusun dari kampung di mana pada setiap kampung diangkat seorang pemimpin yang disebut macoa atau matoa. Kampung ini biasa disebut sebagai palili. Gabungan dari palili yang disepakati untuk dibangun secara bersama disebut wanua. Setiap wanua dipimpin oleh Aru atau Arung (daerah otonom). Di atas wanua terdapat datu atau kepala kerajaan (Poeponegoro dan Notosusanto: 1993, 49).

Seringkali seorang aru tidak sepakat dengan kebijakan dari datu. Hal ini tidak jarang menimbulkan konflik. Atas pertimbangan keamanan dan efektivitas dalam mengontrol wilayah, We Tenri Olle merubah susunan tersebut dan memusatkan menjadi dua bagian. Keputusan diperoleh berdasarkan pertimbangan dari We Tenri Olle, hadat (dewan kabinet), dan pejabat kerajaan lain untuk membagi Tanete dalam dua bagian. Pertama, adalah daerah Tanete yang terdiri dari beberapa daerah administrasi yang lebih kecil. Kedua, gattarang yang diperintah oleh kepala daerah dengan gelar sulewetang (pengganti atau wakil raja). Di atas kedua bagian ini, bertahtalah We Tenri Olle (Frederick dan Soeroto, “Pemahaman Sejarah Indonesia: Sebelum dan Sesudah Revolusi”: 2005 dalam Matanasi (ed.): 2008, 273).     

B. I La Galigo


I La Galigo: Lebih panjang daripada Mahabharata
dan pernah menjadi panutan hidup masyarakat Bugis

We Tenri Olle sangat mempedulikan kelangsungan kebudayaan bangsanya. Kepedulian ini diwujudkan dengan menggali kembali karya monumental, I La Galigo. Kemampuan We Tenri Olle untuk membaca dan menterjemahkan I La Galigo  ternyata merupakan keahlian yang menurun dari sang ibu, Colliq Poedjie. Sejak muda, We Tenri Olle telah belajar kesusastraan Bugis dari ibunya. Kebetulan semasa La Rumpang masih berkuasa, Colliq Poedji diberi tugas mengurus penulisan surat-surat kerajaan.  

I La Galigo tersusun dari sekitar 300.000 larik sajak dalam bahasa arkaik dengan cerita berangkai. I La Galigo bahkan bisa disandingkan dengan epik Kirgizstan, Manas yang berusia seribu tahun dan novel terbesar Cina, Impian Kamar Merah (Hung Lou Meng) berjumlah 120 jilid yang ditulis oleh Cao Xueqin dan Gao E di era Dinasti Manchu pada pertengahan abad ke-18 (Nirwan Ahmad Arsuka, “La Galigo, Odisei, Tarah Buendia,” dalam Kristanto (ed.): 2000, 399).

Dikatakan pula bahwa I La Galigo adalah suatu siklus sajak maha besar yang kemudian ternyata mencakup lebih dari 6.000 halaman folio. Setiap halaman naskah tersebut terdiri dari 10-15 suku kata. Artinya cerita I La Galigo ditulis dalam sekitar 300.000 baris panjangnya. Satu setengah kali lebih panjang dari epos terbesar Anak Benua India, Mahabharata yang hanya terdiri dari 160.000-200.000 baris (Matanasi (ed): 2008, 268). 

I La Galigo merupakan sebuah epos Bugis yang ditulis dalam Bahasa Bugis. Peneliti Barat pertama yang membuka tabir kelam karya agung ini adalah B.F. Matthes. Matthes adalah peneliti dari Belanda yang dikirim ke Hindia Belanda dari perwakilan Nederlandsch Bijbelgenootschaap (Lembaga dari Belanda yang mengurusi masalah kitab-kitab). Lewat kedatangan Matthes pada 1853 (pertengahan abad ke-19) inilah, I La Galigo berhasil diterjemahkan (Matanasi (ed.): 2008, 285).

