Minggu, 30 April 2017   |   Isnain, 3 Sya'ban 1438 H
Pengunjung Online : 1.980
Hari ini : 16.459
Kemarin : 41.330
Minggu kemarin : 413.594
Bulan kemarin : 5.093.107
Anda pengunjung ke 102.232.872
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Datoek Soetan Maharadja


Datoek Soetan Maharadja

1. Riwayat Hidup

Perjalanan riwayat rakyat Minangkabau pada akhir abad 19 hingga dekade kedua abad 20 tidak dapat dilepaskan dari peran sosok yang satu ini, Datoek Soetan Maharadja. Datuk yang satu ini adalah seorang tokoh dari kaum adat yang dikenal sangat peduli terhadap kemajuan rakyat Minangkabau. Datoek Soetan Maharadja berjuang melalui pergerakan organisasi, pendidikan, dan penerbitan suratkabar. Kendati namanya terdengar paling lirih bila dibandingkan dengan tokoh-tokoh pergerakan asal Sumatra Barat lainnya seperti Haji Agus Salim, Mohammad Hatta, Soetan Sjahrir, Abdoel Moeis, atau Tan Malaka, jejak-langkah Datoek Soetan Maharadja sejatinya telah memberikan garis jalan yang tegas untuk memantik pergerakan demi kemajuan rakyat Minangkabau.

Datoek Soetan Maharadja berasal dari kalangan Adat, dilahirkan di Sulit Air, Solok, Sumatra Barat, pada 27 November 1862, dengan nama asli Mahjoedin. Sebagai bangsawan Adat, Mahjoedin menyandang gelar penghulu warisan dari ayahandanya, Datoek Bendaharoe, hingga kemudian berganti nama menjadi Datoek Soetan Maharadja (Iswara N. Raditya dalam An Ismanto, 2007: 24). Keluarga Datoek Soetan Maharadja tergolong kalangan yang memiliki garis bangsawan adat yang cukup terpandang karena gelar “Datoek” disandang oleh penghulu adat Minangkabau. Bangsawan dari golongan ini disapa dengan panggilan kehormatan “Tuanku” atau “Angku”. Status sosialnya yang berasal dari kalangan keluarga terpandang membuat karir Datoek Soetan Maharadja di dunia kerja berjalan mulus.

Perjalanan karir Datoek Soetan Maharadja dimulai sebagai abdi pemerintah kolonial Hindia Belanda, yakni dengan menjadi magang jaksa di Padang pada 1876. Tiga tahun kemudian, Datoek Soetan Maharadja resmi memangku posisi sebagai juru tulis/kerani di kantor jaksa di Padang. Pada 1882, karirnya mulai menapak naik dengan dipromosikannya Datoek Soetan Maharadja sebagai ajun jaksa di Indrapura (Ahmat Adam, 2003:228). Hanya bertahan setahun di Indrapura, Datoek Soetan Maharadja kembali ke Padang untuk menduduki jabatan sebagai ajun jaksa kepala di sana. Cukup lama Datoek Soetan Maharadja bertahan di kota paling modern di ranah Minang ini, lebih kurang 5 tahun lamanya hingga pada 1888 Datoek Soetan Maharadja dipindahtugaskan ke Pariaman untuk mengisi posisi sentral sebagai jaksa. Datoek Soetan Maharadja memutuskan berhenti dan keluar dari lingkaran profesi pemerintahan kolonial pada 1892 dan sejak saat itu dia memilih berkosentrasi di bidang jurnalistik dan organisasi.

Datoek Soetan Maharadja kembali ke Padang untuk menekuni profesi barunya sebagai seorang wartawan. Pertama-tama, dia bekerja untuk suratkabar Palita Ketjil sebagai editor, juga ketika koran ini berganti nama menjadi Warta Berita pada 1895-1897. Pada kurun 1901-1904, Datoek Soetan Maharadja menjadi koresponden untuk suratkabar Bintang Hindia dan majalah Insulinde. Selanjutnya, Datoek Soetan Maharadja lama berkecimpung selaku editor di koran Tjahaja Sumatra hingga tahun 1910 (Iswara N. Raditya dalam An Ismanto, 2007: 26). Setelah sekian lama menimba ilmu dan menjajal kecakapan jurnalistiknya di media-media milik orang lain, Datoek Soetan Maharadja berkeinginan untuk menerbitkan suratkabar sendiri. Lebih dari itu, Datoek Soetan Maharadja pun mempunyai obsesi mulia, yaitu mendirikan organisasi untuk menghimpun kekuatan rakyat Minangkabau, khususnya dari kalangan penganut Adat. Keinginan Datoek Soetan Maharadja tersebut sangat sejalan dengan tren yang sedang menggejala di Hindia Belanda (Indonesia) pada awal abad ke-20 itu di mana perhimpunan-perhimpunan Bumiputera mulai bermunculan, dan kehadiran berbagai organisasi itu menjadi semakin nyata manakala disertai dengan penerbitan suratkabar sebagai alat propagandanya.

