
Datoek Soetan Maharadja
1. Riwayat Hidup
Perjalanan riwayat rakyat Minangkabau pada akhir abad 19 hingga dekade kedua abad 20 tidak dapat dilepaskan dari peran sosok yang satu ini, Datoek Soetan Maharadja. Datuk yang satu ini adalah seorang tokoh dari kaum adat yang dikenal sangat peduli terhadap kemajuan rakyat Minangkabau. Datoek Soetan Maharadja berjuang melalui pergerakan organisasi, pendidikan, dan penerbitan suratkabar. Kendati namanya terdengar paling lirih bila dibandingkan dengan tokoh-tokoh pergerakan asal Sumatra Barat lainnya seperti Haji Agus Salim, Mohammad Hatta, Soetan Sjahrir, Abdoel Moeis, atau Tan Malaka, jejak-langkah Datoek Soetan Maharadja sejatinya telah memberikan garis jalan yang tegas untuk memantik pergerakan demi kemajuan rakyat Minangkabau.
Datoek Soetan Maharadja berasal dari kalangan Adat, dilahirkan di Sulit Air, Solok, Sumatra Barat, pada 27 November 1862, dengan nama asli Mahjoedin. Sebagai bangsawan Adat, Mahjoedin menyandang gelar penghulu warisan dari ayahandanya, Datoek Bendaharoe, hingga kemudian berganti nama menjadi Datoek Soetan Maharadja (Iswara N. Raditya dalam An Ismanto, 2007: 24). Keluarga Datoek Soetan Maharadja tergolong kalangan yang memiliki garis bangsawan adat yang cukup terpandang karena gelar “Datoek” disandang oleh penghulu adat Minangkabau. Bangsawan dari golongan ini disapa dengan panggilan kehormatan “Tuanku” atau “Angku”. Status sosialnya yang berasal dari kalangan keluarga terpandang membuat karir Datoek Soetan Maharadja di dunia kerja berjalan mulus.
Perjalanan karir Datoek Soetan Maharadja dimulai sebagai abdi pemerintah kolonial Hindia Belanda, yakni dengan menjadi magang jaksa di Padang pada 1876. Tiga tahun kemudian, Datoek Soetan Maharadja resmi memangku posisi sebagai juru tulis/kerani di kantor jaksa di Padang. Pada 1882, karirnya mulai menapak naik dengan dipromosikannya Datoek Soetan Maharadja sebagai ajun jaksa di Indrapura (Ahmat Adam, 2003:228). Hanya bertahan setahun di Indrapura, Datoek Soetan Maharadja kembali ke Padang untuk menduduki jabatan sebagai ajun jaksa kepala di sana. Cukup lama Datoek Soetan Maharadja bertahan di kota paling modern di ranah Minang ini, lebih kurang 5 tahun lamanya hingga pada 1888 Datoek Soetan Maharadja dipindahtugaskan ke Pariaman untuk mengisi posisi sentral sebagai jaksa. Datoek Soetan Maharadja memutuskan berhenti dan keluar dari lingkaran profesi pemerintahan kolonial pada 1892 dan sejak saat itu dia memilih berkosentrasi di bidang jurnalistik dan organisasi.
Datoek Soetan Maharadja kembali ke Padang untuk menekuni profesi barunya sebagai seorang wartawan. Pertama-tama, dia bekerja untuk suratkabar Palita Ketjil sebagai editor, juga ketika koran ini berganti nama menjadi Warta Berita pada 1895-1897. Pada kurun 1901-1904, Datoek Soetan Maharadja menjadi koresponden untuk suratkabar Bintang Hindia dan majalah Insulinde. Selanjutnya, Datoek Soetan Maharadja lama berkecimpung selaku editor di koran Tjahaja Sumatra hingga tahun 1910 (Iswara N. Raditya dalam An Ismanto, 2007: 26). Setelah sekian lama menimba ilmu dan menjajal kecakapan jurnalistiknya di media-media milik orang lain, Datoek Soetan Maharadja berkeinginan untuk menerbitkan suratkabar sendiri. Lebih dari itu, Datoek Soetan Maharadja pun mempunyai obsesi mulia, yaitu mendirikan organisasi untuk menghimpun kekuatan rakyat Minangkabau, khususnya dari kalangan penganut Adat. Keinginan Datoek Soetan Maharadja tersebut sangat sejalan dengan tren yang sedang menggejala di Hindia Belanda (Indonesia) pada awal abad ke-20 itu di mana perhimpunan-perhimpunan Bumiputera mulai bermunculan, dan kehadiran berbagai organisasi itu menjadi semakin nyata manakala disertai dengan penerbitan suratkabar sebagai alat propagandanya.