Bagian pertama dari naskah ini disalin di kertas dengan memakai huruf lontaraq (huruf asli Bugis) sesudah tahun 1852. Colliq Poedjie adalah orang yang pertama kali membantu Matthes untuk menterjemahkan I La Galigo, sedang We Tenri Olle baru menyusul kemudian setelah sang ibu. Oleh Matthes, bagian pertama ini kemudian diterbitkan pada 1872 dengan aksara Bugis di dalam bukunya Boeginesche Chrestomathie Jilid II. Sebelumnya, saat tradisi tulisan dikenal masyarakat Bugis namun kertas belum ada, La Galigo ditorehkan di atas daun lontar, berupa outline cerita, tidak detil bait per bait. Bisa dimengerti karena cerita panjang lebar tidak mungkin ditulis secara rinci di atas lontar (“Perempuan Penggelut La Galigo (Bagian 1)”, tersedia di http://sudewi2000.files.wordpress.com. Diakses pada 11 Juni 2009).

Diperkirakan I La Galigo ini telah menjadi salah satu inti budaya masyarakat Bugis. Buktinya, dalam tradisi lisan masyarakat Bugis yang telah lebih dulu ada sebelum mereka mengenal tulisan, I La Galigo sudah dikenal dan membudaya. Di berbagai ragam upacara, umumnya dahulu ada seorang penembang yang menyanyikan nukilan atau episode naskah di hadapan para hadirin yang berkumpul. Sebut saja misalnya dalam upacara perkawinan, tanam padi, dan kelahiran anak. Semua ini menyiratkan betapa Sureq (surat/serat) Galigo sudah lama ada dan dipergunakan dalam tradisi masyarakat Bugis (“Perempuan Penggelut La Galigo (Bagian 1)”, tersedia di http://sudewi2000.files.wordpress.com. Diakses pada 11 Juni 2009).

Menurut Nurhayati, Ketua Divisi Sosial Budaya, Ekonomi dan Humaniora di Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin, pada masa dahulu kala I La Galigo dijadikan layaknya kitab suci Bugis. “Waktu Islam belum masuk, masyarakat masih menganut To Riolo (agama orang dulu atau agama leluhur), Kitab I La Galigo diperlakukan dengan sangat hormat. Banyak orang menyimpannya dalam kain putih. Tidak boleh menyimpannya di dekat kaki”. Dalam masyarakat Bugis zaman dulu juga ada tiga pilar yang berfungsi menjaga keutuhan tradisi I La Galigo, yaitu bissu (pendeta), perangkat adat, dan raja beserta keluarganya (“Perempuan Penggelut La Galigo (Bagian 1)”, tersedia di http://sudewi2000.files.wordpress.com. Diakses pada 11 Juni 2009).

Matthes menyebut bahasa yang digunakan dalam I La Galigo adalah oud-Boegineesch (Bahas Bugis Kuno). Tidak banyak orang yang mengerti bahasa ini, bahkan orang Bugis sendiri. Untunglah Colliq Poedjie adalah salah satu orang Bugis yang cukup tahu tentang kesusastraan sekaligus tentang bahasa.

Sebagai karya monumental, sayangnya I La Galigo tidak dapat diterjemahkan secara utuh. Saat Colliq Poetdjie membantu menerjemahkan, beliau hanya menemukan beberapa fagmen saja yang kemudian dialihbahasakan oleh Mathhes ke dalam Bahasa Belanda yang diperkirakan baru merangkum sepertiga dari keseluruhan cerita. Oleh Mantthes terjemahan ke dalam Bahasa Belanda ini kemudian diserahkan kepada Pemerintah Kerajaan Belanda lewat Nederlandsch Bijbelgenootschaap dan diabadikan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. 

Selain di Belanda, salah satu pihak yang mengabadikan karya I La Galigo di Indonesia adalah Muhammad Salim, Profesor Fachrudin Anbo Enre dengan dibantu oleh Nurhayati Rachman. Mereka mengumpulkan dan membukukan naskah I La Galigo menjadi sebuah buku dengan judul yang sama, I La Galigo (Matanasi (ed.): 2008, 290).