Perkembangan pers berbahasa daerah atau bahasa Melayu menduduki tempat yang lebih penting daripada pers Eropa, terutama setelah berdirinya Boedi Oetomo (Surjomihardjo, 2002:84). Sebagai contoh, Sarikat Prijaji (SP) yang dimotori Tirto Adhi Soerjo pada 1906 di Betawi memiliki suratkabar Medan Prijaji, yang terbit perdana pada 1907, sebagai organ propagandanya. Kemudian Boedi Oetomo (BO) yang dideklarasikan pada 20 Mei 1908 oleh para siswa sekolah kedokteran Bumiputera di Batavia memiliki majalah bernama serupa, Boedi Oetomo, sebagai media informasi dan komunikasi perhimpunan yang didaulat sebagai organisasi modern pertama di Indonesia itu.

Di tahun-tahun berikutnya pasca BO lahir, mulai menjamurlah perhimpunan-perhimpunan Bumiputera lainnya beserta corong propagandanya, sebutlah: Indische Partij (IP) yang digagas pada 1912 dan didukung oleh koran De Expres, atau Sarekat Dagang Islamiah (SDI) yang pertamakali digaungkan pada 1909 dan kemudian berganti nama menjadi Sarekat Islam (SI) pada 1914 yang memiliki sederet media yang menjadi corong cabang-cabang SI di berbagai daerah, seperti: Sarotomo (Surakarta), Oetoesan Hindia (Surabaya), Pantjaran Warta (Batavia), Sinar Djawa (Semarang), dan lain-lainnya.

Datoek Soetan Maharadja pun menyimpan pemikiran untuk ikut meramaikan gemerlap pergerakan Bumiputera yang sedang menuju puncak. Maka dari itulah, pada Januari 1911, orang-orang Melayu yang berdomisili di Padang dan sekitarnya, di bawah pimpinan Datoek Soetan Maharadja, mendirikan sebuah organisasi bernama Perserikatan Orang Alam Minangkabau. Organisasi ini merupakan wadah tempat berkumpulnya orang-orang yang memiliki perhatian terhadap kelestarian adat Minang. Pada 1911 itu pula, Datoek Soetan Maharadja meluncurkan suratkabar Oetoesan Melajoe. Koran ini terbit di Padang setiap hari, kecuali hari Jumat dan Minggu serta hari lain “yang dimuliakan”. Kantor administrasi dan redaksi Oetoesan Melajoe beralamat di Pasar Gedang, Padang, Sumatra Barat. Sebagai koran yang diterbitkan oleh kaum yang berteguh terhadap adat Minang, Oetoesan Melajoe selalu menyediakan laporan khusus berkaitan dengan aspek-aspek budaya Minang dan merupakan media yang bersetia mendukung segala sepak-terjang kaum Adat Minangkabau (Yuanda Zahra dalam Muhidin M. Dahlan, 2008:73). Koran ini segera menjadi mulut bagi perlawanan kubu Adat, yang digawangi Datoek Soetan Maharadja, terhadap kaum ulama (kaum Paderi) dan angkatan muda Minangkabau.


Oetoesan Melajoe

Kendati bertumpu pada pemikiran adat, Datoek Soetan Maharadja ternyata juga menaruh perhatian pada kemajuan rakyat Minang, termasuk kaum perempuannya, melalui pendidikan modern atau pendidikan Barat. Datoek Soetan Maharadja adalah seorang konservatif yang mempercayai unsur adat sebagai pengikat rakyat Minangkabau tetapi sekaligus juga orang yang berkeyakinan bahwa pendidikan modern merupakan sarana yang paling penting untuk mencapai kemajuan. Inilah yang membuatnya diberi gelar penggagas dan penghulu dalam pandangan sekuler kaum muda. Di bawah kendali tangan dinginnya, Datoek Soetan Maharadja berhasil mendirikan dan memimpin serta mengelola beberapa organisasi lokal dan sekaligus koran propagandanya di Sumatra Barat pada dekade kedua abad ke-20 itu. Untuk memantik kesadaran kaum perempuan Minangkabau agar bergerak maju, Datoek Soetan Maharadja menggagas penerbitan suratkabar khusus perempuan pertama di Sumatra, yaitu Soenting Melajoe yang diterbitkan pada Juli 1912.