Perkembangan pers berbahasa daerah atau bahasa Melayu menduduki tempat yang lebih penting daripada pers Eropa, terutama setelah berdirinya Boedi Oetomo (Surjomihardjo, 2002:84). Sebagai contoh, Sarikat Prijaji (SP) yang dimotori Tirto Adhi Soerjo pada 1906 di Betawi memiliki suratkabar Medan Prijaji, yang terbit perdana pada 1907, sebagai organ propagandanya. Kemudian Boedi Oetomo (BO) yang dideklarasikan pada 20 Mei 1908 oleh para siswa sekolah kedokteran Bumiputera di Batavia memiliki majalah bernama serupa, Boedi Oetomo, sebagai media informasi dan komunikasi perhimpunan yang didaulat sebagai organisasi modern pertama di Indonesia itu.
Di tahun-tahun berikutnya pasca BO lahir, mulai menjamurlah perhimpunan-perhimpunan Bumiputera lainnya beserta corong propagandanya, sebutlah: Indische Partij (IP) yang digagas pada 1912 dan didukung oleh koran De Expres, atau Sarekat Dagang Islamiah (SDI) yang pertamakali digaungkan pada 1909 dan kemudian berganti nama menjadi Sarekat Islam (SI) pada 1914 yang memiliki sederet media yang menjadi corong cabang-cabang SI di berbagai daerah, seperti: Sarotomo (Surakarta), Oetoesan Hindia (Surabaya), Pantjaran Warta (Batavia), Sinar Djawa (Semarang), dan lain-lainnya.
Datoek Soetan Maharadja pun menyimpan pemikiran untuk ikut meramaikan gemerlap pergerakan Bumiputera yang sedang menuju puncak. Maka dari itulah, pada Januari 1911, orang-orang Melayu yang berdomisili di Padang dan sekitarnya, di bawah pimpinan Datoek Soetan Maharadja, mendirikan sebuah organisasi bernama Perserikatan Orang Alam Minangkabau. Organisasi ini merupakan wadah tempat berkumpulnya orang-orang yang memiliki perhatian terhadap kelestarian adat Minang. Pada 1911 itu pula, Datoek Soetan Maharadja meluncurkan suratkabar Oetoesan Melajoe. Koran ini terbit di Padang setiap hari, kecuali hari Jumat dan Minggu serta hari lain “yang dimuliakan”. Kantor administrasi dan redaksi Oetoesan Melajoe beralamat di Pasar Gedang, Padang, Sumatra Barat. Sebagai koran yang diterbitkan oleh kaum yang berteguh terhadap adat Minang, Oetoesan Melajoe selalu menyediakan laporan khusus berkaitan dengan aspek-aspek budaya Minang dan merupakan media yang bersetia mendukung segala sepak-terjang kaum Adat Minangkabau (Yuanda Zahra dalam Muhidin M. Dahlan, 2008:73). Koran ini segera menjadi mulut bagi perlawanan kubu Adat, yang digawangi Datoek Soetan Maharadja, terhadap kaum ulama (kaum Paderi) dan angkatan muda Minangkabau.

Oetoesan Melajoe
Kendati bertumpu pada pemikiran adat, Datoek Soetan Maharadja ternyata juga menaruh perhatian pada kemajuan rakyat Minang, termasuk kaum perempuannya, melalui pendidikan modern atau pendidikan Barat. Datoek Soetan Maharadja adalah seorang konservatif yang mempercayai unsur adat sebagai pengikat rakyat Minangkabau tetapi sekaligus juga orang yang berkeyakinan bahwa pendidikan modern merupakan sarana yang paling penting untuk mencapai kemajuan. Inilah yang membuatnya diberi gelar penggagas dan penghulu dalam pandangan sekuler kaum muda. Di bawah kendali tangan dinginnya, Datoek Soetan Maharadja berhasil mendirikan dan memimpin serta mengelola beberapa organisasi lokal dan sekaligus koran propagandanya di Sumatra Barat pada dekade kedua abad ke-20 itu. Untuk memantik kesadaran kaum perempuan Minangkabau agar bergerak maju, Datoek Soetan Maharadja menggagas penerbitan suratkabar khusus perempuan pertama di Sumatra, yaitu Soenting Melajoe yang diterbitkan pada Juli 1912.