Epos I La Galigo menceritakan tentang perjalanan cinta sang tokoh utama bernama Sawerigading. Di dalam epos ini juga termuat peraturan-peraturan dan upacara-upacara yang ada dalam kerajaan yang dipimpin oleh Sawerigading. Kerajaan Sawerigading biasa dikaitkan dengan Kerajaan Luwuk yang dianggap sebagai sebuah kerajaan yang terpandang di Sulawesi Selatan.

Kisah cinta Sawerigading hanya sebagian dari inti cerita I La Galigo. Menurut Nirwan Ahmad Arsuka, “Sureg (serat/surat) Galigo adalah selebrasi pada kehidupan. Perayaan dunia yang muda dengan hamparan samudranya yang tidak pernah berdusta, yang setia membuka kesempatan menyesap keabadian detik-detik terakhir kesunyian sebelum prahara; keluasan tanpa batas yang kadang diterawang dengan mata berawan” (Nirwan Ahmad Arsuka, “La Galigo, Odisei, Tarah Buendia,” dalam Kristanto: 2000, 412-413).

Bersama sang ibu, We Tenri Olle penerjemah I La Galigo. Menurut Matthes, dari We Tenri Olle-lah Matthes memperoleh banyak pengetahuan mengenai ikhtisar dari epos I La Galigo. Jadi pembuka awal tabir diperkenalkannya I La Galigo ke dunia luar tidak lepas dari kerja keras Colliq Poedjie dan We Tenri Olle (Matanasi (ed.): 2008, 290).    

C. Pendidikan

We Tenri Olle ternyata menaruh minat yang sangat besar terhadap kemajuan pendidikan di Tanete. Pengaruh pendidikan didapat dari Matthes yang telah membuka sekolah di Tanete pada 1876 (Pelras, “The Bugisan”: 2006, dalam Matanasi (ed.): 2000, 291). Hanya saja, sekolah yang didirikan oleh Matthes ini dikhususkan untuk anak laki-laki dari golongan terpandang. Beda dengan Matthes, We Tenri Olle juga mendirikan sekolah yang terbuka untuk semua lapisan masyarakat.

Sangat disayangkan, literatur yang membahas tentang sekolah yang didirikan We Tenri Olle cukup minimalis. Sangat dimungkinkan sekolah yang didirikan We Tenri Olle tidak semodern sekolah Matthes. Berhubung belum semodern sekolah Matthes, maka mata pelajaran yang diajarkan di sekolah We Tenri Olle juga hanya berkisar pada pelajaran membaca dan berhitung. Dari kemungkinan ini bisa kategorikan bahwa sekolah We Tenri Olle terhitung sebagai sekolah desa atau dikenal sebagai volkschool (sekolah rakyat).

Bila dikaitkan dengan We Tenri Olle-Matthes, sangat mungkin bahwa sekolah yang didirikan We Tenri Olle bisa disebut semacam “Sekolah Melayu” yang kebetulan juga berkembang di luar Makassar pada 1905. Sekolah milik We Tenri Olle ini bukan merupakan sekolah pemerintah. Jadi sekolah yang didirikan We Tenri Olle ini murni milik Kerajaan Tanete.

Meski berstatus sekolah desa, usaha We Tenri Olle untuk memajukan sektor pendidikan di Tanete sudah merupakan sebuah kemajuan tersendiri. Tolok ukur pasti adalah adanya sekolah yang berdiri di bawah pemerintahan langsung sebuah kerajaan kecil semacam Tanete. Pemikiran sang datu yang tidak lain adalah We Tenri Olle untuk memajukan pendidikan rakyatnya, untuk ukuran saat itu sungguh luar biasa.