Semasa hidupnya, Datoek Soetan Maharadja dikenal sebagai sosok yang kontroversial dan sering terlibat masalah dengan banyak kalangan, baik dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda, kaum pengusung reformis Islam, maupun dengan dengan anak-anak muda progresif yang berkecimpung dalam organisasi pergerakan. Jalan perjuangan yang dipilih Datoek Soetan Maharadja cenderung mirip dengan apa yang dijalani Haji Agus Salim, sesama tokoh nasional asal Sumatra Barat, yang memilih berjuang dengan taktik yang disebut “politik jalan melingkar”. Manuver politik yang elastis namun efektif itu seringkali membikin kawan juga lawannya terhenyak. Metode awal gerakannya cenderung kooperatif, namun kemudian menjadi agak radikal, dan kembali melunak lagi (Iswara N. Raditya dalam M. Safrinal, 2006: 248). Cara berjuang yang diterapkan Datoek Soetan Maharadja adalah berpolitik dengan elegan, melihat perkembangan situasi, bahkan rela “bekerjasama” dengan pihak lawan demi kemajuan rakyat.

Gerak juang Datoek Soetan Maharadja yang tidak melulu melawan pemerintah kolonial secara frontal, membuat para aktivis pergerakan yang bergerak secara progresif, semisal para anggota Jong Sumatranen Bond (JSB), tidak begitu suka dengan cara-cara Datoek Soetan Maharadja yang mereka anggap dekat dan tunduk terhadap kaum penjajah. Tindakan-tindakan Datoek Soetan Maharadja dan tulisan-tulisannya di Oetoesan Melajoe membuatnya dimusuhi banyak orang. Pihak JSB juga menggunakan media mereka untuk menyerang Datoek Soetan Maharadja. Pada 1918, melalui suratkabar Jong Sumatra, seorang pemimpin JSB cabang Batavia menyebutnya sebagai “pianggang” (serangga penyengat), orang yang konservatif primitif, egois, penjilat atau pengejar bintang. Bahkan, pemuda kalem seperti Mohammad Hatta, yang juga aktif di JSB, berani menuding Datoek Soetan Maharadja sebagai pengkhianat. Oetoesan Melajoe, yang menjadi kendaraan ideologi Datoek Soetan Maharadja, oleh beberapa kalangan disebut sebagai “fameuse likorgan” alias “penjilat besar”.


Jong Sumatra

Pada perkembangannya, konflik antara Datoek Soetan Maharadja dengan kalangan intelektual yang tergabung dalam JSB ini berhenti pada tahun berikutnya. Penyebabnya adalah karena pihak JSB mulai menyadari bahwa tidak ada gunanya menghabiskan energi untuk berseteru dengan kaum tua yang merupakan bagian dari masa lalu, masih terhitung bangsa sendiri, serumpun Melayu pula. Sementara di sisi lain, ketenaran Oetoesan Melajoe sendiri juga mulai memudar. Barangkali hal ini disebabkan oleh habisnya konsentrasi Datoek Soetan Maharadja dan personel redaksi lainnya dalam menyerang dan meladeni serangan balasan dari lawan-lawannya. Ketika musuh-musuhnya memutuskan mengalah, Oetoesan Melajoe pun secara perlahan mulai menyerah.

Posisi rangkap yang disuntuki Datoek Soetan Maharadja sebagai jurnalis, aristokrat, pejuang kemajuan rakyat Minangkabau, pemerhati emansipasi perempuan, sekaligus pemuka adat membuat perannya cukup memberikan pengaruh terhadap corak sosial-politik di Minangkabau. Gerakan Datoek Soetan Maharadja yang eksentrik namun mencerahkan, menjadi fakta positif yang tidak terbantahkan bahwa sosok uniknya justru telah menggoreskan tinta emas dalam riwayat perjalanan sejarah Minangkabau. Datoek Soetan Maharadja meninggal dunia pada 1921, tahun yang sama ketika Soenting Melajoe menghembuskan nafas cetak penghabisan menyusul Oetoesan Melajoe yang sudah terlebih dulu berhenti terbit. Apapun jalan perjuangan yang ditempuhnya, jika itu semata-mata demi kemajuan bangsa maka bukan berlebihan jika julukan Bapak Pers Melayu disematkan kepada Datoek Soetan Maharadja.