Semasa hidupnya, Datoek Soetan Maharadja dikenal sebagai sosok yang kontroversial dan sering terlibat masalah dengan banyak kalangan, baik dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda, kaum pengusung reformis Islam, maupun dengan dengan anak-anak muda progresif yang berkecimpung dalam organisasi pergerakan. Jalan perjuangan yang dipilih Datoek Soetan Maharadja cenderung mirip dengan apa yang dijalani Haji Agus Salim, sesama tokoh nasional asal Sumatra Barat, yang memilih berjuang dengan taktik yang disebut “politik jalan melingkar”. Manuver politik yang elastis namun efektif itu seringkali membikin kawan juga lawannya terhenyak. Metode awal gerakannya cenderung kooperatif, namun kemudian menjadi agak radikal, dan kembali melunak lagi (Iswara N. Raditya dalam M. Safrinal, 2006: 248). Cara berjuang yang diterapkan Datoek Soetan Maharadja adalah berpolitik dengan elegan, melihat perkembangan situasi, bahkan rela “bekerjasama” dengan pihak lawan demi kemajuan rakyat.
Gerak juang Datoek Soetan Maharadja yang tidak melulu melawan pemerintah kolonial secara frontal, membuat para aktivis pergerakan yang bergerak secara progresif, semisal para anggota Jong Sumatranen Bond (JSB), tidak begitu suka dengan cara-cara Datoek Soetan Maharadja yang mereka anggap dekat dan tunduk terhadap kaum penjajah. Tindakan-tindakan Datoek Soetan Maharadja dan tulisan-tulisannya di Oetoesan Melajoe membuatnya dimusuhi banyak orang. Pihak JSB juga menggunakan media mereka untuk menyerang Datoek Soetan Maharadja. Pada 1918, melalui suratkabar Jong Sumatra, seorang pemimpin JSB cabang Batavia menyebutnya sebagai “pianggang” (serangga penyengat), orang yang konservatif primitif, egois, penjilat atau pengejar bintang. Bahkan, pemuda kalem seperti Mohammad Hatta, yang juga aktif di JSB, berani menuding Datoek Soetan Maharadja sebagai pengkhianat. Oetoesan Melajoe, yang menjadi kendaraan ideologi Datoek Soetan Maharadja, oleh beberapa kalangan disebut sebagai “fameuse likorgan” alias “penjilat besar”.

Jong Sumatra
Pada perkembangannya, konflik antara Datoek Soetan Maharadja dengan kalangan intelektual yang tergabung dalam JSB ini berhenti pada tahun berikutnya. Penyebabnya adalah karena pihak JSB mulai menyadari bahwa tidak ada gunanya menghabiskan energi untuk berseteru dengan kaum tua yang merupakan bagian dari masa lalu, masih terhitung bangsa sendiri, serumpun Melayu pula. Sementara di sisi lain, ketenaran Oetoesan Melajoe sendiri juga mulai memudar. Barangkali hal ini disebabkan oleh habisnya konsentrasi Datoek Soetan Maharadja dan personel redaksi lainnya dalam menyerang dan meladeni serangan balasan dari lawan-lawannya. Ketika musuh-musuhnya memutuskan mengalah, Oetoesan Melajoe pun secara perlahan mulai menyerah.
Posisi rangkap yang disuntuki Datoek Soetan Maharadja sebagai jurnalis, aristokrat, pejuang kemajuan rakyat Minangkabau, pemerhati emansipasi perempuan, sekaligus pemuka adat membuat perannya cukup memberikan pengaruh terhadap corak sosial-politik di Minangkabau. Gerakan Datoek Soetan Maharadja yang eksentrik namun mencerahkan, menjadi fakta positif yang tidak terbantahkan bahwa sosok uniknya justru telah menggoreskan tinta emas dalam riwayat perjalanan sejarah Minangkabau. Datoek Soetan Maharadja meninggal dunia pada 1921, tahun yang sama ketika Soenting Melajoe menghembuskan nafas cetak penghabisan menyusul Oetoesan Melajoe yang sudah terlebih dulu berhenti terbit. Apapun jalan perjuangan yang ditempuhnya, jika itu semata-mata demi kemajuan bangsa maka bukan berlebihan jika julukan Bapak Pers Melayu disematkan kepada Datoek Soetan Maharadja.
- Mendirikan dan memimpin gerakan Medan Keramaian (1888).
- Penasehat perkumpulan Taman Penglipoer Lara (1888).
- Anggota Kongsi Anak Radja-Radja (1888).
- Pendiri perhimpunan Medan Keramean di Pariaman (1888).