Ditambah lagi kemungkinan pembukaan sekolah yang biasanya dibantu para zending (Sebuah kegiatan untuk menyebarkan agama Nasrani, seperti misionaris Gereja Kristen) tidak mungkin dilakukan di Tanete. Sebab kultur Tanete yang sangat kental dengan Islam, kurang kondusif bagi para zending. Padahal dari zending inilah biasanya sekolah modern bisa didirikan. Di Tanete sendiri, secara umum para rakyat lebih banyak belajar agama, dibandingkan ilmu pengetahuan lainnya. Mereka biasa belajar di surau, masjid, atau paling tinggi di pesantren.

Di sini pemikiran We Tenri Olle tidak kalah dengan kemajuan cara berpikir wanita-wanita lain di Jawa. Meski dengan segala keterbatasan, We Tenri Olle sukses membangun pondasi awal tentang pendidikan di Tanete. Kisah We Tenri Olle untuk membangun kekuatan orang Bugis di dunia pendidikan seharusnya mendapatkan tempat dan catatan tersendiri. 

D. Karya

Karya We Tenri Olle yang bisa dikatakan monumental ada tiga. Pertama, di bidang pemerintahan We Tenri Olle sukses merombak sistem pemerintahan desentralisasi yang rumit dan riskan masalah, menjadi sentralisasi yang lebih efektif. Keputusan pembagian ini diperoleh berdasarkan pertimbangan dari We Tenri Olle, hadat (dewan kabinet), dan pejabat kerajaan lain untuk membagi Tanete dalam dua bagian. Pertama, daerah Tanete yang terdiri dari beberapa daerah administrasi yang lebih kecil. Kedua, gattarang yang diperintah oleh kepala daerah dengan gelar sulewetang (pengganti atau wakil raja). Di atas kedua bagian ini, bertahtalah We Tenri Olle

Kedua, We Tenri Olle adalah orang yang sukses menggali kembali karya klasik I La Galigo. Lewat kepemimpinan di eranya, We Tenri Olle bersam sang ibu membuka kembali karya klasik I La Galigo. Pembacaan, penerjemahan, dan penulisan kembali karya monumental ini ternyata berpengaruh kuat bagi kajian kesusasteraan sampai sekarang. Beliau juga merupakan datu wanita pertama Tanete yang sukses memperkenalkan sastra Bugis pada orang Barat. Jika tidak ada orang semacam We Tenri Olle, bisa dipastikan I La Galigo tidak akan pernah terdokumentasikan dan diketahui oleh masyarakat di Nusantara.

Ketiga, We Tenri Olle sukses mendirikan sekolah pertama di Tanete. Meski literatur yang diperoleh tentang sekolah We Tenriollle sangat terbatas, tapi setidaknya informasi bahwa We Tenri Olle pernah membuka sekolah di Tanete benar adanya. Segala kekurangan dan keterbatasan tidak menyurutkan pemberian predikat bahwa sekolah yang didirikan oleh We Tenri Olle bisa dikategorikan sebagai sekolah pertama yang didirikan oleh Bumiputera di Tanete. Ditambah lagi sekolah We Tenri Olle bukan sekolah milik pemerintah, sehingga keabsahan bahwa Bumiputera pernah mendirikan sekolah sendiri di Tanete cukup terjaga. Sekolah ini terbuka untuk semua lapisan masyarakat, baik miskin atau kaya, ningrat atau rakyat biasa, laki-laki maupun perempuan.

Penghargaan

Debat untuk mengkategorikan sosok We Tenri Olle terus berlangsung. Debat ini seputar minimalisnya sosok We Tenri Olle ditempatkan dalam panggung sejarah pergerakan, baik pergerakan nasional, pendidikan, bahkan wanita. Agak janggal rasanya jika penempatan sosok R.A. Kartini langsung menjadi euforia, sedang We Tenri Olle justru tenggelam. Padahal keduanya merupakan sosok wanita yang sama-sama sukses mengangkat pemikiran dari keterbelakangan. Keduanya sama-sama bergerak di bidang pendidikan. Keduanya juga sama-sama mumpuni untuk disejajarkan sebagai tokoh emansipasi wanita. Hanya bedanya, jika Kartini sempat menuliskan semua kegiatan dan sepakterjangnya dalam bentuk surat, sedang We Tenri Olle nyaris tidak menuliskan apa yang dikerjakannya. Hanya I La Galigo saja yang sempat mendapat pengakuan sebagai hasil jerih payahnya. Itupun berkat Matthes yang mendokumentasikan karya agung ini.