2. Pergerakan

Datoek Soetan Maharadja bagai orang yang hidup di dua dunia. Di satu sisi, dia adalah orang yang konservatif dengan berpegang teguh pada pandangan adat yang cenderung kolot, namun di sisi lain, Datoek Soetan Maharadja merupakan seorang pejuang kemajuan rakyat Minangkabau yang berpikiran progresif, bahkan melampaui pemikiran lazim yang umum pada zamannya. Selain menjadi pelopor penerbitan suratkabar yang dimiliki sendiri oleh orang Minangkabau, juga sebagai sang pemula yang memuasali gagasan ihwal penerbitan suratkabar khusus perempuan di Sumatra Barat, Datoek Soetan Maharadja ternyata menyumbangkan andil yang tidak sedikit demi kemajuan tanah Melayu melalui perhimpunan dan pendidikan.

a. Memurnikan Adat Minangkabau

Nama Datoek Soetan Maharadja adalah salah seorang sosok sentral pengusung panji-panji adat Minangkabau yang terkemuka pada kurun peralihan abad 19 ke abad 20. Kaum Adat di Minangkabau kerap berselisih dengan kaum Islam, terutama dari kalangan pembaharu Islam. Pertentangan yang sangat mencolok kelihatan ialah adat di Minangkabau yang mempunyai sistem matrilinial. Apalagi soal waris sampai sekarang tidak terpecahkan seluruhnya, walaupun penyesuaian atau penafsiran kembali telah dilakukan, baik oleh kalangan Adat maupun oleh kalangan Islam (Deliar Noer, 1996:22). Ada juga daerah Minangkabau yang mencatat adanya perkelahian, bahkan peperangan, antara orang-orang beragama Islam di mana golongan yang satu yang keras memegang adat lama, sedangkan golongan yang lain hendak berkeras memasukkan adat baru yang dianggap lebih sesuai dengan ajaran Islam. Yang pertama diwakili oleh orang-orang kerajaan dan berbagai kepala suku, yang kedua terkenal dengan nama kaum Paderi.

Gerakan pembaharuan Islam di Minangkabau dipelopori oleh Syaikh Ahmad Khatib yang menyebarkan pemikirannya dari tanah suci Mekah. Ulama asal Minangkabau ini berangkat ke Mekah pada 1876 dan mencapai kedudukan tertinggi sebagai imam mazhab Syafi‘i di Masjidil Haram. Walaupun dia tidak pernah kembali ke kampung halamannya namun Syaikh Ahmad Khatib memiliki hubungan yang dengan daerah asalnya melalui mereka yang naik haji ke Mekah dan belajar padanya. Murid-murid Syaikh Ahmad Khatib menjadi pembaharu-pembaharu pertama di Minangkabau, seperti Syaikh Muhammad Djamil Djambek, Haji Abdul Karim Amarullah, dan Haji Abdullah Ahmad (Deliar Noer, 1996:39).

Selain itu, Syaikh Ahmad Khatib juga menurunkan ilmunya kepada murid-muridnya lainnya yang kelak menjadi tokoh-tokoh sentral dalam upaya reformasi Islam di Indonesia, termasuk Ahmad Dahlan, yang mendirikan Moehammadijah pada 1912 di Yogyakarta, serta Hasjim Asj‘ari, pendiri pondok pesantren Tebu Ireng dan pemimpin Nahdlatul Ulama (NU) yang dideklarasikan pada 1926. Agus Salim pun sempat belajar ilmu agama kepada Syaikh Ahmad Khatib ketika pada kurun 1906-1911 Agus Salim bekerja di konsulat Hindia Belanda di Jeddah.

Kaum Islam pembaharu Minangkabau menerbitkan jurnal Al-Moenir untuk menyiarkan pemikiran mereka. Al-Moenir terbit perdana pada 1 April 1911. Penerbitan Al-Moenir dimaksudkan untuk meneruskan ide-ide pembaharuan Islam yang sebelumnya dikampanyekan oleh majalah Al-Imam asuhan Syaikh Thaher Jalaluddin. Setelah Al-Imam berhenti terbit pada 1908, Al-Moenir berkehendak untuk meneruskan misi bersama itu. Bedanya, Al-Imam terbit di Singapura, sementara Al-Moenir hadir dari Padang. Pendiri sekaligus redaktur utama Al-Moenir adalah Haji Abdullah Ahmad, salah seorang anak didik Syaikh Ahmad Khatib.

Misi yang diemban kaum Islam reformis tercetak jelas pada edisi perdana Al-Moenir, yakni sebagai “pemimpin dan memajukan anak-anak bangsa kita pada agama yang lurus dan beritikad yang betul dan menambah pengetahuan yang berguna dan mencari nafkah kesenangan hidup supaya sentosa pula mengerjakan suruhan agama” (Yuanda Zahra dalam Muhidin M Dahlan, 2008:66). Slogan itu menunjukkan bahwa Al-Moenir menempatkan agama dan dunia dalam posisi yang setara dan saling mendukung, sebuah tindakan yang secara langsung memicu semakin tajamnya perseteruan antara ulama modernis dengan kaum adat yang digawangi Datoek Soetan Maharadja.