- Penggagas Gerakan Pemurnian Adat Minangkabau (1906).
- Pendiri dan penasehat badan perhimpunan Medan Perdamaian Minangkabau Laras nan Duo di Padang (1909).
- Penggagas bank simpan-pinjam/koperasi untuk industri rakyat Minangkabau (1909).
- Pendiri dan Ketua Perserikatan Orang Alam Minangkabau (1911).
- Pendiri dan Ketua Sarekat Adat Alam Minangkabau (1916).
- Editor suratkabar Palita Ketjil/Warta Berita (1895-1897).
- Koresponden suratkabar Bintang Hindia (1901-1904).
- Koresponden majalah Insulinde (1901-1904).
- Editor suratkabar Tjahaja Sumatra (1905-1910).
- Penggagas dan pemimpin suratkabar Oetoesan Melajoe (1911).
- Penggagas suratkabar perempuan Soenting Melajoe (1912).
Abdurrachman Surjomihardjo, dkk., Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2002.
Ahmat Adam, Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan, Jakarta: Hasta Mitra dan Pustaka Utan Kayu, 2003.
An Ismanto (ed.), Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia, Jakarta: Indonesiabuku, 2007.
Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942, Jakarta: LP3ES, 1996.
E.J. Hobsbawm, Nasionalisme Menjelang Abad XXI, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992.
Hajar Nur Setyowati, Seabad Pers Perempuan (1908-2008), Jakarta: Indonesiabuku, 2008.
Muhammad Safrinal (ed.), Sang Guru: Peta Ringkas Hubungan Guru-Murid di Pelbagai Tradisi, Yogyakarta: Ekspresibuku, 2006.
Petrik Matanasi (ed.), 7 Ibu Bangsa, Jakarta: Rahzenbook, 2008.
Robert van Niel, Munculnya Elit Modern Indonesia, Jakarta: Pustaka Jaya, 1984.
Rusli Amran, Padang Riwayatmu Dulu, Jakarta: Yasaguna, 1988.
(Iswara NR/tkh/4/06-2009)
Artikel dalam Buku:
Hajar NS, “Roehana Koedoes, Ibu Pers dan Pendidikan Indonesia”, dalam Petrik Matanasi (ed.), 7 Ibu Bangsa, Jakarta: Rahzenbook, 2008, hlm. 179.
________, “Siti Roehana Koedoes: Ibu Pers dan Pergerakan Indonesia”, dalam Petrik Matanasi (ed.), 7 Ibu Bangsa, Jakarta: Rahzenbook, 2008, hlm. 186.
________, “Siti Roehana Koedoes: Membaca Suratkabar Seperti Meminum Air Laut”, dalam dalam An Ismanto (ed.), Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia, Jakarta: Indonesiabuku, 2007, hlm. 38.
Reni Nuryanti, “Soenting Melajoe: Di sini Nama Roehana Koedoes Terpahat”, dalam Muhidin M. Dahlan (Ed.), Seabad Pers Kebangsaan: Bahasa Bangsa, Tanahair Bahasa (1907-2007), Jakarta: Indonesiabuku, 2008, hlm. 91.
________, “Soenting Melajoe”, dalam Hajar Nur Setyowati, Seabad Pers Perempuan (1908-2008), Jakarta: Indonesiabuku, 2008.
Yuanda Zahra, “Al-Moenir, Saudara Mudanya Al-Manar”, dalam Muhidin M. Dahlan (ed.), Seabad Pers Kebangsaan: Bahasa Bangsa, Tanahair Bahasa (1907-2007), Jakarta: Indonesiabuku, 2008, hlm. 66.
________, “Oetoesan Melajoe: Koran Utusan Kaum Adat”, dalam Muhidin M. Dahlan (ed.), Seabad Pers Kebangsaan: Bahasa Bangsa, Tanahair Bahasa (1907-2007), Jakarta: Indonesiabuku, 2008, hlm. 73.
Sumber Foto:
- Rusli Amran, Padang Riwayatmu Dulu, Jakarta: Yasaguna, 1988.
- http://buchyar.pelaminanminang.com/sejarah/sejarah_surat_kabar_pertama_indonesia.html
- http://jemaridewa.blogspot.com/2008/01/tiada-bahasa-hilanglah-bangsa.html
- http://aboehasand.wordpress.com/2009/04/18/tiga-tokoh-kunci-mekkah-dari-indonesia/
- Petrik Matanasi (ed.), 7 Ibu Bangsa, Jakarta: Rahzenbook, 2008.
Dibaca : 7.541 kali.