Nama We Tenri Olle kini mulai disinggung-singgung untuk sekadar mendapatkan tempat di panggung penulisan sejarah. Beberapa pendapat dari para ahli kini mulai muncul ke permukaan untuk memperkenalkan sosok Siti Aisyah We Tenri Olle. Misalnya, dalam buku karya Farida Nurland, Sumarwati Kramadibrata, Dwi Tina MK, dkk.  Perempuan untuk Perempuan: Sketsa Pemikiran Perempuan untuk Pemberdayaan Potensi Perempuan di Sulawesi Selatan, toACCAe Publishing, 2006. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa kiprah We Tenri Olle disejajarkan dengan para ratu wanita di Sulawesi lainnya, seperti We Tenri Rawe (PajungE dan Datu Luwu ke-14); Andi Ninnong (Ranreng Tua Kerajaan Wajo tahun 1920), dan Andi Depu (Ratu kerajaan Balanipa Mandar) (“Perempuan untuk Perempuan”, tersedia di www.toaccaepublishing.blogspot.com. Diakses pada 9 Juni 2009)

Selain itu, dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979), Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. 1990. cetakan ke-4, Harsja W. Bahtiar menulis sebuah artikel berjudul “Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita“. Tulisan ini bernada gugatan terhadap penokohan Kartini. “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut,” tulis Harsja W. Bachtiar, yang menamatkan doktor sosiologinya di Harvard University. Harsja juga menggugat dengan halus, mengapa harus Kartini yang dijadikan sebagai simbol kemajuan wanita Indonesia. Ia menunjuk dua sosok wanita yang hebat dalam sejarah Indonesia. Pertama, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh dan kedua, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan ( “Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah“, tersedia di http://hati.unit.itb.ac.id/?p=95. Diakses pada 31 Mei 2009).

(Tunggul Tauladan/tkh/02/06-2009)

Referensi

Buku

Ahmad M. Sewang, Islamisasi Kerajaan Gowa: Abad XVI sampai Abad XVII, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005.

J.B. Kristanto (ed), 1.000 Tahun Nusantara, Jakarta: Kompas, 2000.

M.C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia, Hampshire, Inggris: Macmillan Education Ltd., 1981 (a.b.) Dharmono Hardjowijono, Sejarah Indonesia Modern, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, cet. ke-2, 1992.

Marwati Djoenoed Poeponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV, Jakarta: Balai Pustaka, cet.ke-8, 1993.

Muh. Yunus Hafid dan Muhlis Hadrawi, Laporan Penelitian Sejarah dan Nilai Tradisional Sulawesi Selatan, Ujung Pandang: Balai Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Ujung Pandang, 1996/1997.

Petrik Matanasi (ed), 7 Ibu Bangsa, Jakarta: Rahzenbook, 2008.

Artikel di Internet

“Makam We Tenri Olle Raja Tanete ke XVIII,” tersedia di http://www.barru.go.id/. Diakses pada 31 Mei 2009.

“Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah,“ tersedia di http://hati.unit.itb.ac.id/. Diakses pada 31 Mei 2009.

“Perempuan Penggelut La Galigo (Bagian 1),” tersedia di  http://images.google.co.id/. Diakses pada 11 Juni 2009.

 “Perempuan untuk Perempuan,” tersedia di www.toaccaepublishing.blogspot.com. Diakses pada 9 Juni 2009.

“Tanete,” tersedia di http://id.wikipedia.org/. Diakses pada 9 Juni 2009.

Sumber Foto

Dibaca : 11.399 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password