Kendati peselisihan antara kaum Adat dan kaum Paderi sudah mengemuka sejak lama, namun memasuki dekade kedua abad ke-20 perselisihan antara kedua kubu ini kembali memanas dengan media medan tempur yang berbeda, yakni melalui debat dan perang pena lewat suratkabar. Berdirinya Perserikatan Orang Alam Minangkabau yang digagas Datoek Soetan Maharadja pada Januari 1911, juga penerbitan Oetoesan Melajoe di tahun yang sama, menjadi penegas bahwa Datoek Soetan Maharadja sudah menabuh genderang perang untuk melawan kaum Islam reformis yang mulai giat bergerak di Minangkabau pada kurun itu.

Oeotesan Melajoe segera menjelma menjadi medianya kaum adat Minangkabau. Koran ini berperan sebagai media Datoek Soetan Maharadja untuk melakukan perlawanan terhadap kaum ulama dan angkatan muda Minangkabau. Dia sering menyampaikan perlawanan lewat tulisan-tulisannya di Oetoesan Melajoe. Datoek Soetan Maharadja menyebut kaum ulama sebagai kaum Wahabi atau kaum Paderi, sebuah istilah yang bagi sebagian orang Minangkabau dikhawatirkan akan membuka kembali luka lama mereka mengenai Perang Paderi. Perseteruan paling seru antara Oetoesan Melajoe melawan Al-Moenir terjadi pada kurun 1911-1913. Al-Moenir banyak memuat tulisan tentang semua yang dianggap tabu kaum adat, dan sebaliknya, Datoek Soetan Maharadja melalui berbagai kesempatan, termasuk dengan corong Oetoesan Melajoe, tidak henti-hentinya menyerang musuhnya dengan menyebut mereka sebagai kaum Paderi.


Tokoh-Tokoh Islam Pembaharu di Minangkabau

Permusuhan Datoek Soetan Maharadja dengan kaum ulama berawal dari Perang Paderi, ketika kakek buyutnya dari garis ayah dibunuh oleh kaum Paderi. Datoek Soetan Maharadja mengklaim para ulama yang kembali dari Timur Tengah itu sebagai penerus Paderi yang berusaha mengembalikan kejayaan mereka di ranah Minang. Melalui Otoesan Melajoe, Datoek Soetan Maharadja mengingatkan kepada segenap kaum Adat Minangkabau agar tidak membiarkan kemerdekaan orang Minang dirampas oleh “orang-orang Mekah” tersebut. Datoek Soetan Maharadja bahkan menyatakan keberatannya terhadap rencana pemerintah memasukkan pelajaran agama ke sekolah-sekolah Pribumi. Menurut Datoek Soetan Maharadja, kebijakan tersebut tidak praktis dan masalah itu sebaiknya diserahkan kepada prakarsa rakyat. Kendati cukup moderat akan kemajuan dan perubahan, dalam konteks kasus dengan kaum ulama, Datoek Soetan Maharadja justru menganjurkan kembali ke adat Minangkabau asli (Iswara N. Raditya dalam An Ismanto, 2007: 24). Gerakan menuju semangat nasionalisme pada kurun itu memang sebagian besar menekankan unsur linguistik dan atau etnik (Hobsbawm, 1992:122).

Selain mendirikan Perserikatan Orang Alam Minangkabau sebagai wadah untuk mempersatukan kaum Adat Minangkabau, Datoek Soetan Maharadja juga banyak berperan dalam penggagasan organisasi lokal Minangkabau lainnya. Jauh sebelumnya, Datoek Soetan Maharadja sudah mengetuai gerakan Medan Keramaian yang pada 1888 tercatat diikuti 80 orang anggota. Di kurun yang hampir bersamaan, Datoek Soetan Maharadja juga menjabat sebagai penasehat perkumpulan Taman Penglipoer Lara, dan menjadi anggota Kongsi Anak Radja-Radja yang merupakan perhimpunan para bangsawan adat Minangkabau. Masih di tahun 1888, sewaktu Datoek Soetan Maharadja bermukim di Pariaman, dia mendirikan perhimpunan Medan Keramean yang bertujuan mengarahkan minat dan kepentingan anggotanya ke jalan yang benar (Ahmat Adam, 2003:229).

Selanjutnya, pada 1906 Datoek Soetan Maharadja kembali menghimpun kalangan peneguh adat dengan memprakarsai gerakan untuk memurnikan adat Minangkabau. Memasuki tahun 1909, aksi Datoek Soetan Maharadja semakin nyata dengan mendeklarasikan berdirinya perkumpulan Medan Perdamaian Minangkabau Laras nan Duo di Padang. Pembentukan organisasi ini antara lain bertujuan untuk merumuskan pendirian sebuah bank simpan-pinjam untuk industri rakyat Minangkabau. Bank ini dibayangkan sebagai semacam koperasi yang akan menyediakan dana untuk usaha-usaha perdagangan kooperatif yang dikelola penduduk asli. Maka dari itu dibentuklah sebuah komite perancang anggaran dasar badan usaha itu di mana Datoek Soetan Maharadja dipilih sebagai penasehat. Hingga pada akhirnya, Datoek Soetan Maharadja membentuk Perserikatan Orang Alam Minangkabau pada 1911, dan Sarekat Adat Alam Minangkabau (SAAM) pada September 1916.

b. Pendidikan dan Emansipasi Perempuan

Sosok Datoek Soetan Maharadja yang keras, kontroversial, dan berteguh pada pemikiran adat ternyata tidak menghalangi keinginannya untuk tetap memajukan rakyat Minangkabau. Datoek Soetan Maharadja ternyata juga sangat memperhatikan kemajuan rakyat, terutama melalui pendidikan modern. Dia menganjurkan kemajuan Melayu melalui pendidikan Barat. Datoek Soetan Maharadja adalah seorang konservatif yang mempercayai unsur adat sebagai pengikat rakyat Minangkabau tetapi sekaligus juga orang yang berkeyakinan bahwa pendidikan modern merupakan sarana yang paling penting untuk mencapai kemajuan. Inilah yang membuatnya diberi gelar penggagas dan penghulu dalam pandangan sekuler kaum muda.

Namun, minat Datoek Soetan Maharadja terhadap pengaruh baik yang bisa diserap dari budaya Barat tidak lantas mengabaikan budaya sendiri. Kendati menganjurkan pendidikan Barat untuk penduduk Pribumi, Datoek Soetan Maharadja menolak penyerapan total budaya dan tata krama Barat. Dia percaya pada pemeliharaan adat tradisional Minangkabau seraya menggunakan pendidikan Barat demi kemajuan (Ahmat Adam, 2003:227). Terkait pendidikan untuk Bumiputera, Datoek Soetan Maharadja pernah menggugat pemerintah kolonial. Melalui koran Tjahaja Sumatra, pada awal 1909, dia mengeluhkan minimnya sekolah untuk anak-anak Pribumi yang didirikan pemerintah Hindia Belanda. Datoek Soetan Maharadja mengatakan, pemerintah bisa membuktikan ketulusannya terhadap rakyat yang dijajah dengan membangun lebih banyak sekolah dan memperluas kesempatan pendidikan bagi Pribumi. Geliat perjuangan Datoek Soetan Maharadja terhadap dunia pendidikan rakyat Minangkabau sudah terjejak dengan jelas. Pada 1902, Datoek Soetan Maharadja mendirikan sekolah untuk anak-anak Minangkabau.

Salah satu yang menjadi perhatian besar Datoek Soetan Maharadja adalah masalah kemajuan kaum perempuan Minangkabau. Pada 1908, Datoek Soetan Maharadja memprakarsai Pekan Raya Melayu di mana ia memperkenalkan sekolah penenun pertama untuk perempuan, sekolah yang bernama Padangsche Weefschool. Selanjutnya pada 1912, Datoek Soetan Maharadja mempelopori kampanye untuk meningkatkan status perempuan Melayu melalui perluasan kesadaran dan pendidikan. Realisasi dari upaya itu, Datoek Soetan Maharadja sekali lagi membangun sekolah-sekolah tenun di beberapa tempat di Sumatra Barat.

Tidak hanya di dunia pendidikan saja Datoek Soetan Maharadja menyumbangkan ilmu dan kemampuannya demi kemajuan kaum perempuan Minangkabau, ranah jurnalistik tidak luput dirambahnya. Datoek Soetan Maharadja berinisiatif menerbitkan suratkabar perempuan pertama di Sumatra. Untuk urusan ini, Datoek Soetan Maharadja menggandeng Siti Roehana Koedoes, wartawati ulung yang sudah cukup banyak menggoreskan nama di dunia persuratkabaran. Roehanna, yang merupakan saudara tiri dari Soetan Sjahrir, adalah sosok pejuang emansipasi perempuan Minangkabau yang bergerak melalui pendidikan dan suratkabar. Roehanna pernah terlibat dalam keredaksian suratkabar Poetri Hindia, koran khusus perempuan Bumiputera yang digagas oleh Tirto Adhi Soerjo di Batavia, sebagai kontributor (Hajar NS dalam Petrik Matanasi, 2008:179).


Siti Roehana Koedoes

Datoek Soetan Maharadja mengikuti dengan cermat setiap sepak-terjang Roehana, baik lewat gerakan-gerakan Roehana di bidang pendidikan ataupun ketajaman kalam Roehana yang dimuat di sejumlah suratkabar. Saking tertariknya, orang sepenting dan sesibuk Datoek Soetan Maharadja sampai rela datang langsung ke Kotogadang demi menemui Roehana. Di bawah asuhan Datoek Soetan Maharadja, menjelmalah Roehana Koedoes menjadi perempuan Indonesia pertama yang memimpin langsung penerbitan suratkabar dan wartawati pertama di ranah Melayu. Pada 10 Juli 1912, meluncurlah suratkabar bertajuk Soenting Melajoe sebagai koran khusus perempuan pertama di Sumatra. Soenting berarti perempuan, dan Melajoe maksudnya ialah di tanah Melayu (Reni Nuryanti dalam Hajar Nur Setyowati, 2008). Soenting Melajoe hadir mendampingi Oetoesan Melajoe yang tetap dipimpin Datoek Soetan Maharadja. Untuk mengurusi Soenting Melajoe, Datoek Soetan Maharadja juga menunjuk anak gadisnya, Zoebaidah Ratna Djoewita, duduk di keredaksian bersama Siti Roehana Koedoes.

3. Jasa dan Karir Jurnalistik

Aktivitas Datoek Soetan Maharadja yang seringkali menuai kritik dan kontroversi pada hakekatnya justru membuahkan manfaat bagi kemajuan rakyat Minangkabau. Aksi-aksi nyata yang dilakukan Datoek Soetan Maharadja menjadi satu fase tersendiri yang mewarnai perjalanan sejarah Minangkabau. Andil, jasa, dan hasil perjuangan Datoek Soetan Maharadja tersebut antara lain:

  • Mendirikan dan memimpin gerakan Medan Keramaian (1888).
  • Penasehat perkumpulan Taman Penglipoer Lara (1888).
  • Anggota Kongsi Anak Radja-Radja (1888).
  • Pendiri perhimpunan Medan Keramean di Pariaman (1888).
  • Penggagas Gerakan Pemurnian Adat Minangkabau (1906).
  • Pendiri dan penasehat badan perhimpunan Medan Perdamaian Minangkabau Laras nan Duo di Padang (1909).
  • Penggagas bank simpan-pinjam/koperasi untuk industri rakyat Minangkabau (1909).
  • Pendiri dan Ketua Perserikatan Orang Alam Minangkabau (1911).
  • Pendiri dan Ketua Sarekat Adat Alam Minangkabau (1916).

Sementara itu, citra dan jejak-langkah Datoek Soetan Maharadja sebagai salah satu jurnalis Bumiputera paling senior di Sumatra dibuktikan dengan jenjang karirnya berikut ini:

  • Editor suratkabar Palita Ketjil/Warta Berita (1895-1897).
  • Koresponden suratkabar Bintang Hindia (1901-1904).
  • Koresponden majalah Insulinde (1901-1904).
  • Editor suratkabar Tjahaja Sumatra (1905-1910).
  • Penggagas dan pemimpin suratkabar Oetoesan Melajoe (1911).
  • Penggagas suratkabar perempuan Soenting Melajoe (1912).

4. Penghargaan

Kemungkinan besar, sosok Datoek Soetan Maharadja dengan segenap andil dan jasanya bagi sejarah nasional Indonesia, belum mendapatkan penghargaan resmi dari Pemerintah RI. Namun, penghargaan terhadap Datoek Soetan Maharadja justru disematkan secara kultural oleh beberapa kalangan yang jeli dan menaruh hormat terhadap perjuangan Datoek Soetan Maharadja bagi kemajuan rakyat dan kaum perempuan Minangkabau melalui gerakan intelektual, penerbitan media pers, dan perhatiannya terhadap dunia pendidikan. Penghargaan sebagai Bapak Pers Melayu membuktikan kiprah Datoek Soetan Maharadja dalam memberi pengaruh pada semesta pers Minangkabau memang layak diberi apresiasi dan penghormatan setinggi-tingginya. Keteguhan Datoek Soetan Maharadja terhadap ikatan adat Minangkabau yang diselaraskan dengan rasa hormatnya terhadap pendidikan Barat membuatnya diberi gelar penggagas dan penghulu dalam pandangan sekuler kaum muda Minangkabau.

Kepustakaan:

Abdurrachman Surjomihardjo, dkk., Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2002.

Ahmat Adam, Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan, Jakarta: Hasta Mitra dan Pustaka Utan Kayu, 2003.

An Ismanto (ed.), Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia, Jakarta: Indonesiabuku, 2007.

Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942, Jakarta: LP3ES, 1996.

E.J. Hobsbawm, Nasionalisme Menjelang Abad XXI, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992.

Hajar Nur Setyowati, Seabad Pers Perempuan (1908-2008), Jakarta: Indonesiabuku, 2008.

Iswara N. Raditya & Muhidin M Dahlan (eds.), Karya-karya Lengkap Tirto Adhi Soerjo: Pers Pergerakan dan Kebangsaan, Jakarta: Indonesiabuku, 2008.

Muhammad Safrinal (ed.), Sang Guru: Peta Ringkas Hubungan Guru-Murid di Pelbagai Tradisi, Yogyakarta: Ekspresibuku, 2006.

Muhidin M Dahlan (ed.), Seabad Pers Kebangsaan: Bahasa Bangsa, Tanahair Bahasa (1907-2007), Jakarta: Indonesiabuku, 2008.

Petrik Matanasi (ed.), 7 Ibu Bangsa, Jakarta: Rahzenbook, 2008.

Robert van Niel, Munculnya Elit Modern Indonesia, Jakarta: Pustaka Jaya, 1984.

Rusli Amran, Padang Riwayatmu Dulu, Jakarta: Yasaguna, 1988.

(Iswara NR/tkh/4/06-2009)

Artikel dalam Buku:

Hajar NS, “Roehana Koedoes, Ibu Pers dan Pendidikan Indonesia”, dalam Petrik Matanasi (ed.), 7 Ibu Bangsa, Jakarta: Rahzenbook, 2008, hlm. 179.

________, “Siti Roehana Koedoes: Ibu Pers dan Pergerakan Indonesia”, dalam Petrik Matanasi (ed.), 7 Ibu Bangsa, Jakarta: Rahzenbook, 2008, hlm. 186.

________, “Siti Roehana Koedoes: Membaca Suratkabar Seperti Meminum Air Laut”, dalam dalam An Ismanto (ed.), Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia, Jakarta: Indonesiabuku, 2007, hlm. 38.

Iswara N. Raditya, “Datoek Soetan Maharadja: Penghulu Adat Berkiblat Barat”, dalam An Ismanto (ed.), Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia, Jakarta: Indonesiabuku, 2007, hlm. 24.

________, “Sang Pemula Indonesia”, dalam M. Safrinal (ed.), Sang Guru: Peta Ringkas Hubungan Guru-Murid di Pelbagai Tradisi, Yogyakarta: Ekspresibuku, 2006, hlm. 248.

Reni Nuryanti, “Soenting Melajoe: Di sini Nama Roehana Koedoes Terpahat”, dalam Muhidin M. Dahlan (Ed.), Seabad Pers Kebangsaan: Bahasa Bangsa, Tanahair Bahasa (1907-2007), Jakarta: Indonesiabuku, 2008, hlm. 91.

________, “Soenting Melajoe”, dalam Hajar Nur Setyowati, Seabad Pers Perempuan (1908-2008), Jakarta: Indonesiabuku, 2008.

Yuanda Zahra, “Al-Moenir, Saudara Mudanya Al-Manar”, dalam Muhidin M. Dahlan (ed.), Seabad Pers Kebangsaan: Bahasa Bangsa, Tanahair Bahasa (1907-2007), Jakarta: Indonesiabuku, 2008, hlm. 66.

________, “Oetoesan Melajoe: Koran Utusan Kaum Adat”, dalam Muhidin M. Dahlan (ed.), Seabad Pers Kebangsaan: Bahasa Bangsa, Tanahair Bahasa (1907-2007), Jakarta: Indonesiabuku, 2008, hlm. 73.

Sumber Foto:

  • Rusli Amran, Padang Riwayatmu Dulu, Jakarta: Yasaguna, 1988.
  • http://buchyar.pelaminanminang.com/sejarah/sejarah_surat_kabar_pertama_indonesia.html
  • http://jemaridewa.blogspot.com/2008/01/tiada-bahasa-hilanglah-bangsa.html
  • http://aboehasand.wordpress.com/2009/04/18/tiga-tokoh-kunci-mekkah-dari-indonesia/
  • Petrik Matanasi (ed.), 7 Ibu Bangsa, Jakarta: Rahzenbook, 2008.
Dibaca : 6.267 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password